Kawan Tionghoa Warga Jakarta di Manokwari: Menang Tanpa Bersaing


Menang Tanpa Bersaing

Oleh: Iman Supriyono, konsultan bisnis pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Dalam berbagai kesempatan, saya mendengar keluhan dari para pelaku usaha yang merasakan beratnya situasi ekonomi tahun tahun terakhir ini. Indikator indikator ekonomi seperti Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), kuatnya nilai rupiah, pertumbuhan ekonom, dan angka apapun dirasakan tidak nyambung dengan realitas yang dialami masyarakat. Pasar finansial yang booming tidak tidak berpengaruh terhadap sektor riil. Bisnis dan investasi sektor riil tetap dirasakan berat oleh para pelakunya.

Mendapatkan keluhan semacam ini, saya jadi teringat dengan seorang kawan bernama Paul. Saya mengenal Paul pada saat ia mengantar tamu-tamu hotelnya menuju Bandara di Manokwari, ibukota propinsi Papua Barat dan saya adalah salah satu tamunya. Yang menarik, dalam perjalanan dari pusat kota ke Bandara, para tamu yang memenuhi mobil Panther milik hotel ini saling sapa dan bercerita tentang berbagai hal. Yang menarik, semua yang berada di mobil Panther adalah bukan penduduk Manokwari. Para penumpuang semuanya sedang melakukan perjalanan bisnis. Sayapun ketika itu juga sedang melakan perjalanan bisnis bagi SNF Consulting, kantor saya.

Paul adalah warga jakarta beretnis Tionghoa yang datang ke Manokwari sebagai perantau. Di Manokwari ia berbisnis hotel, restoran dan biro perjalanan wisata. Tentang bisnisnya di kota yang membutuhkan waktu perjalanan udara sekitar 4 jam dari Surabaya ini Paul merasakan sebuah bisnis yang nyaris tanpa pesaing. Paul merasakan betapa mudahnya mengeruk rupiah di kota yang penduduknya masih banyak yang suka menyirih (mengunyah sirih, pinang dan kapur; kebiasaan yang dulu juga dikerjakan oleh nenek-nenek di Jawa) ini.

Dalam konteks kehidupan modern seperti ini, hijrah alias merantau tentu bukan lagi menjadi sesuatu yang luar biasa. Kita kini dapat berkomunikasi dengan orang dimanapun di seluruh penjuru dunia ini dengan mudah dan murah. SMS ke luar negeri pun hanya Rp 500,-. Untuk berkomunikasi sambil bertatap muka dengan lawan bicara bisa dilakukan dengan tarip seperti telepon lokal melalui Yahoo Messanger. Kemanapun pergi kini kita bisa naik pesawat dengan mudah dan biaya yang sudah turun drastis dengan adanya penerbangan low cost carrier. Kenanapun merantau, kita akan dengan mudah bisa menghubungi sanak saudara dan kawan kawan di daerah asal denagn mudah dan murah.

Lalu apa yang menarik dari cerita Paul? Yang menarik justru bagaimana seseorang bisa manangkap peluang yang muncul di daerah daerah baru. Paul menangkap peluang bisnis hotel, restoran, dan layanan wisata di tempat yang masyarakatnya belum benar benar faham tentang seluk beluk perhotelan dan wisata. Tentu saja Paul akan dengan mudah melahap nyaris seluruh pasar dan nyaris tanpa persaingan.

Kalau disebut tanpa persaingan mungkin juga tidak tepat. Dalam dunia bisnis dan investasi, begitu ada sebuah bisnis yang ramai dan mampu mendapatkan banyak uang, akan segera muncul pendatang baru. Akan banyak orang lain yang tertarik untuk ikut “menikmati kue”. Namun, sebagai yang pertama Paul dan para perintis lain memiliki keunggulan yang tidak bisa diperoleh dengan mudah oleh pendatang baru. Artinya, Paul dan para perintis akan relatif mudah untuk menguasai “pertempuran” dan kemudian memenangkan persaingan bisnis.

Tentang bersaing di arena yang tidak terlalu banyak pesaing ini saya punya cerita lain. Sewaktu lulus SMP, saya memiliki nilai ujian akhir ranking atas di sekolah yang berada di Kota Caruban, sebuah kota kecil di wilayah Kabupaten Madiun. Ketika kawan kawan saya yang termasuk ranking atas dalam perolehan nilai ujian akhir banyak memilih SMA faforit di Kota Madiun, saya memilih SMA di Caruban. Dengan kata lain, pesaing-pesaing saya sudah pada “menyingkir”. Kondisi inilah yang akhirnya memberi kesempatan saya untuk dengan mudah mencapai ranking atas, menjadi ketua OSIS, menjadi piimpinan redaksi majalah sekolah, dan mendapatkan kesemapan mewakili sekolah dalam berbagai even baik di tingkat kapupaten maupun propinsi. Bukan karena saya hebat, tetapi semata mata karena rendahnya tingkat persaingan. Saya menikmati fasilitas pendidikan yang luar biasa. Sesuatu yang tidak pernah dinikmati oleh kawan kawan SMP saya yang bersekolah di SMA faforit di Kota Madiun.

Para pembaca yang budiman, bila Anda merasakan betapa sulit dan beratnya menghadapi kondisi bisnis dan investasi di suatu daerah, ada baiknya Anda mencoba melihat peluang di daerah lain. Saya yakin, ada banyak daerah yang Anda bisa unggul keahlian yang Anda miliki tanpa adanya pesaing berat. Ketahuilah bahwa Allah SWT mempergilirkan kejayaan antara suatu bangsa dan bangsa lain. Artinya, mungkin di suatu daerah Anda mengalami stagnasi bisnis dan investasi karena daerah itu memang lagi mengalami stagnansi pertumbuhan ekonomi. Tentu ada daerah lain yang pada saat yang sama justru mengalami booming.

Cara ini pulalah yang dilakukan oleh berbagai jaringan bisnis internasional. Kentucky Fried Chiken alias KFC misalnya, menyebar outletnya ke lebih dari 12 ribu titik di seluruh dunia. Dengan cara seperti ini, bila suatu daerah mengalami penurunan omset karena pertumbuhan ekonominya melemah, KFC masih bisa menikmati kenaikan omset di daerah lain yang justru sedang booming.

Di daerah tertentu, Anda akan merasakan adanya suatu kondisi yang memungkinkan Anda manang tanpa bersaing. Bukan benar benar tanpa pesaing, melainkan karena Anda unggul jauh di atas kemampuan para pesaing. Sukses!

tulisan ini pernah dimuat di majalah oase, terbit di surabaya

2 responses to “Kawan Tionghoa Warga Jakarta di Manokwari: Menang Tanpa Bersaing

  1. Senang sekali membaca tulisan-tulisan cak Iman. Bahasan tentang blue ocean strategy yang cair. Kalau bisnis sudah berada dalam ranah persaingan yang saling mengalahkan dan mematikan (red ocean), adalah hal yang cerdas untuk membuat strategy baru yang memungkinkan menjadi penguasa (bisnis) dalam suatu situasi ‘baru’ yang serba menguntungkan ‘blue ocean’.

    Salam cak Iman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s