Crowding Effect: Membesar Atau Mati


Oleh: Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Walau kini bekerja sebagai konsultan manajemen, saya tetaplah insinyur lulusan Teknik Mesin ITS. Jadi saya serius juga belajar tentang teknologi. Pendidikan di kampus berlogo tugu pahlawan ini sangat mewarnai kehidupan saya. Sepanjang hidup, saya pernah mendesain sebuah peralatan mekanik yang sangat membantu dan mempercepat pekerjaan bapak ibu saya di desa dalam memproduksi brem, makanan tradisional khas Madiun. Itulah gambaran tentang jiwa keinsinyuran saya.

Nah…sebagai seorang insinyur, kali ini saya ingin bertanya kepada Anda para pembaca yang baik. Seandainya saya memproduksi sepeda motor bermerek Imansu dengan spesifikasi dan kualitas seperti Honda Beat dan saya jual dengan harga juga seperti motor paling laris ini, apakah Anda mau membelinya?

Ini kira-kira reaksi Anda terhadap pertanyaan saya itu. Paling tidak Anda akan menanyakan lima hal  berikut ini: perusahaan leasing apa saja yang sudah bekerja sama, dimana saja bengkel perawatan resminya, bagaimana ketersediaan suku cadang-nya, bagaimana harga jual motor bekas-nya dan dimana saja motor itu sudah dipakai masyarakat.

$$$

Pembaca yang baik, perilaku konsumen kekinian semakin menunjukkan sebuah fenomena yang saya sebut sebagai crowding effect. Sebuah fenomena di mana orang makin terkonsentrasi pada merek yang dipakai banyak orang di mana-mana, bukan semata-mata alasan kualitas produk. Gambaran tentang motor merek Imansu yang kalah telak dengan Honda Beat di atas adalah narasi tentang fenomena ini. Honda Beat mendapatkan posisi crowding effect, sementara Imansu tidak.

alfamartku.jpg

Alfamart adalah salah satu pemegang crowding effect di industri retail. Konsumen pun meninggalkan toko kelontong tradisional dan ikut kerumunan di gerai–gerai perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia ini.

 

Hal serupa juga terjadi ketika beberapa tahun lalu Anda, saya dan pemakai gadged lain berbondong-bondong meng-install WA dan meninggalkan BBM. Penyebabnya  bukan karena BBM kalah canggih. Fitur live location yang WA baru meluncurkan beberapa bulan lalu sudah ada di BBM ketika itu. Dalam hal ini BBM lebih canggih. Anda memakai WA dan meninggalkan BBM karena fenomena crowding effect: kawan kawan, komunitas alumni sekolah, kolega, teman kerja, warga RT, kelompok hobi, keluarga, dan siapapun telah menggunakan WA dengan berbagai grup-nya. Jika tidak memakai WA Anda akan ketinggalan informasi di berbagai komunitas terdekat. Anda akan terpencil. Anda akan tertinggal informasi.

Dalam kehidupan sehari-hari, fenomena ini akan ditemui misalnya ketika Anda sedang melaju di jalan raya dengan kecepatan 80 km/jam  kemudian melihat di kiri jalan ada banyak orang berkerumun entah karena ada apa. Reaksi alami Anda akan sama: memperlambat laju dan bahkan bergabung menambah banyaknya kerumunan orang. Makin banyak orang yang berkerumun makin besarlah daya tarik siapapun untuk bergabung dalam kerumunan. Itulah crowding effect.

Pembaca yang baik, dunia bisnis makin menyadari karakter konsumen kekinian yang makin terpengaruh crowding effect. Menjamurnya Alfamart dan Indomaret yang menggusur toko-toko kelontong tradisional adalah karena crowding effect.  Makin menjamurnya apotek K-24 dan menggusur apotek lain adalah karena fenomena crowding effect. Gojek yang menggelontor dana promosi besar-besaran melalui  harga diskon walau rugi dan menggusur ojek tradisional maupun angkutan umum adalah kesadaran manajemen tentang dahsyatnya fenomena crowding effect. Makin kedepan semua bidang akan makin kuat efek fenomena crowding effect. Perusahaan yang mampu meraih posisi crowding effect  dengan modal nyaris tanpa batas sebagai hasil proses ekonomi berjamaah melalui korporatisasi akan menggusur pesaing-pesaingnya tanpa ampun. Perusahaan tempat  Anda berkarya sudah berupaya memperoleh crowding effect?

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Iklan

Investment Company: Memulainya?


Oleh: Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

BlackRock, The Vanguard Group, UBS, State Street Global Advisors, Fidelity Investments, Allianz, J.P. Morgan Asset Management, BNY Mellion Investment Management, PIMCO, Credit Agricole Group. Itulah sepuluh perusahaan investasi alias investment company dengan aset kelolaan  terbesar dunia dalam catatan Wikipedia.  BlackRock mengelola USD 5,689 Trilyun alias sekitar Rp 77 770 Trilyun.

Yang menarik, semua berasal Amerika Serikat kecuali tiga: UBS dari Swiss, Allianz dari Jerman, dan Credit Agricole group dari Perancis. Inilah salah satu penjelasan mengapa sampai saat ini negeri Paman Sam ini tetap merajai ekonomi dunia. Product domestic bruto (PDB)-nya terbesar dunia. Mengalahkan bangsa manapun. Andai China, Jepang dan Jerman sebagai negara dengan PDB terbesar kedua, ketiga dan keempat bergabung menjadi satu negara, barulah USA kalah. RI berada di peringkat ke-16 dengan PDB sekitar 1/20 USA.

Investment company alias IC bekerja dengan mendorong masyarakat luas berbudaya investasi. Masyarakat yang berbudaya investasi kemudian menitipkan modalnya. Modal titipan kemudian digunakan untuk kebutuhan belanja modal berbagai perusahaan yang sedang berekspansi.

Itulah kenapa lebih dari 25% perusahaan terbesar dunia berasal dari Amerika Serikat. Mereka adalah perusahaan-perusahaan yang terkorporatisasi sempurna. Fully public company yang jika akan berekpansi tinggal membuka keran modal lewat lantai bursa dan masyarakat luas melalui investment company akan berbondong-bondong menyetor.

Itulah kenapa banyak perusahaan negeri ini satu demi satu diakusisi perusahaan asing. Mereka melakukan akuisisi dengan iming-iming harga saham mahal jauh di atas harga pasar. Dananya berapaun dengan mudah dapat diperoleh melalui pelepasan saham baru dari IC.  Dana dengan nilai nyaris tak terbatas.

SAPA0484 Tokoh investment company Warren Buffet

Warren Buffett dalam Sarapan Pagi dari SNF Consulting

Bahkan bukan hanya motif ekonomi. IC juga bisa mengelola dana wakaf. Harvard Management Company adalah sebuah IC milik Harvard University. Perguruan tinggit ternama tersebut mengumpulkan dana wakaf (endowment fund) dari masyarakat  luas sejak tahun 1974. Saat ini total dana yang dikelola sekitar Rp 370T.

$$$

Pertanyaan yang sering muncul ketika saya menyampaikan informasi tentang IC adalah tentang bagaimana memulainya. Jawabnya…IC, baik yang bermotif  ekonomi maupun sosial bisa dimulai dari sesuatu yang sederhana.  Sekedar gambaran, sebuah ruko yang harga jualnya Rp 5 M di kawasan bisnis bisa disewakan dengan harga sekitar Rp 250 juta pertahun alias Rp 20 juta perbulan. Pendapatan  tersebut cukup untuk memulai sebuah IC dengan kantor sederhana, seorang direktur dangan seorang staf administrasi. Kebutuhan awal sebuah perusahaan bisa berjalan.

Dari mana Rp 5 Milyar? Bagi sebuah IC dengan motif bisnis, dana tentu saja diperoleh dari modal setor pendirian PT. Bagi yang sebuah IC bermotif sosial pengelolaan wakaf, dana awal ini bisa diperoleh dari wakaf uang beberapa orang pendirinya. Dalam era korporatisasi, badan hukum perkumpulan lebih tepat untuk keperluan ini daripada yayasan.

Setelah langkah awal dijalankan, selanjutnya si direktur harus bekerja keras mencari peluang pembelian aset produktif baru dan kemudan menawarkannya kepada investor. Bagi IC sosial, peluang tersebut kemudian ditawarkan ke masyarakat berupa kupon wakaf nominal tertentu.  Seratur ribu rupiah per kupon misalnya. “Nilai jual”-nya adalah berupa program sosial yang akan didanai dengan pendapatan aset wakaf tersebut. Misalnya adalah memberi beasiswa kepada yatim piatu dengan dana hasil sewa aset wakaf yang akan dibeli. Peluang investasi akhirat dengan manfaat dan pahala tiada akhir alias amal jariah.

Satu demi satu aset dibeli. Saat awal aset properti adalah yang  paling aman dan paling direkomendasikan. Tapi ketika dana sudah membesar, pengalaman Harvard Management Company properti hanya menampung 14,5% total aset. Yang terbesar adalah berupa saham di berbagai perusahaan. Itulah cara sederhana membangun IC.  Negeri ini butuh banyak IC baik yang bermotif ekonomi maupun motif sosial.  Agar ekonominya tidak dikuasai asing. Agar ekonominya berdaulat. Anda mau berkontribusi?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

IPO Trap: Dua Putra Utama Makmur


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Intan berduri. Ini adalah judul film layar lebar keluaran 1972 yang dibintangi oleh Benyamin Sueb dan Rima Melati.  Sebuah film yang bercerita tentang Jamal (Benyamin Sueb), suami Saleha (Rima Melati) yang menemukan sebongkah intan di perangkap ikan  yang sehari-hari menjadi gantungan nafkah keluarganya. Singkat cerita, bongkahaan intan inilah yang kemudian  menjadikannya sebagai orang kaya raya secara tiba-tiba. Bisa dibayangkan bagaimana konyolnya. Orang yang super miskin kemudian tiba-tiba menjadi super kaya raya. Ketika itu, saya yang masih kanak-kanak menonton film itu yang diputar melalui layar TVRI di rumah tetangga.

Tapi saya tidak hendak beralih profesi menjadi peresensi film hehehe. Saya hanya ingin menulis tentang sebuah fenomena yang bisa dianalogikan dengan apa yang dialami oleh si Jamal dalam film yang menjadikan pemainnya menerima penghargaan pemeran pria terbaik dan pemeran wanita terbaik dalam Festifal Film Indonesia tahu 1973 itu. Fenomena yang saya menyebutnya sebagai IPO Trap.

Pembaca yang baik, untuk menjadi besar, sebuah perusahaan membutuhkan dua hal: inovasi dan uang. Inovasi saja tidak cukup. Uang saja juga tidak cukup. Embraer Brazil bisa menjadi produsen pesawat komersial terbesar ketiga dunia karena memiliki keduanya. Embraer hanya kalah oleh Boeing dan Airbus. Pemerintah Brazil membuka kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk ikut menyetor modal ke perusahaan yang kurang lebih sebaya dengan PTDI alias IPTN alias Nurtanio ini. Itulah yang membekannya dengan PTDI yang hingga kini tetap belum bisa bicara di pasar pesawat terbang komersial dunia.

Bagaimana cara Embraer mendapatkan setoran modal dari masyarakat? Initial Public Offering alias IPO adalah pintu pembukanya. Perusahaan yang telah memenuhi syarat tertentu dapat melakukan IPO dan kemudian menerima uang setoran dari masyarakat luas. Setelah IPO perusahaan bisa terus-menerus melepas saham baru (rights issue) untuk mendapatakan tambahan modal dari masyarakat luas. Modal murah nyaris tanpa batas sampai sekuat perusahaan berekspansi. Itulah yang dilakukan oleh Embraer hingga saat ini.

Gambar terkait

IPO Trap: Seperti tikus yang masuk perangkap. Tikus mendapatkan makanan yang ternyata menjebaknya. Gambar: bukalapak.com

Dengan porsi tambahan modal yang tepat, IPO dan rights issue menajadi sarana luar bisa bagi pertumbuhan perusahaan. Sekali lagi porsinya harus tepat. Jika tidak, perusahaan bisa mengalami apa yang disebut IPO Trap. Jebakan IPO. Narasinya adalah seperti apa yang dialami oleh Jamal dalam film Intan Berduri di atas.

Gambaran tentang IPO Trap adalah seperti yang dialami oleh PT Dua Putra Utama Makmur Tbk (DPUM). Perusahaan hasil laut itu melakukan IPO tahun 2015 dengan melepas 40,12% sahamnya. Uang Rp 921 Milyar pun diperohnya. Nilainya sangat besar dibanding apa yang sebelumnya dimiliki perusahaan berbasis di Pati ini.  Aset perusahaan naik dari Rp 311M  di awal tahun menjadi Rp 1,575T di akhir tahun. Terjadi kenaikan aset 5x lipat. Sesuatu yang luar biasa. Bisa disebut sebagi “orang kaya baru”.

Apa yang teradi kemudian? Memang omzet DPUM  meningkat drastis. Dari Rp 302 M tahun 2014 menjadi Rp 732 M tahun 2015 dan Rp  967 M tahun 2016. Laba pun naik. Akan tetapi, laba adalah sesuatu yang bersifat nominal. Catatan belaka. Penjualan senilai tersebut ternyata banyak menghasilkan piutang. Barang dikirim ke pembeli tetapi pembayaran belum terjadi. Akibatnya arus kas operasional perusahaanpun minus.  Jika tahun 2014 arus kas operasional positif Rp 13 M, tahun 2015 jusru minus Rp 98M dan kemudian minus Rp 202 M tahun 2016. Minusnya arus kas opersi tidak bisa tidak harus ditutup dengan menambaah utang. Itu jugalah yang dilakukan oleh DPUM.  Sepanjang triwulan I tahun 2017, perusahaan mendapatkan tambahan utang bank sebesar Rp 662 Milyar.

Pembaca yang baik, itulah IPO Trap. Tambahan dana dari IPO mestinya adalah sesuatu yang baik. Tetapi karena terlalu besar maka perusahaan mengalami seperti yang dialami oleh Jamal dalam film Intan Berduri. Tidak tepat dalam mendayagunakan uang dan berakibat buruk terhadap kinerja finansial-nya.  Pelajarannya, perusahaan tidak boleh menerima uang dalam jumlah yang diluar kapasitas manajemen. Agar uang tersebut dapat dikelola dengan baik.  Agar terhindar dari jebakan. Agar tidak mengalami IPO Trap.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Gergaji Korporatisasi: Boeing Vs. PTDI


Oleh: Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

William E Boeing mendirikan Boeing Company tahun 1916. Ketika itu usianya 35 tahun. Dengan usia kepala tiga,  wajar jika Boeing Company bukanlah bisnis pertamanya. Sebelum sudah malang melintang di bisnis pertambabangan yang diwarisi dari orang tuanya. Wajar jika Boeing Company dimulai dengan pembelian sebuah galangan kapal yang kemudian difungsikan untuk sarana produksi pesawat.

Perusahaan umumnya didirikan atau dirintis dari sesuatu yang sederhana dan seadanya. Demikian juga Boeing. Pabrik pesawat dimulai dari galangan kapal. Yang membedakan adalah langkah selanjutnya. Ada langkah yang membuat perusahaan jadi sukses dan membesar seperti Boeing Company saat ini. Ada juga yang stagnan dan bahkan akhirnya mati.

Gergaji korporatisasi

Model Gergaji Korporatisasi karya Iman Supriyono

Ada banyak yang membedakan. Salah satunya adalah apa yang saya sebut sebagai pola gergaji korporatisasi. Boeing sepanjang sejarah perjalanannya menerapkan pola gergaji korporatisasi. Hasilnya adalah sebuah perusahaan yang tiap hari rata-rata mengirim lebih dari 2 pesawat terbang berbadan lebar ke pembelinya di seluruh dunia. Perusahaan yang kapasitas produksinya sudah full booked hingga lima tahun kedepan.

Seperti apakah pola gergaji korporatisasi itu? Sebegitu sakti kah hingga membuat Boeing Company menjadi perusahaan pabrikan pesawat terbang terbesar di dunia? Nah…mari kita pelajari. Tentu Anda sudah tahu gergaji.  Kekuatan gergaji ada pada gigi-gigi alias gerigi-nya. Semakin tajam gerigi-nya, makin kuatlah gergaji.

Saat sebuah perusahaan berbadan hukum PT didirikan, para pendiri akan menyatakan di dalam akta berapa modal yang disetor-nya masing-masing. Inilah modal sendiri alias ekuitas perusahaan. Tidak ada utang. Utangnya nol. DER-nya nol. DER, debt to equity ratio, adalah perbandingan antara utang dengan modal sendiri. Sebuah ukuran seberapa besar beban utang perusahaan.  Sebagai contoh, perusahaan yang didirikan dengan modal disetor 100 kemudian memiliki utang 10 maka DER-nya adalah 0,1.

Seiring berjalannya waktu, perusahaan yang baik akan tumbuh. Salah satu pendorong pertumbuhannya adalah tarikan pasar. Perusahaan yang produknya sudah diakui kualitasnya oleh pasar akan butuh tambahan modal. Utang adalah salah satu sumber tambahan modal. Utang dagang dari pemasok adalah yang tidak bisa dihindarkan sebelum utang-utang dari pihak lain.

Makin kencang pertumbuhan perusahaan, makin kencang-lah kebutuhan akan tambahan modal utangnya.  DER pun akan terus menerus meningkat. Semula nol. Naik 0,1….0,2….1….2 dan seterusnya. Tapi ini tidak akan bisa dilakukan terus-menerus. Ada ambang batasnya. Tanda bahwa perusahaan telah mencapai ambang batas DER adalah adanya kesulitan arus kas. Perusahaan serasa sesak napas. Kesulitan membayar utang atau kewajiban sesuai jatuh tempo.

Saat mencapai ambang batas, sebuah perusahaan bisa memilih dua hal: tetap tumbuh dengan tambahan modal setor baru atau menghentikan pertumbuhan. Boeing memilih tetap tumbuh. Konsekuensi-nya adalah harus membuka keran setoran modal dari pesaham baru. Hasilnya adalah penurunan DER secara drastis. Naiknya pelan pelan…diturunkan secara drastis.  Jika digambar akan membentuk pola seperti gerigi gergaji

Setoran modal baru akan menyegarkan nafas perusahaan. DER kembali rendah. Tapi tuntutan pertumbuhan secara perlahan akan kembali menaikkan DER karena utang bertambah. Suatu saat akan mencapai ambang batas lagi dan harus diturunkan lagi. Demikian pola gerigi gergaji ini akan terus menerus berulang. Untaian gerigi-nya akan makin panjang. Konsekuensi-nya adalah penurunan persentase saham pendiri secara terus-menerus. Terdilusi. Suatu saat saham pendiri akan kurang dari 50%. Perusahaan sudah tidak ada pesaham pengendali lagi. Inilah yang terjadi pada Boieng. Pesaham terbesar-nya adalah Vanguard dengan kepemilikan 9,4%. Vanguard adalah sebuah perusahaan investasi yang uangnya dikumpulkan dari jutaan orang.

Modal tidak terbatas hasil dari pola gergaji korporatisasi. Itulah yang membedakan Boeing dengan PTDI misalnya. Keduanya sama-sama memiliki SDM handal di bidang  pesawat terbang. Bedanya, Boeing membuka diri untuk masuknya dana pesaham baru seluas-luasnya. PTDI tidak. Sampai saat ini pemerintah RI sebagai pendiri tidak memberi kesempatan kepada publik untuk ikut setor modal. Boeing berpola gergaji korporatisasi. PTDI tidak.  Boeing mampu membiayai seluruh biaya pengembangan berbagai tipe pesawat. N250 PTDI yang sudah diuji terbang terpaksa  harus berhenti karena kehabisan modal. Dibutuhkan tidak kurang dari Rp 20 T untuk membuatnya masuk ke pasar secara luas seperti produk-produk Boeing. Itulah Boeing dengan gergaji korporatisasinya. Perusahaan tempat Anda berkarya bagaimana?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

DHL: Benchmark Korporatisasi Bagi Pos Indonesia


Oleh Iman Supriyono, konsultan dan CEO SNF Consulting,  http://www.snfconsulting.com

“Aku tukang pos rajin sekali. Surat kubawa naik sepeda. Tidak kupilih miskin dan kaya. Siapa saja aku datangi. Kring kring pos”. Anak-anak TK jaman dulu pasti mengenal lagu ini. Bahkan saya yang tidak pernah menempuh pendidikan TK pun hafal karena sering mendengar anak-anak TK menyanyikan lagu ini. Ketika itu lagu ini setara dengan lagu-lagu anak-anak legendaris seperti Bintang Kecil, Balonku Ada Lima, atau  Naik Kereta Api.

Tapi kali ini saya  tidak sedang membahas lagu anak-anak TK. Saya sedang menulis tentang perusahaan tempat para tukang pos bernaung: Kantor Pos. Ketika itu pak pos adalah sesuatu yang sangat berperan dalam kehidupan masyarakat. Saya sendiri masih ingat masa-masa dimana kedatangan pak pos adalah sesuatu yang sangat ditunggu-tunggu. Dan mau tidak mau saya harus mengakui bahwa ketrampilan menulis saya yang saat ini sedang Anda, para pembaca, nikmati, adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari peran pak pos. Ya… korespondensi dengan sahabat pena adalah hobi saya sebelum adanya surat elektronik. Saya punya sahabat-sahabat pena yang  rajin saling berkirim surat. Saya pernah menulis 8 halaman folio dengan tulisan tangan untuk sebuah surat.

Gambar terkait

Logo DHL

Bagaimana kini? Dunia telah berubah. Sudah belasan tahun saya tidak pernah lagi berkorespondensi dengan surat. Komunikasi tergantikan dengan email dan whatsapp atau telegram atau sejenisnya. Bagi saya itu tidak ada masalah. Tapi bagi kantor pos itu jelas masalah. Pendapatan dari pengiriman surat dan kartu lebaran atau sejenisnya menurun drastis. Sudah tidak ada lagi orang yang menunggu-nunggu datangnya pak pos demi surat balasan dari sahabat yang jauh diseberang sana seperti saya rasakan dahulu. Sudah tidak ada lagi anak-anak muda yang datang ke Kantor Pos demi membeli perangko.

&&

Deutsche Post DHL. Ini kantor pos juga. Tapi bukan sembarang kantor pos. Dia adalah kantor pos yang justru tumbuh mendunia di tengah kebanyakan kantor pos di berbagai negara yang harus mengalami penurunan. Sebagai gambaran, dalam laporan tahunan tahun 2016 DHL membukukan pendapatan EUR 57,3 Milyar Euro alias Rp 913 T dengan laba EUR 2,6 Milyar alias Rp  41 Trilyun. Pos Indonesia pada periode yang sama mengantongi pendapatan Rp 4,9 T dengan laba Rp 203 Milyar. Pendapatan dan laba DHL tersebut diperoleh dari pasar di 220 negara (termasuk Indonesia) dengan 508 ribu karyawan. Sedangkan pendapatan dan laba Pos Indonesia diperoleh dari Indonesia saja dengan 24 ribu karyawan.

Bagaimana sebuah perusahaan pos milik negara seperti Pos Jerman bisa berkembang pesat dan bahkan menguasai pasar dunia termasuk pasar di Indonesia?  Ada dua syarat untuk mencapainya. Pertama adalah core competence. Perusahaan harus menemukan ulang core competence-nya setiap ada perubahan lingkungan bisnis. Seperti saat ada perubahan dengan hilangnya budaya berkirim surat menjadi surat elektronik yang dialami pos. DHL sukses merumuskan ulang kompetensi intinya. Sekitar 75% pendapatan DHL diperoleh dari bisnis Time Definite International yaitu layanan pengiriman internasional dengan waktu tertentu.

Apakah cukup dengan core competence? Tidak. Ada syarat kedua yaitu modal. Untuk keperluan ini DHL sebagai perusahaan yang semula dimiliki 100% oleh pemerintah membuka diri terhadap setoran modal dari luar dengan terus-menerus menerima setoran modal dari publik melalui penerbitan saham baru (rights issue). Dengan masuknya modal dari masyarakat luas tersebut otomatis proporsi saham pemerintah Jerman mengalami dilusi. Mengalami penurunan persentase dengan kompensasi nilai yang terus meningkat.  Saat ini saham pemerintah Jerman tinggal 20,9%. Dengan proporsi ini hak pemerintah jerman atas laba DHL adalah Rp 8,6 Trilyun. Nilai laba ini adalah 42x hak pemernitah RI atas laba Pos Indonesia.

&&&

Pembaca yang baik, begitulah dunia bisnis saat ini. Perusahaan-perusahaan, milik pemerintah ataupun swasta,  mesti memiliki core competence dengan dukungan setoran modal terus-menerus dari masyarakat melalui lantai bursa. Seperti DHL. Memang proporsi kepemilikan saham pendiri akan menurun. Tetapi hasilnya akan berkali-kali lipat. Mengapa? Saat pesaham baru menyetor modal, pasti akan ada yang namanya agio saham sebagai kompensasi untuk pesaham lama. Agio saham ini kedudukannya persis seperti laba ditahan yang akan dinikmati semua pesaham, termasuk pesaham pendiri. Maka, pemegang saham pendiri perusahaan mesti memilih. Tetap memiliki 100% saham tetapi kerdil dan pasarnya digerogoti pemain global  atau membuka diri untuk masuknya modal publik.  Masuknya modal publik berakibat proporsi kepemilikan saham menurun sampai tidak lagi menjadi pesaham pengendali. Terjadi proses korporatisasi terus-menerus sampai menjadi fully public company. Imbalannya adalah menguasai pasar seluruh dunia dengan hasil berlipat-lipat. Seperti DHL. Anda pilih mana?

 

 

Disrupsi: Ojo Kagetan Ojo Gumunan


Ojo Gumunan Ojo Kagetan

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Disrupsi. Kata yang diadopsi dari bahasa inggris ini belakangan ini begitu terkenal di kalangan pebisnis. Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat menyebabkan ancaman bagi para pelaku bisnis yang tidak adaptif. Perusahaan perfotoan Kodak Film misanya yang menghilang seiring dengan populernya foto digital adalah contoh perusahaan yang terdisrupsi. Tidak bisa beradaptasi. Tapi Fuji Film tetap eksis dengan beradaptasi yang tepat.

Apakah disrupsi merupakan sebuah fenomena yang benar-benar baru? Tidak.  Jauh sebelum jaman kemunculan internet, di sekitar pasar Caruban, kota kecil tempat saya lahir, banyak dijumpai dokar alias delman. Itulah kendaraan utama masyarakat untuk pergi pulang ke pasar. Begitu marak orang memiliki sepeda motor, delman pun menghilang dari peredaran. Inilah fenomena disrupsi jauh sebelum internet muncul.

Hasil gambar untuk western union logo

Western Union: Ketahanan menghadapi disrupsi atau substitusi lintas abad

Secara konseptual pun disrupsi bukan sesuatu yang baru. Tahun 1979 Michael Porter telah menulis sebuah konsep yang disebutnya Five Forces. Tulisan di Harvard Business Review ini menjelaskan bahwa sebuah perusahaan bisa terancam eksistensinya oleh persaingan dari lima kekuatan. Masing masing adalah kekuatan perusahaan sejenis, perusahaan pemasok, perusahaan konsumen, pendatang baru dan produk substitusi. Perusahaan bisa habis oleh pesaing kuat yang produk sama persis. Perusahaan yang bahan bakunya diperoleh dari pemasok tunggal akan gulung tikar jika pemasoknya mogok. Perusahaan yang memiliki konsumen tunggal akan jatuh jika konsumen tersubut berpaling. Perusahaan juga bisa jatuh karena ada pendatang baru yang banting harga dalam jangka panjang. Pun perusahaan juga bisa mati karena ada produk substitusi. Hilangnya delman terjadi karena motor telah  muncul sebagai produk substitusi. Delman tersubstitusi alias  terdisrupsi oleh sepeda motor.

$$$

Western Union-selanjutnya disebut WU- hadir di dunia sejak tahun 1851 dengan layanan telegram. Ketika itu teknologi telegram sebagai cara penyampaian pesan jarak jauh bener-benar inovasi yang luar biasa. Pesan atau berita yang membutuhkan waktu berhari-harai jika dikirim dengan surat akan tiba dalam hitungan detik jika dikirim dengan telegram.  WU pun menjadi perusahaan yang kuat.

Sebagai teknologi telegragram pun tidak abadi. Belakangan tergantikan dengan internet. Tahun 2006 WU sudah resmin  menutup layanan telegramnya. Apakah WU habis tersubstitusi? Tidak. Jauh sebelum layanan telegram ditutup, WU telah lebih dulu meluncurkan layanan baru yaitu pengiriman uang sejak tahun 1871. Uang dari pengirim tidak benar-benar dikirim secara fisik oleh WU.  Yang dikirim hanya informasinya. Uangnya diambilkan dari kantor WU di tempat tujuan. Layanan teknologi keuangan (fintech, financial technology) ini hingga kini tetap menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan berbasis di Amerika Serikat ini.

Pertanyaannya, dalam suasana maraknya inovasi fintech terbaru, apakah WU akan terdisrupsi alias tersubstitusi? Dalam lima tahun terkahir, pendaptan dan laba WU cenerung stagnan. Bahkan pada tahun 2016 labanya turun drasti sebesar 70%.  Melihat angka ini, nampaknya ada tanda-tanda disrupsi atau subtitusi pada perushaaan berlogo warna hitam kuning ini.

Tetapi, jika membaca arus kas investasinya, tahun 2006 WU masih membelanjakan USD 271,1 juta untuk investasi. Angka ini adalah 107% dari labanya tahun berjalan sebesar USD 253,2 juta. Belanja investasi yang lebih besar dari laba adalah tanda adanya optimisme pegelola perusahaan yang layanananya terasedia nyaris di setiap jengkal tanah di muka bumi ini.

$$$

Ojo gumunan ojo kagetan. Jangan gampang takjub. Jangan gampang terkejut. Pepatah jawa ini bagus sekali untuk menghadapi fenomena yang belakangan disebut disrupsi. Disrupsi sendiri yang seolah olah hal baru sebenarnya adalah “barang” lama.  Paling tidak adalah “Barang” keluaran tahun 1979 walaupun disebut dengan istilah berbeda. Maka janganlah kita terpesona amat dengan hiruk pikuk orang mengucap kata disrupsi.

Sebagai fenomena, disrupsi atau substitusi dalam dunia bisnis juga bukan hal baru. Paling tidak Western Union telah merasakannya dalam perjalanan panjang hampir dua abad. Di dunia ini segalanya terus berubah. Tidak ada yang abadi. Jika pun ada, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Ojo gumunan. Ojo kagetan. Yang penting kita selalu optimis, terus berinovasi dan selalu siap-termasuk persiapan finansial- dengan manajemen risiko yang memadai menghadapi perubahan apapun. Seperti Western Union. Bisa!

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Kuliner Global: Hui dan Padang


Hui dan Padang

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Setelah 3 jam melaju, kereta ekspress itu berhenti di peron yang tampil seperti bandara modern itu.  Bersama rombongan, saya pun segera turun dari kereta. Menutup perjalanan darat sekitar 900 kilometer dari Shenzhen dengan naik taksi menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui internet. Karena badan yang begitu lelah, sesampai di hotel pun saya segera mandi, sholat magrib isya secara jama’, lalu tertidur pulas.

Begitu terbangun keesokan hari, salah satu aktivitas yang mesti dijalani adalah makan pagi. Mencari makanan halal di kota yang secara administratif berada di bawah propinsi Guangdong itu tentu mudah. Maka, bersama rombongan saya pun merencanakan untuk sekalian keluar menuju kampus Shaoguan University. Di kampus yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan bus umum itu terdapat warung makanan muslim.

Gaya membuat mie khas resto Hui di RRC. Gambar dari http://www.pustakapanganku.blogspot.co.id

Setelah sejenak jalan-jalan di kampus seluas lebih dari 150 hektar itu, saya dan rombongan pun saaatnya makan pagi. Pergilah kami ke sebuah warung di sebuah komplek pertokoan kecil di samping pintu gerbang kampus. Seorang berpeci putih menyambut. Setelah duduk dan melihat daftar menu, kami pun memesan makanan. Waktu menunggu makanan terhidang jadi menyenangkan karena proses penyajiannya menarik. Atraksi memproses adonan tepung menjadi mie khas suku Hui menjadi sajian yang lebih istimewa sebelum makanan terhidang di kampus dimana salah satu rombongan menimba ilmu itu.

&&&

Makanan halal adalah kebutuhan pokok kaum muslimin dimanapun berada. Jika Anda bepergian di negara yang mayoritas muslim, mencari makanan halal tentu bukan masalah. Di Malaysia misalnya, Anda dengan mudah menemukan warung halal hampir di setiap komplek pertokoan atau perdagangan.

Bagaimana jika bepergian di negara yang kaum muslimin berposisi minoritas? Tentu membutuhkan seni tersendiri. Kala melancong ke RRC, Anda akan sangat terbantu dengan keberadaan suku Hui.  Suku yang secara statistik hanya sekitar 2% penduduk RRC ini memang bisa dikatakan selalu hadir di kota manapun di negeri tirai bambu ini. Hadir dengan warungnya yang khas dan halal. Mirip dengan restoran padang yang selalu Anda jumpai dimanapun berada di negeri merah putih ini.

Apa yang dilakukan oleh resto Hui dan Padang pada dasarnya memang kebutuhan masyarakat modern. Masyarkat yang dengan mudah bisa bepergian kesana kemari di berbagai penjuru membutuhkan kehadiran resto yang hadir dimana mana. McDonald’s & KFC adalah contoh jaringan resto yang pada dasarnya adalah seperti Hui dan Padang. Hadir dimana mana dengan cita rasa yang diterima oleh masyarakat luas.

Bedanya, jika Hui dan Padang bersifat tradisional dan tiap tiap resto hadir secara personal, McD dan KFC hadir dengan konsep manajemen modern. McD dan KFC tampil di dimana mana di seluruh dunia dengan format korporasi dan manajemen modern. Tentu saja tidak tiba tiba McD dan KFC tampil seperti sekarang ini. Ada proses yang panjang yang harus dilalui.

Hui dan Padang punya potensi yang besar untuk tampil di berbagai bangsa seperti McD dan KFC. Syaratnya tentu saja adalah korporasi dan manajemen modern. Jika saat ini masih tampil secara perorangan dengan dan terpisah antara satu resto dengan resto lainnya, dibutuhkan peran entrepreneur yang bisa melakukan proses manajerial bisnis untuk menjadikannya sekelas McD dan KFC.

Bagaimana kira-kira prosesnya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah melalui proses penyatuan dari para pebisnis resto yang ada. Istilah kerennya disebut merger. Walaupun di bidang berbeda, apa yang dilakukan oleh 10 ribu lebih peternak susu di New Zealand bisa dicontoh. Mereka menyatu dengan mendirikan koperasi. Semula ada sekitar 400 an koperasi, pemilik merek susu Anmum dan Anlene itu kini menjadi satu koperasi dengan aset, omset dan merek kuat di seluruh dunia. Hui dan Padang bisa menyatu menjadi koperasi dan kemudian tampil di berbagai penjuru dunia dengan satu manajemen, satu merek dan satu kekuatan.

Alternatif kedua adalah melalui cara sepearti yang ditempuh oleh Djoko Susanto melalui Alfamart. Mendirikan sebuah perusahaan di bidang ritel modern dan kemudian memperluasnya dengan melibatkan dana masyarakat melalui lantai bursa dan waralaba. Siapapun yang berminat bisa bergabung dengan Alfamart melalui dua cara itu.  McD dan KFC melakukan juga melakukan mekanisme ini.

Hui dan Padang, bagaimana? Kita tunggu jawaban dari kawan kawan pemain dan peminat bisnis resto untuk melakukannya. Hadir di seluruh dunia dengan puluhan ribu outlet resto halal. Dengan merek kuat dan kualitas standar. Agar kemanapun bepergian, kita bisa menikmati menu  halal tanpa kesulitan. Di Shaoguan dan dimanapun berada. Hui dan Padang….ayoo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya