Perusahaan Dakwah


Perusahaan Dakwah

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen di SNF Consulting

Sepulang dari sebuah perjalanan seminggu lebih dari luar kota yang jauh, dua hari saya praktis tidak keluar rumah. Kecuali ke kantor yang jaraknya juga hanya 7 menit jalan kaki dari rumah. Efeknya, dua hari saya tidak membutuhkan uang sama sekali. Bahkan uang receh sekalipun. Akibatnya, dua hari saya tidak mencari-cari dompet.
Pada hari ketiga, barulah saya membutuhkan uang untuk sebuah keperluan. Saya pun mencari-cari dompet. Di saku belakang celana memang ada. Tetapi bukan dompet ini yang saya cari. Saya memang memiliki dua dompet. Satu dompet berisi surat surat, kartu ATM, dan sejenisnya. Satu lagi dompet berisi uang. Dompet inilah yang ada di saku belakang. Ini saya sengaja untuk menjaga agar dompet berisi surat-surat tidak perlu sering-sering keluar dari saku yang menjadikannya lebih berisiko terjatuh atau hilang. Yang saya cari-cari adalah dompet yang berisi uang.

Setelah saya cari-cari kesana kemari, dompet itu tidak juga ketemu. Jadilah saya berpikir. Dimanakah gerangan kemungkinan terjatuhnya dompet itu? saya kemudian punya ide menelepon taksi. Ya, dari bandara saya naik taksi dan membayar taksi dengan uang yang ada di dompet ini. maka, sangat mungkin dompet itu terjatuh di taksi.

Siang itu, begitu mencatat hal ihwal kehilagnan dompet saya dan data-data yang masih saya ingat, petugas penerima telepon taksi berjanji untuk memprosesnya. Ia berjanji akan kembali menghubungi saya jika sudah ada perkembangan. Sebuah awal layanan yang menyenangkan dan memenangkan.

Sore harinya, hanya beberapa jam kemudian, petugas sudah menelepon kembali. Ia mengabarkan bahwa dompet saya sudah bisa diambil di kantornya sewaktu-waktu. Malam harinya saya meluncur ke alamat yang disebut oleh petugas diujung telepon. Begitu menunjukkan KTP dan mengisi sebuah formulir sederhana, dompet saya sudah kembali ke tangan lengkap dengan uang yang tersimpan di dalamnya. Tidak berkurang sedikitpun. Bahkan ketika saya menawarkan imbalan jasa, petugas tadi dengan ramah menolaknya. Sebuah mental yang luar biasa baik di tengah dekadensi moral yang semakin terasa.

•••

Blue Bird. Itulah taksi yang telah menyelamatkan dompet saya. Sebuah dompet yang memang isinya hanya uang. Benar-benar hanya uang. Sama sekali tanpa kartu identitas apapun di dompet ini. Bahkan sekedar kartu nama pun tidak.

Artinya, bisa saja pengemudi taksi yang menemukan dompet saya itu berfikir bahwa ini bukan barang yang terlalu dibutuhkan oleh pemiliknya. Memberi nama saja tidak. Mungkin ini memang barang remeh-temeh sehingga tidak perlu dikembalikan.

Tetapi ternyata tidak. Pak supir yang menemukan dompet saya langsung melaporkannya ke kantor tempatnya bekerja. Dompet saya lalu disimpan di petugas layanan pelanggan. Dan begitu saya melapor kehilangan dompet, tak lama kemudian dompet itu bisa kembali dengan selamat dan utuh kepada saya.

mendidik ribuan supir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dawah luar biasa

mendidik ribuan supir menjadi orang jujur adalah sebuah karya dawah luar biasa

Saya sempat menyampaikan pengalaman kehilangan dompet ini melalui sebuah media sosial internet. Banyak kawan yang menanggapi bahwa pengalaman dengan seperti yang saya rasakan juga pernah dirasakannya dengan taksi yang sama. Berbagai sumber yang pernah saya terima juga mengatakan demikian. Blue Bird telah berhasil mendidik para supirnya untuk menjadi orang jujur. Bukan hanya satu dua orang. Berhasil mendidik puluhan ribu orang!

•••

Hari-hari ini saya sedang menyelesaikan buku ke-11 saya. Insyaallah berjudul “Perusahaan Dakwah”. Sebuah buku yang merupakan hasil riset plus pengalaman berinteraksi dengan berbagi perusahaan. Buku yang berisi bagaimana sebuah perusahaan mampu menjadi sarana untuk membina para karyawaannya agar makin bertakwa. Bertakwa dalam konteks kehidupan nyata baik di dalam maupun di luar perusahaan.

Pada buku hasil studi etnografis di Riscon (www.risconrealty.com), sebuah perusahaan properti berkantor pusat di Jakarta ini, saya menulis bahwa secara umum perusahaan dakwah memiliki karakteristik berikut: [1]Kualitas ketakwaan karyawan dan keluarganya selalu meningkat. Makin lama berada di perusahan mereka akan makin dekat dengan Sang Khaliq. Makin dirasakan manfaatnya oleh semua [2] Disamping makin bagus kapasitas manajerialnya, makin tinggi posisi karyawan dalam struktur organisasi perusahaan, makin tinggi pula ilmu dan kualitas pengamalan ajaran agamanya, baik secara ritual mapun aplikasi keseharian. Jika para karyawan berkumpul untuk sholat berjamaah misalnya, yang paling pantas menjadi imam adalah direktur utamanya karena dialah yang paling bagus bacaan Qur’annya, paling dalam ilmu agamanya, dan paling bagus pengamalan agamanya. [3]Customer, supplier, atau siapapun yg berinteraksi dengannya merasakan kesejukan, kejujuran, ketakwaan dan kemudian terinspirasi untuk melakukan hal yang sama bahkan lebih baik [4]Perusahaan dakwah selalu berkontribusi untuk perbaikan kejujuran, kebaikan, dan ketakwaan masyarakat [5]Selalu tumbuh omset,  aset, dan wilayah operasinya melampoi batas-batas negara. Pertumbuhuhan aset dan omset adalah  sebagai tanda bahwa setiap personil perusahaan adalah orang-orang yang bersyukur yang selalu ditambah nikmatnya. Pertumuhan melampoi batas-batas negara adalah bentuk aplikasi dari ajaran agama yang universal melampoi batas-batas negara. [6] Perusahaan dakwah merupakan pembayar pajak yang taat sebagai salah satu bentuk kontribusi perusahaan terhadap masyarakat yang merupakan aplikasi dari ajaran bahwa sebaik- baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Dan masih banyak lagi karakter positif yang harus dimikiki oleh sebuah perusahaan dakwah di luar 6 poin ini. Riset untuk buku ini masih terus berlangsung.

Apakah karateristik tersebut bisa diwujudkan secara seketika? Tentu tidak. Perusahaan perlu berproses menuju kesana. Yang penting, perusahaan dakwah telah menjadi visi dan misi sebagai bagian tak terpisahkan dari strategic plan perusahaan dalam jangka panjang. Proses pelaksanaannya dilakukan mengikuti road map yang telah disusun perusahaan untuk mencapai visinya dengan berpegang teguh pada misi yang telah ditetapkan.

Perusahaan berbadan  hukum perseoran terbatas, bisakah menjadi institusi dakwah? Kenapa tidak? Sampai saat ini, perseroan terbataslah yang telah terbukti mampu menjadi format badan hukum paling eksis dan terus tumbuh menjadi wadah bagi jutaan bahkan milyaran orang diseluruh dunia untuk berkarya. Badan hukum yayasan atau ormas yang selama ini banyak dipakai sebagai institusi dakwah tidak bisa mengalahkan eksistensi perseoroan terbatas baik dalam jumlah orang yang berkarya didalamnya apalagi pada aset dan peran ekonominya. Maka, para aktivis dakwah perlu berfikir alternatif dengan menjadikan perseroan terbatas sebagai format institusi dan badan hukum dunia modern untuk mewadahi aktivitas dakwah pada beragai sektor kehidupan. Dengan demikian akan ada perusahaan dakwah yang bergerak di bidang produksi semen, komputer, consumer goods, mobil, pabrik pesawat terbang, maskapai penerbangan, pariwisata, operator telepon, pabrik tempe, ritel modern, salon kecantikan, dan sebagainya dan sebagainya.

Maka, orang yang menanamkan uangnya sebagai modal alias saham pada sebuah perusahaan dakwah akan terus-menerus menerima pahala kebaikan selama peruasaan masih beroperasi. Demikian pula tenaga yang dicurahkan oleh para karyawan untuk membangun dan membesarkannya. Pemegang saham, komisaris, direksi dan karyawan menjadikan perusahaan sebagai sarana bekerja sama dan tolong menolong secara permanen untuk berkarya dalam kebaikan dan takwa.  Tidak ada majikan tidak ada buruh.  Yang ada adalah taawanu alal birri wa taqwa. Tolong menolong membangun sistem manajemen organisasi amal kebajikan, ketaqwaan dan amal jariyah.  Inilah cara untuk menjadikan uang ditangan, tenaga, waktu dan pikiran agar bermanfaat secara luas tanpa batas waktu. Sudah saatnya kita mencapainya. Menjadi invesor. Menjadi pemegang saham.  Menjadi karyawan atau profesional yang bekerja tak kenal lelah tak kenal waktu sampai akhir hayat untuk sebuah perusahaan yang akan menjadi amal jariyah. Perusahaan dakwah!

Tulisan ini dimuat di majalah Mulia, terbit di Surabaya, dengan editing dan penambahan di beberapa bagian. Konsep perusahaan dakwah perlu pemahaman dasar tentang apa yang disebut sebagai Desakralisasi Harokah

12 responses to “Perusahaan Dakwah

  1. Iya juga ya….. bisnis itu bisa jadi amal jariyah.!

  2. salam alaikum .
    mas ini sudah masuk ke ranah axiology dan pratic, ini sudah “melompat ” wilayah epistemology. saya tidak tahu apakah ini sudah melalui wilayah epistemic ataukah meloncatinya begitu saja mengigat bahwa saya juga tidak tahu pembekalan apa saja yang sudah di berikan si perusahaan kepada karyawannya dalam kaitannya dengan social engineering.

  3. lakukan ini dan itu, jangan lakukan ini dan itu, kalian harus jujur, marilah kita ber taqwa. semua itu ada dalam domain Filsafat Practis dan imperative.
    sedangkan berbuat jujur bisa mengakibatkan …., kenapa kita harus bertaqawa karena ….., ini semua masuk dalam domain Filsafat teoritis.
    Dan setiap proposisi dalam teoritis bisa di nilai benar dan salahnya.
    Epistemology bekerja di wilayah untuk menilai sahih tidaknya landasan2 teoritis yang di ajukan.

    misal :
    Jujur bisa mengantar orang menuju kebahagiaan. (landasan teoritis)
    lalu epistemolgy mencoba untuk mentasdiq/menilai benarkah TEORI tersebut? jika bila terbukti BENAR maka munculah gagasan imperative yakni JUJURLAH (landasan praksis). Akan terjadi kesulitan dan perubahan/pergesaran perilaku jika ada sejumlah praktek2 yang lemah landasan teoritisnya terutama jika terjadi gempuran terhadap landasan teoritisnya. lebih2 lagi jika tidak punya landasan teoritisnya.

    misal :

    kita dari kecil di suruh sholat, gak boleh merokok, gak boleh maen petasan tapi ortu tidak pernah memberi landasan teoritisnya. maka gak lama setelah ortu sudah meninggal atau kita sudah lepas dari mereka MAKA perintah2 mereka akan menjadi nir nilai karena juga gak jelas maksud dan tujuan perbuatan tersebut kecuali hanya kita sekedar “menghormati” perintah ortu dimana kita sebagai sub ordinat dari mereka.

    salam !

  4. suwun cak komentar n tambahan analisisnya. teori yg secara epistemic dinyatakan benar belum tentu bisa mengubah orang kan? misalnya…teori bahwa jujur mengakibatkan ….. tapi orang tidak bisa menginternalisasi teori tersebut ke dirinya…maka hasilnya tidak jujur juga kan? bagaimana menjelaskan ini secara epistemic?

  5. Ping-balik: Hibiscus Rosa Sinensis: Kenapa Harus Konsultan Bisnis Asing? | Catatan Iman Supriyono

  6. Di lain pihak ada taksi lain yg terkenal dengan berbagai triknya : Argo kuda, tampilan dikirimkan dengan taksi terkenal, berganti ganti nama, dll. Tahukah anda taksi yg saya maksud?

  7. Dimiripkan bukan dikirimkan. Gara2 spell check Android😦

  8. Di lain pihak ada taksi lain yg terkenal dengan berbagai triknya :
    Argo kuda, tampilan dimiripkan dengan taksi terkenal, berganti ganti nama, dll. Tahukah anda taksi yg saya maksud?

  9. Pengalaman P.Iman jg pernah saya dengar dari P.Mas (Dosen Pemasaran Stiesia) cukup terharu apalgi klo kta sndri yg mngalami, salut buat Blue Bird pantas klo memang Blue bird mnjadi prusaahn taksi trbesar di Indonesia.
    Menjadi perusahaab dakwah,sperti cita2 Ustad Yusuf Mansur Insya Allah bisa krn disana ada indikator Invisible God yg akan menjdikan sukses,
    Selamat Pak, smoga bisa dinikmati karyanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s