Sequoia: Jangan Jadi Entrepreneur Tanpa Ide Baru


Sequoia

Oleh: Iman Supriyono, konsultan, CEO dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Google, WhatsApp, Instagram, Apple, Dropbox, LinkedIn, YouTube, Cisco, Oracle, Airbnb, PayPal.  Anda kenal nama-nama ini? Jika tidak, mohon maaf, Anda adalah generasi masa lalu hehehehe. Ini adalah deretan perusahaan top dunia. Google atau yang kini rebranding nama perusahaannya menjadi Alphabet, adalah perusahaan terbesar ke 27 dunia dalam hal omset, laba, aset, dan kapitalisasi pasar. Omset perusahaan raja internet ini adalah USD 77,2 Milyar atau RP 1024T. Dengan omset itu, perusahaan besutan Larry Page dan Sergey Brin ini mengantongi laba USD 17 Milyar atau Rp 226T. Omset tersebut dicapai dengan aset senilai USD 149,7 Milyar (Rp 1987T). Dengan kinerja seperti itu, nilai pasar (seluruh saham) perusahaan yang melantai di New York Stock Exchange ini adalah USD 500,1 Milyar (Rp 6 639 T).

Saat menggunakan Google untuk mencari sebuah informasi di internet, Anda tidak pernah diminta membayar serupiah pun.  Anda baru akan diminta membayar kalau memasang iklan. Saat ada orang mengetik key word tertentu, iklan Anda akan dimunculkan. Sampai disitu Anda pun belum diminta untuk membayar. Baru setelah ada yang mengklik link iklan Anda, Google meminta Anda membayar.

Keberadaan Google memporak porandakan dunia  periklanan. Sebagai pelaku bisnis, saya masih merasakan dulu misalnya untuk memasang iklan spot ukuran panjang satu kolom tinggi 5 cm di sebuah koran dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Itupun hanya sekali tayang. Padahal untuk mempromosikan sebuah produk tentu tidak cukup sekali tayang langsung laris. Butuh beberapa kali tayang. Anggaran iklan ketika itu pun tinggi.

&&&

Sequoia. Itulah perusahaan yang dengan kapasitanya “menemukan” orang seperti Larry Page dan Serge Brin pada tahun 1988 dengan ide barunya. Sequoia, sebuah perusahaan venture capitalist, sejak tahun 1972 mengasuh anak-anak muda dengan ide-ide baru. Google, Whatsapp, Instagram, dan nama-nama yang saya sebut diatas adalah sebagian kecil dari karya “anak asuh” Sequoia. Kini  banyak “anak asuh” itu telah membesar dan go public. Total nilai sekitar USD 1,4 Trilyun atau Rp 18 585 Trilyun.

Logo Sequoia

Google menyumbang Rp 6 639 Trilyun dari angka itu. Dari komposisi pemegang sahamnya, pemilik YouTube ini bisa disebut perusahaan yang sudah “matang” alias sudah “jadi”. Ada dua kelompok pemilik saham Google yaitu individu dengan total 24,7% dan institusional dengan total 75,25. Lima pesaham institusional tertinggi adalah Vanguard (7,6%), BlackRock (6,6%), FMR (5,335%), State Street (4,62%), dan Price T Rowe (4,01%).  Kelimanya adalah perusahaan investasi. Google (Alphabet) adalah sebuah fully public company.  Tidak ada lagi pemegang saham pengendali.

Mengamati konsep bisnis Sequoia, bisa disimpulkan bahwa ada dua jalur karir bagi anak-anak muda USA. Yang pertama adalah bagi anak-anak muda yang punya ide “gila” seperti Brin dan Page pendiri Google itu. Anak-anak yang punya ide bisnis benar-benar baru akan diasuh oleh venture capitalist seperti Sequoia. Dibina dan disuntik modal sejak awal. Setelah cukup kuat, perusahaan didorong untuk terus berkembang dengan dana publik melalui lantai bursa. Dana publik ini dihimpun melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti 5 pesaham institusional terbesar Google itu.

Jalur karir kedua adalah anak muda yang tidak memiliki ide bisnis baru. Jenis ini jumlahnya lebih banyak dan tidak kalah strategis. Mereka juga terdiri dari orang-orang pintar berkualitas kelas atas lulusan perguruan-perguruan tinggi top dunia. Kelompok kedua ini akan berkarir dan bekerja keras membesarkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada.  Hasil karya mereka, saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia (berdasar omset, laba, aset dan kapitalisasi pasar), 540 berasal dari USA.  Sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan gaya lama seperti McD, Coca Cola, Citibank, ExxonMobil, dan sejenisnya. Sebagian kecil adalah pemain baru seperti Google tadi.  Inilah yang menjadikan USA sebagai negara dengan PDB seperempat PDB dunia.

Dengan dua jalur karir pemudanya, USA saat ini merajai bisnis dunia. Kedepanpun, nampaknya USA akan tetap unggul.  Dengan banyaknya venture capitalist dan investment company raksasanya, USA adalah bangsa yang paling serius menyemai dan menumbuhkan perusahaan perusahaan baru alias start up company.

Kita mesti belajar dari USA. Anak-anak muda yang punya ide baru mesti didorong menjadi entrepreneur dengan start up company. Sementara itu, yang tidak punya ide baru mesti didorong bekerja keras membesarkan perusahaan yang sudah ada. Dorong mereka berkarir sampai puncak yaitu menjadi CEO.  Juga beri kesempatan menjadi pesaham saat perusahaan melepas saham baru untuk memenuhi kebutuhan modal ekspansi pasar.

Yang tidak punya ide baru berperan membesarkan perusahaan yang ada agar menjadi kelas dunia. Yang punya ide baru didukung dengan bimbingan dan modal. Untuk itu kita butuh banyak investment company yang mengumbulkan dana ratusan ribu trilyun dari masyarakat seperti Vanguard, BlacRock, FMR, State Street dan Price T Rowe yang menyuntik modal besar untuk Google. Kita juga butuh pengasuh anak-anak muda seperti Sequoia.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Korporatisasi: Fokus


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Surabaya, 21 Pebruari 2017. Selepas sholat jamaah asyar di mushola lantai 17, saya segera kembali ke lanti 9.  Di ruang tamu SNF Consulting, kantor saya,  tiga orang telah duduk manis. Seorang ibu dengan dua putranya yang memang telah janjian melalui telepon. Bertiga akan  tentang bisnisnya yang menurutnya telah “mememenjarakan” dirinya. Disebut memenjarakan karena sekeluarga semuanya harus full ngurusi bisnis. Ditinggal sedikit saya sudah eror.

Si ibu punya empat unit bisnis. Masing-masing bersifat ritel (langsung melayani end user). Bisnis pertama adalah toko obat. Ini adalah rintisan sejak awal. Melayani konsumen yang membeli obat bebas (obat non resep, OTC). Berada di sebuah kota kecil yang intensitas kebersamaannya tinggi, bisnis pertamanya ini memiliki pelanggan pelanggan loyal dan menghasilkan laba yang bagus.

Setelah memiliki uang yang cukup dari bisnis pertama, si ibu memutuskan membangun bisnis kedua  berupa apotek. Motivasinya adalah melengkapi bisnis pertama. Melayani konsumen yang kurang lebih sama yaitu warga sekitar yang membutuhkan obat dengan resep dokter. Bisnis kedua ini pun relatif lancar dan menghasilkan laba yang menyenangkan.

Berikutnya, laba dari bisnis obat, baik yang resep maupun non resep dikumpulkan dan kemudian digunakan untuk membuka bisnis baru berupa toko perlengkapan bayi (baby shop). Toko ini pun mendapatkan sambutan yang juga cukup  bagus dari pasar warga sekitar dan menghasilkan laba.

Selanjutnya, laba dari ketiganya dipakai untuk bisnis baru lagi berupa klinik kecantikan. Sebuah bisnis yang sama sekali berbeda karakter dengan bisnis-bisnis sebelumnya yang hanya bersifat perdagangan. Klinik kecantikan membutuhkan layanan yang intensif. Bisnis ini pun menguntungkan hingga saat ini.

Masalahnya adalah beban pekerjaan. Si ibu, sang suami dan anak pertama yang sudah lulus kuliah setiap hari berkutat berbagi mengelola empat bisnis tersebut. Si suami mengelola toko obat dan apotek.  Hari-hari waktunya habis untuk operasional bisnis toko obat dan apotek-nya. Si anak sulung mengelola bisnis perlengkapan bayi. Si ibu mengelola bisnis klinik kecantikan. Masing-masing sudah menyita sebagian besar waktu kseharian.  Karyawan yang ada murni hanya menjadi pembantu. Tidak bisa dilepas tanpa kehadiran pemilik. Inilah masalah si ibu bersama keluarga dalam menjalani bisnis sehari-hari.

&&&

Pembaca yang baik, apa yang dilakukan oleh si Ibu dengan empat gerainya adalah bisnis perseorangan. Sebagai sebuah awalan, hal itu bukanlah masalah. Perusahaan besar manapun pada umumnya dimulai dari bisnis perseorangan dengan beberapa karyawan yang berfungsi murni hanya sebagai pembantu. Bahkan banyak yang dimulai sendirian. Single fighter.

Image result for apotek k24

Fokus tambah outlet: Dibutuhkan paling tidak sekitar 30 outlet yang dikelola sendiri untuk bisa dibangun sistem manajemen ritail yang kuat seperti K24 ini.

Dengan bisnis sederhana seperti itu, uang dan kekayaan bisa diperolah. Banyak orang punya rumah mewah, mobil mewah, pergi haji, menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan tertinggi dan sebagainya dengan bisnis sesederhana itu.

Tetapi….jaman berubah. Satu demi satu bisnis perorangan tergusur oleh bisnis korporasi besar bermerek dan bersistem manajemen kuat. Yang kasat mata misalnya adalah bisnis ritel toko-toko kelontong di gang-gang kampung. Satu demi satu dipaksa tutup terkalahkan oleh jaringan minimarket dengan merek dan sistem manajemen kuat yang hadir dengan puluhan ribu gerai dimana-mana.Maka, yang dialami si ibu dengan dua anak di atas sebenarnya adalah sesuatu yang mesti dijawab dengan perbaikan. Perbaikan sistem manajemen adalah agenda paling mendesak.

 

Bagaimana melakukannya? Sistem manajemen itu bisa dianalogikan sebagai anyaman bilah-bilah bambu. Salah satu syarat utama anyaman adalah jumlah bilah bambu yang cukup. Satu, dua, tiga atau empat bilah bambu tentu tidak dapat dianyam. Anyaman baru akan kuat jika dibuat dengan  puluhan bahkan ratusan bilah bambu. Bilah-bilah bambu saling mengikat satu sama lain sehingga membangun sebuah anyaman yang kokoh awet.

Analog anyaman, sistem manajemen baru bisa dibuat dengan baik jika ada karyawan dengan jumlah yang cukup untuk membentuk struktur organisasi dengan banyak level.  Ada banyak level jabatan dari pimpinan puncak sampai staf terbawah akan saling mengikat dengan standard operating procedure (SOP) untuk menjadi sebuah “anyaman”. Jika karyawan sedikit, tentu tidak bisa dibuat banyak level jabatan.

Bagaimana si ibu tadi bisa membangun sistem manajemen? Jika mau, si ibu harus memilih satu dari empat unit bisnisnya dan menjual 3 yang lain. Hasil penjualan 3 unit bisnis dipakai untuk membuat gerai baru untuk unit bisnis yang dipilih. Misalkan memilih klinik kecantikan, ia mesti menjual apotek, baby shop, dan toko obat. Hasil penjualannya dipakai untuk membuat 3 gerai klinik kecantikan baru. Dengan demikian ia akan memiliki 4 klinik kecantikan. Barulah bisa dibuat struktur organisasi yang walau masih sangat sederhana bisa “dianyam” dengan SOP untuk menjadi sistem manajemen dalam bentuk yang juga masih paling sederhana. Sistem manajemen paling sederhana seperti ini mustahil bisa dibuat pada sebuah jenis bisnis yang masing-masing hanya memiliki satu gerai seperti selama ini.

Pelajaran penting dari uraian di atas adalah…. Memilih dan menekuni satu bidang usaha lalu memperbesarnya dengan banyak gerai adalah prasyarat untuk dibangunnya sistem manajemen yang kuat.  Prasyarat untuk dilakukannya proses korporatisasi. Prasyarat untuk menang menghadapi persaingan bisnis dengan raksasa-raksasa global yang juga telah jauh lebih dahulu melakukan spesialisasi dan korporatisasi. Korporatisasi atau mati. Anda siap?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

212


Oleh Iman Supriyono, CEO dan konsultan manajemen senior pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com *)

Tujuh juta orang. Masing-masing menyetor seratus ribu rupiah tiap bulan dengan disiplin. Tiap bulan terkumpul Rp 700 Milyar.  Tiap-tiap tahun terkumpul 8,4 Trilyun. Uang itu nilainya lebih besar dari harga 5,062 milyar lembar saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (Sari Roti) yang harga perlembarnya saat ini berkisar pada angka Rp 1500 ini. Ya..angka itu lebih besar dari harga seluruh saham   (kapitalisasi pasar, nilai seluruh perusahaan) Sari Roti yang sebesar  Rp 7,5 Trilyun.

Aksi super damai 212 yang dihadiri lebih dari 7 juta orang. Foto: http://www.sulsel.pojoksatu.id

Tujuh juta orang. Masing masing membutuhkan satu porsi nasi dan satu botol air minum untuk makan siang. Dengan harga nasi Rp 18 ribu per porsi dan air minum perbotol Rp 2 ribu, ada potensi omset Rp 140  milyar untuk sekali makan. Ini adalah gambaran kumpulan 7 juta orang sebagai pasar. Tentu  masih ada banyak potensi lain.

Itu potensinya. Pertanyaannya adalah, bagaimana menjadikan potensi itu menjadi sebuah kenyataan? Ada beberapa informasi berseliweran melalui media sosial untuk menangkap potensi itu. Ada yang berencana mendirikan sebuah koperasi. Bahkan daftar pengurusnya sudah beredar pula di media sosial. Ada yang  berencana membuat minimarket atau supermarket. Koordinasi juga sudah dilakukan melalui pertemuan-pertemuan.  Ada yang akan membuat pabrik roti. Sama….informasinya juga sudah berbedar secara deras melalui  media sosial dan grup-grup chating. Itu yang informasinya masuk melalui gadged saya. Diluar itu mungkin masih akan banyak ide untuk menangkap potensi itu.

&&&

Vanguard Investment Company didirikan tahun 1975 oleh John C Bogie di Amerika Serikat. Bogie adalah orang yang sejak lulus kuliah menekuni bekerja di bidang investasi. Dengan keahlian pendirinya yang tidak diragukan di bidang investasi itu,  Vanguard meraih kepercayaan yang luar biasa dari para Investor. Saat ini, dalam usianya yang  ke 41, Vanguard dipercaya oleh lebih dari 20 juta orang untuk mengelola dana investasi senilai lebih dari Rp 40 ribu Trilyun.

Apa yang dilakukan perusahaan berkaryawan lebih dari 14 ribu itu?  Sebagaimana layaknya sebuah investment company, Vanguard menginvestasikan dana yang dikelolannya dengan konsep portofolio.  Menyebar risiko investasi pada berbagai instrumen investasi.

Jika beberapa waktu lalu Anda mendengar kabar tentang akuisisi Yahoo oleh Verizon, maka Varguard berada di balik transaksi itu. kenapa? Vanguard adalah investmen company dibalik berita itu. Vanguard adalah salah satu pemegang saham besar dari kedua perusahaana tersebut.  Di Verizon, Vanguard adalah pemegang saham terbesar  dengan 6,46%.  Pemegang saham lain prosentase kepemilikannya lebih kecil. Di Yahoo, Vangauard pegang 5,73%. Saham di Yahoo ini adalah prosentase terbesar kedua setelah  TCI Fund Management yang memegang 9,04% saham.

&&&

Pembaca yang baik, investment company adalah format yang paling cocok untuk mewadahi potensi ekonomi dari jutaan orang. Ada beberapa argumen untuk ini. Yang utama, investment company berfokus pada keamanan dana. Warren Buffett, salah satu dedengkot investment company global dalam laporan tahunan Bershire Hathaway menyatakan bahwa sebuah investment company tidak tertarik dengan prospek. Investment company hanya tertarik pada kinerja. Maka, haram bagi sebuah investement company menanamkan uangnya pada perusahaan baru. Investment company hanya menanamkan uangnya pada perusahaan yang telah terbukti memiliki kinerja ekselen dalam jangka panjang.

Selain  memilih tempat investasi yang aman, sebuah perusahaan investasi mestilah menanamkan dananya pada banyak perusahaaan dan banyak instrumen investasi. Menanamkan dananya sesuai dengan konsep portofolio. Jangan taruh telormu pada satu keranjang. Demikian doktrin yang umum bagi sebauh perusahaan investasi. Itulah mengapa kepemilikan vanguard di yahoo, verizon ataupun perusahaan lain berada dalam prosentase yang kecil-kecil. Tidak memegng saham dominan apalagi pengendali.

Potensi pengumpulan dana Rp 8,4Trilyun dalam setahun seperti yang saya narasikan di awal tulisan ini masih bisa diperbesar. Jika Vanguard bisa mengumpulkan 20 juta investor dari 170 negara, semangat 212 bisa menjadi momentum untuk bisa melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Vanguard. Mengumpulkan dana dari masyarakat luas dan kemudian digunakan untuk berinvesasi di bebagai perusahaan yang sudah terbukti mapan di pasar.

Salah satu yang bisa dibeli sahamnya adalah Sari Roti. Meneladani Usman bin Afan yang atas perintah Rasulullah dulu membeli saham sebuah sumur di Madinah. Pembelian yang mengakhiri ketergantungan konsumen muslim ketika itu kepada sumur milik Yahudi. Kedepan, dengan meningkatkan jumlah orang maupun setoran dana investasinya, bukan hanya Sari Roti yang sahamnya dibeli. Masih ada ratusan perusahaan yang sahamya mesti dibeli. Dan juga masih banyak perusahaan milik kaum muslim yang sudah lama eksis di pasar tapi masih kecil membutuhkan gelontoran dana untuk berekspansi dengan cepat.  Ini semua adalah pekerjaan sebuah investment company. Semoga semangat 212 bisa terwujud menjadi investment company raksasa. Seperti Vanguard.

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Jahiliah atau Ilmiah?


Oleh Iman Supriyono, CEO dan konsultan manajemen senior pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Jahiliah: butuh bukti fisik luar biasa dan diluar nalar (mukjizat, seperti mukjizat banjir bandang jaman Nabi Nuh) untuk meyakini, berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Ilmiah: cukup dengan ilmu (dengan karakter prediktif yang melekat padanya) orang sudah bisa yakin, berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Maka, ketika ilmu kedokteran, agama, dan keuangan misalnya menyatakan bahwa merokok itu buruk, orang ilmiah sudah meninggalkan rokok. Ketika ilmu kedokteran menyatakan bahwa olahraga adalah wajib untuk menjaga kesehatan, orang ilmiah sudah langsung disipilin berolah raga. Ketika ilmuwan manajemen menyatakan bahwa menjalankan perusahaan sesuai kurva korporatisasi adalah keharusan, seorang pimpinan perusahaan yang berjiwa ilmiah langsung melakukan proses korporatisasi.

Kapal di tengah hujan deras sebagai ilustrasi suasana banjir bandang jaman Nabi Nuh. Diambil dari http://www.suratkabar.id

Kalau yang masih jahiliah? butuh mukjizat sekelas banjir bandang Nabi Nuh untuk tidak merokok atau disiplin berolah raga atau malakukan korporatisasi.

Bagi Anda yang muslim, ini juga bisa menjelaskan perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW yaitu berupa Al Qur’an (yang berupa teks ilmiah), berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu seperti menghidupkan orang mati pada nabi Isa, dibakar tidak mempan nabi Ibrahim, atau membelah laut pada Nabi Musa. Itulah kenapa Nabi Muhammad SAW selalu disebut mengubah dari jaman jahiliah menjadi jaman terang benderang (ilmiah) di berbagai ceramah, pidato maupun tulisan. Anda bisa menangkapnya kan?

Pingin sukses? Pingin menguasai ekonomi? Pingin ekonomi tidak dikuasai asing? Pingin badan tidak kegemukan? Pingin berkuasa? Pingin masuk surga? Pingin punya perusahaan besar? Atau pingin apa saja? Semua ada ilmunya.

Masalahnya satu saja:
Anda jahiliyah atau ilmiah?

Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan yang diposting di account FB penulis setelah diedit kembali dan diunggah ulang di blog ini.

Garden Palace: Tentang Investasi Saham


Garden Palace

Oleh Iman Supriyono, konsulan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tidak jauh dari kantor saya, berdiri sebuah hotel megah. Hotel berbintang empat dengan 370 kamar.  Salah satu Hotel di jantung kota Surabaya yang mampu menampung ratusan tamu. Tentu lengkap dengan fasilitas ruang pertemuan yang sesuai.  Cocok untuk acara-acara besar yang menghadirkan ratusan orang. Satu dari tidak banyak hotel yang berkapasitas seperti ini.

Maka tidak heran jika beberapa bulan lalu kawan kawan majelis ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar pertemuan nasional di kota pahlwan, hotel berlantai 24 ini dipilih menjadi rujukan. Mantap karena ruang pertemuannya bisa menampung hingga 600 orang. Saya pun senang karena untuk datang ke acara tersebut tidak perlu buang waktu banyak di jalan. Tinggal geser beberapa menit jalan kaki.

Siapa yang diuntungkan dengan pemilihan hotel yang berdiri sebagai perusahaan sejak tahun 1970 tersebut? Yang jelas panitia beruntung karena menemukan tempat yang nyaman. Para peserta dapat menghadiri salah satu sesi acara tersebut di Grahadi cukup jalan kaki. Apalagi jalur pejalan kakinya juga nyaman berkeramik rapi indah dinaungi pepohonan rindang.

Siapa lagi yang beruntung? Tentu saja pihak perusahaan pemilik hotel tidak jauh dari balai kota Surabaya itu.  PT Mas Murni Indonesia Tbk., itulah pemilik dan pengelola hotel yang juga memiliki unit bisnis resto dan developer perumahan tersebut. Dalam laporan tahunan terakhir, perushaan yang saham terbesarnya dipegang oleh PT Asabri (persero, memegang 20% saham) ini mencatatkan omset sebesar Rp 78 Milyar dengan laba 2 Milyar. Walau tidak istimewa, dalam 3 tahun terakhir perusahan yang di lantai bursa tercatat dengan kode MAMI ini selalu mencatatkan laba.

Itulah gambaran hotel yang sahamnya 43% dipegang masyarakat itu.  Nah, coba tebak berapa harga seluruh sahamnya? Saat pertanyaan ini saya lempar di sebuah forum, jawabannya beragam. Ada yang menjawab skala Trilyun bahkan belasan Trilyun. Ada yang menjawab ratusan milyar. Ada yang menjawab puluhan Milyar. Berapa jawaban yang tepat? Berdasar laporan tahunan 2015, ada 3,3 milyar lebih lembar saham yang beredar. Harga saham perlembar pada hari ini adalah Rp 50,-. Maka, jika dikalikan, ketemulah bahwa harga seluruh saham adalah Rp 165 Milyar lebih. Angka ini jauh dibawah aset bersih (ekuitas) perusahaan yang sebesar Rp 597M.

$$$

“Assalamualaikum Wr. Wb. Pada majalah Al Falah edisi 339 bulan Juni 2016 saya membaca artikel finansial yang ditulis oleh Bpk. Iman Supriyono yang membahas masalah saham. Saya tertarik tapi saya sama sekaali buta dengan hal tersebut. Bagaimana cara memulainya dan dari mana memulainya. Saya sama sekali tidak paham. Bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasannyya? Atas bantuan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb”,  itulah email dari Yusef Kartika Sari, pembaca tulisan saya beberapa waktu lalu. Sebuah pertanyaan yang mewakili kondisi masyarakat awam yang memang pada umumnya tidak memiliki dan tidak paham tentang saham.

 

SONY DSC

Garden Palace Hotel, gambar dari http://www.skyscrapercity.com

Untuk bisa membeli saham sebuah perusahaan terbuka, yang pertama kali harus dilakukan adalah datang dan mendaftar ke perusahaan sekuritas. Ada banyak alternatifnya seperti BNI Securities, Mandiri Securities, MNC Securities, Phintraco Securities dan masih banyak lagi. Ada beberapa syarat admistrasi yang harus dipenuhi disamping uang deposit minimal dengan jumlah tertentu yang besernya berbeda-beda antara tiap perusahaan. Uang tersebut akan disimpan di sebuah rekening bank atas nama Anda dan kemudian akan digunakan untuk bertransaksi membeli saham.  Juga untuk menampung dana jika Anda menjual saham atau menerima dividen. Perusahaan sekuritas juga akan memberikan user ID dan pasword untuk mengakses web untuk bertransaksi membeli dan menjual saham.

Pertanyaanya, saham apa yang mesti dibeli? Untuk menjawab ini, Anda mesti belajar membaca laporan keuangan perusahaan.  semua perusahaan publik laporan keuangan triwulanan dan tahunannya tersedia untuk umum.  Belajarnya dapat dilakukan dengan mudah  melalui internet. Atau jika merasa tidak cukup dengan internet, Anda bisa mengikuti program-program workshop atau kursus singkat tentang hal ini.

Apa yang yang diperoleh dengan memiliki saham? Yang pertama adalah hak suara dalam keputusan penting perusahan.  Karena pemegang saham adalah pemilik perusahaan, Anda akan menerima undangan setiap ada rapat umum pemegang saham. Di forum tertinggi perusahaan ini, Anda akan memiliki hak suara sesuai proporsi kepemilikan saham dalam menerima/menolak laporan keuangan, memilih direksi, memilih komisaris, dan penggunaan laba, termasuk dividen yang akan dibagikan.

Yang kedua adalah manfaat finansial.  Setiap  tahun pemegang saham akan menerima dividen sesuai keputusan RUPS yang ditransfer ke rekening investasi. Bukan hanya itu, jika perusahaan bagus maka harga sahama akan meningkat. Jika dijual, akan ada selisih antara harga beli dengan harga jual. Selisih yang biasa disebut sebagai capital gain inilah yang akan dinikmati oleh para investor.

Salah satu alternatif perusahaan yang sahamnya bisa dibeli adalah Garden Palace hotel yang saya ceritakan diatas. Cukup Rp 50 perlembar atau Rp 5000 per lot sebagai satuan terkecil pembelian saham. Karena harga Rp 50 perlembar adalah harga terendah di lantai bursa, perusahaan selalu laba, dan nilai seluruh sahamnya  masih jauh dibawah nilai aset bersih, besar kemungkinan kelak harganya akan naik dan Anda bisa menikmati capital gain.  Tertarik?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Al Falah, terbit di Surabaya

Spirit Pengurbanan Nabi Ibrahim AS Untuk Penguasaan Sumber-Sumber Ekonomi


Khutbah Idul Adha 1437 H di halaman Plaza Marina oleh Takmir Majid Masjid Al Huda  Sidosermo  Surabaya. Bagian bertuliskan huruf Arab tidak ditampilkan dalam posting ini.

Oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penullis  buku-buku manajemen pada PT SNF Consulting, Jln Pemuda 60-70 Surabaya, http://www.snfconsulting.com

 Allahuakbar walillahilhamd. Jamaah sholad Ied rohimakumullah, hari ini kita berhari raya kurban. Pengorbanan Nabi Ibrohim AS adalah teladan yang agung bagi kita semua. Ketika itu beliau mengurbankan buah hati yang sangat disayanginya Ismail dengan menyembelihnya. Tentu saja hari ini kita tidak lagi perlu menyembelih anak-anak kita. Tap spirit pengurbanan sekelas menyembelih anak yang tentu sangat bernilai luar biasa mestilah kita teladani dan kita terjemahkan dalam konteks kekinian.

Perhatikan ayat yang saya sampaikan di depan. Tolong menolonglah dalam kebajikan dan takwa. Ta’awanu alal birri wataqwa.  Sebuah ayat yang sangat populer. Sebuah ayat yang memberi tuntunan kepada kita untuk bahu membahu dalam berbuat kebajikan dan takwa. Dalam berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia dunia dan akhirat.

plaza-marina

Plasa Marina Surabaya dengan logo McD di depannya. Gambar dari http://www.tripadvisor.com

Perhatikan pula hadits populer berikut ini, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim). Ini adalah gambaran lain tentang bagaimana mestinya kita bersatu. Bertolong menolong menyatukan potensi uantuk melakukan kebajikan. Bukan sekedaar kebajikan pribadi orang-perorang. Tapi kebajikan yang menyatukan kaum muslim menjadi satu tubuh dengan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan kehidupan di dunia untuk kebahagiaan kelak dalam kehidupan akhirat

Tentang tolong menolong dalam kebajikan, tentu kita sebagai orang yang beriman kepada Qur’an dengan mudah dapat menangkapnya. Tapi kita perlu belajar tentang bagaimana dahsytatnya konsep tolong-menolong ini dalam konteks manajemen modern. Mari coba kita pelajari dari apa yang dilakukan oleh sebuah jaringan resto modern yang kebetulan pagi kini ada tidak jauh dari mimbar ini, McDonalds. Mengapa di forum Idul Adha yang mulai ini kita harus belajar tentang McDonald’s yang bukan milik muslim itu? Tidak lain karena ayat yang saya bacakan di mukadimah diatas perlu kita implementasikan dalam kehidupan modern.

Jamaah rahimakumullah, mari sejenak kita menyelami sejarah. Pada jaman dulu, karya-karya besar penada sejarah umat manusia bisa dipastikan dilakukan oleh institusi negara atau kerajaan. Di negeri ini misalnya kita bisa mengamati Candi Borobudur sebagai karya sejarah yang dilakukan oleh negara atau kerajaan. Di India ada Taj Mahal yang juga dibuat oleh institusi negara atau kerajaan. Di China ada tembok raksasa yang dibangun oleh kekaisaran. Di Mesir ada piramida yang dibangun oleh kerajaan. Itulah karya sejarah jaman dulu.

Bagaimana dengan karya bersejarah jaman modern? Perhatikan, saat ini gedung-gedung penanda sejarah dunia banyak  dibangun oleh perusahaan. Burj Khalifa di Dubai, sebuah gedung tertinggi dunia, 828 meter, dibangun oleh Emaar Properties, sebuah perusahaan yang berdiri tahun 1997 yang kini memiliki aset Rp 290 Trilyun.

Jika Emaar membangun gedung tertinggi dunia, kai ini kita akan belajar bagaimana bisa bertolong-menolong membangun karya yang bermanfaat bagi umat manusia sedunia tidak dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk layanan penyediaan makanan. Kita pelajari apa yang dilakukan oleh McDonalds alias biasa disingkat dengan McD.

McDonald lahir dari tangan Richard James “Dick” McDonald (February 16, 1909 – July 14, 1998) dan saudaranya Maurice James “Mac” McDonald (November 26, 1902 – December 11, 1971) tahun 1938 di San Bernardino, California, USA. Setelah sukses menggait pelanggan, resto ini kemudian masuklah Roy Kroc tertarik untuk menjadi mitra pengembangan bisnis resto yang hanya menjual sedikit menu ini (burger, kentang goreng dan minuman) pada tahun 1955 dengan membentuk McDonald’s System Inc. Masuknya Roy Croc adalah awal dari perkembangan pesat resto yang menjual makanan tradional jerman (humberger) ini.

Dalam laporan tahunan terbarunya,  tahun 2015, McD menyatakan telah hadir di dunia dengan 36 525 gerai di  lebih dari 100 negara, termasuk di Indonsia tercinta. Resto modern yang di Indonesia dengan menu utama burger ini ini mengantongi omset  Rp 336 T dengan laba 60 Trilyun. Untuk menggerakkan bisnis mulitinasional tersebut, McD menggunakan aset sebesar Rp 502 Trilyun, terdiri dari Rp 94 Trilyun aset sendiri dan Rp 503T diperoleh dari hutang.

Jamaah rahimakumullah, saat ini jutaan sudara muslim kita dari berbagai penjuru dunia sedang berkumpul di kawasan tanah suci. McD adalah salah satu resto yang menyediakan makanan bagi saudara-saudara kita disana. Di Saudi Arabia, McD hadir sejak tahun 1993 dibawah manajemen Riyadh International Catering yang saat ini memiliki  134 gerai. Outlet ini dikelola dengan skema kerjasama waralaba. Atas pengoperasian outlet-outlet waralaba di berbagai penjuru dunia, termasuk di Saudi ini, McD menerima pendapatan sebesar Rp 118 Trilyun. Pendapatan ini berkontribusi 35% dari total omset.

Jamaah rahimakumullah, dengan beroperasi di 100 negara lebih, rata-rata kontribusi tiap negara terhadap omset McD tidak sampai 1 %. Apa makna dari prosentase ini? Anda saja ada salah satu negara dimana McD beroperasi punya kebijakan anti McD dan kemudian McD terpaksa menutup seluruh gerainya di negara tersebut maka McD hanya akan kehilangan sekitar 1% dari omsetnya. Karena  laba dari perusaan yang berkembang pesat dibawah konsep manajemen Roy Croc ini adalah 18% dari omset, maka kehilangan 1% omset tentu tidak berpengaruh signifikan. Tidak akan menyebabkan perusahaan rugi. Dengan kondisi ini, McD telah mengamankan diri secara luar biasa dari aneka risiko termasuk risiko politik, bahkan risko perang sekalipun, di negara tempatnya beroparasi.

Yang juga spektakuler adalah jumlah tenaga kerjanya. Hingga ahir 2015, McD mempekerjakan sekitar 420 ribu karyawan di seluruh dunia. Mereka ini kemudian menafkahi anggota keluarganya. Menyekolahkan anak-anak mereka. Tentu ini memberi kontribusi yang besar dalam pergerakan roda dan sumber-sumber ekonomi dunia.

Jamaah rahimakumullah, pertanyaanya, siapa pemilik McD? Dari sumber Nasdaq berikut ini adalah 5 pemegang saham terbesar McD: Vanguard 10,21%, State Street 6,89%, Capital World Investor 6,44%, Blackrock ITC 3,93%, Black-rock FA 2,78%. Lima limanya semua adalah perusahaan investasi (investment company). Investment company adalah jenis perusahaan yang kerjanya adalah mengumpulkan dana milik masyarakat dan kemudian menginvestasikan pada berbagai instrumen investasi. Kepemilikan saham McD adalah salah satu bentuk instrumen investasi. Atas investasi tersebut maka investment companya akan mendapatkan imbal hasil. Imbal hasil inilah yang kemudian digunakan untuk biaya opersional dan diteruskan kepada para pemilik dana.

Sebagai gambaran mari kita lihat siapa itu Vanguard. Vanguard didirikan 1975 di USA oleh John C Bogie, orang yang sejak lulus kuliah berkarir di investment company.  Tahun 2015 ini, Vangurd mengelola aset lebih dari USD 3 Trilyun (Rp 40 ribu Trilyun) milik lebih dari 20 juta investor di 170 negara dengan lebih dari 14 ribu karyawan di seluruh dunia.

Pemegang saham terbesar kedua adalah State Street yang berdiri 1792 di Amerika Serikat. Kini, di usianya yang ke 224 tahun State Street mengelola aset USD 22,5T (Rp 300 Ribu Trilyun) milik puluhan juta investor dari berbagai penjuru dunia juga.

Jamaah rahimakumullah, selama ini kita mungkin pernah mendengar opini bahwa perusahaan-perusahaan besar yang menguasai pasar negeri ini dan berbagai negara lain di seluruh dunia seperti McD selalu diasosiasikan dengan para kapitalis. Segelintir orang super kaya yang menguasai ekonomi dunia. Data yang saya kemukakan diatas menunjukkan bahwa perusahaan pengausa pasar dunia di bidang resto cepat saji yaitu McD bukanlah milik satu dua orang. Bahkan bukan milik sejuta dua juta orang. Melainkan milik ratusan juta orang yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Nilai seluruh saham McD saat ini adalah Rp 1 338 Trilyun. Dengan memegang 10,21% maka nilai saham yang dipegang Vanguard adalah Rp  137T. Jika diasumsikan saham tersebut dimiliki oleh para investor Vanguard secara merata maka setiap orang investor Vanguard memiliki Rp 6,85 Juta.

Rp 6,85 juta per orang. Besarkah jumlah tersebut? Coba kita bayangkan dari kacamata seorang pekerja yang bergaji UMK kota Surabaya yaitu sekitar Rp 3 045 000,- perbulan. Jika pekerja tersebut bisa dengan disiplin menyisihkan 10% gaji alias Rp 304 500,- perbulan, maka dibutuhkan waktu 22 bulan alias tidak sampai dua tahun untuk berkontribusi seperti para investor Vanguard. Dengan hitungan di atas, kepemilikan McD bukanlah melibatkan harta yang dimiliki oleh orang superkaya.  Bukan sesuatu yang diluar jangkauan masyaraakat banyak. Seorang bergaji UMR pun mampu memiliki McD yang raksasa itu. Syaratnya satu saja, uangnya tidak dikelola secara sendiri-sendiri. Uangnya harus disatukan bersama uang milik puluhan bahkan ratusan juta orang lain dalam sebuah sistem manajemen modern. Tolong menolong dalam kebaikan.

Allahuakbar! Jamaah rahimakumullah, mari kita ingat renungkan kembali tentan ayat yang saya baca di bagian awal khutbah ini. “Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. Jika Anda sedang berkendara dan menjumpai seroang nenek-nenek renta menyeberang sendirian lalu Anda turun dari kendaraan dan menyeberangkan si nenek tersebut, Anda telah melakukan perintah ayat tadi. Tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Tapi ini sifatnya adalah temporer alias sesaat.

Tolong menolong yang dilakukan oleh ratusan juta orang yang uangnya menjadi resto McD adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan dalam tempo dan format yang jangka panjang. Saya pernah merasakannya manfaat tolong menolong ini ketika berada di daerah minoritas muslim. McD adalah resto yang saya pilih untuk kebutuhan makan karena adanya logo halal MUI. Memilihnya karena alasan kehalalan ditengah mayoritas masyarakat non muslim.

Pertanyaannya, bagaimana bisa bertolong menolong bahu-membahu melibatkan jutaan bahkan ratusan juta orang? Dibutuhkan 3 pilar: konsep filosofis, sistem manajemen dan pengurbanan. Konsep filosofis yang kuat dan tertanam di sanubari seluruh karyawannya selalu dimiliki perusahaan sekelas McD. Bahkan tidak jarang konsep filosofis itu dituangkan dalam sejenis “lagu kebangsaan” seperti yang dimiliki oleh negara manapun. Perusahaan selalu punya visi dan misi sebagai puncak dari konsep filosofisnya.

Pilar kedua, sistem manajemen yang kuat dituangkan melalui perangkat manajerial seperti struktur organisasi,  job description dan standard operating procedure (SOP). Sistem manajemen yang bagus akan berujung pada laporan keuangan teraudit yang dipercaya oleh para pemegang saham, investor dan masyarakat luas.

Pilar ketiga adalah pengurbanan. Dasar filosofis dan sistem manajerial yang kuat saja tidak cukup. Dibutuhkan pengurbanan dari para karyawan, manajemen, dan pemegang saham untuk menjadi sebuah peruahaan yang kuat, besar dan hadir melayani umat manusia seluruh dunia. Riset tentang perusahaan sukses selalu dihiasi dengan temuan tentang kerja keras penuh pengurbanan sumber daya manusia di dalamnya. Para dirktur bekerja habis habisan. Para pemegang saham berkurban tidak mengambil dividen. Para karyawan berkorban dengan bekerja tidak sekedar menjalankan kewajiban.

Pertanyaan kita sebagai kaum muslim, tidakkah kita punya 3 pilar tersebut sedemikan hingga kita tidak memiliki kekuatan yang bagus dalam ekononomi? Tidakkah kita punya 3 pilar tersebut sehingga nyaris semua sektor ekonomi negeri ini dikuasai asing? Tidakkah kita punya kekuatan yang bagus sehinga kebutuhan jamaah haji disedikan oleh Boeing, Airbus, Hotel Fairmont, McD, Starbucks, KFC dll dll?

Jamaah sekalian, Islam itu sempurna. Ketiga pilar tersebut semua diajarkan oleh Islam secara sempurna pula. Dasar filosofiks itu adalah aqidah. Sistem manajemen yang kuat itu diajarkan oleh Islam melalui ajaran disiplin waktu, melalui kejujuran tiada kompromi,  melalui kewajiban menepati janji, melalui kewajiban mamatuhi pimpinan dll.  Pengurbanan diajarkan oleh Islam secara luar biasa melalui pengurbanan nabi Ibrahim AS yang hari ini sedang kita peringati.

Kholid bin Walid yang dijuluki sebagai si “Pedang Allah” pernah mendemonstrasikan pengorbanan luar biasa ketika beliau tunduk dengan tulus ikhlas kepada Umar Bin Khotob saat sang Khalifah memberhentikan beliau dari posisi panglima tertinggi militer. Tunduk sepenuhnya tanpa syarat. Itulah pengurbanan yang luar biasa meneladani Nabi Ibrahim dalam mengurbankan putra tercintanya.

Sebuah organasi tidak akan eksis tanpa pengurbanan. Rumah tangga tidak akan utuh tanpa pengurbanan suami saat Istrinya melakukan sesuatu sedemikian hingga hak atau kenyamanan si suami terganggu. Rumah tangga akan hancur juga jika istri tidak mau berkurban kehilangan hak atau kenyamaannnya manakala suami karena suatu dan lain hal tidak memenuhi hak istri. Itulah pengurbanan dalam rumah tangga sebagai organisasi terkecil. Bagaimana dengan organisasi yang melibatkan jutaan orang seperti McD, Vanguard atau State Street? Tentu butuh pengurbanan dalam skala dan kuantita yang lebih besar. Pengurbanan sebagaimana yang diteladankan oleh Nabiullah Ibrahim AS.

Jamaaah rahimamukumlah, Jika ketiganya sudah ada dalam Islam, lalu apa yang kurang? Kurangnya satu saja: pengamalannya. Dan nampaknya inilah penyakit utama umat Islam hari ini. Kita diajari untuk tidak memakai hak orang lain, tapi kaum muslim bahkan di depan kakbah saja masih berebut saling sikut untuk mencium hajar aswad. Kontras dengan antrian yang tertib di tempat-tempat umum negeri maju non muslim.  Kita diajari menapati janji tetapi jam karet dianggap biasa, kontras dengan ketepatan waktu di negeri negeri maju non muslim. Kita diajari kebersihan tetapi sungai-sungai kita kotor penuh sampah dan pencemaran. Kontras dengan sungai bersih di negeri negeri maju non muslim. Kita diajari berkurban, tetapi jangankan merelakan hak kita diambil untuk kepentingan umum, yang terjadi justru hak umum diambil untuk kepentingan pribadi. Jalan-jalan yang mestinya untuk umum dipakai untuk kepentingan pribadi. Aset negara yang mestinya untuk kepentingan umum dikorupsi dengan berbagai cara.

Maka, di mimbar yang mulia hari raya qurban ini, mari kita terus  menerus belajar berkurban. Berkurban untuk membangun kekuatan agar lebih dari satu milyar kaum muslimin ini tidak kalah dengan ratusan juta orang yang bertolong menolong membangun perusahaan resto terbesar dunia. Potensinya luar biasa besar. Kita butuh pengurbanan untuk mengubah potensi tersebut menjadi kenyataan. Allahukbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Jamaah rahimakumullah, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersimpuh di hadapan Allah SWT. Memohon ampunan atas segala kekhilafan kita. Memohon kekuatan untuk meuwujudkan kekuatan umat termasuk dalam sumber sumber ekonomi.  Agar kita dikaruniai kekuatan seperti kekuatan Sahabat besar Utsman Bin Affan ketika beliau membeli sumur milik Yahudi sehingga kaum muslim tidak tergantung kebutuhan airnya kepada orang yahudi. Allahumma aamin.

Ulang “Anti Mainstream” Tahun


Ulang “Anti Mainstream” Tahun

Oleh Iman Supriyono

Cleo. Merek ini menggebrak pasar air minum dalam kemasan (AMDK) dengan menampilkan identitas warna oranye. Berbeda sekali dengan mainstream AMDK yang cenderung biru atau hijau. Dengan strategi anti mainstreamnya, merek besutan PT Sariguna Primatirta ini pun diterima pasar.  Pabrik demi pabrik di berbagai lokasi terus dibangun. Merek milik perusahaan yang juga dikenal dengan nama Tanobel ini tidak mau bermain di harga murah sebagaimana umumnya pemain baru di tengah dominasi merek Aqua.  Dengan konsep produk  yang berbeda dari mainstream…si oranye pun sukses diterima pasar AMDK.

Tapi kali ini saya tidak sedang menulis tentang bisnis. Saya sedang menulis tentang sikap anti mainstream.  Sebuah sikap yang  jika ditarik kebelakang, bagi saya dan Anni Muttamimah, istri saya, sudah mendarah daging sejak dulu kala.  Berikut ini sekedar beberapa contoh sikap anti mainstream itu:

  • Orang pada umumnya berpola kuliah-lulus-kerja-nikah. Saya berbeda. Saya sudah berbisnis sejak kuliah. Saat sudah yakin dengan kemampuan mencari nafkah, saya pun menikah saat masih kuliah. Wisuda dari Teknik Mesin ITS dengan dua anak. Istri saya wisuda dari teknik Kimia ITS saat hamil anak keempat. Sikap anti mainstream ini adalah kelanjutan dari anti mainstream sebelumnya: tidak mengenal pacaran. Kami menikah tanpa pacaran. Cukup diselidiki latar belakang calon, setelah yakin baik, langsung lamaran dan akad nikah.
  • Para lulusan sarjana pada umumnya melamar di perusahaan atau instansi pemerintah sebagai pegawai. Inilah mainstream. Saya tidak. Saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur sejak semester 3 kuliah. Tidak mau menjadi pegawai.
  • Pasangan suami istri pada umumnya memutuskan untuk hanya memiliki dua atau tiga anak. sedikit anak. Inilah mainstream. Kami-saya dan istri-tidak. Kami memeutukan untuk memiliki banyak anak. Pada usia 23 tahun pernikahan saat ini, alhamdulillah kami dikarunia 7 anak yang sehat sehat-sehat, pintar-pintar, dan ini yang paling penting: sholeh dan sholihah.
  • TV sudah menjadi kebutuhan keluarga. Bahkan tiap kamar ada TV. Itulah mainstream. Kami-saya dan istri- berbeda. Saya hampir tidak pernah nonton TV sejak kulaih. Keluarga kami adalah keluarga tanpa TV sejak pernikahan hingga hari ini. Pengisi waktu senggang kami sekeluarga adalah membaca. Bukan nonnton TV.
  • Orang tua pada umumnya memberikan uang saku tiap hari kepada anak-anaknya yang sekolah. Inilah mainstream. Kami tidak. Saat masih tinggal bersama orang tuanya, anak anak tidak dijatah uang saku. Sebelum berangkat sekolah sudah makan pagi. Jika jam sekolahnya tidak melewati jam makan siang maka anak-anak makan siang di rumah. Jika jam sekolah melewati jam makan siang membawa bekal makan siang dari rumah. Tidak ada jatah uang saku. Ada uang saku hanya sesekali saja. Bukan jatah.

Anti Mainstream: Cleo hadir dengan warna oranye, berbeda dengan mainstream AMDK yang cenderung biru-hijau. Gambar dari http://www.cleopurewater.com

 

  • Pasangan suami istri pada umumnya akan menahan anak-anaknya untuk tetap tinggal bersama orang tua bahkan sampai kuliah. Inillah mainsream. Daftar ke perguruan tinggi pun diantar orang tua. Kami tidak. Kami “mengusir” anak-anak dari rumah sejak lulus SMP dan bahkan kemudian sejak lulus SD. Sampai anak nomor 3, selulus SMP yang tidak jauh dari rumah, mereka kemudian “diusir” untuk sekolah dan tinggal di luar negeri sejak SMA. Bahkan mulai anak nomor 4 lulus SD sudah “diusir” untuk sekolah dan tinggal di pondok pesantren di luar kota saat masuk SMP.
  • Molornya jadual juga menjadi mainstream. Undangan jam 9 acara baru dimulai jam 10. Itu mainstream. Saya tidak. Sejak kuliah aktif di kegiatan kemahasiswaan saya biasa menyelenggarakan acara dengan dimulai tepat waktu seperti yang tertera di undangan. Ketepatan waktu juga menjadi standar sikap hingga saat ini.  Tepat waktu memulai meeting dengan perusanaan klien SNF Consulting, kantor saya. Ada kesepakatan bayar denda untuk amal sosial bagi peserta meeting yang terlambat walaupun hanya satu menit. Tepat waktu saat janjian dengan siapapun.  Tepat waktu dalam sholat-sesuai jadual astronomis- berjamaah di masjid.
  • Dan lain-lain masih banyak sekali daftar anti mainstream saya –biasanya kompak dengan istri.  Jika diperpanjang bisa jadi berhalaman-halaman nih tulisan hehehe.

 

Sikap anti mainstream bukan sekedar asal berbeda.  Selalu ada alasan yang kuat, logis dan ilmiah terkait dengan sikap tersebut. Ini yang membuat saya –dan istri- yakin, pede dan tidak sedikitpun  ragu. Tentu memalui proses yang panjang sampai pada keyakinan seperti itu. Saya sangat terinspirasi oleh wahyu Ilahi ini “dzalika al-kitab. Laa roiba fiih”.  Inilah kitab. Tidak ada keraguan di dalamnya.  Saya mempelajari segala sesuatu sampai bener-benar yakin.  Laa roiba fiih. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Maka, sikap anti mainstream pun dijalani dengan la roiba fiih. Tanpa ragu.

Terus…. bagaimana menjaga keharmonisa hubungan dengan orang lain dan para sahabat terkait sikap yang berbeda? Dalam hal ini saya yakin bahwa dalam berhubungan dengan siapapun, selalu ada dua hal yang tidak bisa dihindari: persamaan dan perbedaan. Hubungan dengan orang lain akan kokoh bila berfokus pada persamaan dan bertoleransi terhadap perbedaan. Persamaaan dikerjakan bareng-bareng. Perbedaan  disikapi dengan toleransi.  Saling memberi kesempatan agar siapapun bisa menjalani perbedaan dengan nyaman. Inilah yang membuat hubungan dengan siapapun akan menyenangkan. Sahabat makin banyak, makin erat, dan makin kokoh.

@@@

Kemarin, sejak pagi banyak sekali sahabat yang memberikan ucapan selamat ulang tahun alias milad kepada saya. Terima kasih atas perhatian dan do’a-doa’a baiknya.  Semoga kebaikan serupa dan bahkan lebih baik juga dianugerahkan kepada para sahabat. Tetapi, mohon maaf, dalam perkara ini saya lagi-lagi anti mainstream. Saya tidak pernah menganggap tanggal kelahiran sebagai sesuatu yang penting. Tidak ada peringatan dan ucapan selamat ulang tahun di keluarga kami.

Mengapa demikian? Sebagaimana sikap anti maintraim pada berbagai hal, saya dan istri sudah mempelajarinya dengan seksama. Ini standar.  Saya mempelajari dari mana asal-usul tradisi ulang tahun. Mempelajari juga tentang sejarah penanggalan yang biasa digunakan untuk tradisi ulang tahun. Mempelajari bagaimana sikap tokoh-tokoh teladan dalam tradisi ini. Nabi Muhammad SAW adalah tokoh teladan yang saya-dan istri- selalu jadikan sebagai referensi utama. Pendek kata, segala sesuatu terkait tradisi ulang tahun saya pelajari secara komprehensif sampai pada sebuah kesimpulan yang laa roiba fiih. Tidak ada keraguan di dalamnya. Mantap bahwa kami sekeluarga tidak ada tradisi ucapan atau peringatan ulang tahun. Setiap hari adalah istimewa. Istimewa untuk diisi dengan perbuatan yang makin bermanfaat bagi sesama. Dalam rangka beribadah kepada-Nya.  Istimewa karena hari ini tidak akan terulang kembali.

Kalau tidak saat ulang tahun, kapan mendoakan para sahabat? Saya membiasakan diri untuk mendoakan untuk kebaikan  dunia akhirt para sahabat setiap selepas sholat.  Termsuk sholat tahajud. Mendoakan kebaikan semua sahabat. Kadang saya doakan secara umum, kadang saya sebut satu demi satu. Setiap saat, tidak menunggu ulang tahun.

Terus, apakah tidak ada momen istimewa secara personal untuk kelaurga dan sahabat? Tentu ada.  Untuk anak-anak, prestasi sekolah misalnya adalah saat tepat untuk memberikan ucapan selamat secara personal. Untuk kawan-kawan pebisnis, buka gerai baru atau wilayah pasar baru misalnya adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucapan selamat. Bagi teman profesional, pencapaian terget atau promosi jabatan adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucaman selamat dan perhatian secara personal.

Lalu, apakah perbedaan sikap dalam ulang tahun alias milad alias birth day alias  ambal warso ini harus membuat kerenggangan persahabatan? Apakah sikap anti mainstream harus mengganggu persahabatan? Tidak. Seperti Cleo, anti mainstream yang tepat justru akan mendatangkan hasil yang luar biasa.  Anti mainstrain dengan sikap yang tepat antara persamaan dan perbedaan, bikin persahabatan tetap terjalin erat dan makin hangat. Sekali lagi….terima kasih atas doa-doa kebaikan kawan semua. Mohon maaf atas perbedaan. Semoga persahatan kita makin erat, makin kokoh, dan makin memberi manfaat pada sesama dalam naungan ridho-Nya.  Sukses dunia akhirat untuk sahabat semua. Aamin.