Hilangnya Swasembada Ayam dan Telor


Hilangnya Swasembada Ayam & Telor: Si Blirik, Si Klawu, Si Bendan

oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting

Ini adalah cerita masa kecil di pedesaan wilayah Caruan, Madiun. Bagi saya sekeluarga dan tetanga pada umumnya, ayam tidak bisa dipisahkan dari kehidupan keseharian. Ayam tidak dipelihara di kandang khusus. Jika siang unggas ini dilepas dan dibiarkan pergi kemana saja mencari makan sendiri. Jika malam binatang bersayap ini akan dimasukkan ke bagian rumah yang biasanya juga difungsikan sebagai dapur. Dikumpulkan dalam kurungan-kurungan dari anyaman bambu. Atau dibiarkan hinggap di pangkringan yaitu batang bambu yang dirangkai sedemikian rupa dan disandarkan di dinding rumah.

Ayam bukan sekedar binatang ternak. Maka setiap ekor ayam dewasa biasanya diberi panggilan sesuai dengan warnanya. Blirik, klawu, bendan dan sejenisnya adalah nama-nama yang akrab di telinga warga desa. Binatang yang pejantannya sering diadu sabung ini selalu lulut. Jinak dan bersahabat dengan pemiliknya.

ayam-kampung

ayam kampung yang dulu menjadi sumber swasembada daging dan telor ayam di rumah-rumah masyarakat kini menghilang

Salah satu fungsi ayam adalah menjadi sumber nutrisi bagi warga desa. Sehari hari memang masyarakat memang lebih akrab dengan botok lamtoro, botok ontong, tempe goreng, tahu goreng, peyek kedelai, dan lauk pauk nabati lainnya. Sesuatu yang murah dan mudah diperoleh di desa. Kebutuhan akan protein hewani hanya sesekali dipenuhi dengan telor ayam untuk  didadar atau dijadikan bothok. Sesekali juga ayam akan disembelih dan dinikmati dagingnya saat ada kenduri atau hajatan lain.

$$$

Lain dulu lain sekarang. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan akan telur dan daging ayam masyarakat pada umumnya sudah mengandalkan perusahaan-perushaan peternakan besar. Tidak umum lagi orang memelihara ayam untuk keperluan sendiri seperti carita saya saat kecil. Bahkan di desa saya pun budaya itu sudah sedikit demi sedikit terkikis dan nyaris habis. Jika menginginkan daging atau telor ayam masyarakat tinggal pergi ke toko atau pasar dan membeli dengan mudah sesuai kebutuhannya. Ayam telah menjadi komoditas.

Kondisi modern seperti ini tentulah menjadi lahan subur untuk perusaahaan-perusahaan besar dalam sektor ayam atau perunggasan pada umumnya. Salah satu pemain besarnya adalah PT.Charoen Pokphand Indoneisa, Tbk.  Di negeri kita, perusaan besutan keluarga Jaaravanon ini adalah yang terbesar pada sektor ini.

Pada tahun 2013 lalu, melalui laporan terauditnya, perusahaan besutan keluarga dari Bangkok ini melaporkan omset penjualan sebesar Rp 25,6 Trilyun. Omset itu tumbuh 20% dari tahun sebelumnya yang Rp 21,3 T. Dengan manajemen yang solid, perusahaan milik pengusaha global yang nenek moyangnya berasal dari Shantou RRC ini mampu meraup laba bersih sebesar Rp 2,5 Trilyun.

Benar-benar besarkan perusahaan ini? Coba bandingkan dengan ini: seorang kawan pebisinis ayam petelor di Blitar memiliki sekitar 500 ribu ekor ayam. Angka ini sudah sangat besar menurut ukuran masyarakat pada umumnya. Tapi bagaimana dibandingkan dengan  Charoen Pokphand? Mari coba kita hitung kasaran. Anggap dari 500 ribu ekor tiap hari ada 75% nya yang bertelor. Jadi tiap hari ada 375 ribu butir telor. Jika tiap 15 butir telor memiliki berat 1 kg maka tiap hari akan ada  25 ton telor. Jika harga telor Rp 15 ribu/kg maka akan ada omset Rp 375 juta perhari alias Rp 136 Milyar pertahun. Angka ini dibanding omset Charoen Pokphand hanya barada di kisaran setengah persen atau tepatnya 0,53%. Dengan kata lain omset Charoen adalah sekitar 180 kali dari ayam kawan Blitar tadi. Jika disetarakan dengan ayam petelur bisnis Charoen setara dengan memelihara 94 juta ekor ayam.

Besar kan? Tentu besar sekali. Yang menarik, masyarakat yang sebelumnya swasembada ayam kini menjadi tergantung kepada perusahaan-perusahaan besar. Charoen yang sahamnya 55% dikuasai keluarga Jiaravanon melalui Crown Pacific Invesment Pte Ltd Singapura adalah si nomor satu. Maka, saya sangat bersemangat untuk ngompori kawan-kawan pebisnis ayam di Blitar untuk mengejar Jiaravanon.  Supaya masyarakat merasakan swasembada ayam kembali seperti saat saya di desa memiliki si blirik, klawu dan bendan. Tentu dengan manajemen perusahaan modern.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s