Manajemen Kota Ho Chi Minh: Tanpa Mall


Tanpa Mall

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting 

Hari masih pagi ketika saya keluar dari kmar sebuah hotel di tengah kota Ho Chi Minh. Pagi itu agenda saya memang jalan-jalan. City tour menikmati suasana kota yang baru pertama kali saya kunjungi itu. Di tangan sudah tersedia peta kota yang cukup informatif. Maka saya pun segera menuju Ben Tanh Market. Saya ingin menyaksikan bagaimana kondisi pusat perbelanjaan di kota terbesar Vietnam itu yang juga akrab disebut HCMC itu.

Begitu masuk dari pintu utama, yang menonjol adalah stan pakaian. Saya cek harganya kurang lebih seperti harga baju-baju di Indonesia. Terus berjalan menyusuri lorong pasar yang sangat terasa adalah kebersihannya. Bahkan ketika tiba di bagian pasar basah, kebersihan itu tetap terasa menonjol. Pedagang sayur, ikan, daging babi, ayam, semua menata dagangannya dengan rapi dan bersih. Saya pun meninggalkan pasar dengan membeli sawo dan srikaya yang ukurannya jumbo, kelapa muda yang sabutnya sudah dikupas dengan rapi, kaos T shirt dan gantungan kunci. Harganya semua mirip-mirip dengan harga di Indonesia. Suasan yang juga mirip pasar-pasar tradisional di Indonesia.

17022012(008)

Di taman, bukan di Mall: jalan-jalan, olah raga, bercengkerama dengan sahabat atau keluarga….. itulah HCMC

Bagaimana kalau ada orang membutuhkan barang-barang yang lebih berkelas? Jam tangan Rolex, baju bermerek Zara, tas LV misalnya? Tentu yang seperti ini tidak ada di pasar. Terus apakah orang HCMC tidak butuh barang seperti itu? Tetap butuh. Dimana membelinya?

Kalau di Indonesia tentu dengan mudah kita bisa memperoleh barang barang branded seperti itu di mall-mall besar yang tersebar di seantero kota. Nah, HCMC agak berbeda. Di kota pusat bisnis Vietnam ini sama sekali tidak ada Mall. Lalu tidak adakah merek merek terkenal itu? Tetap ada. Merek merek terkenal seperti itu hadir di toko-toko pinggir jalan. Kemewahan interior untuk mamajang Rolex misalnya bisa diperoleh di sebuah toko tidak jauh dari Ben Tanh Market. Begitulah semua merek merek terkenal memiliki outlet di toko-toko pinggir jalan.

HCMC: olah raga pagi di taman kota yang luas indah segar dan gratis.....  bukan di gym nya mall yang bayar...

HCMC: olah raga pagi di taman kota yang luas indah segar dan gratis….. bukan di gym nya mall yang bayar…

Mungkin Anda membayangkan betapa tidak myamannya berbelanja barang mewah seperti itu di toko pinggir jalan. Tidak. Bayangan seperti itu tidak terjadi di HCMC. Tidak adanya mall justru menjadikan kota itu lebih mirip sebagai sebuah mall besar. Suasana ini terbentuk oleh taman-taman kota yang cantik dimana-mana. Pedestriannya walaupun tidak berkeramik seperti di Singapura tetapi nyaman dipakai jalan-jalan karena selalu diteduhi dengan pohon-pohon rindang berhias taman-taman kota nan elok nyaris dimanapun kita berada.

Suasana ini membentuk budaya masyarakat yang juga berbeda dengan Jakarta atau Surabaya misalnya. Tempat favorit untuk jalan-jalan kelarga di malam minggu kalau di Surabaya atau Jakarta pastilah ke mall dengan aneka barang bermerek dan food court yang nyaman. Di HCMC, masyarakat menikmati suasana santai dengan jalan-jalan di taman dan pedstrian kota. Yang mau berbelanja barang bermerk atau dan menikmati makanan bisa mampir di toko-toko di pinggiran jalan. Maka, tiap hari nyaris 24 jam pedestrian dan taman kota selalu dipadati masyarakat yang bersantai.

&&&&

Pembaca yang baik, keberadaan mall besar di kota memang dianggap menjadi penanda modernitas. Tapi itu ternyata bukan sesuatu yang mutlak. HCMC berhasil membangun kota tanpa mall yang justru menjadikan nyaris seluruh penjuru kota menjadi nyaman untuk jalan-jalan. Susananya jadi mirip pesta kebun besar diman-mana dan setiap saat.

Ho Chi Minh City: bersantai selepas senja di taman kota.... bukan di mall

Ho Chi Minh City: bersantai selepas senja di taman kota…. bukan di mall

Di HCMC, saya jadi ingat sebuah lagu lama berbahasa jawa suroboyoan… “Rek ayo rek mlaku mlaku nang tunjungan….”. Suasana jalan-jalan saeperti yang digambarkan pada lagu itu ternyata dapat dinikmati dengan sempurna di Ho Chi Minh. Apapun kebutuhan warga kota disediakan dengan baik di Ho Chi Minh. Taman terbesarnya dengan lebar lebih dari 500 meter dan lebih panjang 2 km dipenuhi dengan fasilitas olahraga yang bisa dipakai siapa saja kapan saja. Maka jangan heran setiap saat ada saja masyarakat yang memanfaatkannya untuk olahraga menjaga kebugaran. Bahkan di tengah malam pun. Semuanya terjadi karena kosep sederhana: kota tanpa mall!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Baz, terbit di Surabaya. Kembali ke situs SNF Consulting

4 responses to “Manajemen Kota Ho Chi Minh: Tanpa Mall

  1. Matur suwun Kang..sdh berbagi

  2. Alhamdulillah di Hutan Kota Serpong sudah mulai dibuat yang kyk begitu mas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s