Indosat Singapore Qatar: BUMN Juga


BUMN Juga

oleh Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Lantai 4 gedung Indosat Regional Kalimantan di suatu pagi. Forumnya adalah training Financial Spiritual Quotient alias FSQ. Ini adalah training yang materinya didasarkan pada buku FSQ, tulisan ke 4 saya. Saat itu saya sedang mengajak peserta untuk mendiskusikan ketergantungan ekonomi negeri ini terhadap negara negara asing. Ketergantungan yang sangat kompleks. Ketergantungan terhadap berbagai produk teknologi canggih sampai pada produk produk sederhana dan remeh temeh.

Pesawat terbang, berbagai mesin pabrik, server komputer dengan kapasitas proses data tingkat tinggi adalah beberapa contoh ketergantungan pada produk berteknologi canggih. Bukan hanya itu, negeri ini juga sangat tergantung pada produk yang tidak menuntut teknologi canggih seperti kedelai, garam, gandum, beras, dan sebagainya. Produk kebutuhan dasar yang teknologinya sudah sangat dikenal masyarakat luas.

Yang tidak kalah menyedihkan adalah ketergantungan modal. Setiap ada perusahaan besar yang sahamnya dilepas, pembelinya nyaris selalu investor asing. Salah satu yang sangat terasa misalnya saja adalah sektor perbankan. Saat ini beberapa satu demi satu perbankan nasional terbeli asing. Sekedar menyebut beberapa: Bank CIMB Niaga, Commonwealth Bank, Bank HSBC, Citibank, Rabobank, DBS bank, Standard Chartered. Ini adalah bank bank asing yang kini beroperasi di negeri ini. Cara yang paling sering terjadi adalah akuisisi atas bank lokal yang membutuhkan suntikan modal. Begitu modal masuk dan pembeli saham asing menguasai mayoritas saham, dengan mudah mereka dapat mengubah nama bank lokal menjadi nama asing sesuai dengan keinginan mereka. Bagaimana solusinya? Itulah pertanyaan besar yang membutuhkan jawaban proaktif.

♦♦♦♦♦

Qatar Telecomunication. Membaca namanya, dengan mudah Anda akan menangkap bahwa ini adalah sebuah perusahaan asal Qatar, sebuah negara di Timur Tengah. Tidak salah, perusahaan yang juga disebut dengan nama QTel ini memang berdiri pada tahun 1987 dan sahamnya tercatat di Bursa Efek Qatar (Qatar Exchange) sejak tahun 1998. Kini seluruh saham QTel bernilai sekitar 21 Milyar Riyal Qatar atau sekitar Rp 60 T.

Membaca namanya juga, tentu Anda dengan mudah menebak bahwa perusahaan ini bergerak di sektor telekomunikasi. Betul, produk utama perusahaan ini adalah layanan telekomunikasi baik fix line (telepon rumah) maupun telepon seluler. Sampai saat ini, perusahaan ini telah melayani lebih dari 60 juta konsumen di 15 negara. Hingga kini Qtel masih terus menambah negara negara jangkauan layanannya.

♦♦♦♦

Di Indosat, diskusi tentang solusi ketergantungan ekonomi terhadap asing menjadi makin tepat. Mengapa? Tidak lain adalah karena posisi Indosat sendiri. Dulu, Indosat adalah perusahaan BUMN. Dengan perkembangan situasi ekonomi yang ada, saham mayoritas Indosat sempat dikuasai oleh sebuah perusahaan milik pemerintah Singapura. Kini, saham mayoritas Indosat dikuasai oleh Qatar Telecom, sebuah BUMN juga. Ya, Indosat kini dimiliki oleh sebuah perusahaan milik pemerintah Qatar. BUMN juga. Bedaya, kalau dulu Indosat adalah BUMN Indonesia, kemudian menjadi BUMN Singapura, kini posisi terakhir adalah BUMN Qatar.

Solusinya? Tentu tidak bisa diselesaikan dengan nasionalisme konvensional. Tidak juga dengan nasionalisme politis. Solusinya harus berkarakter bisnis. Dalam kerangka FSQ, solusinya adalah menjadikan para karyawan Indosat memiliki kemampuan investasi. Gaji bulanan yang relatif besar harus diprioritaskan untuk memupuk kekuatan berinvestasi. Bahkan secara umum peran ini juga bisa dilakukan oleh karyawan perusahaan manapun dengan gaji seberapapun. Kita bisa belajar dari orang Yahudi yang selalu menyisihkan 10% dari gaji bulanannya untuk investasi. Andai saja masyarakat kita bisa melakukannya secara konsisten dalam jangka panjang, tidak akan diperlukan lagi kehadiran modal asing di negeri ini. tidak perlu lagi menjual BUMN ke pemodal asing. Walaupun pihak asing itu BUMN juga. Bisa!

tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s