Batavia: Tauhid Kepailitan


Batavia

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Pailitnya sebuah perusahaan tentu sangat menyedihkan. Bagi pemilik maupun bagi para karyawan yang sudah bertahun-tahun bahu-membahu menjalankan roda bisnis. Traumatis. Saya pernah menemuai karyawan yang sampai beberapa tahun tidak mau bekerja di perusahaan lain. Berharap perusahaan tempanya bekerja yang sedang sekarat akan bangkit kembali. Demikianlah paling tidak yang saya amati dari perusahaan-perusahaan yang sedang terancam atau sudah dinyatakan pailit.

Batavia Air transparan3

Batavia: Tauhid Kepailitan

Akan tetapi, setraumatis apapun, setiap peristiwa selalu mengandung pelajaran. Proses kepailitan sebuah perusahaan sangat menarik untuk diamati. Sama menariknya dengan proses keberhasilan. Bahkan kepailitan lebih penting diamati. Bukan bersenang-senang diatas penderitaan lain. Tetapi semata-mata karena kepailitan jauh lebih sulit diekspose dari pada kejayaan sebuah perusahaan. Tidak ada orang yang ingin dikenal karena kegagalannya.

Maka, ketika tersiar kabar bahwa Batavia Air terancam pailit, saya segera pasang mata pasang telinga. Peristiwa penting nan langka. Apalagi saya memang menaruh hobi pada dunia penerbangan dan pesawat. Saya yakin ribuan karyawan dan pemilik Batavia sedang bersedih dengan hari-hari berat. Tetapi pelajarannya tetap harus dipetik.

♦♦♦

Pembaca yang baik, beberapa bulan sebelum diputus pailit, Batavia sempat dikabarkan akan diakuisisi oleh Fersindo Nusaperkasa (Air Asia Indonesia) dan AirAsia (pusat). Tetapi Oktober 2012 maskapai asal Malaysia ini menyatakan mundur. Endingnya, diketoklah palu pailit oleh pengadilan niaga jakarta pusat. Penggugatnya adalah International Lease Finance Corporation (ILFC) sebagai perusahaan yang menyewakan pesawat dan gagal dibayar oleh Batavia.

Undang undang no 37 tahun 2004 tentang kepailitan menyebutkan bahwa pengadilan dapat memutus pailit sebuah perusahan yang memiliki hutang kepada dua kreditur atau lebih dan tidak membayar sedikitnya satu hutang yang telah jatuh tempo. Pailit terjadi karena gagal membayar hutang.

Mengapa gagal bayar? Secara umum tentu karena tidak ada dana. Mengapa tidak ada dana? Penyebabanya bisa bermacam-macam. Salah satunya karena aliran kas masuk dari operasi perusahaan tidak sesuai dengan rencana. Ini bisa terjadi karena proyeksi cash flow yang tidak tepat, kebijakan cash flow yang salah, kondisi pasar yang menurun, atau sebab-sebab lain. Tetapi intinya, arus kas masuk tidak cukup untuk menanggulangi kebutuhan kas keluar.

Apakah adanya masalah arus kas selalu identik dengan perusahaan yang rugi? Tidak selalu. Bisa saja sebenarnya laba tetapi penjualannya tidak tunai dan penagihannya seret. Jika demikian, laba hanya sekedar catatan nominal. Tida sampai dinikmati berupa uang kas.

Bagaimana bisa terjadi? Salah satu kemungkinannya adalah karena kesengajaan. Perusahaan sengaja berekspansi. Perusahaan menambah investasi dengan maksud menggenjot pendapatan tetapi pasar tidak merespon sesuai harapan. Hal seperti inilah yang nampaknya terjadi di Batavia yang sebelumnya banyak berinvestasi untuk penambahan rute. Termasuk untuk angkutan jamaah haji yang kalah tender. Jika seperti ini yang terjadi maka sebenarnya masalah arus kas dan kepailitan adalah sisi risiko dari sebuah pertumbuhan.

Dalam persaingan bisnis yang ketat seperti dunia penerbangan, pertumbuhan adalah sebuah keharusan. Tumbuh atau mati! Perusahaan bisa memilih berekspansi untuk tumbuh dengan risiko jebol di cash flow dan pailit. Atau bisa juga stagnan dengan risiko yang juga mati karena terdesak pesaing-pesaingnya.

Maka…ekspansi adalah cara yang lebih heroik. Heroik secara bisnis, heroik pula secara spiritual. Bagi para praktisi bisnis yang bertauhid, ekspansi dan risiko terancam pailit yang menyertainya adalah salah satu cara untuk memenuhi syarat mendapatkan pertolongan-Nya.

Ayat 110 dari Surat Yusuf menyatakan, “Sehingga apabila para Rasul hampir-hampir berputus asa (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para Rasul itu pertolongan Kami….”. Pertolongan akan datang setelah ada kondisi “hampir-hampir putus asa”. Bahkan mungkin hampir bunuh diri (eh….sekali lagi “hampir bunuh diri” lho ya…bukan bunuh diri betulan hehehehe). Hampir diputus pailit….dan kemudian mengerahkan segala upaya dan doa untuk berkelit. Saat hampir putus asa…pertolongan-Nya pun datang. Inilah puncak kenikmatan tauhid bagi Anda para pelaku bisnis yang sejak awal meniatkannya sebagai bentuk ibadah. Ditolong-Nya saat terancam pailit. Terselamatkan. Heroik, bertahuhid, sukses! Tidak seperti Batavia yang telah diputus pailit oleh pengadilan. Semoga!

Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya. Kembali ke situs SNF Consulting

8 responses to “Batavia: Tauhid Kepailitan

  1. Aduh, kalo pake ilmu kepepet begitu terus, capek juga. Terutama lelah pikiran. Namun, kalo diam dan nyaman dengan kondisi saat ini, betul sekali Pak Iman, ternyata juga tetap akan kalah dan menebar bom waktu. Jika memang kondisi seperti kepepet itu bisa menjadi puncak kenikmatan seseorang beserta orang-orang disekitarnya, utamanya jika kepepet dan endingnya gagal (bukan kepepet dan endingnya berhasil seperti di film-film), maka saya berharap hal ini menjadi buku yang akan menguraikannya lebih lengkap pada karya Pak Iman selanjutnya.
    Btw, saya suka sekali ulasan kegagalan Batavia air diatas. Memang proyeksi tidak selalu terealisasi.

  2. oke. Inti pesan kasus ini, “Tundalah kesenangan meski terkesan pailit, untuk ekspansi Usaha lebih besar”. Bukan, “Engkau dihukum pailit, karena statis”. Cerita mengesankan.

  3. Salam kenal Pak Iman, terimakasih, inspiratiff! Mohon bimbingan buat nuwbie seperti saya,…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s