Air Mata untuk Negeri Tercinta: Praptodiharjo-Ann Nixon Cooper


Praptodihardjo – Ann Nixon Cooper

Oleh: Iman Supriyono, konsultan senior pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com.

Atlanta, Amerika Serikat. Ann Nixon Cooper sedang menyaksikan TV yang menyiarkan pidato kemengan Obama saat namanya disebut. Ann lahir tahun 1902 saat di jalan raya belum ada mobil. Di udara belum ada pesawat terbang. Bahkan Ann muda tak pernah ikut coblosan pemilu karena dua hal. Karena ia wanita dan karena ia kulit hitam.

Kini, 106 tahun kemudian, segalanya telah berubah. Ada mobil melaju jalan tol super mulus. Ada pesawat mengantarkan manusia lintas benua. Ada pesawat antariksa yang mengantarkan manusia ke bulan. Kini…Ia pun bisa ikut coblosan. Tanpa paku. Cukup dengan menyentuhkan jarinya di touch screen. Perubahan luar biasa. Tak terbayangkan saat masa kecilnya.

&&&

Semaki Kulon, Jogjakarta, 2008.  Praptodihardjo adalah seorang kakek delapan puluh tiga tahun yang masih segar bugar. Ia sedang menjaga toko pracangannya saat Ann disebut sebut oleh Obama dalam pidato kemenagannya. Di sela itu ia rajin ke masjid. Tugasnya adalah memastikan bahwa para jamaah dapat beribadah dengan baik. Ngepel agar lantai masjid tetap suci.

Karena lahir 23 tahun setelah kelahiran Ann di Shelbyville, Tennessee, Amerika Serikat, Prapto muda sudah suka bepergian ke luar kota naik bus atau kereta api. Mbah Prapto-demikian saya memanggilya- masih bisa bercerita dengan detail pengalamanya menjadi pedagang antar kota saaat masih muda. Surabaya dengan pasar wonokromonya adalah salah satu tempat faforitnya dalam berdagang.

Saya sangat terinspirasi oleh kisah Ann dalam pidato obama. Maka, pertemuan selepas sholat jum’at dengan Mbah Prapto pun jadi menarik. Saya bertanya tentang perubahan yang dialaminya.

Sebagaimana Mbah Ann, Mbah Prapto pun mengalami perubahan yang benar benar dirasakan. Saat muda dan suka bepergian dengan kereta api, ia tidak pernah menjumpai orang naik kereta api sampai menjejali atap. Tanpa takut risiko terjatuh dan mati. Kini, delapan puluhan tahun kemudian, ia biasa menjumpainya sehari hari di negeri ini.

Dulu, sungai manapun selauh mengalirkan air jernih dengan ikan besar besar. Air sehat untuk mandi. Bahkan untuk minum. Kini, sungai-sungai telah berubah. Air jernih berubah menjadi hitam pekat. ikan dan udang yang dulu bisa dinikmati masyarakat kini berubah menjadi smapah berbau tajam.

Dulu, mbah prapto remaja menyaksikan betapa para pemegang ijazah sekolah dasar saja sudah bisa bekerja menempati posisi bergengsi. Apalagi lulusan SMA. Apalagi yang sarjana. Kini… segalanya telah berubah. BPS melaporkan hampir 1,2 juta alumni pendidikan tinggi menganggur. Perubahan luar biasa.

Maka, seandainya anak anak perempuan kita diberkahi dengan umur panjang lintas abad sebagaimana Ann Nixon Cooper. Perubahan apa yang akan kita wariskan untuk mereka? Inilah pertanyaan retoris Obama dalam pidato kemenangannya yang menyebabkan ribuan orang menitikkan air mata haru.

Maka, seandainya anak anak kita dikaruniai tetap sehat sampai usia kepala 8 seperti Mbah Prapto, perubahan seperti apa yang akan mereka saksikan? Kereta api yang seperti apa? Sungai yang seperti apa? Lulusan perguruan tinggi yang seperti apa?

Kejururan tanpa kompromi, kerja keras, dan keyakinanlah yang bisa mewariskan perubahan positif yang bermakna. Kata obama: yes we can! Kita bisa!

tulisan ini pernah dimuat di majalah BMHNews, terbit di surabaya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s