Ketika Manusia Harus Berebut Dengan Burung


Berebut Dengan Burung

oleh: Iman Supriyono, konsultan senior di http://www.snfconsulting.com

Kampus ITS di Suatu pagi. Sudah menjadi kebiasaan, dua kali seminggu saya berolah raga. Lari pagi keliling kampus ITS adalah salah satu faforit saya. Menikmati kesegaran udara di kawasan Surabay timur dengan ditemani kicauan burung-burung di pepohonan. Badan berkeringat. Jiwa bersemangat. Segar…..

Ada yang menarik sepanjang menyusuri jalanan kampus. Tampak dikejauhan seorang ibu paruh baya berteriak teriak. Tanggannya menggerak-gerakkan orang orangan. Gerakan orang-orangan diikuti riuh rendah suara kaleng terpukul pukul pukul. Mirip pemukul lonceng. Bedanya, bila suara lonceng nyaman di telinga, suara kaleng ini justru memekakkan telinga. Sengaja. Tujuannya adalah untuk mengusir kawanan burung burung yang memakan bulir padi yang mulai menguning.

Sebuah adegan yang menarik. Saya dan banyak orang yang sedang lari pagi merasa senang dengan burung burung ini. Bahkan bila lama berada di luar kota, salah satu yang saya rindukan adalah kicauan burung burung ini. Menikmati kesegaran badan dengan cucuran keringat ditemani kicauan burung sepanjang jalan.

Lain lagi dengan ibu paruh baya ini. Ia sangat terganggu dengan keberadaan burung burung ini. Ia harus berteriak teriak keras keras. Kedua tangannya sibuk menggerak gerakkan orang orangan. Teriakannya menyiratkan emosi yang amat sangat. Siratan kejengkelan luar biasa terhadap keberadaan burung burung.

Genting highland suatu sore. Ini adalah sebuah kawasan wisata pegunungan yang digarap dengan sangat serius oleh negeri jiran. Disamping jalan mulus dua lajur tiap sisi dari Kuala Lumpur sampai puncak, para pelancong juga dimanjakan adanya hotel mewah lengkap dengan sarana hiburan super lengkap. Outdoor maupun indoor.

Begitu tiba meninggalkan mobil di tempat parkir, segeralah saya bersama tiga kawan menuju stasiun kereta gantung. Kereta pun berangkat mengantar saya dan rombongan menuju puncak. Naik di menyusuri pepohonan lebat di cela cela puncak puncak bukit. Pekatnya kabut menambah kecantikan pemandangan.

Di cela kabut yang pekat, nampak dua jalur kereta yang menempel pada tiang tiang penyangga nan kokoh. Kereta yang saya naiki berada di jalur naik. Nampak di depan dan belakang kereta kereta lain yang juga ke arah puncak. Di arah sebaliknya, tampak kereta kereta yang meluncur turun.

Naik dan turunnya kereta gantung membawa sebuah harmoni. Kereta yang naik membutuhkan engeri untuk melawan gaya grafitasi bumi. Sebaliknya, kereta yang meluncur turun memiliki energi yang berasal dari grafitasi bumi juga. Mesin penggerak kereta di tinggal mensinkronkan keduanya. Sinkronisasi ini menjadikan kebutuhan energi untuk menggerakkan kereta bisa dihemat. Energi dari kereta yang meluncur tutun dimanfaatkan untuk menarik kereta lain yang sedang mendaki.

Pembaca yang antusias, kawanan burung di ITS dan kereta gantung di Genting Highland mengajari kita tentang sebuah hikmah. Sesuatu yang tidak baik bagi kita ternyata bisa bermakna luar biasa baik bagi orang lain. Sesuatu yang kita rasakan sangat menyenangkan ternyata terasa sangat tidak menyenangkan bagi orang lain. Hikmah keseimbangan.

Menangkap hikmah burung dan kereta gantung akan menjadikan kita berdamai dengan kondisi apapun. Bayangkan suatu saat ketika sedang berlari pagi di ITS saya dan pelari pagi lain tidak mendapati satupun burung yang berkicau. Bagi saya ini adalah sebuah kehilangan. Sesuatu yang tidak menyenangkan. Tapi ketahuilah, ketiadaan burung yang entah pergi kemana merupakan nikmat tiada tara bagi ibu paruh baya yang padinya menguning tadi. Ketidaknikmatan bagi pelari pagi adalah kenikmatan bagi para petani pengusir burung.

Beban berat untuk menarik kereta gantung ke atas justru menjadi tenaga pengerem agar kereta lain bisa meliuncur kebawah dengan kecepatan yang aman. Pengereman kereta yang meluncur kebawah yang tentu saja membutuhkan energi ternyata adalah sebuah kemudahan untuk menarik kereta lain agar bisa mendaki bukit dengan tenaga yang ringan. Sulit bagi satu pihak adalah mudah bagi pihak lain. mudah bagi satu pihak adalah sulit bagi pihak lain. keseimbangan.

Dalam konteks prestasi kehidupan, hikmah ini akan membantu kita untuk menjadi orang yang tetap konsisten dalam mencapai sebuah tujuan. Kegagalan tidak menjadikan kita berhenti. Kegagalan bagi kita bisa dimaknai sebagai keberhasilan bagi orang lain. dalam sebuah perlombaan, kegagalan kita menjadi juara bisa dimaknai sebagai kegembiraan luar biasa bagi orang lain. Kegembiraan luar biasa bagi si pemenang. Penerimaan kita terhadap kegagalan bisa bermakna penerimaan kita akan kemenagnan orang lain.

Bila Anda berbisnis showroom mobil misalnya, kegagalan Anda menjual mobil adalah keberhasilan bagi showroom lain. Bersabar akan kegagalan penjualan bisa bermakna bersyukur karena ada showroom lain yang berhasil menjual mobil. Andai saja mobil kita laku, berarti konsumen itu tentu tidak membeli di showroom lain.

Bila Anda politisi yang gagal menjadi anggota dewan, andapun tidak layak larut dalam kesedihan. Kegagalan Anda bisa bermakna keberhasilan pesaing Anda untuk masuk menjadi anggota dewan. Bersyukurlah. Beri ucapan selamat kepada pesaing Anda.

Maka…jangan bersedih terhadap kegagalan. Jangan berputus asa terhadap kegagalan. Sejatinya, Anda belum benar benar gagal sebelum Anda berhenti untuk berusaha. Anda belum benar benar gagal apabila Anda belum menyerah. Masih ada hari esok. Masih ada waktu untuk mencoba lagi. Bertahan sampai apa yang Anda targetkan tercapai. Ayo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah BMHNews, terbit di Surabaya

3 responses to “Ketika Manusia Harus Berebut Dengan Burung

  1. Cerita yg excellent…..

  2. sungguh menyenangkan bila semua di hayati dengan bentuk syukur…apaun yg terjadi baik buruk semua datang ya dari sang Khalik…Alhamdulillah.

  3. @AS: maturnuwun kang. mga bermanfaat! @AB: alhamdulillah. hatur nuhun!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s