Ilmu, Membaca, Ilmuwan dan Praktisi


Ilmu, Membaca, Ilmuwan dan Praktisi

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting

Tulisan adalah hasil renungan panjang tentang ilmu dan interaksi kita dengannya. Munculnya dipicu oleh beberapa hal. Salah satunya adalah pertanyaan dari kawan-kawan yang cukup menggelitik kepada saya. “Mas Iman,  Anda itu apa sudah pernah memimpin atau memiliki perusahaan besar kok berani-beraninya membikin perusahaan konsultan dan menjadi konsultan manajemen perusahaan-perusahaan besar?”

Ini adalah pertanyaan yang kelihatannya mengandung unsur menyangsikan kepada saya dan apa yang saya lakukan di SNF Consulting. Sebuah pertanyaan yang kalau ditangkap dengan jiwa sensi akan terasa menghina. Jika ditangkap dengan jiwa negatif akan terasa merendahkan. Tapi sejatinya ini adalah pertanyaan bagus sekali seagai bekal renungan dan pembelajaran. Salah satu hasilnya adalah tulisan ini.  Tulisan ini akan saya lanjutkan dengan format poin-poin. Semoga menjawab dengan baik pertanyaan itu dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar ilmu, membaca, ilmuwan dan praktisi.

    • Terkait dengan ilmu, manusia dibagi menjadi dua kelompok: ilmuwan dan praktisi.
    • Ilmuwan dan praktisi mempunyai kewajian membaca dalam arti sempit maupun dalam arti luas, sebagai pelaksanaan perintah “Iqro” dalam Al Qur’an ayat yang pertama kali turun
    • Memaca dalam arti sempit adalah membaca tulisan berupa buku, koran, majalah, blog, jurnal atau sejenisnya
    • Membaca dalam arti luas adalah menangkap fenomena alam dan sumber pengetahuan lain baik melalui manusia mapun makluk/benda lain
    • Dalam konteks membaca, tugas ilmuwan berbeda dengan tugas praktisi
    • Para praktisi membaca untuk dipraktekkan dalam bidang profesi dan kehidupannya secara umum
    • Seorang petani praktisi wajib terus membaca buku, jurnal, majalah atau apapun yang terkait dengan pertanian dan kemudian mempraktekkan ilmu yang telah dibacanya pada sawah dan ladang tempatnya berkarya agar produktifitas dan luas lahan kelolaannya selalu meningkat sampai akhir hayat
    • Seorang nelayan praktisi wajib membaca buku, jurnal, majalah atau apapun yang terkait dengan penangkapan ikan untuk kemudian mempraktekkannya dalam penangkapan ikan agar produktifitas dan armada kapal penangkap ikan kelolaannya terus meningkat sepanjang hayat
    • Seorang manajer praktisi wajib terus membaca buku, jurnal, majalah dan sebagainya tentang manajemen dan kemudian mempraktekakkannya dalam mengelola perusahaan/organisasi yang dikelolannya agar produktifitas dan ukuran perusahaan/organisasinya terus meningkat hingga akhir hayat
    • Seorang polisi praktisi wajib terus membaca buku, jurnal, majalah dan sebagainya tentang kepolisian agar kapasitasnya dalam melaksanakan tugas-tugas kepolisian terus meningkat hingga akhir hayat
    • Itulah contoh beberapa praktisi dalam beberapa bidang. Jika diteruskan contoh itu akan mencakup seluruh bidang kehidupan.
    • Seorang praktisi pertanian, perikanan, majemen, polisi dan seagainya juga harus membaca ilmu tentang kehidupan keseharian mereka seperti ilmu tentang sholat, tentang makanan, tentang uang dan sebagainya karena mereka tetap sebagai manusia biasa yang harus sholat, makan, mengelola uang dan sebagainya
    • Muncul pertanyaan: jika para praktisi diharuskan terus menerus membaca, lalu siapa yang menyediakan bahan bacaan secara terus menerus dan sentiasa up to date sampai akhir hayat? Itulah tugas ilmuwan
    • Ilmuwan wajib terus membaca fenomena alam baik langsung di alam maupun melalui laboratorium untuk kemudian menuliskannya dalam buku, jurnal, majalah atau apapun. Ilmuwan juga wajib membaca tulisan hasil penelitian sesama ilmuwan di bidangnya untuk mempertajam kemampuannya menangkap fenomena alam dan memperkaya khasanahnya
    • Ilmuwan manajemen wajib terus membaca fenomena manajemen di berbagai organisasi, perusahaan maupun masyarakat pada umummnya untuk kemudian dituliskannya menjadai ilmu manajemen up to date dalam bentuk buku, jurnal, majalah dan sebagainya
    • Ilmuwan pertanian wajib terus membaca fenomena alam di bidang pertanian untuk menghasilkan varietas tanaman baru, metode penanaman baru, pupuk baru, teknologi baru dan sebagainya lalu menuliskannnya dalam bentuk buku, jurnal, majalah, blog dan sebagainya
    • Ilmuwan fiqih harus turus menerus membaca fenomena masyarakat dalam kehidupan dan literatur karya ilmuwan terdahulu, dan tentu juga Al Qur’an dan Hadits untuk merumuskan kaidah fiqh pada masaalah masalah up to date di masyakakat seperti tentag e money, transaksi melalui vending machine, transaksi melalui internet, pay pall, sholat di antariksa, dan sebagainya lalu menuliskannya dalam bentuk buku, jurnal, majalah, blog dan sebagainya
    • Demikian sekedar menyebut  beberapa contoh bidang keilmuan. Jika diteruskan contoh tersebut akan sangat panjang menyangkut seluruh bidang keilmuan yang selaras dengan pertumbuhan bidang praktisi dalam kehidupan
    • Ilmuwan dan praktisi harus terus bekerja sama untuk terus menerus membangun kehiduapn yang lebih baik, lebih bermartabat dan tentu makin menuju kehidupan yang diridloi-Nya
    • Di bidang manajeman misalnya, kerjasama praktisi dan ilmuwan itu diwadai dalam sebuah perusahaan konsultan (consulting firm) seperti SNF Consulting, www.snfconsulting.com, perusahaan tempat saya berkarya
    • Ilmu dapat dibagi menjadi dua kelompok. Ilmu dasar dan ilmu spesialis. Ilmu dasar adalah ilmu yang menyangkut pengamalan kehidupan keseharian setiap orang dengan profesi bidang apapun, tidak pandang bulu apakah dia ilmuwan atau praktisi.
    • Contoh ilmu dasar adalah ilmu tentang sholat, zakat, ilmu tentang keuangan keseharian, ilmu tentang rumah tangga, dan sebagainya. Siapapun wajib belajar ilmu dasar tersebut untuk bisa beramal keseharian dengan baik. Amal tanpa ilmu adalah sesuatu sia sia dan sering kali berbahaya. Maka saya yang telah memilih peran sebagai ilmuwan manajemen tetap harus membaca ilmu tentang sholat misalnya agar sholat yang saya lakukan sehari-hari tidak sia sia bahkan berbahaya bagi kehidupan akhirat saya
Image

buku tulisan ke 8 ku sebagai hasil kerja orang yang telah memilih profesi sebagai ilmuwan manajemen

  • Ilmu spesialis adalah ilmu yang menyangkut praktek profesional masyarakat. Contoh ilmu spesialis adalah ilmu tentang pertanian, ilmu manajemen, ilmu kepolisian, ilmu kelautan dan sebagainya. Tidak semua orang butuh ilmu spesialis. Ilmu spesialis hanya dibutuhkan oleh mereka yang berprofesi di bidang itu. Sebagai contoh, saya tidak membutuhkan ilmu pertanian secara mendalam karena saya adalah ilmuwan di bidang manajemen. Kalaupun membaca buku pertanian saya hanya menjadikannya sebagai wacana dan wawasan agar ketika meneliti dan menulis tentang perusahaan/organisasi yang bergerak di sektor pertanian bisa lebih komprehensif
  • Bagaimana kita menuntut ilmu? Sebelum menuntut ilmu kita harus memahami diri agar bisa memilih dengan tepat apakah kita akan menjadi ilmuwan atau menjadi praktisi pada bidang yang kita sukai.
  • Di negara negara yang sistem pendidikannya bagus seeperti Swiss misalnya, yang boleh belajar menjadi ilmuwan hanya sekitar 20% dari masyarakat. Proses belajar menjadi ilmuwan adalah melalu latihan penelitian yang puncaknya dilakukan dengan menulis skripsi, tesis atau desertasi pada jenjang pendidikan masing2 S1 (undergraduate), S2 (master) atau S3 (doktor, PhD)
  • Jadi skripsi, tesis atau desertasi adalah latihan penelitian. Disebut latihan karena mahasiswa melakukannya dengan bimbingan dan supervisi para dosen yang bertindak sebagai pelatih/supervisor/pembimbing
  • Maka, orang yang yang telah mengambil S1/S2/S3 yang selanjutnya tidak pernah melakukan penelitian dan menulisknanya dalam bentuk buku/jurnal/majalah/blog dan sebagainya berarti skripsi, tesis dan desertasinya adalah sia sia
  • Agar tidak terjadi kesia-siaan maka di negara maju setiap lulusan murid sudah dipetakan betul dan diseleksi ketat apakah mereka berpotensi menjadi ilmuwan atau tidak. Yang berpotensi dipersilahhkan masuk S1/S2/S3 dengan biaya publik (pemerintah) sesuai bidang yang disukainya
  • Yang menyukai bidang pendidikan misalnya dipersilakan menempuh pendidikan ilmuwan pendidikan sampai s3 untuk kemudian selalu menghasilkan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan untuk selanjutnya dibaca para dan dipraktekkan oleh para praktisi pendidikan
  • Yang menyukai bidang medis misalnya dipersilakan masuk pendidikan ilmuwan kesehatan sampai doktor untuk selalu melakukan penelitian dan menuliskan ilmu baru di bidang medis yang selanjutnya dibaca dan dipraktekkan oleh para praktisi ilmu medis, termasuk oleh para dokter spesialis di beragai bidang
  • Bagi mereka yang tidak berpotensi untuk menjadi ilmuwan dipersilakan masuk pendidikan praktisi sesuai bidang yang disukainya baik melalui SMK maupun melalui college/politeknik
  • Yang menyukai bidang pendidikan misalnya masuk pendidikan guru untuk kemudian menjadi praktisi pendidikan di berbagai jenjang pendidikan dan berbagai bidang
  • Yang menyukai bidang medis misalnya dipersilakan masuk pendidikan profesi dokter/dokter spesialis/perawat/perawat spesialis dan sebagainya untuk kemudian nantinya bertugas di berbagai rumah sakit/klinik/puskesmas
  • Dan sebagainya jika diperpanjang akan menyangkut seluruh bidang praktisi
  • Di negara yang pendidikannya maju, jenjang SMA cukup dua tahun. Yang akan mengikuti pendidikan profesi bisa langsung masuk politeknik/college. Yang akan mengikuti pendidikan ilmuwan (S1/s2/s3) harus mengikuti pendidikan pre university setahun atau dua tahun
  • Masih ada peluang mereka yang telah masuk college/politeknik tetapi ternyata memiliki potensi ilmuwan untuk selanjutnya alih jalur masuk s1/s2/s3
  • Lalu apa fungsi gelar sarjana/master/doktor/profesor? Dimata administrasi keilmuwan (kampus) tentu hal itu pending dalam konteks penataan manajemen ilu dan sumber daya manusia di berbagai bidang keilmuan. Tetapi, dimata Allah SWT yang dilihat bukan gelarnya, tetapi kemanfaatan ilmu yang telah dihasilkannya. Seorang ilmuwan diukur kiinerjanya dengan hasil tertulis dari penelitiannya baik di laboratorium maupun di alam semesta. Bukan sekedar hasil tertulis, tetapi lebih pada seberapa banyak ilmu yang telah ditulis tersebut dipraktekkan oleh para praktisi dan berhasil meningkatkan produktifitas, efektifitas dan efisiensinya. Jadi biar bergelar sampai doktor dan profesor, jika tidak pernah bisa menghasilkan ilmu tertulis yang bermanfaat bagi masyarakat, khususnya para praktisi, maka prses belajarnya melalui skripsi/tesis dan desertasi adalah sia sia. Kesia-siaan adalah kawannya syetan. Innal mubadzirina kaanu ikhwana syayatin, demikian ayat Al Qur-an. Tentu saja diperkecualikan bagi mereka yang sebelumnya telah belajar meneliti melalui skripsi/tesis/dan desertasi tanpa tahu apa maksud skripsi/tesis/dan desertasi
  • Demikian hasil renungan panjang saya, wallahu a’lam. Moga bermanfaat.  Insyaallah akan terus dikembangkan untuk menjadi buku

4 responses to “Ilmu, Membaca, Ilmuwan dan Praktisi

  1. pak, izin share boleh ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s