Masjid Yang Tidak Mubadzir: Cheng Hoo


Cheng Hoo

Oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Begitu tiba di sebuah kota yang baru pertama saya datangi, salah satu yang menarik adalah citi tour. Berkeliling kota untuk mendapatkan berbagai hal menarik. Biasa, penulis memang harus punya banyak pengalaman sebagai bahan tulisan. Apalagi saya yang menekuni bidang finansial. Tulisan tentang uang tanpa bumbu bumbu hal hal menarik dalam perjalanan seperti itu tidak akan dibaca orang.

Masjid Cheng Hoo Cantik Mungil Produktif

Di Palembang jangan lupakan jembatan ampera sambil menyantap pempek. Di Makasar jangan lupa Pantai Losari sambil menyantap pisang epe atau coto. Di Banjarmasin jangan lupa lari pagi di seputar Masjid Sabilal yang rindang dan cantik. Di Singapura jangan lupa Orchard Road sambil menikmati pecel di kedai jawa timur. Di Kuala Lumpur jangan lupa ke masjid India untuk sekedar mendapatkan cenderatamata murah meriah. Di Mataram jangan lupa pantai Senggigi yang cantik. City tour…..wisata kuliner.

Nah, maka kalau sedang kedatangan tamu dari luar kota, saya tidak lupa mengajaknya keliling kota. Tidak lupa menikmati makanan khas penuh legenda di kota tercinta. Termasuk ketika suatu saat seorang kawan dari Brunei Darussalam datang bertamu.

Andai saja saya bertanya kepada Anda, kemana saya harus mengajak tamu dari Brunei ini untuk keperluan city tour ini? Nah…..mungkin Anda akan mengajurkan wisata belanja di Tunjungan Plaza, Menikmati bangunan bersejarah heroik dengan makan di kafe Hotel Majapahit, bersantai di Taman Bungkul, atau mungkin berwisata rohani di Masjid Ampel. Yang lain? Nah…. saya punya tujuan wisata dalam kota yang sangat faforit untuk tamu Brunei ini. Juga untuk tamu tamu dari luar kota lain. Bukan bangunan tua berusia ratusan tahun. Juga bukan gedung yang besar dan megah. Bukan pula pantai yang elok. Tujuan faforit itu adalah sebuah masjid istimewa di tengah kota: Cheng Hoo.

Apa istimewanya Cheng Hoo? Masjidnya tidak besar. Kalau dipakai untuk sholat jamaah, mungkin kapasitasnya hanya sekitar atau bahkan tidak sampai menampung 50 orang. Kecil sekali. Mirip sebuah mushola. Tetapi, justru kecilnya inilah yang istimewa dan bisa menjadi bahan cerita oleh oleh khas dari Surabaya.

Mengapa kecil menjadi istimewa? Perhatikan masjid masjid lain yang lebih besar. Datanglah pada saat saat sholat wajib lima waktu. Begitu iqamat dikumandangkan dan imam memulai sholat, ada berapa orang yang ikut sholat dibelakangnya? Bandingkan dengan kapasitasnya. Berapa orang yang bisa ditampung oleh masjid itu seandainya diisi penuh? Berapa persen kapasitas yang terisi jamaah saat sholat wajib itu?

Nah, Anda akan mendapati hampir setiap masjid dalam sholat wajib lima waktu berada dalam kondisi kosong. Sebagai gambaran, Masjid Al Akbar yang daya tampungnya ribuan jamaah paling banter hanya terisi tidak sampai seratusan orang dalam sholat rowatib berjsamaah. Pendayagunaan ruangannya tidak sampai 5 %. Artinya, lebih dari 95% kapasitasnya tidak terdayagunakan. Ruangan baru terisi agak banyak pada saat sholat jumat. Itupun juga tidak sampai 50% kapasitas. Ruangan baru benar benar terisi penuh mungkin pada saat sholat iedul qurban. Saya sebut mungkin karena memang saya belum pernah sholat idul qurban di masjid terbesar di Jawa Timur ini.  Jadi…mungkin hanya setahun sekali terisi penuh.

Cheng Hoo berbeda. Masjidnya kecil sehingga praktis hampir setiap sholat rowatib tingkat pendaya gunaan ruangannya maksimal. Ruang kosong saat sholat rowatib kecil karena memang masjidnya kecil. Lalu…bagaimana kalau sholat jum’at? Bukankah jamaahnya membludak sehingga ruangannya harus dibuat besar? Disinilah justru keistimewaan masjid yang dikelola PITI ini. Di tangan ormas yang awalnya adalah singkatan dari Persatuan Iman Tionghoa Indonesia, membuldaknya jamaah jumat ini dikelola dengan sangat cerdik. Pada hari jumat, halaman masjid yang berkali kali lipat lebih luas dari luasan masjid ini dipasangi tenda. Dengan naungan tenda inilah para jamaah sholat jum’at. Bahkan di tenda tenda itu juga dipasang TV monitor sehingga setiap jamaah bisa melihat khotib melalui TV monitor ini.

Di luar hari Jumat, tenda tenda ini dilepas. Halaman masjid kembali menjadi tanah lapang. Yang menarik, lapangan ini sudah dilengkapi dengan garis garis lapangan olah raga. Anda bisa memanfaatkannya untuk berlatih basket misalnya. Saya perhatikan memang banyak anak muda yang berlatih basket di halaman masjid bercat dominan merah ini. Tentu saja ini adalah potensi pendapatan tersendiri bagi masjid. Supaya tidak hanya menggantungkan biaya opersasional pada kotak infak saja.

Bukan hanya potensi pendapatan. Biaya pembangunan sebuah gedung adalah sebanding dengan luasannya. Makin luas, makin besarlah biaya yang dibutuhkan. Biaya ini dalam istilah akuntansi akan masuk pada pos biaya depresiasi. Makin luas sebuah masjid, makin besar pula biaya pembangunan dan depresiasinya. Cheng Hoo tidak. Ia hanya membutuhkan biaya pembangunan yang jauh lebih kecil dibanding kebutuhan ruangan pada hari jumat. Sebagian besar jamaah jumat sholat di tenda yang biasa pembeliannya tentu tidak ada apa apanya bila dibandingkan dengan biaya pembangunan masjid.



Inna al mubadziriina kaanu ikhwana asyayathiin. Sesungguhnya kemubadziran adalah saudaranya syetan. Ayat ke 27 dari surat Al Isra ini mengajari kita untuk berhati hati dengan pemborosan. Kalau makan, pastikan bahwa nasi dan lauk pauk yang sudah ada di piring kita habiskan. Nabi memberi contoh sempurna. Makanan yang menempel di jari pun dibersihkan tuntas. Jika tidak demikian, makanan akan terbuang. Mubadzir. Boros. Menjadi saudara setan.

Cheng Hoo yang dikelola kawan kawan PITI telah memberi contoh yang bagus. Bahkan dengan ukuran kecilpun tidak mengurangi fungsi syiar nya. Arsitektur yang cantik khas tiongkok jauh lebih menarik dari pada megahnya gedung. Jangan heran, masjid kecil ini justru menjadi icon baru Surabaya. Icon citi tour. Tamu saya yang dari Brunei senang saya ajak ke  masjid ini. Icon wisata rohani. Tetap dengan dana pembangunan yang efisien. Mari belajar dari Masjid Cheng Hoo. Hilangkan kemubadziran. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s