Penang Second Bridge: Satu Jembatan Laut Tidak Cukup


Penang Second Bridge

oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting

Suatu sore sekitar sepuluh tahun yang lalu. Bus yang saya tumpangi dari Kuala Lumpur berjalan merambat di jembatan sepanjang hampir 15 kilometer itu. Lalu lintas di enam lajur jembatan itu padat sekali. Menuju dan dari jembatan sama padatnya.

Itulah Penang. Seorang sahabat warga pulau kecil menggambarkan kemajuannya dengan perbandingan properti. Harga tanah di Penang saat itu kurang lebih tiga kali lebih mahal dari pada tanah di Seberang Perai Utara dan Seberang Perai Selatan. Keduanya adalah wilayah di semenanjung malaysia yang berdekatan dan secara administratif berada dalam wilayah negara bagian (seperti Propinsi di Indonesia) Pulau Penang.

Perkembangan Pesat Penang juga terlihat dari gedung gedung pencakar langit yang bertumbuhan di pulau berlokasi di sebelah utara kota Medan itu. Bahkan USM yang berada di Minden –sebuah kawasan di pulau itu adalah salah satu perguruan tinggi yang masuk pada ranking atas perguruan tinggi global. Tahun 2004 USM diposisikan pada ranking 111 perguruan tinggi global oleh Times Higher Education. Tahun the 2010 QS Asian University rankings menempatkan USM pada posisi no 69. January 2011, the Webometrics Ranking of World Universities menempatkan USM pada posisi no. 2 universitas di Malaysia nomor 5 di Asia Tenggara dan dan nomor 428 di dunia.

Penang tumbuh pesat, sampai sampai kemacetan di Jembatan penghubungnya pun sudah tidak bisa ditolerir. Pemerintah setempat pun memutuskan membangun jembatan kedua yang pengerjaannya sudah dimulai sejak 2008. Target semula jembatan sepanjang 24 kilometer bernilai 2,6 Milyar Ringgit (Sekitar Rp 7 Trilyun) itu selesai tahun 2011 ini. Tapi nampaknya terget ini sulit tercapai dan akhirnya diundur setahun. Artinya, tahun 2012 nanti Penang memiliki jembatan laut kedua: Penang Second Bridge.

•••

Kaki jembatan suramadu suatu senja. Sekitar setengah jam sebelumnya saya baru saja menyelesaikan sholat magrib berjamaah di sebuah masjid di kawasan Bangkalan. Di kaki jembatan itu saya siapkan selembar kertas, sebuah ballpoint dan handphone sebagai pengukur waktu. Sebuah survay kecil kecilan mengikuti rasa ingin tahu. Saya alokasikan waktu 15 menit untuk menghitung mobil yang masuk dan keluar Jembatan laut sepanjang sekitar 4 km ini. Lima belas menit berikutnya untuk menghitung jumlah motor.

Hasilnya: dalam seperempat jam ada 133 mobil lewat dan seperempat jam berikutnya ada 285 motor lewat. Tarif mobil adalah Rp 30 ribu dan motor Rp 3 ribu. Jika dianggap selam 24 jam kondisinya selalu seperti itu maka sepanjang tahun uang yang terkumpul adalah Rp 169,768,800,000. Jika investasi jembatan dianggap Rp 4 Trilyun, angka itu setara dengan 4,2% setahun. Seandainya investasi Suramadu menggunakan dana bank komersial, angka itu belum cukup walau hanya sekedar membayar bunga. Biaya operasional untuk gaji karyawan dan lain lain maupun depresiasi belum dihitung. Apalagi pengembalian pokok pinjaman. Apalagi lalu lintas pada malam atau dini hari tentu jauh lebih sepi dari kondisi saat survay itu saya lakukan.

Kepadatan lalu lintas Suramadu perlu digenjot. Bagaimana caranya? Sekedar perbandingan: ongkos toll jembatan masuk ke Penang dengan mobil sedan atau sekelasnya adalah RM 7 alias sekitar Rp 20 ribu rupiah. Keluar dari penang tidak perlu membayar toll alias gratis. Rp 20 ribu untuk pergi pulang alias sepertiga tarip jembatan Suramadu yang Rp 60 ribu pergi pulang. Karena murahnya, wajar kalau jembatan Penang macet. Break event point pun mudah tercapai. Maka… mudah saja bagi investor untuk membangun jembatan kedua yang jauh lebih panjang dan butuh uang lebih banyak. Mau Universitas Trunojoyo di Bangkalan semaju USM? Mau harga tanah di Madura naik tiga kali lipat tanah Surabyaa? Mau jembatan suramadu kedua? Jembatan Penang bisa menjadi inspirasi. Bagi Anda para pengambil kebijakan negeri. Juga bagi siapapun yang ingin maju. Penang Second Bridge!

Tulisan ini dimuat di majalah matan, terbit di surabaya, edisi nopember 2011

Catatan tambahan:  data riil pendapatan (revenue) jembatan suramadu tahun 2011 adalah Rp 171,5 Milyar dengan 13 505 000 unit kendaraan setahun [jawa pos, 6 januari 2012, bersumber dari PT Jasamarga Cabang Surabaya]

8 responses to “Penang Second Bridge: Satu Jembatan Laut Tidak Cukup

  1. pemikir negeri jg punya masterplan bos..sesekali perlu anda telusuri,masterplan itu..dan berbincanglah ide anda itu apakah sudah digagas atau mereka pikirkan sebelumnya..kalau anda merasa punya ide cemerlang drpd mereka

  2. Terima kasih dan perusahaan ke 2 akan segera dijalankan

  3. berpikir sesuatu yang belum terpikir adalah sebuah keharusan….. bagi orang yang ingin maju

  4. Nampak nya jembatan pulau pineng yg ke 2 ini akan menarik perhatian pelancong domestik maupun asing.

    Oh ya nih mas dulu sering berkunjung ke pineng ya?
    Kebetulan aq jg di pulau pineng udah 5 tahun jadi TKI sampe skrg.
    Kpn ke mlysia lg mas?

  5. kayanya begitu. ndak sering. tapi saya masih kontak dg kawan yang pensyarah di USM. mungkin akhir tahun ini saya ke malaysia tapi kayaknya ndak bisa mampir ke penang. samepan di penang kerja di bidang apa?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s