Sekolah Internasional Vs Sekolah Bertaraf Internasional: Majelis Dikdasmen


Sekolah Internasional Vs Sekolah Bertaraf Internasional

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Akhir Mei lalu saya kedatangan tamu. Dua orang kawan profesional dari negeri jiran. Satu seorang akademisi yang mengajar di Fakulti Pendidikan Universiti Malaya, UI-nya Malaysia. Satu lagi adalah praktisi pendidikan yang memimpin sebuah lembaga penyelenggara beberapa sekolah. Salah satu keperluannya datang kemari adalah untuk saling berbagi pengalaman tentang penyelanggaraan pendidikan dasar dan menengah.

Segeralah terpikir tentang majelis pendidikan dasar dan menengah Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur. Otoritas persyarikatan (Muhammadiyah) yang menaungi lebih dari dari 900 sekolah di jawa timur. Gayung pun bersambut. Majelis dikdasmen PWM pun secara kilat mengundang beberapa kepala sekolah untuk datang pada pertemuan persahabatan pendidikan yang hangat.

Pembicaraan sangat antusias. Kedua pihak dengan serius saling mendengarkan pengalaman masing masing. Bahkan setelah acara selesai kedua pihakpun masih semobil bersama untuk meninjau beberapa sekolah unggulan naungan majelis Dikdasmen.

Setelah kedua kawan kembali ke negerinya pikiran saya pun berkecamuk. Bagaimana menindaklanjuti antusiasme pertemuan? Jangan hanya sekedar hangat-hangat tahi ayam! Maka, muncullah ide sederhana: Sekolah Internasional.

Pemerintah punya proyek sekolah bertaraf internasional. Karena bukan orang yang sehari hari bergulat dengan pendidikan dasar dan menengah, tentu saya tidak begitu faham tentang sekolah bertaraf internasional. Namun demikian, secara logika sederhana, sekolah bertaraf internasional tentulah bukan sekolah intrnasional. Nah, di sini kawan-kawan majelis Dikdasmen dan para praktisi pengelola sekolah-sekolah dibawahnya punya sebuah peluang untuk melompat. Sekolah internasional. Benar-benar sekolah internasional. Bukan lagi sekolah bertaraf internasional. Bukan sekedar “bertaraf”.

Bagaimana caranya? Secara ide dasar sangat sederhana. Saya sudah menjajagi dari kawan pengelola sekolah di negeri jiran tadi. Mereka sangat terbuka untuk menerima siswa dari sekolah di negeri kita dengan pola sandwich program. Sebagai misal, siswa SMP kelas satu dan dua belajar di sekolah nanguan Dikdasmen. Saat kelas tiga, belajar dilanjutkan di sekolah di Malaysia. Saat ujian, mereka menempuh ujian di Malaysia dan Indonesia. Saat lulus SMP, mereka benar-benar siswa kelas internasional. Merasakan dua tahun belajar di Indonesia dan setahun belajar di Malaysia. Tentu saja dengan wawasasan keragaman budaya dan pendidikan antar bangsa.
Sebaliknya, pelajar dari Malaysia pun bisa mengikuti program serupa. Ada masa satu tahun mereka mengikuti proses pembelajar di sekolah kelolaan majelis dikdasmen di sini. Manfaat tambahannya, murid dari sekolah sini yang tidak berkesempatan untuk belajar di negeri jiran pun turut merasakan pergaulan dengan siswa internasional yang belajar di sekolahnya. Turut kecipratan.

Bila kerjasama ini diperluas dengan sekolah-sekolah islam di Singapura, Phillipina, Thailand, Australi, Brunei, Eropa, Timur Tengah, Afrika dan Amerika, jadilah sebuah sekolah internasional yang sebenarnya. Sebuah sekolah yang benar-benar berisi siswa-siswa dengan pergaulan dan wawasan pendidikan antar bangsa.

Dalam bahasa marketing, sekolah internasional tentu jauh lebih menarik dari pada sekolah bertaraf internasional. Saya yakin, walaupun tidak semuanya, akan ada banyak orang tua yang rela membayar biaya transport, biaya hidup, dan biaya pendidikan putra putrinya selama setahun bersekolah di Luar negeri. Biaya pun akan sangat terjangkau mengingat tiket pesawat yang sangat murah. Surabaya-Kuala Lumpurpun bisa tidak sampai Rp 200 ribu. Biaya hiduppun bisa sangat murah bila mengadopsi konsep homestay. Siswa kita tinggal di rumah salah seorang siswa sekolah mitra di luar negeri. Sekolah internasioal yang murah dan jauh lebih menarik secara marketing dari pada sekolah bertaraf internasional. Inilah strategi bisnis. Anda tertarik merealisasikannya?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s