Lailatul Gambling: Tidak THR, Tidak I’tikaf….


Lailatul Gambling

Iman Supriyono, direktur, konsultan dan penulis 10 buku manajemen pada PT SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Masih ingat materi probalitas pada mata pelajaran matematika SMA? Ayo kita pelajari kembali. Misalkan Anda sedang berada di sebuah toko tas langganan untuk keperluan si buah hati yang akan masuk sekolah. Kebetulan sedang ada program promo sebuah merek tas disana. Setiap pembelian sebuah tas merek tersebut akan mendapatkan sebuah nomor undian. Toko akan mengundi untu menentukan pemenangnya setelah seluruh persediaan tas merek tersebut yang berjumlah seribu biji habis terjual. Hadiahnya adalah sebuah mobil senilai Rp 100 juta.  Harga satu tas adalah Rp 50 ribu.

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Coba kita hitung. Jika Anda membeli 1 tas maka peluang Anda untuk memanangkan hadiah adalah 1/000. Jika Anda membeli 2 tas maka peluang Anda adalah 1/1000+1/000 =2/1000.. Jika 3 tas maka peluangnya adalah 1/1000+1/1000+1/1000=3/1000. Dan seterusnya jika Anda membeli 1000 tas peluang menangnya adalah 1000/1000 alias 1 alias 100%. Probabilitas 100% artinya Anda pasti akan mendapatkan hadiah mobil.

Berapa harga 1000 tas? Tentu saja Rp 50 ribu dikalikan seribu yaitu Rp 50 juta. Maka, jika Anda mengeluarkan uang Rp 50 juta, Anda akan mendapatkan tas senilai Rp 50 juta plus sebuah mobil senilai Rp 100 juta. Total Rp 150 juta. Setelah itu Anda bisa beramal bagi-bagi tas kepada 999 anak yatim piatu. Satu tas untuk buah hati Anda. Jika Anda memiliki uang Rp 50 juta, maukah Anda membeli seluruh tas tersebut?

$$$

Saya menulis artikel ini pada saat menjelang sepuluh hari terakhir ramadhan. Ada sebuah malam yang oleh Qur’an dinilai lebih baik dari seribu bulan. Lailatul qodar alias malam qodar. Malam yang nilainya setara dengan  83,3 tahun alias 29 ribu hari lebih. Waktu untuk mencari lalatul qodar adalah 9 atau 10 hari. Anggap saja 10 hari.

Analogi dengan probabilitas hadiah di toko tas di atas. Jika Anda beri’tikaf satu hari, maka probabilitas Anda mendapatkan lalitul qodar adalah 1/10. Jika Anda beri’tikaf 2 hari maka probalitisanya naik menjadi 1/10+1/10= 2/10. Jika Anda beritikaf 10 hari penuh maka probalitas Anda adalah 10/10 alias 1 alias 100%. Dengan kata lain, jika Anda bei’tikaf selama 10 hari penuh Anda dipastikan akan memperoleh malam qodar. Malam yang ganjarannya adalah lebih dari beribadah 29 ribu hari lebih. Pertanyaannya, maukah Anda “memborong” seluruh hari seperti saat memborong seluruh tas untuk mendapatkan kepastian memperoleh “hadiah” yang sangat menggiurkan?

$$$

Pembaca yang baik, itulah mengapa Rasulullah dan para sahabat gaya beriktikafnya adalah gaya memborong. Mulai subuh 21 ramadhan rasulullah sepenunya tinggal di masjid dan tidak pulang sampai malam takbir. Malamnya sepenuhnya beribadah. Sama sekali tanpa tidur malam. Begadangan semalam suntuk dengan berdzikir, tilawah qur’an dan sholat. Istirahatnya diganti siang. Setelah adanya perintah puasa ramadhan rasulullah selalu melakukan itikaf full time seperti itu sampai akhir hayat. Kecuali sekali beliau tidak beritikaf akhir ramadhan. Itupun beliau menggantinya dengan beri’tikaf pada bulan syawal sepanjang 20 hari.

Jadi rasulullah dan para sahabat beri’tikaf tidak seperti yang dilakukan orang orang selama ini. Datang ke masjid selepas sholat tarawih dan pulang menjelang sahur. Itupun hanya kalau malam ganjil. Ini ibarat hanya membeli satu atau dua tas tapi berharap mendapat hadiah mobil. Jika beruntung memang bisa. Main tebak alias gambling.

$$$

Jelang lebaran, saya sering ditanyai tentang bagaimana manajemen uang THR. Bagaimana mengelola uang THR agar bisa bermanfaat maksimal? Jawabnya adalah analogi dengan I’tikaf cara Rasulullah. Apa itu? Banyak orang membicarakan THR tidak menyeluruh. Hanya memandang THR tanpa memandangnya sebagai sebuah proses pengelolaan keuangan dalam hidup secara menyeluruh. Ini mirip beritikaf beberapa jam tapi berharap malam qodar.

Mestinya, membicarakan THR haruslah dalam konteks manajemen keuangan secara menyeluruh. Kita bisa belajar dari orang Yahudi yang kini menguasai hampir seluruh sumber sumber ekononomi utama dunia. Mereka selalu disiplin ketat mengelola uang gaji atau pendapatannya dengan rumus 10-10-80. Setiap pendapatan berapapun, diambil 10% pertama untuk sosial keagamaan, 10% kedua untuk investasi yaitu membeli aset yang nilainya terus meningkat, dan sisanya 80% dicukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Lakukan itu secara disiplin sejak gaji pertama sampai kapanpun.

Bagaimana dengan THR? THR adalah bagian dari pendapatan tahunan Anda. Jika Anda setuju dengan pola pikir menyeluruh jangka panjang, jumlahkanlah seluruh pendapatan Anda tahun ini hinga penerimaan THR. Alokasikan  dengan rumus 10-10-80.

Untuk 10% yang kedua, berapa nilainya dari total gaji atau pendapatan Anda tahun ini?  Sisihkan 10% nya untuk investasi. Sekali lagi THR sebagai bagian dari pendapatan tahun ini. demikian juga investasinya. Hitung dari pendapatan setahun. Jangan hanya melihatnya sebagai THR. Bisa jadi seluruh THR Anda harus dialokaasikan untuk investasi karena sampai bulan ini Anda belum pernah berinvestasi.

Maka, kelola THR persis seperti prinsip itikaf nabi. Ambillah peluang secara menyeluruh. Jangan main tebak. Jangan gambling. Ingat, kita menginginkan lailatul qodar. Bukan lailatul gambling!

Tulisan ini dimuat di Harian Dura, terbit di Surabaya, 10 Juli 2015

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s