Ikan Teri: Ironi Negeri Bahari Yang Mengimpor Hasil Laut


Ikan Teri

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Ayah saya pernah bercerita. Pada masa kecilnya, kondisi ekonomi serba sulit. Salah satu kisah kesulitannya adalah justru khas anak anak. Bila sesekali pergi ke pasar, ibu nya-nenek saya- tetap pingin menyenangkan anak-anaknya dengan oleh oleh seadanya. Oleh oleh ini bisa menjelaskan tentang betapa kesulitan hidup waktu itu.
Sebungkus ikan teri asin mentah. Itulah oleh-oleh yang dikenang oleh ayah. Di sini justru terdapat gambaran sempurna tentang kesederhan orang-orang yang tinggal di sebuah pedesaan kabupaten Madiun yang jauh dari pantai. Saya sendiri baru pertama kali melihat laut pada saat akhir kelas 6 SD saat mengikuti rombongan pariwisata sekolah naik truk barang ke pantai Popoh Blitar.

Mungkin Anda akan segera bertanya. Ikan teri mentah sebagai oleh oleh-oleh? Terus bagaimana menikmatinya? Kata ayah, selain ikan teri, nenek akan membeli seikat merang (tangkai bulir padi) kering. Di rumah, merang itulah yang akan diguanakan untuk membakar ikan teri . Tinggal ambil korek, nyalakan apinya, bakar ujung merang, api menyala, ikan teri ditaruh di atasnya. Beberapa saat kemudian, ikan teri bakar siap disantap. Sebuah kenikmatan yang luar biasa bagi ayah jaman itu. Sekitar 60-an tahun yang lalu



Selasa, 22 Pebruari 2011. Pagi ini saya bersedih lagi untuk kesekian kalinya saat membuka halaman 6 harian Bisnis Indonesia. Indonesia mengimpor ikan teri dan lele. Bagaimana tidak bersedih. Sebauh negeri yang lautnya sangat luas ternyata adalah importir ikan laut. Asal impornya dari Malaysia, Myanmar, Pakistan. Total volume impor adalah 143 ribu ton pertahun alias sekitar 2,5% total kebutuhan ikan nasional.

Bukan hanya itu. di samping kiri judul tersebut, Bisnis Indonesia juga memuat tulisan berjudul “Karut Marut Sektor Pergaraman Nasional”. Pada tulisan itu harian bisinis terkemuka nasional ini memuat data detail tentang industri garam. Fakta yang menyedihkan: bangsa kepulauan ini ternyata adalah importir garam. Pad tahun 2011 ini pemerintah mengalokasikan akan mengimpor garam sebesar 217 ribu ton dari total kebutuhan nasional sekitar 1,2 juta ton.

Ikan Teri Impor: Ironi Negeri Bahari

Ada banyak variabel yang menjadi penyebab. Salah satunya, sebagaimana analisis di Bisnis Indonesia tadi, adalah kebijakan pemerintah. Sebagai contoh, untuk masalah garam penetapan harga oleh pemerintah adalah Rp 325 per kilogram. Tentu sanggat tidak menarik memproduksi dengan susah payah dan kemudian dijual dengan harga seperti itu.

Tetapi, menyalahkan pemerintah-walaupun pemerintah memang salah- bukanlah sesuatu yang baik bagi para entrepreneur. Yang lebih baik adalah dengan inovasi untuk tetap bisa eksis dengan kondisi seperti apapun. Rp 325 memang kecil. Tetapi coba kalau Anda memiliki lahan garam yang luas dengan menggunakan teknologi modern dan alat-alat berat dengan produksi 100 ribu ton setahun. Dengan angka ini Anda akan mendapatkan omset penjualan Rp 32,5 Milyar setahun. Andai Anda mendapatkan laba bersih 10% saja dari omset itu, setahun masih bisa mengantongi Rp 3,25 Milhyar. Degnan angka ini Anda sudah termasuk kelompok orang orang kaya negeri ini.

Lho terus bagaimana caranya? Justru itu lah PR yang selalu menarik dan menantang bagi para petani garam yang berjiwa entrepreneur. Bila PR ini terkerjakan dengan baik, maka kita tidak akan perlu lagi mengimpor garam. Toh bahan bakunya kan tidak perlu membayar. Cukup mengambil dari laut. Itu pulalah yang dilakukan oleh para petani garam Australia sebagai negara asal impor garam kita. Sangat menyedihkan karena laut yang diambil garamnya oleh Australia sama persis dengan laut kita. Sama sama samudra Hindia!

Membaca angka-angka impor ikan teri dan garam saya jadi ingat kembali kisah ayah tentang oleh oleh ibundanya pada masa kanak-kanak. Ikan teri asin. Andai ayah saya menikmatinya sekarang, beliau tentu akan sangat terkejut. Terkejut karena tahu bahwa ikan teri dan garam pengasinnya adalah produk impor. Oalah…..wong ndeso wae kok jajanane barang impor….. Duh…orang desa saja kok kudapannya makanan impor. Ya Allah…ampunilah kami!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s