Belajar Manajemen dari Dua TKI


Belajar manajemen dari dua TKI

oleh Iman Supriyono, konsultan senior di http://www.snfconsulting.com

Suatu sore menjelang magrib di depan menara kembar Petronas, Kuala Lumpur. Saya sedang bersantai menikmati suasana sekeluar dari stasiun kereta bawah tanah yang sekomplek dengan menara milik “pertaminanya” Malaysia itu. Sebagaimana kebiasaan yang selalu saya tumbuhkan untuk berkomunikasi dengan siapa saja, saya berbincang dengan seorang lelaki muda yang menurut saya berusia sekitar 30 tahun.

“Assalaamualaikum!”

Jawaban atas salam saya dan kalimat pertama yang keluar dari lelaki itu seolah langsung memberi tahu saya bahwa lelaki ini bukanlah warga asli KL. Logat bicaranya sangat saya kenal. Betul…ia adalah TKI asal jawa timur. Yaaa….ternyata masih tretan tibih…masih saudara sendiri.

Saya berusaha menangkap apa sebenarnya yang ada di benak lelaki muda ini. Apa yang ada di benaknya sedemikian hingga ia memutuskan untuk pergi jauh meninggalkan kampung halamannya dan bekerja di negeri seberang yang tentu saja mengandung berbagai risiko. Sayang, saya tidak menemukan sebuah gambaran yang jelas tentang apa yang akan dicapainya. Ia, sebut saja Mas Kuala, menjadi TKI tanpa arah yang jelas.

Perbincangan di depan salah satu gedung tertinggi dunia ini ini mengingatkan saya pada seorang TKI lain yang kini sukses membuka warung di depan kampus VEDC Batu. Mas Hari, begitu saya memanggil bos warung Bomba ini, merancang kepergiannya sebagai TKI menginggalkan keluarga dengan rencana yang mantap. Kisah dua TKI ini saya maksudkan untuk menjawab pertanyaan atau tepatnya keresahan seorang penanya terhadap kesuksesan usaha yang dirintisnya.

Sementara ia jauh dari keluarga, istrinya mengambil kursus memasak. Tujuannya jelas: membuka warung dengan modal yang dikumpulkan dari negeri seberang. Kini, apa yang menjadi gambaran masa depan telah dicapainya. Mas Hari sukses mengelola warung sekaligus sukses pula membuka rumah kos yang bersinergi dengan warungnya.

Apa yang membedakan Mas Kuala dengan Mas Hari? Jawabnya adalah manajemen. Perenungan dan pergaulan saya dengan perusahaan-perusahaan klien maupun rekanan SNF Consulting menyimpulkan bahwa ada tiga pilar manajemen yang paling penting: planning-organizing-controlling. Tiga pilar ini berfungsi seperti tiga kaki tripod yang menyangga sebuah kamera. Patahnya satu kaki saja sudah mengakibatkan kamera tidak bisa berdiri dengan tegak. Patahnya satu kaki menyebabkan tripod tidak berfungsi.

Manajemen diperlukan pada saat kita berhubungan dengan orang dan sumber daya lain dalam sebuah organisasi baik formal maupun informal. Keluarga Mas Hari dan Mas Kuala adalah salah satu contoh organisasi yang mutlak membutuhkan manajemen.

Mas Hari pergi ke Hongkong meninggalkan istri tercinta dengan planning jelas: membangun warung. Mas Hari bertugas mencari modal untuk membeli tanah, mendirikan bangunan warung diatasnya, membeli bahan baku, dan tidak kalah penting, mengkursuskan istrinya agar memiliki keahlian memasak yang istimewa. Sementara, sang istri menunggu di kampung halaman menyiapkan keahlian memasak dengan serius mengikuri kursus memasak.

Pada saat yang telah direncanakan, Mas Hari pulang dengan modal yang cukup untuk membeli lahan yang strategis di depan kampus VEDC, mendirikan bangunan warung diatasnya, dan membeli bahan baku. Pada saat yang sama sang istri sudah siap dengan keahlian istimewa. Inilah yang disebut organizing.

Selanjutnya, tentu saja dalam perjalanan, warung akan menghadapi berbagai masalah sebagaimana layaknya kehidupan manusia. Controlling dibutuhkan untuk mengendalikan warung untuk menghadapi liku liku bisnis mencapai tujuan bersama yang telah terpatri kuat dalam perencanaan.

Pembaca yang budiman, sampai pada tahap perencanaan, mungkin Anda tidak seekstrim Mas Kuala yang menjalani kehidupan tanpa rencana yang jelas atau orang jawa menyebutnya semprong ngglundhung. Mas Kuala telah kehilangan salah satu “kaki” tripod dan “kamera” nya pun jatuh.

Saya yakin Anda telah memiliki rencana yang cukup memadai. Permasalahan yang sering muncul adalah pada organizing. Mesinya, organizing membutuhkan komitemen seperti komitmen terhadap kalimat syahadat. Kalau Anda merencanakan tiga tahun lagi akan membuka warung, laksankan persis apa yang Anda rencanakan. Kalau Anda merencakan pada bulan pertama warung itu mendapatkan omset rata rata Rp 600 ribu perhari, laksanakan planning ini dengan komitmen penuh. Jangan pernah berhenti bekerja keras sehingga penjualan benar-benar mencapai Rp 600 ribu perhari, tidak kurang sepeserpun. Kurang dari Rp 600 ribu berarti tidak ada organizing. Kurang dari Rp 600 ribu berarti salah satu “kaki” tripod telah patah dan “kamera” Anda pun jatuh. Kurang dari Rp 600 ribu berarti tidak ada manajemen, yang ada adalah missmanajemen. Tidak perlu ada alasan. Tidak ada kompromi. Bagaimana? Anda-para investor-sudah bermanajemen?

tulisan ini pernah dimuat di majalah Oase, terbit di Surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s