Konglomerat: Memperkuat Negeri atau Melemahkannya?


Konglomerat

Oleh Iman Supriyono, konsultan penulis buku2 dan konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Apa yang ada di benak Anda begitu mendengar seseorang disebut sebagai konglomerat? Saya yakin, banyak dari Anda yang kemudian memayangkan sebagai orang kaya raya. Memang seperti inilah gambaran tentang konglomerat yang selama ini beredar. Konglomerat adalah orang kaya raya. Pengusaha sukses yang uangnya banyak, mobilnya mewah, rumahnya besar di tempat yang sangat strategis, perusahannya banyak.

Begitu hebatnya seorang konglomerat, sampai-sampai orang membayangkan betapa senangnya menjadi seorang konglomerat. Bukan hanya kekayaan yang menyenangkan. Betapa banyaknya konglomerat yang kemudian dengan mudah mendapatkan posisi strategis di pemerintahan. Apalagi pada jaman reformasi. Terbuka akses bagi siapa saja untuk menjadi pejabat politik termasuk bagi para pengusaha. Sesuatu yang dulu tidak pernah terjadi. Lengkaplah sudah gambaran betapa hebatnya seorang konglomerat.



Di buku “Anda Jago Kandang Atau Kelas Dunia?”, tulisan ke-8 saya, Anda bisa membaca gambaran tentang 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes. Ada beberapa hal menarik. Salah satunya adalah tentang industri yang digeluti oleh perusahaan perusahaan tersebut. Yang dimaksud industri dalam dunia bisnis adalah kumpulan perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan bidang yang sama. Bukan industri dalam pengertian pabrik atau perusahaan yang memproses bahan baku menjadi bahan jadi.

Terdapat 26 industri. Masing-masing adalah aerospace & defense, banking, business services & supplies, capital goods, chemicals, conglomerates, construction, consumer durables, diversified financials, drugs & biotechnology, food markets, food, drink & tobacco, health care equipment & svcs, hotels, restaurants & leisure, household & personal products, insurance, materials, media, oil & gas operations, retailing, semiconductors, software & services, technology hardware & equip, telecommunications services, trading companies, transportation, dan utilities.

Dari 26 industri tersebut, semuanya menggambarkan sebuah bidang bidang tertentu. Anda tentu dengan mudah menangkap apa yang dimaksud dengan arospace & defence misalnya. Tentu dengan mudah Anda bisa membayangkan bahwa Boeing atau Airbus berada di industri itu. Anda juga bisa dengan mudah membayangkan bahwa Marloboro berada pada indusri drink & tobacco. KFC berada pada industri restourants & leisure.

Yang menarik adalah kelompok conglomerates. Apa maksudnya? Tidak lain adalah perusahaan yang bergerak pada bermacam-macam bidang. Contoh perusahaan pada kelompok ini adalah General Elecrtic. Perusahaan yang didirikan pertengahan abad lalu oleh Thomas Alpha Edison ini bergerak di bidang-bidang antara lain: produksi bola lampu merek GE sejak ditemukan oleh edison, mesin pesawat, lokomotif, peralatan medis, kartu kredit, pembiayaan barang industri, televisi (CNBC) dan masih banyak lagi. Berbagai macam bisnis dimasukinya. Inilah yang dimaksud conglomerates dalam daftar 2000 perusahaan terbesar dunia versi Forbes ini. Lengkapnya terdapat 42 perusahaan alias 2,1 % dari 2000 perusahaan yang masuk dalam kelompok conglomerates Lainnya, yaitu, 958 perusahaan alias 97,9% perusahaan bergerak pada satu bidang tertentu.

Ternyata, mayoritas perusahaan terbesar dunia bukanlah konglomerat. Mereka memilih satu bidang saja kemudian ditekuni dan diekspansikan ke seluruh dunia. Contoh yang sangat familiar dengan siapa saja adalah Yum Brands yang berbisnis puluhan ribu restoran bernama KFC, Pizza Hut dan A&W di seluruh dunia termasuk Indonesia. Hanya berbisnis restoran tetapi assetnya sekitar Rp 150 trilyun beroperasi 24 jam di seluruh dunia. Inilah jalan 97,9 % perusahaan kelas dunia versi Forbes

konglomerat juga: tukang semir sepatu dan pengasong yang juga menyewakan payung saat hujan🙂

Bagaimana konglomerat di negeri ini? Sebutan konglomerat untuk setiap pebisnis sukses adalah sebuah kesalahan. Di tingkat global hanya 2,1 % yang konglomerat. Di negeri ini pun tidak semua pengusaha sukses adalah konglomerat. Konglomerat bukan jalan para kelas dunia. Konglomerat bukan jalan untuk menjadikan produk dan merek negeri ini menyebar ke seantero dunia. Maka….jangan sebut lagi setiap orang kaya sebagai konglomerat. Agar pengusaha negeri ini tidak hanya menjadi jago kandang. Agar resotoran-restoran di negeri ini tidak tertarik untuk menjadi konglomerat dan “mempertahankan” kekalahan menghadapi KFC, Pizza Hut dan A&W yang spesialis. Bayangkan betapa banggannya bila bepergian ke luar negeri di negara manapun kita menjumpai produk dan merek ngeri ini berkibat tinggi. Pengangkat harga diri negeri. Anda spesialis atau konglomerat?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s