Bus Kota Murah Nikmat dan Bergengsi Ala SBS Transit di Ang Mo Kio: 0.9 dan 1.2


0.9 dan 1.2

oleh Iman Supriyono, konsultan keuangan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

===
Suatu hal yang sangat saya sukai semasa kanak kanak adalah saat diajak bepergian ke luar kota. Memang tidak sering sering amat. Orang tua yang tinggal di desa dan tidak banyak relasi adalah penyebabnya. Ekonomi pun tidak cukup leluasa untuk membiayai ongkos naik bus ke luar kota.

Sesekali diajak pergi ke luar kota adalah sebuah kemewahan. Senang bukan main. Akan tetapi, ada suatu hal yang membuat hati ini kurang nyaman. Maksud hati ingin duduk sendiri di bangku bus sebagaimana orang orang pada umunya. Tetapi ayah ibu tidak menyukainya. Ia lebih suka bersusah payah memangku putra putrinya. Dengan maksud yang sangat ekonomis: agar tidak perlu membayar dobel. Cukup ayah ibu yang mbayar. Anak anak gratis.

Semakin hari usia pun bertambah. Bepergian tetaplah menjadi sesuatu yang menyenangkan. Apalagi pergi ke kota yang belum pernah dikunjungi. Kesenanganpun bertambah karana ada masa dimana saya tidak lagi bisa dipangku di bus. Saya tidak tahu persis apa kriterianya. Yang jelas saya harus uduk di kursi sendiri. Tidak dipangku. Sesuatu yang tentu saja menjadi tambahan beban finansial ayah ibu saat bepergian ke laur kota.

♦♦♦

Ang Mo Kio di suatu pagi buta. Selapas sholat subuh di Masjid Al Muttaqin, saya segera berjalan kaki menuju halte bus terdekat. Rencana semula saya ingin menunggu agar hari agak terang. Ini menjadi penting untuk kepatasan bertamu. Tujuan saya memang mau mengunjungi seorang kawan yang tinggal di kawasan yang tidak terlalu jauh dari halte bus itu. Sekitar perjalanan lima belas menit naik bus.

Begitu tiba di halte, saya tidak perlu menunggu. Halte bus sudah ramai calon penumpang. Masyarakat sudah mulai beraktivitas. Bahkan anak anak dengan seragam sekolah pun sudah ramai menunggu bus yang akan mengantarkannya menuju tempat belajar. Sebuah pagi yang penuh semangat.

Bus dengan rute yang saya tunggu tunggu telah tiba. Tak lama kemudian saya pun berada di bangku bus. Perhatian saya tertuju pada dua buah angka yang tertulis dengan jelas: 0.9 dan 1.2. Keduanya tertera pada sebuah stiker warna merah di dinding bus yang dikelola SBS Transit.

Saya pun tertarik untuk membaca tulisan sehubungan dengan angka itu. Tertnyata, angka itu adalah alat ukur tinggi badan. Anak anak yang tinggi badannya kurang dari 0,9 meter tidak perlu membayar ongkos naik bus. Anak-anak dengan tinggi badan 0,9 sampai 1,2 meter diwajibkan membayar dengan diskon. Membayar dengan tarip lebih murah dari pada orang dewasa. Inilah cara perusahaan pengelola bus angkutan umum di Singapura ini menentukan tarif bagi anak anak.
♦♦♦

Pembaca yang budiman, salah satu komponen penting dalam pengelolaan sarana transportasi publik yang murah dan nyaman adalah pendapatan dari pembayaran penumpang. Demikian pentingnya komponen ini bagi sebuah sistem transportasi bisa diibaratkan seperti darah bagi tubuh manusia. Tanpa keberadaannya, manusia akan mati. Bahkan kekuranganpun sudah cukup mengakibatkan penyakita yang fatal. Begitu pentingnya darah sampai sampai aktivitas donor darah menjadi sesuatu yang sangat dibutuhkan. Palang merah atau bulan sabit merah pun menjadikan donor darah sebagai aktivitas pentingnya dalam aktivitas kemanusiaan.

Karena begitu pentingnya uang dari para penumpang, maka aturan pembayaranpun harus dibuat jelas. Agar tidak ada celah penyimpangan. Agar tidak ada celah penyebab hilangnya pendapatan bagi perusahaan. Agar perusahaan bisa membiayai aktivitas dan investasi armadanya dengan baik. Ujung ujungnya, layanan kepada para penumpang lebih mudah, aman dan nyaman.

Pengalamana naik bus saat kanak kanak bersama ayah ibu bisa menjadi pelajaran menarik. Lebih menarik manakala dibandingkan dengan suasana di SBS Transit Singapura. Bus yang saya naiki bersama ayah ibu tidak memberikan batasan yang jelas tetnang siapa yang boleh tidak membayar, siapa yang harus membayar dengan diskon, dan siapa yang harus membayar penuh. Membayar dan tidaknya hanya ditentukan oleh kesan kondektur terhadap penumpang anak anak. Bila dirasa masih kecil digratiskan. Bila dianggap agak besar bayar saparuh. Bila dianggap dewasa membayar penuh. Keputusannya murni didasarkan pada kesan. Tidak ada standar yang jelas.

SBS Transit di Negeri Singa sangat berbeda. Seorang anak cukup berdiri di dekat dinding bus yang ditempeli stiker ukur. Bandingkan tinggi anak anak dengan angka yang tertera. Bila tinggi anak kurang dari 0,9 meter gratis. Bila lebih tinggi dari 0,9 meter tetapi kurang dari 1,2 meter membayar dengan diskon. Lebih dari itu membayar penuh. Tidak perlu kesan. Tidak perlu tawar menawar dengan penumpang. Semua jelas. Semua tegas. Ini mungkin menjadi salah satu faktor yang menjadikan SBS transit bisa melayani penumpang dengan sangat bagus. Tidak ada bus jelek. Semua bagus. Pendingin udaranya sejuk. Jadual keberangkatan dan kedatangan tepat waktu. Tidak ada bus ngetem menunggu penumpang penuh. Ongkosnya murah. Penumpang dan masyarakat senang. Negeri pun maju. Angka 0.9 dan 1.2 bisa menjadi inspirasi. Anda bagaimana?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Yatim, terbit di Surabaya

2 responses to “Bus Kota Murah Nikmat dan Bergengsi Ala SBS Transit di Ang Mo Kio: 0.9 dan 1.2

  1. wah ramah anak sekali…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s