Sekolah, Gelar Akademik dan Kuliah Doktor yang Sia-Sia


Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting

SD: Masuk Buta Huruf Keluar Bisa Baca
Mungkin ada sebagian dari Anda yang mendapatkan ketrampilan membaca (dan menulis) melalui Taman Kanak-Kanak. TK.  Ini bisa terjadi pada Anda yang terlahir dan besar di tempat-tempat yang sudah relatif maju tingkat pendidikannya. Di kota-kota. Lingkungan sudah menyediakan sarana belajar sejak TK.

Mungkin ada sebagian yang lain memperoleh ketrampilan membaca pada saat menempuh pendidikan tingkat Sekolah Dasar (SD). Fasilitas pendidikan Anda belum menyediakan tingkat Taman Kanak-Kanak. SD adalah sekolah pertama yang menjadikan Anda bisa membaca (dan menulis).

Renungan menariknya: sebuah proses pembelajaran yang baik akan memberikan perkembangan signifikan. Sebelum masuk TK Anda tidak bisa membaca (dan menulis) dan lulus TK dengan keahlian membaca. Sebelum masuk SD Anda tidak bisa membaca (dan menulis) dan lulus SD dengan keahlian membaca (dan menulis).

Ketrampilan membaca benar-benar membuka jendela dunia. Anda bisa memahami nama jalan dan mencari alamat seseorang dengan membaca. Anda juga bisa berkomunikasi dengan rekan melalui SMS karena bisa membaca. Anda bisa menyimpan informasi tentang nomor telepon atau alamat rekan Anda melalui membaca-menulis. Anda bisa mengetahui berita melalui membaca koran. Pendek kata, membaca telah menjadikan jendela dunia terbuka.

Itulah contoh proses pembelajaran yang luar biasa. Sebelum sekolah Anda buta aksara, buta informasi, tidak bisa memahami isi buku, tidak memahami berita di koran, tidak bisa mencatat nomor telepon dan alamat kawan Anda. Berada dalam alam kegelapan.

Setelah sekolah (TK atau SD), semuanya terbuka. Cahaya telah menyinari kehidupan. Anda bisa berkomunikasi dengan SMS atau email, mencatat nomor telepon dan alamat kawan melalui phone book telepon seluler, mengetahui berita sehari-hari dengan koran, ke mana pun tidak takut tersesat.

Begitulah pendidikan yang berhasil. Terdapat perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah menempuhnya. Sebelum sekolah tidak bisa membaca, setelah sekolah jadi bisa membaca.

Nah….sekarang coba renungkan: apa yang membedakan Anda antara sebelum dan sesudah memasuki jenjang pendidikan SMP? SMA? Perguruan tinggi? S1, S2, S3? Kalau ada perbedaan yang signifikan, berarti Anda telah berada di jalan yang benar. Kalau tidak ada, berarti selama ini proses pendidikan itu sia-sia.

Sesuatu yang sia-sia dilarang agama. Sesungguhnya kesia-siaan itu saudaranya setan, demikian Al Qur’an surat Al-Isro ayat 27. Maka, jangan biarkan waktu Anda sia-sia. Uang Anda sia-sia. Umur Anda sia-sia. Seolah-olah belajar tetapi tidak mendapatkan apa pun kecuali buang-buang waktu, usia, uang, tenaga, dan potensi.

Magister: lulus bisa nulis buku
Ini adalah jenjang pendidikan yang paling saya rasakan pengaruhnya setelah SD. Bukan berarti dari SD langsung magister. Habis SD langsung S2.

Tetap seperti orang lain. Dari SD saya belajar di SMP, SMA, Sarjana..dan barulah pasca sarjana. Magister. S2.

Apa perubahan yang signifikan itu? Sebelum belajar di jenjang ini saya tidak bisa menulis buku. Setelah lulus, tidak lama kemudian buku demi buku terbit. Yang sekarang Anda baca ini adalah buku ke-7 saya. Masih banyak buku yang sudah mulai saya kerjakan dan tersimpan di laptop. Insya Allah segera menyusul.

Bagaimana proses pembelajaran di jenjang magister ini hingga saya bisa nulis buku? Ada mata kuliah yang sangat berkesan dan saya pelajari serius: metodologi.

Mata kuliah ini mengajarkan konsep tentang bagaimana proses untuk menghasilkan ilmu pengetahuan. Pengetahuan dihasilkan melalui riset atau penelitian yang secara umum dibagi menjadi dua pendekatan: statistik dan alternatif. Pendekatan statistik sering juga disebut metode mainstream.

Saya mempelajari dua-duanya. Pendekatan statistik saya pelajari dengan membantu kawan-kawan yang membuat tesis dengan metode ini. Pendekatan non statistik alias alternatif saya pelajari serius dengan menerapkannya pada penulisan tesis saya.

Dengan cara ini, saya belajar sangat intensif dengan kedua metode pendekatan ini. Dengan pendekatan statistik berpraktek menerapkan analisis diskriminan, cluster, regresi linier berganda, path analysis dan sebagainya. Pada pendekatan non statistik saya menerapkan studi kasus dari Yin.

Proses pembelajaran berjalan dengan nyaris sempurna. Mempelajari teori, mempraktekkan, mengulang-ulang, menjadi kebiasaan, dan mendapatkan hasil. Saya merasakan dengan baik bagaimana proses menghasilkan ilmu. Pendekatan alternatif sebagai proses menghasilkan hipotesis dan pendekatan statistik sebagai proses menguji hipotesis. Hipotesis adalah asal-usul sebuah teori yang merupakan bagian penting dalam ilmu pengetahuan.

Maka, tidak lama setelah menyelesaikan tesis sebagai praktek pembelajaran metodologi penelitian, buku pertama lahir. Hingga saat ini, saya masih terus-menerus mengasah keahlian di bidang metodologi ilmiah ini. Buku demi buku akan menjadi penanda pembelajaran ini.

Inilah pendidikan yang baik: sebelum menempuh S2 saya tidak bisa menulis buku. Setelah S2 buku demi buku lancar meluncur ke masyarakat pembaca. Ada perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah proses belajar.

GG1

Buku tulisan ke-7 dari 9 buku tulisanku yang sudah terbit

Beberapa waktu lalu saya pulang ke rumah ibu di Madiun. Karena sebuah kebutuhan, saya kembali membuka sebuah lemari pakaian. Ada sesuatu yang menarik di balik pintu lemari yang dulu saya pakai menyimpan baju sewaktu masih kecil hingga remaja. Terdapat tanda tangan dan tulisan nama dibawahnya: Prof. Dr. Ir. Iman Supriyono, SE, MSc.

Apa yang tertulis semasa usia SMA itu adalah cermin semangat. Semangat untuk menempuh jenjang pendidikan hingga mentok. Semangat untuk menjadi akademisi hingga jenjang tertinggi: profesor doktor.

Semangat itu masih terasa saat awal-awal kelulusan dari program magister. Saat saya belum membuat proses perenungan mendalam dalam hal pembelajaran.

Tetapi, kini, saat saya telah merenungkan lebih mendalam tentang proses pembelajaran, semangat itu hilang. Paling tidak untuk saat ini. Saat di mana saya belum menemukan jawaban terhadap pertanyaan sederhana: apa perbedaan nyata dan konkrit, tentu saja bagi saya, antara sebelum dan sesudah sekolah doktor.

Sebelum sekolah magister tidak bisa menulis buku. Lulus sekolah magister bisa nulis banyak buku. Sebelum sekolah doktor tidak bisa apa, setelah sekolah doktor bisa apa? Itulah pertanyaan yang harus terjawab sebelum semangat untuk sekolah doktor kembali muncul.

Tidak baik sekolah dengan sia-sia. Tidak ada perbedaan signifikan antara sebelum dan sesudah menempuh proses pendidikan. Waktu, pikiran, biaya ratusan juta, sirna begitu saja tanpa adanya keahlian yang berarti.

Gelar? Haruskah gelar menjadi sesuatu yang diandalkan? Rasanya tidak. Alasannya sederhana. Gelar adalah bukti bahwa seorang mahasiswa telah berhasil melalui serangkaian ujian. Gelar adalah pengakuan akan prestasi seorang mahasiswa dari kampus tempatnya menuntut ilmu.

Menulis gelar di depan nama berarti menuliskan prestasi semasa menjadi mahasiswa. Prestasi masa lalu. Bukan prestasi sekarang. Haruskah berbangga dengan prestasi masa lalu?

Mestinya, yang lebih penting bagi seorang lulusan sebuah jenjang pendidikan adalah bukti berupa prestasi yang diakui masyarakat. Bukti bahwa seorang alumni sebuah lembaga pendidikan mengalami proses pembelajaran yang meningkatkan kapasitas nyata dan signifikan. Bagi saya, buku-buku yang dibaca masyarakat jauh lebih penting sebagai tanda keberhasilan proses pembelajaran magister dari pada ijazah atau gelar yang tertulis di kartu nama.

Bagaimana dengan ijazah? Perlakukan ijazah sebagaimana seharusnya ijazah diperlakukan. Dilaminating dan disimpan di lemari. Tidak perlu kesana-kemari ditunjukkan kepada orang lain. Cukup disimpan sendiri sebagai kenangan bahwa dulu saya pernah belajar di SD Negeri Kaliabu 1, SMP Negeri 1 Caruban, SMA Negeri 1 Caruban, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Ailangga (UNAIR). Itu saja.

Tulisan ini diambil dari buku ke-7 ku “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok, Hikmah Pembakar Jiwa Entrepreneur dari Abdul Rachim

8 responses to “Sekolah, Gelar Akademik dan Kuliah Doktor yang Sia-Sia

  1. mohon doa restunya ustad, semangat menulis kembali terbersit di benak saya. menulis buku: SIAPA TAKUT

  2. Alhamdulillah buku pertama saya sudah terbit.
    Walau masih keroyokan tp lega juga rasanya😀
    Monggo pinarak..
    http://www.alixwijaya.com/2013/07/buku-saya-terbit-pre-order-buku-my.html

  3. Luar Biasa Prima! Memang keren nih Profesor. Moga makin sukses dan berkah dengan karya-karyanya, (y)

  4. ada revelansinya semacam gubernur bergelar doktor lalu gak menulis buku ?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s