Edamame: Unggul dengan korporatisasi


Edamame

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Perjalanan kali ini membawa banyak inspirasi. Baru turun dari kabin ATR 72 Garuda itu, di luar pagar bandara tampak banyak anak-anak kecil antusias menyambut. Nampaknya mereka adalah anak-anak TK  yang datang berombongan-rombongan untuk menyaksikan dari dekat proses mendarat dan tinggal landasnya pesawat. Mungkin ada yang menganggapnya kampungan. Tapi bagi saya bapak ibu guru mereka sedang memberi wawasan dan visi kepada anak didiknya di dekat landas pacu bandara Notohadinegoro yang memang baru beroperasai dua bulan itu.

Edamame alias kedelai muda yang segar, sehat, siap dimakan

Edamame alias kedelai muda yang segar, sehat, siap dimakan

Saya jadi ingat saat-saat remaja suka baca majalah berbahasa Inggris terbitan Jepang yang melambungkan visi saya untuk kuliah di luar negeri. Sampai saat ini memang saya belum pernah kuliah di luar negeri. Tetapi 3 dari 7 anak saya semua bersekolah di laur negeri sejak SMA. Insyaallah yang 4 menyusul.  Itulah kekuatan visi yang sedang ditanamkan oleh para guru TK yang pagi cerah ini mengantarkan anak didiknya melihat pesawat buatan perancis itu dari dekat.

Kebun edamame di Jember

Kebun edamame di Jember

Salah satu tujuan kedatangan saya di jember kali ini adalah mengunjungi pabrik dan kebun edamame. Produsen makanan yang di berbagai supermarket dijual dengan harga sekitar Rp 20 ribu/kg siap makan itu memang di Jember. Ratusan bahkan ribuan hektar terhampar hijaunya biji tanaman yang jika dipetik dalam kondisi tua dan kering disebut kedelai ini. Pabriknya super sibuk menampung hasil panen setiap hari. Kebunnya, menampilkan kesegaran dan keindahan luar biasa. Memandanginya saja sudah menjadi nikmat tiada tara. Apalagi para petani yang memanen dan kemudia menerima uangnya. Tentu lebih nikmat lagi.

&&&

Ta’awanu ala al-birri wa at-taqwa. Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Sebuah potongan ayat yang sangat populer. Bayangkan Anda sedang berkendara di jalan raya.  Di depan Anda ada nampak seorang nenek di pinggir jalan mau menyebarang.  Tampak sekali ia sedang mengalami kesulitan karena jalan begitu ramainya. Sejurus kemudian  Anda berhenti memarkir kendaraan lalu membantu menyebarankannya. Ini adalah salah satu bentuk pertolongan Anda kepada si nenek. Sebuah perbuatan mulia sebagai implementasi dari ayat ini.

Bahwa membantu menyeberangkan si nenek adalah perbuatan mulia tentu sudah tidak bisa dibantah. Tapi maukah Anda saya tunjukkan tentang sebuah perbuatan tolong menolong yang lebih berjangka panjang bahkan permanen? itulah rahasia dari sebuah konsep korporatisasi.

Tentang hal ini pengalaman sempurna pernah dicontohkan oleh Misionaris Samual Marsden dan kawan-kawan yang datang sebagai pemukim di New Zealand pada tahun 1814. Mengetahui manfaat saling tolong menolong secara permanen, pada tahun 1871 mereka mendirikan koperasi. Pada masa awal, ada sekitar 400-an koperasi yang menjadi sarana sinergi bagi para peternak.

Apakah mereka berhenti? Tidak, mereka sadar bahwa makin besar ukuran koperasi, makin besar pula sinergi yang bisa dirasakan manfatnya. Maka, satu demi satu koperasi itu bergabung dan melebur alias merger. Pada tahun 1960-an, tinggal ada 168 koperasi dalam ukuran yang lebih besar. Pada tahun 1996 merger terus berlanjut sehingga mereka berkumpul pada 12 koperasi. Akhir tahun 2000  tinggal ada 2 koperasi yang menguasai 95% pasar susu. Juli 2001, 84% dari peternak menyetujui merger raksasa yang menyisakan Fonterra Coop sebagai sebuah perusahaan kelas dunia berbadan hukum koperasi milik para peternak. Saat ini, Fonterra yang disini kita kenal dengan susu Anmum dan Anlene ini adalah perusahaan terbesar di New Zealand dengan omset tahunan sekitar Rp 200 Trilyun dan memiliki anak perusahaan di berbagai negara di dunia. Termasuk di Indonesai melalui PT Fonterra Brand Indonesia. Itulah manfaat korporatisasi.

Nah, di Jember hal serupa terjadi pada industri edamame alias kedelai muda. Petani kedelai yang jika sendiri sendiri sangat lemah disatukan dan diorganisir dibawah manajemen PT Mitra Tani Dua Tujuh. Kebersamaan dan tolong menolong mereka menjadi kekuatan manajemen, aset, pasar, produksi, teknologi dan efisiensi nyata. Korporatisasi menjadikan edamame sebagai produk berstandar internasional yang diekspor ke berbagai negara dalam bentuk masak beku siap makan. Andapun bisa menikmatinya di supermarket-supermarket di berbagai daerah.

Bagaimana memunculkan semangat korporatisasi? Inilah kekuatan visi. Kekuatan cita-cita masa depan yang jauh melampoi batas batas negeri adalah energi tiada habisnya dari  proses korporatisasi. Maka, apa yang dilakukan anak-anak TK di bandara Notohadinegoro adalah sesuatu yang sangat positif. Membangun visi tinggi. Anda para petani dan peternak atau pebisnis apapun perlu membangun visi tinggi dengan korporatisasi sebagai sarana tolong menolong secara permanen. Seperti industri susu di New Zealand. Seperti Edamame di Jember. Bisa!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s