Undangan Resepsi Pernikahan yang Tidak “Menyiksa”: Tiga Coretan Indah


Tiga Coretan Indah

Oleh Iman Supriyono, strategic finance specialist pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Surabaya april 2009. Sore ini indahnya tiada tara. Bukan karena pemandangan pepohonan menghijau. Bukan oleh putih deburan ombak pantai. Bukan pula karena sejuknya sebuah danau di alam pegunungan. Keindahan sore itu datang dari sebuah undangan. Saya menerima undangan resepsi pernikahan berwarna coklat muda dengan tulisan coklat tua nan artistik. Anggun.

Desainnya memang indah. Tetapi ada sesuatu yang jauh lebih indah: tiga gambar dengan coretan coretan. Persis seperti coretan pada rambu lalu lintas yang menyatakan larangan. Gambar sepeda motor dicoret berarti sepeda motor dilarang masuk. Panah ke arah kanan dicoret berarti larangan belok kanan. Klakson dicoret berarti larangan membunyikan klakson.

Tiga gambar itu adalah kado, amplop, dan karangan bunga. Masing-masing dengan secuah coretan. Artinya, undangan itu menghendaki agar siapapun yang menerimanya hadir tanpa ketiganya. Tanpa membawa kado, tanpa membawa amplop berisi uang, dan tanpa membawa karangan bunga. Itulah undangan untuk pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya Bambang DH. Undangan pernikahan Aziza –Azmi.

■■■■
Bapak ibu saya kini adalah sepasang kakek nenek berusia 70 tahunan. Alhamdulillah dalam usianya yang lanjut keduanya tetap dikaruniai kesehatan yang luar biasa. Sehari hari bapak ibu masih asyik dengan binatang binatang peliharaan khas orang desa: sapi, ayam, mentok dan angsa. Rutinitas selepas sholat subuh di pagi hari adalah memberi makanan binatang binatang ini.

Di siang hari, ayah dan ibu masih punya kesibukan lain lagi: mengawasi beberapa pekerja memasak brem. Ini adalah aktivitas turun temurun. Ini juga yang menajadi bekal kuliah saya dahulu. Hasil penjualan brem yang saya konsinyasikan di toko toko di surabaya lah yang kemudian saya pakai untuk biaya kuliah.

Ayam, mentok, angsa dan brem lah yang telah “berjasa” memberikan aktivitas ayah ibu hingga kini. Tetap sehat dan bugar di usia senjat. Seluruh persendian masih tergerakan. Tidak hanya berpangku tangan.

Banyak uang dong? Tidak juga. Secara bisnis, apa yang dilakukan ayah ibu adalah sesuatu yang sangat sederhana. Jauh dari kecepatan bisnis dunia modern ini. bahkan dibandingkan dengan para tetangga pun, kecepatan bisnis bapak ibu kalah jauh dibandingkan dengan mereka mereka yang jauh lebih muda. Memang mendapatkan uang. Tetapi kemanfaatan karean tetap aktif yang menjadikan sehat jauh lebih bermakna di usia senja.

Nah, dalam kesederhanaan finansial orang desa, ada saat tertentu yang cukup membebani. Datangnya adalah pada bulan bulan faforit hajatan nikah. Pada saat itu, ayah ibu harus menyediakan uang dalam jumlah cukup besar-menurut ukuran kesederhanaan orang desa- untuk memberikan sumbangan kepada orang yang berhajat. Nymbang memberatkan. Tidak nyumbang jadi bahan pembicaraan orang sedesa.

■■■■
Seorang kawan dari keluarga yang dekat dengan seorang mantan gubernur bercerita. Anggaran sumbangan resepsi pernikahan mantan gubernur bisa mencapai Rp 30 juta dalam sebulan. Angka itu terjadi pada bulan bulan musim nikah. Bulan peak session pernikahan. Sesuatu yang wajar. Sumbahan kepada kolega sekelas kapolda atau mantan kapolda, pangdam atau mantan pangdam, pimpinan wilayah bank bank besar dan sekelasnya tentu tidak cukup dengan amplop berisi selembar uang kertas Rp 50 ribuan. Inilah kolega para mantan gubernur.

Anda bisa membayangkan. Berapa gaji seorang gubernur? Berapa tahun masa jabatan seorang gubernur? Berapa uang yang bisa ditabungnya selama masa jabatan? Berapa “masa jabatan” seorang mantan gubernur? Ha ha ha…tentu akan melekat sampai akhir hayat. Lalu berapa anggaran sepanjang hayat untuk sumbangan atau hadiah resepsi pernikahan? Tentu besar sekali.

Maka…undangan pernikahan putri sulung Wali Kota Surabaya memiliki makna yang luar biasa. Luar biasa meringankan orang orang kecil seprti ayah ibu saya di desa. Juga meringankan “orang orang besar” sekelas seorang mantan gubernur.

Memang, Islam menyarankan memberikan hidangan kepada para undangan walimatul ursy. Hidangan untuk menandai sebuah peristiwa besar bagai mempelai berdua. Tentu saja hidangan yang masih dalam jangkauan kemampuan si empunya hajat. Bukan hidangan yang “dibeli” dengan kado atau sumbangan dari para undangan. Tidak perlu dipaksakan.

Anda akan menyelenggarakan resepsi pernikahan? Betapa indahnya bila resepsi itu seperti spirit walimatul ursy dalam Islam. Mengundang sanak saudara, kolega dan sahabat untuk menikmati hidangan. Undangan walikota Surabaya di atas bisa menjadi contoh. Undangan yang meringankan baik orang rakyat kecil maupun “orang besar”. Undangan yang menjadikan Anda yang berhajat berfikir realitis. Berfikir memanfaatkan uang yang dimilikinya. Bukan mengada-adakan sesuatu di luar kemampuan dengan mengharapkan kado dan sumbangan. Sebuah walimatul ursy yang indah.

tulisan ini pernah dimuat di majalah BAZ, terbit di Surabayay

14 responses to “Undangan Resepsi Pernikahan yang Tidak “Menyiksa”: Tiga Coretan Indah

  1. wah sipp, bisa di contoh tuh!! hebat dan luar biasa…

  2. terimakasih pak..ilmu baru

  3. Subhanallah….inspiring…..

  4. Andai yang begini ini diikuti secara bertahap, oh alangkah indahnya. Setidaknya oleh diri dan keluarga kita…

  5. Alhamdulillah, pernikahan qmi sederhana..ckp walimatul urusy..jauh dr kesan “wah” dt4 istri..Alhamdulillah jg dpt istri org Jawa.. krn kl dMedan.. urusan “Nyumbang” ni bs jd masalah..blm lg “pesta”nya.. meski dkampung, tp undangan bs diatas 2000 orang..dn undanganny bkn brupa undangan, ttp punjungan..kpn2 kalo k Medan, mampir krumah pak, biar bapak lebih tahu gmn ttg “pesta” orang Jawa di Medan..Jgn lupa yaa Pak..??

  6. ketika tradisi menjadi beban, akankah bisa dihilangkan ? ataukah tetap dipertahankan ? atau bisa diganti dengan yang lebih baik sekaligus meringankan semuanya, namun bagaimana caranya ? sesuatu terjadi karena usaha, bila gak ada usaha takkan terjadi perubahan.

    • tradisi adalah karya pendahulu. bukan perintah tuhan. bukan kitab suci. jadi tradisi yang baik kita pertahankan. tradisi yang kurang baik kita perbaiki. agar kehidupan masyarakat makin baik. caranya? mulai aja dari diri kita. kalo memang baik pasti akan ada yang nyonto n lama lama jadi tradisi….ya ndak?

  7. rencana saya begitu, ust… tapi, budaya kita, urusan walimatul ursy kan dihelat oleh keluarga mempelai wanita… lha, ini aku gak bisa intervensi… malah, dipanas-panasi anggota keluarga yg lain, aji mumpung… ampun, dah…

  8. Pencerahan ekonomi umat pak…
    Like This…🙂

  9. dah da niatan k situ pak dr dulu tp blm pernah praktek blm ada yg mo dinikahkan he..he..he..msh lama. Klo di daerahku tambah ribet , lucu tur wagu lg ketika mo ada yg naik haji sblm brgkt tetangngga sauadara teman pada datang silaturahim k org yg mo naik haji dgn membawa kan sesuatau. rata rata merekla bw sembako trus di sana di sediakan kudapan n makan bahkan kadang ada yg pulangnya di bwkan roti ato snack ma tuan rumah. Trus klo yg hajinya dah datang mereka silaturahmi lg dgn bw sembako lagi dijamu lg dgn kudapan n makan dan pulangnya di bwkan oleh oleh haji mis: sajadah, kerudung dll. Ni adat yg gimana ya???? org yg pergi haji kan dah org mampu kok tambah di sumbang??? adat ini jg bikin mikir yg naik haji pasti mau ngak mau hrs da anggaran utk para tamu tsb. temen temen yg da niatan hj jd ngeluh anggaran itu. kadang terlintas jg klo naik hj sembunyi sembunyi aja..he..he.he maksudnya jgn ada ttetangga yg tau. Kita membutuhkan pengorban tuk menghapus adat ni. pengorbanan perasaan pastinya. namanya kita hdp d masy pasti klo kt ngak ikut adat jd omongan tetangga. Tp siapa lag klo bkn kita kita yg mengadakan perubahan. tutup telinga..judulnya.he..he..he..

  10. budaya menyebarkan undangan pada saat hajatan dengan harapan akan mendapat sumbangan Mungkin merupakan salah satu penerapan budaya gotong royong yang kurang pas. Meskipun sebenarnya dalam Islam juga ada anjuran untuk saling memberi hadiah (kalau tidak salah). Tapi intinya mungkin adalah keikhlasan, kalau memang tidak ada patokan besarnya sumbangan dan memang uang sedang cekak, kenapa kita memaksakan diri untuk menyumbang dalam jumlah besar hanya karena gengsi ? sumbang saja sesuai kemampuan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s