Kampung Bahasa Inggris Luar Biasa: Pare


Pare

oleh Iman Supriyono, konsultan pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Sebagaimana kawan kawan sebaya, saya belajar bahasa Inggris mulai kelas satu SMP. Tiap pekan satu atau dua kali pertemuan dengan durasi masing masing kurang lebih satu setengah jam. Pelajaran itu ber langsung terus mulai kelas satu sampai kelas tiga. Bahkan semasa SMA pelajaran ini juga tetap berjalan dengan intensitas yang kurang lebih sama. Total 6 tahun belajar bahasa Inggis seminggu sekali atau dua kali terus menerus.

Berapa persen dari para murid kawan kawan saya yang begitu lulus SMA bisa berbahasa Inggris? Pangamatan saya, ternyata tidak banyak. Tidak sampai 10% yang lancar berbahasa inggris pasif maupun aktif. Saya sendiri alahamdulillah termasuk yang 10% itu. Salah satu variasbelnya adalah karena disamping pelajaran di kelas, saya juga belajar secara aktif di luar kelas dengan mendirikan klub percakapan bahasa inggis. Salah satu kegiatan klub itu misalnya adalah dengan mencegat para turis di restoran restoran transit yang kebetulant banyak terdapat di kawasan Caruban, Madiun, tempat tinggal saya ketika itu.

Lalu bagaimana yang 90% lainnya? Apa saja yang dilakukan selama 6 tahun seminggu sekali atau dua kali belajar bahasa inggris? inilah masalahnya. Bagaimana masyarakat menganggapi masalah ini? Macam macam. Banyak yang kemudian mencela proses pendidikan di sekolah. Ada juga yang “agak positif” dengan menimpakan kesalahan pada para siswa. Para siswa tidak memanfaatkan proses pembelajaran sebaik baiknya. Maka, hasilnya pun parah.

Terhadap peristiwa apapun, selalulah ada dua kutub penyikapan. Ada yang positif, ada yang negatif. Sebagai murid, alhamdulillah saya dulu bersikap positif. Merasa kurang praktik selama di kelas, saya lengkapi bersama kawan kawan secara gratis pula dengan membentuk klub belajar bahasa inggris. Hasilnya….ya alhamdulillah minimal bisa menjadi sarana untuk berkomunikasi pasif maupun aktif hingga saat ini.

Murid yang negatif? Mereka pasrah terhadap sistem pemebalajaran yang ada. Tidak ada minat untuk melengkapi proses pembelajaran dengan apa yang ada. Maka, proses pembelajaran berbahasa Inggris berjalan selama enam tahun nyaris tanpa bekas apapun. Tetap tidak bisa berbahasa inggris.

Masyarakaat pada umumnya pun terbagi menjadi dua kelompok penyikapan. Yang negatif akan mencaci sekolah. Menimpakan kesalahan pada proses pendidikan di sekolah. Menganggap proses belajar yang dibiayai oleh negara dengan uang rakyat berjalan sisa sia. Yang positif? Ini adalah peluang raksasa untuk mendirikan kursus bahasa inggris.

♦♦♦♦

Pare Juli 2009. Bus telah masuk kota kecil di Kabupaten Kediri ini. Si sulung yang saya temani sejak awal telah menyampaikan kepada supir agar di turunkan di BEC. BEC adalah nama sebuah kursus bahasa Inggris terkenal di Pare. Maka, begitu kondektur berteriak menyebut BEC, saya dan si sulung pun turun dari bus bersama banyak penumpang lain. Nampaknya, BEC telah menjadi suatu penanda penurunan penumpang di kota Pare.

Segeralah saya bersama si sulung menghampiri abang beca. Begitu menyebut BEC, abang beca pun langsung melaju. Sepertinya abang beca sudah sangat terbiasa mengantarkan penumpang yang baru turun dari bus menuju BEC. Nampak pula BEC adalah sebuah tujuan yang sangat familiar bagi para supir bu, abang beca dan orang orang angkutan umum apapun.

Maka, tidak lama kemudian saya pun turun di sebuah perkampungan luar biasa. Sepanjang perjalanan dan sejauh mata memandang, yang tampak adalah suasana belajar. Para pemuda sedang asyik belajar di berbagai sudut kampung. Belajar bahasa dengan latar aneka kursus bahasa inggris dan bahasa bahasa lain yang menjamur. Suasanya persis lingkungan sebuah kampus perguruan tinggi besar. Warung khas mahasiswa, rental komputer, warung internet, kios isi ulang pulsa, toko buku. Lengkap. Persis suasana kampung sekitar kampus-kampus besar seperti ITS, Unair, UGM, UI dan perguruan perguran tinggi lain.

Pare dengan BEC dan kampung bahasa adalah sebuah sebuah sikap positif. Sikap tepat terhadap kekurangan dunia pendidikan kita. Kelemahan dalam pendidikan bahasa Inggris ditangkap sebagai sebuah peluang bisnis. Kemampuan menangkap peluang Pare tidak kalah denan lembaga lembaga kursus bahasa Inggris besar seperti EF, ILP, Kelt dan sebagainya. Bahkan Pare lebih fenomenal karena berkumpulnya puluhan lembaga kursus aneka bahasa dalam satu perkampungan.

Maka….masyarakat pun merasakan manfaat ekonominya. Dalam perjalanan dan ngobrol dengan abang beca, saya mendapat informasi bahwa keberadaan kursus bahasa inggris dan aneka bahasa lainnya telah benar benar menagkat perekonomian masyarakat sekitar. Rumah rumah yang dulunya sedernana dan bahkan apa adanya kini telah berubah. Rumah rumah megah dan cantik menghiasi setiap gang di perkampungan. Bahkan angkutan umum pun penuh dengan penumpang dari dan ke perkampungan bahasa yang muridnya berasal dari berbagai daerah di tanah air ini.

Apa keunggulan kampung bahasa Pare dibanding kursus bahasa lainnya? Banyak diantara yang terpenting: harga murah, rata rata sekitar Rp 100 ribu per bulan sehari masuk dua kali senin sampai jum’at. Makanan murah, rata rata sekitar rp 4 ribu sekali makan. Biaya kos juga murah, sekitar Rp 100 ribu perbulan. Biaya makin terasa murah karena setiap siswa bisa memilih beberapa program sekaligus di berbagai lembaga kurus yang ada sesuai dengan kebutuhan. Inggris, arab, jepang, korea, mandarin adalah contoh kursus bahasa asing yang ada di kampung ini. Bukan hanya dari segi bahasa, tiap tiap kursus juga memiliki program yang berbeda beda. Ada yang ahli di percakapan, ada yang spesialis tata bahasa, ada yang spesialis penulisan dan sebagainya. Maka…jangan heran bila kampung bahasa Pare tidak kalah dengan lembaga lembaga kursus besar di kota kota besar. Bahkan tidak kalah juga dengan lembaga kursus besar yang berasal dari luar negeri.

Kampung bahasa Pare memberi banyak pelajaran. Selalu ada tempat bagi yang berfikir positif. Selalu ada cara untuk unggul. Selalu ada strategi untuk menang. Bahkan ketika pesaing tampak lebih hebat sekalipun. Unggul dengan sesuatu yang sederhana. Unggul dan bermanfaat bagi sesama. Ayo!

tulisan ini pernah dimuat di majalah muslim, terbit di surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s