Chairul Tanjung Akuisisi Carrefour: Gembira, Sedih & Perjuangan Ekonomi Yang Makin Berat


chairul tanjung carrefour: gembira dan sedihCT Akuisisi Carrefour: Gembira dan Sedih

Oleh Iman Supriyono, Konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com .Tulisan ini adalah salah satu sub bab dari buku karya ke-8 penulis, “Anda Jago Kandang Atau Kelas Dunia?”

Surabaya, Pertengahan April 2010. Suasana pagi begitu segar di jogging track kampus ITS. Kicauan burung-burung menambah indahnya suasana. Sebuah pagi yang sempurna untuk menemani olah raga rutin kegemaran.

Satu setengah jam sudah berlalu saat kaki kembali menginjak halaman rumah. Dengan cucuran keringat segar, segelas air putih menemani suasana paling nikmat untuk membaca koran. Badan segar. Hati ceria. Otak pun segar untuk menerima informasi dari tiga koran langganan: Kompas, Jawa Pos, dan Bisnis Indonesia.

Mata pun tertuju pada sebuah judul menarik: Chairul Tanjung mengakuisisi Carrefour Indonesia! Kompas, Jawa Pos dan Bisnis Indonesia kompak menjadikannya sebagai berita penting. Ditulis besar-besar.

Berita tentang Carrefour selalu menarik. Ada banyak alasan. Pertama, Carrefour adalah ritel papan atas negeri ini. Bahkan sejak tahun 2008, ia ranking pertama dengan omset Rp 10,68 Triliun. Meninggalkan Matahari yang omsetnya Rp 9,03 trilyun.

Kejayaan ini masih berlanjut hingga 2009. Carrefour mendulang omset Rp 10,6 Trilyun mengungguli Matahari Rp 10,28 Trilyun. Prestasi luar biasa untuk sebuah toko yang namanya saja sulit diucapkan oleh sebagian besar orang Indonesia.

Tampilan 1 Omset Juara Ritel
Sumber: majalah.tempoiteraktif.com

Kedua, Carrefour sudah membuktikan eksistensinya dalam jangka panjang. Orang SNF Consulting harus antusias dengan perusahaan seperti ini. Perusahaan ini sudah berdiri sejak 3 Juni 1957 di dekat sebuah perempatan jalan di Paris. Carrefour adalah bahasa perancis untuk perempatan jalan.

Ketiga, Carrefour adalah perusahaan kelas dunia. Visi SNF Consulting sebagai kantor konsultan yang dipercaya perusahaan-perusahaan kelas dunia memacu saya untuk menyimaknya secara mendalam. Ritel nomor dua di dunia setelah Wallmart ini telah beroperasi di berbagai negara di dunia. Indonesia adalah salah satunya. Lebih dari 50 gerai Carrefour beroperasi di negeri ini sebagai bagian dari 8 023 gerainya di seluruh dunia.

Keempat, Carrefour berbisnis ritel. Ini adalah bidang yang sangat tradisional. Siapa pun bisa memasuki sektor ini. Entry barrier nya rendah. Di gang-gang kecil kampung selalu ditemui toko-toko kelontong yang menjual aneka kebutuhan sehari-hari. Gula, garam, beras, sayur-mayur, sabun, minyak goreng dan sejenisnya. Bidang inilah yang dimasuki raksasa ritel yang secara global beromset lebih dari Rp 900 Trilyun ini dengan sukses. Pendatang asing yang mengalahkan pemain-pemain lokal tentu sangat menarik perhatian.

Maka, berita CT, sapaan Chairul Tanjung, mengakuisisi 40% saham Carrefour Indonesia sangatlah menarik. Apalagi ia menjadi pemegang saham. Peristiwa langka. Pengusaha nasional menguasai raksasa ritel dari Prancis!

Kenapa menarik? Campur aduk! Itulah kecamuk hati dan pikiran saya. Tentang CT, saya termasuk orang yang dilayani dengan baik olehnya. Saya adalah nasabah Bank Mega miliknya. Pelayanannya memuaskan! Tentu saya senang bila bank yang melayani saya bisa tumbuh dan berkembang.

Lalu campur aduknya di mana? Campur aduk bagaimana? Senangnya hati saya bercampur dengan kegalauan yang mendalam. Kegalauan akan makin parahnya fenomena penguasaan pasar lokal oleh pemain-pemain besar luar negeri. Sementara itu kita sama sekali tidak bisa sebaliknya. Kita sama sekali tidak bisa bermain di pasar luar negeri.

Pejuang Pejuang Bisnis

Kegalauan saat membaca berita akuisisi Carrefour oleh CT muncul karena ada suatu harapan yang bisa pupus. Harapan akan kemenangan dalam bersaing melawan pebisnis multinasional yang fokus ke satu bidang. Pebisnis-pebisnis global yang spesialis.

Untuk menghalau keresahan inilah buku ini ditulis. Sebuah harapan besar untuk menjadikan pebisnis nasional menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Tidak kalah bertanding di kandang sendiri.

Bahkan bukan hanya itu, harapan yang lebih besar lagi adalah eksistensi pebisnis nasional di manca negara. Ya….semacam “serangan balasan” terhadap kehadiran produk dan merek manca negara di negeri ini. Paling tidak agar “skor” kita ndak sama sekali nol. Kalau “gawang” kita sudah kebobolan 5, 6, 7 atau bahkan lebih, jangan sampai kita sama sekali tidak “memasukkan bola” ke “gawang lawan”. Syukur-syukur bila di akhir permainan kita mampu lebih banyak “memasukkan bola” ke gawang lawan.

CT masuk sebagai pemegang saham Carrefour. Pada satu sisi, ini adalah sebuah prestasi yang menyenangkan. Tetapi, ada sisi lain yang justru menyedihkan. Dengan ekspansi pada bisnis ritel, makin mengguritalah derajat konglomerasi bisnis yang dikendalikan oleh CT. Televisi, mall, kedai busana, bank, ritel, dan sebagainya. Apapun dikerjakan. Ada apa dengan konglomerat?

Makna asalnya, konglomerat adalah orang yang berbisnis bermacam-macam. Tidak harus kaya raya. Asalkan bisnisnya bermacam-macam bidang, ia sudah disebut konglomerat. Seorang pengusaha kelas kampung yang memiliki warung nasi, warnet, sawah, persewaan tenda, dan peternakan sudah bisa disebut konglomerat.

Sayang, konglomerat sering dipakai sebagai sebutan untuk orang yang kaya-raya. Dengan penggunaan istilah yang salah ini, menjadi konglomerat dipandang sebagai sebuah prestasi bisnis luar biasa. Menjadi orang terpandang. Menjadi tokoh nasional.

Bahkan tidak jarang prestasi sebagai “konglomerat” ini berlanjut dengan karir politik. Para “konglomerat” tampak begitu mudah menggapai karir politik: menjadi ketua partai, menjadi menteri, menjadi wakil presiden, menjadi anggota dewan dan sebagainya.

Akibatnya, banyak orang berlomba-lomba menjadi konglomerat. Bisnis apa saja diambil. Pabrik semen, pabrik mobil, pabrik macam-macam, menanam sawit, televisi, bank, media, properti, ritel, transportasi. Seluruh peluang diambil. Energi dan modalnya habis untuk menangkap seluruh peluang di dalam negeri. Agar menguasai berbagai bidang. Agar mudah mengalihkannya menjadi kekuatan politik.

Maka, minat untuk menjayakan negeri ini melalui produk dan merek global menjadi tidak menarik lagi. Puas dengan prestasi dalam negeri. Puas menjadi jago kandang. Tidak ada upaya ekstra keras untuk berprestasi dalam percaturan bisnis global.

Padahal, kebutuhan akan adanya orang-orang yang setia dan concern pada sebuah bisnis sampai berkelas dunia sudah sangat mendesak. Kalau pada jaman Belanda dan Jepang negeri ini diserang dan dikuasai secara fisik, hingga kini penguasaan itu masih berlanjut. Tentu bukan secara fisik atau militer. Penguasaan dilakukan melalui sektor ekonomi. Bentuknya berupa ketergantungan kita pada aneka produk dan merek luar negeri.

Cobalah datang ke supermarket. Amatilah produk-produk yang dijual di sana. Aneka produk dan merek asing membanjiri. Produk keseharian seperti sabun, shampo, pasta gigi, beras, gula, garam, aneka kue, kedelai, kacang-kacangan. Juga produk teknologi seperti komputer, televisi, perkakas rumah tangga mesin-mesin dan sebagainya. Produk dan merek asing benar-benar mengusai.

Kita tidak boleh tinggal diam. Pada jaman Belanda ada orang-orang seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Tomo, Pangeran Diponegoro, dan sebagainya. Kini, ketika penguasaan fisik oleh asing telah berganti menjadi penguasaan ekonomi, kita butuh para pejuang gaya baru. Bukan pejuang bersenjata. Bukan pula pejuang yang mengorbankan darah dan jiwanya. Kita butuh pejuang yang mampu menghasilkan produk. Menghasilkan barang atau jasa yang bisa menjadi pengganti produk dan merek asing. Syukur kalau bisa diekspor.

Kita juga tidak bisa mengusir dominasi asing ini dengan demonstrasi atau pengerahan massa. Yang bisa kita lakukan adalah melawannya dengan barang atau jasa yang lebih unggul. Bila kalah bersaing dan tidak laku, produk dan merek asing otomatis akan angkat kaki.

Siapa yang bisa menjadi pahlawan seperti ini? Siapa lagi kalau bukan para pengusaha. Para entrepreneur. Bukan yang lain. Di pundak para pengusahalah beban perjuangan menjayakan negeri ini diletakkan. Permasalahannya, adakah pengusaha yang tergerak dan kemudian tampil ke depan untuk keperluan ini?

Maka, kemungkinan CT untuk mengambil peran ini makin berat. Derajat konglomerasi bisnisnya makin melebar. Kekuatan, kecerdasan, kapasitas manajerial, dan modalnya tersebar ke berbagai sektor. Padahal, setiap sektor yang dimasuki tentu bersaing head to head dengan perusahaan sejenis dari berbagai penjuru dunia. Jadi, CT melalui berbagai macam perusahaannya memiliki banyak “lawan”. Setiap lawan fokus pada satu bidang saja. Lawan kelas global. Lawan berat!

Pembaca yang baik, saya menyebut CT bukan karena sentimen negatif. (Maaf pak CT, saya baru ketemu Anda sekali tapi sudah berani nyentil macam-macam. Tapi … hingga kini saya nasabah Bank Mega kok! Hehehe) Pembahasan ini murni sebagai salah satu contoh saja. Sulit bagi saya membahas dengan jelas kecuali dengan menyebut contoh. Kenyataannya, di negeri ini banyak sekali memiliki CT-CT lainnya. Anda bagaimana?

Baca selengkapnya pada buku karya ke 8 Iman Supriyono, “Anda Jago Kandang atau Kelas Dunia?”

6 responses to “Chairul Tanjung Akuisisi Carrefour: Gembira, Sedih & Perjuangan Ekonomi Yang Makin Berat

  1. menjadi kepala ayam lbh baik mjd ekor sapi yh slalu mengekor kemana kepala inginkan.

  2. “Seorang pengusaha kelas kampung yang memiliki warung nasi, warnet, sawah, persewaan tenda, dan peternakan sudah bisa disebut konglomerat.”

    –> Baru ngeh sekarang ini dengan istilah “konglomerat” yang sebenarnya, nice information, Pak🙂

  3. seep! tks kembali. moga bermanfaat

  4. mhn ijin nyimak pak.. ulasan yang nambah wacana pengetahuan saya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s