Istri Lebih Pintar Nyari Duit: Keluarga Tetap Harmonis dan Kokoh


perempuan pekerja keras

perempuan pekerja keras

Istri Lebih Pintar Nyari Duit

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Guyonan ini terjadi beberapa saat setelah seorang sahabat, sebut saja Budi, belum lama melangsungkan akad nikahnya dengan wanita pujaan hatinya, sebut saja Wati. Guyonan terjadi saat pasangan sejoli itu hadir dalam sebuah acara yang juga dihadiri oleh Pak Suherman Rosyidi, dosennya di Universitas Airlangga. Dosen fakultas ekonomi yang akrab dipanggil Pak Herman ini memang dikenal kaya dengan aneka guyonannya.

“Budi memang pintar bisa nikah dengan Wati”, begitu dosen yang mengajar di jurusan ekonomi syariah ini membuka guyonan. Yang disebut namanya tersenyum senyum sambil menunggu kata kata apa yang akan keluar dari orang yang mendidiknya kala masih menempuh pendidikan sarjana ekonominya.

“Yang bodoh itu kan Wati. Kok mau maunya dia sama Budi”, begitu lanjut Pak Dosen lulusan Australia ini. Sontak semua isi ruangan tertawa ngakak. Demikian juga Si Budi dan Wati. Semuanya larut dalam keterpingkalan karena guyonan dosen yang juga dikenal sangat kritis ini.

&&&

Studio FM 93,8 untuk sebuah talk show mingguan. Topik malam itu adalah tentang istri yang lebih pintar mencari uang dibanding suaminya. Kondisi dimana suami istri sama sama bekerja dan kemudian karir sang istri lebih berkembang dari pada sang suami. Suatu topik yang menarik karena jika tidak disikapi dengan baik bisa berujung pada keretakan rumah tangga bahkan perceraian.

Sebagai nara sumber acara, saya memang harus menjawab pertanyaan-pertanyaan yang masuk sesuai apa yang pernah saya pelajari. Tetapi tidak jarang juga jawaban itu datang dari pendengar yang mau berbagi pengalaman menghadapi permasalahan serupa. Seorang ibu, sebut saja Tati, berkisah tentang pengalamannya berkorban demi kekokohan rumah tangga pada tahun ketiga pernikahannya. Ia yang bekerja pada perusahaan asing dan akan dipromosikan ke Jakarta dengna gaji menggiurkan terpaksa harus mundur dari karir demi keluarganya. Ia lebih memilih memberi kesempatan kepada suaminya yang sejak beberapa saat sebelum menikah terkena PHK merintis usaha kecil kecilan di Surabaya. Ia tinggalkan karir cemerlangnya di perusahaan asing dan kemudian hidup sederhana bersama orang terkasihnya. Singkat cerita Tati sukses membina rumah tangga termasuk dalam aspek ekonomi. Apakah setiap orang bisa seperti Tati? Tentu tidak. Tidak selalu solusi ala Tati bisa diterapkan. Ada kondisi tertentu yang tidak bisa meniru apa yang dilakukan Tati.

Lain Tati, lain pula Lina, bukan nama sebenarnya. Toto, sang suami, bukan nama sebenarnya, sejak awal merintis karir sebagai pengusaha pemasok pabrik. Bersamaan dengan itu Lina bekerja di sebuah perusahaan. Karirnya Lina di perusahaan bagus. Gajinya jauh lebih besar dari pendapatan suaminya.

Saat melihat ada peluang menjadi pengusaha di bidang yang selama ini ditanganinya di perusahan tempatnya bekerja, Lina memutuskan untuk keluar dan merintis usaha sendiri. Ia tidak mulai dari nol karena perusaan termpatnya bekerja kemudian menjadi pembeli produknya. Kini, penghasilan Lina dari bisnisnya jauh melampoi penghasilan Toto.

Bagaimana hubungan Toto-Lina? Mereka tetap harmonis dan bahkan sangat harmonis. Ekonominya juga sangat mapan. Anaknya disekolahkan di luar negeri dengan biaya belasan juta rupiah perbulan. Apa rahasia Lina? Tentu banyak. Salah satunya adalah komunikasi yang sangat cair. Bukan sekedar cair antara Lina dan Toto. Tetapi juga cair dengan kolega masing masing. Lina bersahabat dengan sahabat-sahabat suaminya. Sebaliknya, Toto juga bersahabat dengan sahabat-sahabat istrinya. Saya dan istri merasakan itu. Kami bersahabat dengan mereka berdua. Bahkan saya juga bersahabat dengan buah hati mereka.

Namanya bisnis suatu saat bisa berubah. Saat ini memang bisnis Lina lebih moncer. Tetapi dengan berjalannya waktu bisa saja suatu saat nanti akan terbalik. Makanya tidak Toto tidak risau dengan apa yang terjadi saat ini. Demikian pula Lina. Keduanya tetap suami istri yang kokoh. Tetap keluarga yang kokoh. Siapapun yang lebih pintar nyari duit. Toh duit bukan unsur utama yang menjadikan mereka saling memilih untuk membangun sebuah keluarga.

&&&

Ingat Lina saya jadi ingat guyonan pak Herman. Toto pintar sekali karena bisa menikah dengan Lina yang baik dan sangat piawai nyari duit. Bukan hanya itu, Suami Lina juga pintar mengkondisikan istrinya sedemikian hingga penghasilan Lina yang lebih tinggi tidak mengganggu keharmonisan keluarga. Mereka berdua adalah pasangan yang kokoh. Ekonomi kokoh. Suami lina pintar. Bukan karena Lina bodoh seperti guyonan pak herman…heheheh

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s