Ulang “Anti Mainstream” Tahun


Ulang “Anti Mainstream” Tahun

Oleh Iman Supriyono

Cleo. Merek ini menggebrak pasar air minum dalam kemasan (AMDK) dengan menampilkan identitas warna oranye. Berbeda sekali dengan mainstream AMDK yang cenderung biru atau hijau. Dengan strategi anti mainstreamnya, merek besutan PT Sariguna Primatirta ini pun diterima pasar.  Pabrik demi pabrik di berbagai lokasi terus dibangun. Merek milik perusahaan yang juga dikenal dengan nama Tanobel ini tidak mau bermain di harga murah sebagaimana umumnya pemain baru di tengah dominasi merek Aqua.  Dengan konsep produk  yang berbeda dari mainstream…si oranye pun sukses diterima pasar AMDK.

Tapi kali ini saya tidak sedang menulis tentang bisnis. Saya sedang menulis tentang sikap anti mainstream.  Sebuah sikap yang  jika ditarik kebelakang, bagi saya dan Anni Muttamimah, istri saya, sudah mendarah daging sejak dulu kala.  Berikut ini sekedar beberapa contoh sikap anti mainstream itu:

  • Orang pada umumnya berpola kuliah-lulus-kerja-nikah. Saya berbeda. Saya sudah berbisnis sejak kuliah. Saat sudah yakin dengan kemampuan mencari nafkah, saya pun menikah saat masih kuliah. Wisuda dari Teknik Mesin ITS dengan dua anak. Istri saya wisuda dari teknik Kimia ITS saat hamil anak keempat. Sikap anti mainstream ini adalah kelanjutan dari anti mainstream sebelumnya: tidak mengenal pacaran. Kami menikah tanpa pacaran. Cukup diselidiki latar belakang calon, setelah yakin baik, langsung lamaran dan akad nikah.
  • Para lulusan sarjana pada umumnya melamar di perusahaan atau instansi pemerintah sebagai pegawai. Inilah mainstream. Saya tidak. Saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur sejak semester 3 kuliah. Tidak mau menjadi pegawai.
  • Pasangan suami istri pada umumnya memutuskan untuk hanya memiliki dua atau tiga anak. sedikit anak. Inilah mainstream. Kami-saya dan istri-tidak. Kami memeutukan untuk memiliki banyak anak. Pada usia 23 tahun pernikahan saat ini, alhamdulillah kami dikarunia 7 anak yang sehat sehat-sehat, pintar-pintar, dan ini yang paling penting: sholeh dan sholihah.
  • TV sudah menjadi kebutuhan keluarga. Bahkan tiap kamar ada TV. Itulah mainstream. Kami-saya dan istri- berbeda. Saya hampir tidak pernah nonton TV sejak kulaih. Keluarga kami adalah keluarga tanpa TV sejak pernikahan hingga hari ini. Pengisi waktu senggang kami sekeluarga adalah membaca. Bukan nonnton TV.
  • Orang tua pada umumnya memberikan uang saku tiap hari kepada anak-anaknya yang sekolah. Inilah mainstream. Kami tidak. Saat masih tinggal bersama orang tuanya, anak anak tidak dijatah uang saku. Sebelum berangkat sekolah sudah makan pagi. Jika jam sekolahnya tidak melewati jam makan siang maka anak-anak makan siang di rumah. Jika jam sekolah melewati jam makan siang membawa bekal makan siang dari rumah. Tidak ada jatah uang saku. Ada uang saku hanya sesekali saja. Bukan jatah.

Anti Mainstream: Cleo hadir dengan warna oranye, berbeda dengan mainstream AMDK yang cenderung biru-hijau. Gambar dari http://www.cleopurewater.com

 

  • Pasangan suami istri pada umumnya akan menahan anak-anaknya untuk tetap tinggal bersama orang tua bahkan sampai kuliah. Inillah mainsream. Daftar ke perguruan tinggi pun diantar orang tua. Kami tidak. Kami “mengusir” anak-anak dari rumah sejak lulus SMP dan bahkan kemudian sejak lulus SD. Sampai anak nomor 3, selulus SMP yang tidak jauh dari rumah, mereka kemudian “diusir” untuk sekolah dan tinggal di luar negeri sejak SMA. Bahkan mulai anak nomor 4 lulus SD sudah “diusir” untuk sekolah dan tinggal di pondok pesantren di luar kota saat masuk SMP.
  • Molornya jadual juga menjadi mainstream. Undangan jam 9 acara baru dimulai jam 10. Itu mainstream. Saya tidak. Sejak kuliah aktif di kegiatan kemahasiswaan saya biasa menyelenggarakan acara dengan dimulai tepat waktu seperti yang tertera di undangan. Ketepatan waktu juga menjadi standar sikap hingga saat ini.  Tepat waktu memulai meeting dengan perusanaan klien SNF Consulting, kantor saya. Ada kesepakatan bayar denda untuk amal sosial bagi peserta meeting yang terlambat walaupun hanya satu menit. Tepat waktu saat janjian dengan siapapun.  Tepat waktu dalam sholat-sesuai jadual astronomis- berjamaah di masjid.
  • Dan lain-lain masih banyak sekali daftar anti mainstream saya –biasanya kompak dengan istri.  Jika diperpanjang bisa jadi berhalaman-halaman nih tulisan hehehe.

 

Sikap anti mainstream bukan sekedar asal berbeda.  Selalu ada alasan yang kuat, logis dan ilmiah terkait dengan sikap tersebut. Ini yang membuat saya –dan istri- yakin, pede dan tidak sedikitpun  ragu. Tentu memalui proses yang panjang sampai pada keyakinan seperti itu. Saya sangat terinspirasi oleh wahyu Ilahi ini “dzalika al-kitab. Laa roiba fiih”.  Inilah kitab. Tidak ada keraguan di dalamnya.  Saya mempelajari segala sesuatu sampai bener-benar yakin.  Laa roiba fiih. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Maka, sikap anti mainstream pun dijalani dengan la roiba fiih. Tanpa ragu.

Terus…. bagaimana menjaga keharmonisa hubungan dengan orang lain dan para sahabat terkait sikap yang berbeda? Dalam hal ini saya yakin bahwa dalam berhubungan dengan siapapun, selalu ada dua hal yang tidak bisa dihindari: persamaan dan perbedaan. Hubungan dengan orang lain akan kokoh bila berfokus pada persamaan dan bertoleransi terhadap perbedaan. Persamaaan dikerjakan bareng-bareng. Perbedaan  disikapi dengan toleransi.  Saling memberi kesempatan agar siapapun bisa menjalani perbedaan dengan nyaman. Inilah yang membuat hubungan dengan siapapun akan menyenangkan. Sahabat makin banyak, makin erat, dan makin kokoh.

@@@

Kemarin, sejak pagi banyak sekali sahabat yang memberikan ucapan selamat ulang tahun alias milad kepada saya. Terima kasih atas perhatian dan do’a-doa’a baiknya.  Semoga kebaikan serupa dan bahkan lebih baik juga dianugerahkan kepada para sahabat. Tetapi, mohon maaf, dalam perkara ini saya lagi-lagi anti mainstream. Saya tidak pernah menganggap tanggal kelahiran sebagai sesuatu yang penting. Tidak ada peringatan dan ucapan selamat ulang tahun di keluarga kami.

Mengapa demikian? Sebagaimana sikap anti maintraim pada berbagai hal, saya dan istri sudah mempelajarinya dengan seksama. Ini standar.  Saya mempelajari dari mana asal-usul tradisi ulang tahun. Mempelajari juga tentang sejarah penanggalan yang biasa digunakan untuk tradisi ulang tahun. Mempelajari bagaimana sikap tokoh-tokoh teladan dalam tradisi ini. Nabi Muhammad SAW adalah tokoh teladan yang saya-dan istri- selalu jadikan sebagai referensi utama. Pendek kata, segala sesuatu terkait tradisi ulang tahun saya pelajari secara komprehensif sampai pada sebuah kesimpulan yang laa roiba fiih. Tidak ada keraguan di dalamnya. Mantap bahwa kami sekeluarga tidak ada tradisi ucapan atau peringatan ulang tahun. Setiap hari adalah istimewa. Istimewa untuk diisi dengan perbuatan yang makin bermanfaat bagi sesama. Dalam rangka beribadah kepada-Nya.  Istimewa karena hari ini tidak akan terulang kembali.

Kalau tidak saat ulang tahun, kapan mendoakan para sahabat? Saya membiasakan diri untuk mendoakan untuk kebaikan  dunia akhirt para sahabat setiap selepas sholat.  Termsuk sholat tahajud. Mendoakan kebaikan semua sahabat. Kadang saya doakan secara umum, kadang saya sebut satu demi satu. Setiap saat, tidak menunggu ulang tahun.

Terus, apakah tidak ada momen istimewa secara personal untuk kelaurga dan sahabat? Tentu ada.  Untuk anak-anak, prestasi sekolah misalnya adalah saat tepat untuk memberikan ucapan selamat secara personal. Untuk kawan-kawan pebisnis, buka gerai baru atau wilayah pasar baru misalnya adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucapan selamat. Bagi teman profesional, pencapaian terget atau promosi jabatan adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucaman selamat dan perhatian secara personal.

Lalu, apakah perbedaan sikap dalam ulang tahun alias milad alias birth day alias  ambal warso ini harus membuat kerenggangan persahabatan? Apakah sikap anti mainstream harus mengganggu persahabatan? Tidak. Seperti Cleo, anti mainstream yang tepat justru akan mendatangkan hasil yang luar biasa.  Anti mainstrain dengan sikap yang tepat antara persamaan dan perbedaan, bikin persahabatan tetap terjalin erat dan makin hangat. Sekali lagi….terima kasih atas doa-doa kebaikan kawan semua. Mohon maaf atas perbedaan. Semoga persahatan kita makin erat, makin kokoh, dan makin memberi manfaat pada sesama dalam naungan ridho-Nya.  Sukses dunia akhirat untuk sahabat semua. Aamin.

4 responses to “Ulang “Anti Mainstream” Tahun

  1. rinaldi fauzan agus

    Mantap..

  2. Mantap…sukses selalu SNF dan Abah Iman sehat selalu sekeluarga….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s