Anggrek


Anggrek

Oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Desa Kaliabu, Caruban, Madiun tahun 80-an. Jika hendak ke kota, ada dua jalur alternatif yang biasa dilalui warga desa. Jalur pertama melalui jalan utama desa dan jalur kedua melalui jalan desa sebelah. Jalur pertama rutenya lebih pendek dari jalur kedua tetapi tidak semua orng menyukai jalur ini. Penyebabnya adalah karena ada dua hanbatan yaitu dam alias bendungan sungai dan stasiun kereta api. Di kedua hambatan itu sepeda harus diangkat untuk bisa meleluinya. Maka jalur pertama ini hanya mungkin ditempuh oleh mereka yang berjalan kaki atau paling banter naik sepeda angin. Mereka yang naik speda motor atau dokar sebagai moda angkutan umum ketika itu harus melelui alternatif kedua.

Jika naik sepeda, jalur pertama saya sukai karena melewati stasiun. Bukan hanya karena kereta apinya yang memang menarik bagi anak desa. Lebih dari itu adalah karena di halaman stasiun terdapat taman kecil nan cantik. Rumputnya indah rapi menghijau. Ada kolam kecil yang dihiasi sebuah relief dan patung artistik. Pohon penitian dipotong cantik menyembul ditengah hamparan rumput jepang yang lembut. Dalam hati saya, tentu taman seperti itu sangat mahal. Benar benar memesona.

Saya pun terobsesi memiliki taman seperti itu. Atas hasrat itu, saya menyulap sebagian halaman rumah saya didesa menjadi “taman” meniru gaya taman di stasiun. Tentu sebagai orang desa sederhana, saya tidak mungkin mendapatkan rumput jepang lembut yang entah belinya dimana. Juga tidak mungkin menyewa tukang membuat relief yang cantik. Saya hanya mencari tanaman liar di sekitar rumah untuk membangun sebuah “taman” seperti di stasiun itu. Taman dalam tanda kutip. Tidak pantas untuk disebut taman sebenarnya hehehe…..

•••

Kayoon Surabaya 2011. Sore itu saya sengaja mampir ke pasar bunga di kawasan tengah kota surabaya itu untuk memenuhi pesanan seorang kawan sekolah SMP. Pesanannya adalah anggrek untuk souvenir bagi Bu Prayogo. Beliau adalah guru Bahasa Inggris SMP yang terlewat tidak terundang saat acara reuni SMP beberapa waktu sebelumnya. Anggek itu dititipkan melalui saya karena saya akan mewakili kawan kawan panitia untuk bertandang ke rumah beliau sebagai sedikit penebus rasa bersalah karena keteledoran panitia reuni itu.

anggrek

anggrek alias orchid

Sore itu adalah kedatangan pertama saya ke toko anggrek. Saya blank tentang anggrek. Kedatangan saya murni hanya karena memenuhi amanah titipan kawan. Saya tidak tahu mana angrek yang baik mana yang tidak baik. Mana yang indah mana yang tidak indah.

Dari penjaga toko saya tahu bahwa harga anggrek termurah adalah Rp 25 ribu. Yang mahal banyak yang harganya pada kisaran Rp 100 ribu. Bahkan ada satu dua anggrek langka yang harganya pada kisaran Rp 200 ribu. Setelah bertanya tanya kepada pedagang dan menelpon kawan yang memesan, saya memilih yang berharga Rp 60 ribu. Segeralah saya pulang membawa sebatang anggrek dengan bunga mekar warna merah ungu untuk keesokan harinya saya bawa ke Caruban menuju rumah bu guru.
•••

Saat saya menulis artikel ini, di ruang tamu SNF Consulting, kantor konsultan tempat saya beraktivitas, satu demi satu kuncup anggrek itu mekar. Warnanya putih bersih dengan titik ungu ditengahnya. Saya membelinya dari toko angrek di pasar bunga Kayoon tempat saya membeli anggrek untuk souvenir Bu Prayogo beberapa bulan lalu. Tidak terasa, itu adalah anggrek ke-6 yang saya beli dari toko itu. Saya menemukan keindahan seperti yang saya rasakan dari taman di Stasiun Caruban pada masa kecil dari anggrek. Anggrek seolah menjadi pengobat dahaga akan taman indah di halaman depan rumah di desa saat kecil.

Yang menarik, setiap kali saya datang ke toko di Kayoon itu, selalu ada beberapa orang yang juga membeli anggrek. Setiap lewat di jalan kayoon, saya juga selalu melihat toko itu dikunjungi orang. Kesimpulan sederhananya, toko itu memiliki konsumen yang cukup. Anggrek memiliki pasar tersendiri. Sebuah potensi bisnis tersendiri. Membidik pasar orang kota yang ingin menikmati keindahan alami di rumah atau kantornya dengan cara praktis. Membidik penghobi anggrek yang ingin menikmati keindahan dari kuncup mekarnya. Membidik para penikmat anggrek sebagai sebuah simbul kelembutan. Pasar tersendiri bagi para petani anggrek. Pasar tersendiri juga bagi para pedagang anggrek. Anggrek….Anda tertarik?

Tulisan ini dimuat di majalah Muslim, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s