FSQ: mengapa Financial Spiritual Quotient? Mengapa Mengukurnya?


FSQ: Mengapa Financial Spiritual Quotient? Mengapa Mengukurnya?

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

Seorang tokoh pendidikan anak nasional ditangkap polisi. Demikianlah berita mengejutkan pada saat saya sedang asyik menyelesaikan tulisan untuk buku ini. Tokoh yang identik dengan sekolah belasan cabang ini ditangkap karena dilaporkan telah menggelapkan beberapa mobil milik relasinya.

Anak sulung saya yang baru saja masuk kelas 1 SMP benar-benar terkejut. Ia setengah tidak percaya bahwa tokoh yang sangat dikenalnya ini ditangkap polisi. Ia heran, orang yang selama ini dikenal sangat baik dan selalu tampil menarik di media yang dibacanya ini bisa ditangkap polisi atas dugaan kasus kriminal.

Saya pun heran, bagaimana mungkin orang yang sudah membangun dan merintis karir puluhan tahun sejak mahasiswa bisa terperosok pada sebuah permasalahan berat. Permasalahan yang kemudian menyebabkannya menjadi tahanan polisi. Rasanya tidak logis. Susah-susah membangun karir bertahun-tahun, seketika hancur begitu saja.

Informasi dari koran, tokoh ini diduga telah salah dalam mengambil keputusan keuangan. Kesalahan keputusan yang berakibat kerugian yang tidak sedikit. Sampai-sampai rumah tinggalpun harus dijual. Terpaksa tinggal di rumah kontrakan. Luar biasa.

Kecerdasan finansial dibutuhkan dimanapun oleh siapapun. Seorang guru membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika ia di sekolah maupun ketika di rumah. Seorang polisi membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika sedang menjalankan tugasnya maupun ketika sedang bercengkerama bersama keluarga. Seorang eksekutif perusahaan membutuhkan kecerdasan finansial baik ketika sedang membuat keputusan bisnis, ketika sedang bermain golf bersama koleganya, ataupun ketika sedang berada di supermarket untuk keperluan pribadinya. Seniman, atlet, dokter, dosen, pejabat, jaksa, hakim, pengacara, pedagang beras, pedagang bakso keliling, investor, bankir, konsultan dan profesi apapun membutuhkan kecerdasan finansial.

Setiap hari, sadar atau tidak, Anda pun selalu membuat keputusan-keputusan finansial. Membeli mesin produksi, membeli teknologi informasi, mereparasi komputer, membeli tanah, membeli bangunan, membayar premi asuransi, membangun perusahaan baru, membeli makanan, membeli pakaian, naik pesawat, dan masih banyak lagi adalah sekedar menyebut beberapa contoh keputusan finansial. Anda bisa memutuskannya untuk keperluan perusahaan yang Anda miliki, perusahaan tempat Anda bekerja, kantor pemerintah tempat Anda berkarya, yayasan masjid yang Anda kelola, sekolah tempat Anda mengajar, dan juga sudah tentu keluarga Anda. Semuanya akan menanggung akibat atau merasakan manfaat dari keputusan finansial yang Anda ambil.

Berita lain menyebutkan: dua puluh dua kasus korupsi berpotensi merugikan negara Rp 2,72 Trilyun (headline Bisnis Indonesia, 23 Mei 2005). Koran bisnis ternama ini kemudian memberikan beberapa contoh kasus yang membentuk angka 2,72 Trilyun Rupiah ini: Investasi reksa dana PGN, pengadaan barang Indofarma, jasa konsultasi SDM di PT AP I, sewa crane di JICT, kelebihan pembayaran ke pejabat PELINDO III, pengadaan customer information system PLN, pembelian kapal Korea ASDP, Pengadaan TI BRI, pembelian gedung SIEMENS oleh Pupuk Kaltim, pengadaan kapal Caraka Jaya Niaga III Jakarta Lloyd, pengadaan dua unit kapal tunda Pelindo II dan sebagainya. Bahkan koran ini juga menyebutkan bahwa terdapat penyimpangan Biaya Haji Rp 59,88 Milyar.

Data yang diekspos koran bisnis ini terjadi pada perusahaan-perusahaan pelat merah. Yang menarik, yang disebut adalah nama perusahaan-perusahaan yang kapitalisasinya sangat besar di bidangnya masing-masing. Artinya, korupsi merupakan penyakit yang menjangkiti pelaku bisnis utama negeri ini, bukan pelaku pinggiran.

Bagi kita, menyadari adanya sebuah penyakit merupakan modal dasar. Para dokter menyarankan agar kita melakukan general check up. Sebisa mungkin secara rutin setiap periode tertentu agar apabila ada penyakit bisa diketahui secara dini. Dengan demikian bisa dilakukan terapi secara dini sebelum penyakitnya menjalar dan membahayakan tubuh.

Demikian juga dengan penyakit perusahaan. Organisasi bisnis apapun, tidak peduli milik pemerintah ataupun milik swasta bahkan perorangan juga perlu dideteksi secara dini. Berbagai informasi tentang aneka korupsi di perusahaan BUMN juga merupakan deteksi dini terhadap penyakit perusahaan. Bahkan, karena BUMN masih menjadi porsi besar dalam kapitalisasi perusahaan di negeri ini, penyakit yang telah terdeteksi di BUMN juga memberi harapan baru akan upaya penyembuhan. Penyembuhan yang berhasil juga berarti bangkitnya negeri ini dari aneka macam keterpurukan ekonomi yang selama ini diderita.

Dalam waktu yang kurang lebih bersamaan, wacana tentang good corporate governance juga mulai mengemuka. Para praktisi bisnis di perusahaan-perusahaan terkemuka dunia benar-benar sadar tentang pentingnya mengelola perusahaan dengan cara yang baik. Mengelola perusahaan dengan standar etika dan hukum.

FSQ adalah sebuah konsep aplikatif yang didesain untuk membantu Anda memahami mekanisme finansial dari setiap keputusan Anda. Bukan sembarang mekanisme finansial, tetapi mekanisme finansial yang ditempatkan di atas landasan kokoh kecerdasan spiritual. Konsep ini akan membantu Anda untuk memahami aspek finansial spiritual dari setiap keputusan Anda.

FSQ memang mengukur kapasitas individu dalam membuat keputusan yang berkonsekuensi finansial. Sungguhpun demikian, tidak ada keluarga, perusahaan, organisasi, pemerintah daerah, atau negara yang maju dan kokoh kecuali didukung oleh individu-individu berkualitas. FSQ adalah pembelajaran menjadi individu berkualitas di berbagai posisi.

FSQ karya ke-4 Iman Supriyono: Mengapa Kecerdasan Finansial Spiritual? Mengapa Financial Spiritual Quotient?

Salah satu bahasan penting dalam buku ini adalah tentang perhitungan numerik untuk mengukur FQ seseorang. Bila Anda pernah membaca buku saya terdahulu, mungkin Anda bertanya- tanya, mengapa perhitungan FQ dimasukkan kembali pada pembahasan buku ini? mengapa tidak menggunakan rumusan terdahulu saja?

Perlu Anda ketahui, rumusan pengukuran FQ memang senantiasa saya kembangkan dari waktu ke waktu melalui aplikasi dan penelitian terus-menerus. Rumusan pertama kali muncul pada buku pertama saya yang berjudul Meningkatkan Kecerdasan Finansial si Buah Hati. Rumusan pertama ini kemudian saya kembangkan dan sempurnakan dalam buku Persiapan Finansial Menjelang Pernikahan.

Rumus pada buku kedua ini memang sudah lebih sempurna dari pada rumus pada edisi pertama. Namun demikian, baik rumus pada buku pertama maupun buku kedua masih belum menggunakan rumusan numerik matematis yang kontinyu. Keduanya masih menggunakan angka indeks yang diskrit.

Pada buku ketiga, Cerdas Finansial dirumah dikantor dan di masjid, saya sudah menggunakan rumus matematis numerik dan kontinyu. Rumus pada buku ketiga ini memang sederhana dan cukup memenuhi kebutuhan pemahaman tentang bagaimana seseorang mengukur kecerdasan finansialnya.

Namun demikian, seiring dengan aplikasi yang saya gunakan ketika menghadapi klien di kantor saya, SNF Consulting, ternyata rumusan ini masih mengandung kelemahan yang harus disempurnakan. Untuk maksud inilah buku yang sedang Anda baca ini muncul dengan penyempurnaan rumusan numerik pengukuran FQ.

Kelemahan rumusan FQ pada buku ketiga ketika diaplikasikan di lapangan adalah pendekatan laba rugi yang kurang fleksibel. Kurang fleksibel terutama untuk kepentingan simulasi dalam training FSQ. Untuk keperluan itu, rumus pada buku ketiga ini telah disempurnakan dalam buku ini.

Penyempurnaan ini telah diaplikasikan dalam setiap kesempatan yang ada baik dalam training FSQ maupun ketika menghandle perusahaan klien SNF Consulting. Dengan demikian, perhitungan FQ yang digunakan dalam buku ini adalah rumus numerik yang sudah diaplikasikan dalam kurun waktu hampir tiga tahun setelah terbitnya buku yang memuat rumus generasi terdahulu.

diambil dari pendahuluan buku FSQ (Financial Spiritual Quotient) karya Iman Supriyono, yang juga menjadi materi training FSQ yang sudah terlaksana lebih dari 100 angkatan di dalam dan luar negeri

One response to “FSQ: mengapa Financial Spiritual Quotient? Mengapa Mengukurnya?

  1. Anirudh Kumar Satsangi

    MEASUREMENT OF SPIRITUAL QUOTIENT AND EMOTIONAL QUOTIENT

    ……………………………………………………………………………………………………………………………………………………………….
    ………………………………………………………………………………………………………………………………………………………………
    Besides, connection of chakras with the practice of Yoga, chakra has also great role in the development of personality. People do not realise that personalities can grow to include a balance of all the six chakras. Jung referred to this growth process as “individuation”, and associated it with life’s spiritual dimension. Danah Zohar evolves a model of spiritual quotient (sq) based on the six petals of a lotus and its centre, corresponding to the seven chakras described by the Hinduism’s Kundalini Yoga, as an aid to the process of individuation in the mid-1990s. Contribution of Danah Zohar for coining the term spiritual quotient for the first time is immense. But she did not establish any mathematical relationship, which is very much required, for this quotient.

    Deepak Chopra has given a formula of spiritual quotient in terms of Deed (D) and Ego (E). According to Deepak Chopra S.Q. =D/E. He (2006) writes: If Vedanta is right and there is only one reality, then all desires must follow the same mechanics, desires arise and are fulfilled in consciousness. Making yourself happy involves ….. I have a ” Spiritual Quotient” where SQ = D/E. Where D = Deeds and E = Ego. Now you can ONLY have an SQ = infinity when E = 0. If E is little even then SQ is approaching infinity (or one is close to be a “Great Master”) but not actually “Pure .This appears to be very fascinating but it is highly abstract which cannot be measured experimentally, accurately and precisely. However, this formula has immense value to understand S.Q.

    I too have discovered a mathematical relationship for S.Q about eight years back in 2001. I have used physiological parameters which can be measured accurately and precisely and can be tested and verified experimentally. According to this formula S.Q. can be expressed as the ratio of parasympathetic dominance (P.D.) to sympathetic dominance (S.D.). Parasympathetic nervous system (PSNS) and sympathetic nervous system (SNS) are the two parts of the autonomic nervous system (ANS) which is largely under hypothalamic control. Hypothalamus is situated very close to the Sixth Chakra. During practice of meditation at Sixth Chakra these centres are galvanized which has very positive effect on practitioners spiritual, emotional, psychological and physical well being.

    According to this relationship spiritual quotient can be written as:
    S.Q. = P.D./S.D.
    If the value of S.Q. comes >1 (greater than one), it can be assumed that the person is moving towards self-realisation and if the value of S.Q. comes <1 (smaller than one) it can be predicted that the person is living under stress. This formula has remarkable analogy with the formula of Intelligent Quotient discovered by Wilhem Stern which states as I.Q.=Mental Age/Chronological Age x100.

    I have also attempted to establish mathematical relationship for emotional quotient (E.Q.). This is now a recognized fact that for a successful career not only higher I.Q. is necessary but level of E.Q. also plays a greater role. Higher is the level of E.Q. greater is the achievement in life. I have defined emotional quotient as the product of wisdom(w) and I.Q. This relationship can be expressed mathematically as:
    E.Q. = w X I.Q.
    In this relationship ‘w’ indicates a person’s insight, power of judgment and ability to understand others. This can be assigned mathematical value in binary digits i.e. 0,1. Zero represent absence of these qualities and, ‘one’ represent presence of these qualities in fullness. If a person is devoid of these qualities, the E.Q. can be labeled as ‘zero’ OR ‘near about zero’. In such persons if the level of I.Q. is high, the person may become an autocrat. If a person possesses all the above qualities then E.Q. may be equal to I.Q. and such persons are truly democrat. Spiritually enlightened persons are also democrat. Evidently there is a greater correlation amongst I.Q., E.Q. and S.Q.. In fact S.Q. leverages both E.Q. and I.Q.
    There are various types of meditation available, which are being practiced by sages, saints, seers and others. The difference in various versions lies in the fact that these practices involve concentration to meditate at different centres known as Chakra in Yoga System. These chakras are, in fact, energy centres which correspond to nerve centres distributed along the spinal column and in brain region.
    Some practitioners start to meditate at Basic/Root Chakra (Muladhara) – situated at the base of spine, some at Heart Chakra (Anahata Chakra), some at Ajna Chakra – Optic Chiasma – Master Chakra and some from even higher centres situated in the brain region. Among all these types of meditation, practice at sixth chakra is considered to be the most ideal which brings about optimum results.

    Sixth Chakra is situated very close to hypothalamus. The hypothalamus is a portion of brain that contains a number of small nuclei with a variety of functions. One of the most important functions of the hypothalamus is to link nervous system to the endocrine system via the pituitary glands.
    Autonomic nervous system (ANS) is largely under hypothalamic control. ANS consists of parasympathetic nervous system (PSNS) and sympathetic nervous system (SNS). PSNS is activated during meditative calm and during stress SNS is activated. When PSNS is activated, heart rate, breathing rate, blood pressure decreased. Supply of blood in the digestive tract increased. When SNS is activated heart rate, breathing rate, blood pressure increased. Supply of blood to the muscles and exterior organs increased and to the digestive tract decreased. In addition to these, there are many other parameters which can be compared. Parasympathetic Dominance (P.D.) is the state of PSNS activation and Sympathetic Dominance (S.D.) is the state of SNS activation.

    Brain waves in meditation shift through various stages. The most common brain waves in meditation are alpha waves. These alpha brain waves in meditation basically promote changes in the autonomic nervous system (ANS) that calm it. Regular contemplative practice of this type reveres the roles of the sympathetic and parasympathetic nervous systems so that the normally dominant sympathetic nervous system takes a back seat to the normally secondary parasympathetic nervous system.

    These parameters are measurable in medical science and physiological researches.

    We can assign numerical value to each parameter. Then put the value in the formula for S.Q. and see the result. We can show the calculation as mentioned below:
    S.Q.= P.D./S.D. = Σ X / Σ Y
    Where X=x1+x2+x3+ …….
    And Y=y1+y2+y3+…….
    During PSNS activation (P.D.), we assign ‘1’ to each parameter (x1+x2+x3+…..) and ‘0’ to each parameter (y1+y2+y3+…..). During SNS activation (S.D.), we assign ‘1’ to each parameter (y1+y2+y3+…) and ‘0’ to each parameter (x1+x2+x3+….).
    By putting the numerical value, thus achieved, in the above formula for S.Q. we can calculate the Spiritual Quotient of an individual.
    Higher is the S.Q. lower is the autonomic mobilization to encounter day-to-day stress.
    This mathematical relationship of spiritual quotient will certainly facilitate further research in the area of spiritual science.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s