Colliers: Uang Dan Gedung Saja Tidak Cukup Untuk Menara 165


Colliers

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku2 bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Raya TB Simatupang Jakarta Oktober 2012. Di tengah kemacetan lalu lintas Jakarta, jelang magrib mobil yang saya tumpangi sudah terparkir rapi di halaman Menara 165. Sebuah gedung yang oleh para penggagasnya dimaksudkan sebagai simbol tonggak kebangkitan moral bangsa. Sederhananya: bangsa yang jaya dengan berpegang teguh pada nilai-nilai moral dan keluhuran. Tulisan “Allah” di puncak gedung yang terlihat indah seperti mahkota raja menjadi penegas simbolisme ini.

Tapi tujuan saya ke gedung berlantai 25 itu tidak ada hubungannya dengan simbolisme gedung. Bersama direktur sebuah perusahaan klien SNF Consulting, kantor saya, kedatangan sore itu bertujuan untuk mencari ruang yang bisa disewa. Ruangan yang nantinya akan difugnsikan sebagai kantor untuk klien yang bergerak di bidang pengambang properti itu.

Di lobi gedung, seorang petugas front office melayani dengan ramah. Terjadilah dialong singkat tentang kondisi sekilas gedung. Beberapa infrmasi awal untuk colon penyewa. Walaupun belum meadai, informasi itu cukup membantu memberikan gambaran sebelum petugas marketing datang. Sambil menunggu, sempat juga saya mengamati suasana di lobi gedung yang di salah satu sisinya terdapat sebuah kafe itu.

menara-165-2

Menara 165 dengan manajemen Colliers

Tak lama kemudian petugas marketing datang. Connie I Nurhayati. Itulah nama perempuan berambut panjang itu sebagaimana yang saya baca dari karat nama berlogo Colliers International itu. Karena memang menjadi tugasnya, ia bisa menjelaskan dengan detail segala sesuatu tentang gedung yang pengelolaannya dipercayakan kepada perusahaan tempanya bekerja yang berpusat di Seattle-USA. Tentang harga sewanya, tentang service charge, tentang listrik, telepon, dapur, keamanan, perusahaan-perusahaan lain yang sudah berkantor di gedung ini, dan sebaginya. Termasuk tentang keberadaan lantai 25 yang semula didesain untuk masjid dan kemudian diubah hanya menjadi mushola internal dengan alasan keamanan bagi para penyewa. Untuk memantapkan, sebelum berpamitan saya pun diajaknya untuk meninjau ruangan yang masih kosong dan tersedia untuk di sewakan di salah satu lantai.
•••

Pembaca yang baik, apa yang Anda tangkap dari suasan pada tulisan singkat di atas? Bisa bermacam-macam. Tetapi saya akan mengajak Anda merenung tentang satu hal penting: uang saja tidak cukup. Lho, apa hubungannya? Saya mengajak Anda merenungkan hal ini karena kebetulan saya pernah mengikuti training ESQ. Disamping materi inti tentang ESQ, pada training itu saya memperolah informasi cukup detail tentang gedung Menara 165. Sebuah gedung yang dibangun dengan militansi tinggi untuk sebuah tujuan mulia. Gelang plastik warna putih yang melingkar di pergelangan tangan para trainer menjadi simbulnya. Gelang yang tidak akan dilepas sebelum gedung kebanggaan itu benar-benar berdiri berdiri tegak dan berfungsi.

Dengan perjuangan yang panjang dan pengumpulan dana dari puluhan atau bahkan ratusan ribu alumni ESQ, akhirnya gedung itu pun berdiri. Bahkan kini sudah beroperasi. Sore itu saya melihat beberapa ruangan yang sudah aktif dimanfaatkan sebagai kantor. Sebuah keberhasilan yang harus diapresiasi. Tentu gelang plastik itu kini sudah dilepas oleh team ESQ.

Hanya ada yang sedikit mengganjal: mengapa Colliers? Mengapa Mbak Connie tidak berjilbab? Mengapa masjid di lantai 25 beralih fungsi sebagai mushola internal? Ganjalan yang menjadi sebuah pelajaran. Pelajaran bahwa membangun gedung secara fisik saja tidak cukup. Dibutuhkan brand dan kemampuan manajerial yang kredibel untuk mengelola gedung supaya dipercaya para penyewa yang di kawasan Simatupang banyak berkantor perusahaan-perusahan pertambangan kelas dunia. Itu semua ada pada Colliers International yang memang sudah berjaringan global dan profesional di bidangnya sejak tahun 1976.

Karena Colliers yang mengelola –bukan keluarga besar ESQ sebagai pembangun dan pemilik gedung- tentu saja segala sesuatunya ditentukan berdasarkan standar perusahaan global berkaryawan lebih dari 15 ribu itu. Mbak Connie sebagai sales yang tidak berjilbab –tidak seperti tradisi team ESQ- dan dianulirnya fungsi masjid pada lantai 25 menurut hemat saya termasuk bagian dari standar Colliers. Hikmahnya: mari membangun kemampuan manajerial, kepercayaan dan brand! Idealisme saja tidak cukup. Memiliki gedung saja tidak cukup. Uang saja tidak cukup. Mari bekerja keras meraih kepercayaan manajerial dan brand unggul seperti yang telah dimiliki oleh Colliers!

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

2 responses to “Colliers: Uang Dan Gedung Saja Tidak Cukup Untuk Menara 165

  1. tulisan yang bagus bos…sangat inspiratif

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s