Kanzen: Melawan Dominasi Motor Asing…. Jangan Menyerah!


Kanzen

Oleh Iman Supriyono, Konsultan dan penulis buku buku bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Sebenarnya sore itu saya sudah tidak terlalu antusias untuk pergi. Sampai hari dimana final itu digelar, saya belum mendapatkan undangan untuk datang sebagai finalis. Berarti kalaupun malam itu saya berada di arena final, saya hanya ingin tahu siapa yang menjadi finalis kontes pidato berbahasa Inggris Madiun terbuka itu. Hanya ingin tahu pemenang dari lomba yang diikuti oleh para pelajar dan mahasiswa dari madiun dan beberapa kabupaten sekitarnya itu.

Sepeda motorlah satu-satunya kendaraan yang cocok untuk bepergian malam sekitar 25 km dari desa yang belum ada jaringan listrik seperti saat itu. Apalagi pulangnya tentu sudah larut malam. Di rumah memang ada sebuah sepeda motor. Honda super cup 700 warna merah. Tetapi motor yang sehari hari dipakai kakak itu STNK nya sedang bermasalah. Akhirnya saya pun meminjam motor tetangga. Honda Prima warna hitam. Lebih baru dan lebih gagah.

Sekitar setengah jam perjalanan dengan Honda, saya sudah berada di kota Madiun. Perjalanan sangat lancar. Jadual final lomba masih sejam lagi. Sambil mengisi waktu, saya pun sempat mampir ke rumah kos seorang kawan yang saat babak penyisihan sebelumnya menjadi supporter setia. Berbincang santai sebelum final dimulai. Bahkan saya sempat membantunya mempelajari beberapa soal fisika. Memanfaatkan waktu sebelum akhirnya tiba di arena lomba dan mendapatkan kejutan masuk top five kejuaraan yang cukup bergengsi kala itu. Fleksibilitas transportasi yang tidak mungkin dilakukan tanpa sepeda motor.

&&&

Sepeda motor telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat. Di desa yang belum terjangkau fasilitas kendaraan umum, motor telah menjadi nadi ekonomi masyarakat. Apalagi dengan kemudahan fasilitas kredit, motor pun makin terjangkau. Lebih banyak masyarakat yang mampu membeli dan kemudian mendapatkan manfaat yang luar biasa untuk aktivitas kesehariannya.

Pada tahun 2011, lebih dari 8 juta sepeda motor terjual di negeri ini. Memang bagi kota besar, tingginya populasi sepeda motor bisa menjadi penanda rendahnya kualitas transportasi publik. Tetapi bagi masyarakat desa, tingginya angka ini menunjukkan makin menggeliatnya ekonomi dan mobilitas masyarakat.

Helm Pertama: Motor menjadi sarana sangat sangat vital saat merintis kehidupan keluarga sekaligus menjadi mahasiswa teknik mesin ITS. ini adalah helm pertama pelengkap motor itu....

Jika harga rata rata sebuah sepedan motor lebih dari Rp 10 juta, maka angka penjualan tahunan sepeda motor itu berkorelasi dengan omset lebih dari Rp 80 trilyun. Tentu bukan angka yang kecil. Pertanyaannya, siapa yang menikmati fulus sebesar itu? Bisa dipasatikan mereka adalah merek merek luar negeri: Honda, Yamaha, Suzuki asal jepang adalah tiga besar yang telah bertahun tahun menikmatinya.

Kue sebesar itu selalu dinikmati oleh pihak asing? Itulah kenyataan yang sampai saat ini masih terjadi. Bagi yang masih memiliki kebeperpihakan terhadap negeri ini, tentu ini sebuah fakta yang meresahkan. Seperti juga keresahan pada hampir semua sektor yang kondisinya serupa.

Bukan berarti sama sekali tidak ada upaya membendungnya. Di dunia sepeda motor, Kanzen yang dibidani oleh mantan dirut Astra Rini Sumarno telah mencobanya sejak tahun 2000. Mengibarkan merek dan desain sepeda motor lokal di tengah dominasi merek Jepang.

Bagaimana hasilnya? Menurut detik.com, pada tahun 2011 Kanzen membukukan penjualan 382 unit. Jauh dibawah Honda dan Yamaha yang masing masing telah membukukan penjualan 4,2 dan 3,1 juta unit. Tampak sekali beratnya kondisi Kanzen. Jika rata-rata harga motor Rp 10 juta, kanzen hanya membukukan angka penjulan Rp 3,8 Milyar setahun. Angka ini tentu jauh sekali dengan investasi ratusan milyar yang telah ditanam untuk membangun perusahaan.

Kanzen dan Bu Rini M Sumarno yang mantan Memperindag dan Presdir Astra: Jangan Menyerah!

Beratnya kondisi kanzen makin terlihat dari hilangnya situs resmi http://www.motorkanzen.com. Biaya untuk menghidupkan web yang hanya beberapa ratus ribu mestinya tidak terlalu berat bagi sebuah perusahaan yang asetnya bernilai ratusan milyar. Tetapi faktanya web rermi Kanzen saat ini sudah tidak aktif dan bahkan ditawarkan kepada siapa saja yang mau membelinya.

Pembaca yang baik, perjuangan untuk menggeser dominasi asing di sektor sepeda motor memang tidak mudah. Kanzen yang digawangi oleh Rini Soemarno yang mantan memperindag pun terseok. Bahkan dari berbagai sumber web, banyak SDM Kanzen yang jebolan berbagai industri otomotif nasional.

Lalu apakah kita harus angkat tangan? Tentu tidak. Angkat tangan sama artinya dengan membiarkan negeri ini makin disandra kekuatan asing. Kita tentu sangat berharap orang-orang desa yang akan pergi ke kota bisa naik motor karya bangsa sendiri. Bukan naik Honda, Yamaha atau Suzuki. Tetapi naik motor karya para entrepreneur yang peduli. Saya membayangkan suatu saat nanti kalau ada anak desa yang akan pergi ke kota untuk mengikuti lomba pidato bahasa Inggris, masuk top five, dan mampir belajar ke rumah kos kawannya tidak perlu naik motor Jepang. Bisa naik motor nasional. Bisa naik Kanzen. Bisa naik “adik-adik” alias generasi penerus Kanzen. Kanzen….Jangan menyerah!

Tulisan ini juga dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

3 responses to “Kanzen: Melawan Dominasi Motor Asing…. Jangan Menyerah!

  1. Setuju banget dengan usulan Bu Rini Sumarno…
    Mari kita kuatkan Produk Negeri Sendiri di Negeri Kita Sendiri ini…
    Tetap SEMANGAT Bu..

  2. kanzen kini tinggal kenangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s