Robohnya Toko Kami


Robohnya Toko Kami

Oleh Iman Supriyono, konsultan manajemen dan direktur PT SNF Consulting

Pada hari minggu ku turut ayah ke  kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja….”.  Bagi saya dan kawan- kawan kecil di desa-desa  sekitar kota  Caruban tahun 80-an, itu bukan lagu biasa. Itu adalah keindahan luar biasa. Diajak pergi ke pasar di kota pada hari minggu. Naik delman atau di desa disebut sebagai dokar.  Bersuka ria dan setiba dipasar menyantap menu super istimewa: rawon mbah Iran.

Sungguh keindahan tiada tara. Selalu merindukannya. Beberapa tahun lalu saya masih bisa mengulang nostalgia keindahan itu. Makan di warung mbah iran di pasar Caruban yang sudah dilanjutkan oleh salah satu anak nya.

Pasar Caruban Baru yang sepi

Tapi, kini saya sudah tidak bisa lagi mengulang kenikmatan itu. Dokarnya sudah tidak beroperasi karena pasar berpindah lokasi. Kepindahan pasar ke tempat yang agak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Madiun itu juga berdampak luar biasa: pasar jadi sepi.

Dua kali saya mencoba berbelanja di pasar baru. Gedungnya memang megah. Tapi suasananya sepi sekali. Tidak nampak gairah para pedagang sebagaimana yang dulu saya rasakan saat masa kanak-kanak. Tidak juga nampak kesibukan para pedangan yang masih saya rasakan saat bernostalgia makan rawon mbah iran beberapa tahun lalu. Kini pasar menjadi sepi.

Sebagai konsultan manajemen, saya terusik untuk mencari tahu. Mengapa pasar berlantai dua itu jadi sepi. Saat acara rutin pulang kampung, saya mencoba menelusuri informasi dari berbagai sumber. Ketemulah paling tidak dua sebab. Pertama, pemerintah membagi pedagang pasar lama menjadi dua kelompok. Pedagang barang-barang kering dipindah ke pasar yang sepi itu. Sementara itu, pedagang barang-barang basah dipindah ke pasar sayur yang letaknya relatif masih di pusat kota. Saat saya datangi pasar sayur, selepas subuh memang suasana pasar sangat ramai. Tidak beda dengan pasar yang dulu saya rasakan pada masa kanak-kanak. Tapi, gairah itu hanya muncul di pagi hari. Sekitar jam 10 pagi pasar sayur pun sudah sepi. Ketika pasar sayur dan pasar kering masih menjadi satu, keramaian pasar sayur di pagi hari terus berlanjut pada keramaian pasar kering siang harinya. Selesai belanja sayur, para pengunjung pasar berpindah ke pasar kering untuk membeli kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kedua, munculnya toko-toko minimarket bagaikan jamur di musim penghujan di berbagai sudut kota tempat saya bersekolah hingga SMA itu. Di pusat kota sekitar bekas pasar lama yang kini berubah menjadi taman ada lebih dari lima outlet minimarket Alfamart dan Indomart. Di luar kawasan pasar lama  juga disana sini muncul minimarket serupa. Mereka mampu menangkap perubahan kultur belanja masyarakat dan nyaris mengambil semua pangsa pasar. Inilah yang menjadikan pasar jadi sepi. Toko-toko tradisional ditinggalkan pembeli. Jika dulu ada kisah tentang robohnya surau kami, kini ada  kisah tentang robohnya toko kami.

&&&

Pembaca yang baik, gambaran suasana yang saya tulis di atas nampaknya tidak hanya terjadi di Caruban, kota kelahiran saya. Tetapi juga terjadi di berbagai kota di negeri ini. Toko-toko kelontong tradisional milik masyarakat sepi dan kemudian tutup.  Pertanyaannya, haruskah fenomena itu dibiarkan? Adakah peluang untuk membanagkitkan kembali toko-toko dan pasar yang kini ditinggalkan konsumen itu?

Yang perlu dicatat, perubahan kultur belanja masyarakat adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Saya dan Anda para pembaca saat ini pasti lebih  nyaman belanja di toko swalayan berpendingin udara dari pada di toko kelontong atau pasar tradisional. Maka, membangkitkan kembali toko-toko masyarakat tidak bisa dilakukan dengan mengembalikan budaya belanja masyarakt yang telah berubah. Yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Bagaimana caranya? Yang dilakukan pondok pesantren  Sidogiri Pasuruhan bisa menjadi contoh. Membangun jaringan toko swalayan modern di berbagai daerah. Kini ada sekitar 80 outlet minimarket besutan  KH Mahmud Zain tersebut. Inilah format yang sudah terbukti sukses dan bisa dijadikan sebagai pijakan untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu bereksperimen lagi.

Karena secara manajemen sudah terbukti eksis, yang dibutuhkan selanjutnya adalah modal yang cukup untuk menambah outlet. Disinilah letak perjuangannya. Bagaimana mengumpulkan dana besar dari masyarakat untuk bersaing dan tidak kalah dengan jaringan toko modern nasional yang kini sudah menjamur dimana-mana.

Untuk mengimbangi ekspansi Alfamart dan Indomart yang tiap tahun masing-masing membangun seribu outlet lebih misalnya, diperlukan gerakan masyarakat untuk mengumpulkan modal yang mencukupi untuk menandinginya. Wadah yang paling cocok adalah koperasi seperti yang telah dilakukan Fonterra Cooperation dari New Zealand misalnya.  Dana itu kemudian dikerjasamakan dengan Sidogiri untuk dikelola secara modern dan profesional. Memberi kesempatan kepada team manajemennya untuk mendayagunakan keahlian yang terbukti mampu bersaing dengan Alfamart dan Indomaret. Agar kita tidak ada lagi ratapan tentang robohnya toko kami. Bisa kan?

Tulisan ini diterbitkan oleh Harian Duta, terbit di Surabaya, Jumat, 9 Oktober 2015 dengan beberapa bagian diedit oleh redaktur. Yang saat ini Anda baca adalah versi asli dari penulis tanpa diedit oleh redaktur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s