Asing, Aseng, Penguasaan Ekonomi dan Analogi Sepak Bola


Tarian 10 jemari saya di atas keybord laptop kali ini dipicu oleh komentar seorang kawan terhadap posting saya di Facebook tentang tetangga kantor SNF Consulting. Setelah kemarin saya poting tentang Regus, pagi ini Vivo. Komentar yang saya maksud adalah terhadap perusahaan asal RRC ini.  Saya posting logo Vivo dengan caption bahwa karena berkantor persis di depan kantor SNF Cosulting, maka jangan heran akan banyak orang bercakap menggunakan bahasa Mandarin di lorong depan kantor hingga lift menuju lobi gedung. Mereka adalah staf kantor pusat Vivo. Kawan ini berkomentar “Semoga yang menyaksikan mereka hilir-mudik itu tidak ada yang mbatin “Bangsa kita dikuasai aseng””.  Maka saya menuliskan isu menarik ini dalam poin-poin berikut ini

Hasil gambar untuk vivo logo

Vivo yang telah “mencetak gol” di gawang kita. Saatnya mencetak “gol balasan” agar kita menang

  1. Bahwa sudah sejak sekitar 150 tahun lalu perusahaan-perusahaan di berbagai belahan dunia menyadari bahwa masuk dan melayani pasar berbagai negara adalah keharusan untuk memenuhi skala ekonomi. Meningkatkan volume produksi sehingga barang dan jasa bisa dijual kepada masyarakat luas seluruh dunia dengan harga yang terjangkau. Unilever misalnya, agar biaya riset untuk menghasilkan produk baru bisa dibebankan pada setiap unit produk dengan harga murah maka dalam setahun dua tahun setelah diluncurkan, produk tersebut harus terjual ke pasar lebih dari 20  Itulah mengapa hanya perusahan sekelas Unilever yang mampu membiayai riset secara berkelanjutan untuk menghasilkan temuan baru di bidang bisnisnya
  2. Untuk memenuhi kebutuhan eskpansi ke berbagai negara tersebut, perusahaan membutuhkan modal dalam jumlah besar dengan biaya modal (cost of capital) murah. Ini tidak bisa dipenuhi kecuali perusahaan melakukan korporatisasi secara terus-menerus. Itulah mengapa penguasa pasar dunia dipenuhi oleh perusahaan-perusahaan fully public company yang tidak ada pemengang saham pengendali hasil dari proses korporatisasi secara terus-menerus
  3. Kini adalah era dimana komunikasi melalui internet, transportasi dan akomodasi antar negara menjadi sangat murah sehingga bepergian ke luar negeri makin terjangkau oleh makin banyak orang. Akibatnya, dunia cenderung seragam. Merek yang dikenal di sebuah negara dengan mudah juga akan dikenal di negara-negara lain di seluruh dunia. Batas-batas negara bagi anak-anak milenial hanyalah sekedar masalah paspor. Saya merasakan betul melalui anak-anak saya yang sejak SMA sudah belajar dan tinggal di negara-negara lain.
  4. Dalam kondisi makin pudarnya batas-batas antar negara, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan dari luar negeri. Analoginya jadi seperti pertandingan sepak bola. Dalam permainan bola, pemenenangnya bukanlah kesebelasan yang gawangnya sama sekali tidak dibobol lawan. Pemenangnya adalah kesebelasan yang membobol gawang lawan lebih banyak dari pada gawangnya dibobol lawan. Kesebelasan yang menghabiskan energi agar gawangya tidak dibobol lawan justru tidak mungkin menang karena kehilangan daya untuk menyerang
  5. Di dunia bisnis, pemenang persaingan bukanlah negara yang sama sekali tidak dimasuki produk atau perusahaan asing. Pemenang adalah negara yang produk dan perusahaannya masuk ke pasar asing lebih banyak dari pada perusahaan atau produk asing masuk ke negerinya. Ini adalah hukum bisnis baru era milenial yang tidak bisa dihindari
  6. Maka, kita tidak akan memang jika menghabiskan energi untuk menahan masuknya produk atau perusahaan asing karena akan kehilangan daya serang. Sadarlah bahwa masuknya produk atau perusahaan asing sudah terjadi sejak pra kemerdekaan dan tidak mungkin dihindari. Sepatu Bata misalnya sudah masuk ke tanah air jauh sebelum kemerdekaan sedemikian rupa hingga merek dari Republik Cheko ini sering dianggap sebagai merek lokal
  7. Sekedar ilustrasi tambahan, kita sering mendengar protes mengapa bank-bank kita tidak bisa masuk pasar Malaysia dan Singapura sementara bank mereka masuk ke pasar RI sampai ke kota-kota kecil. Ini adalah kesalahan kita sendiri. Selama ini kita berpikir bahwa masuk ke pasar Malaysia atau Singapura adalah dengan membuka kantor cabang Bank Mandiri atau bank lokal lain di negeri jiran tersebut. Ini adalah pemikiran salah dalam bisnis. Masuk ke pasar luar negeri adalah melalui akuisisi perusahaan setempat. Maybank menyiapkan diri secara internal melalui korporatisasi sehingga mampu mengakuisisi bank BII yang kemudian diubah menajadi Maybank. Bank OCBC Singapura masuk melalui akuisisi bank NISP yang kemudian diubah menjadi bank OCBC NISP. Mereka masuk ke pasar RI melalui strategi logis akuisisi. Sementara Bank Mandiri dkk. tidak bisa melakukannya karena cost of capital tinggi akibat proses korporatisaasinya berhenti
  8. Tentang masuknya perusahaan perusahaan RRC ke RI itu adalah konsekuensi logis dari kekuatan ekonomi dunia. Dulu ketika negara dengan kekuatan ekonomi nomor dua dunia adalah Jepang, maka negeri Matahari Terbit inilah yang paling rajin masuk ke pasar RI setelah si nomor satu USA. Kini karena RRC sudah menggeser Jepang dan menjadi kekuatan ekonomi nomor dua maka wajar jika perusahaan-perusahaan RRC menyusul USA menguasai pasar negeri ini. Mereka masuk dengan mengandalkan cost of capital yang murah untuk mendukung strategi harga produk murahnya. Sebuah alternatif untuk strategi akuisisi. Inilah juga yang dilakukan oleh Vivo yang berkantor di depan kantor SNF Consulting
  9. Jika masuknya perusahaan-perusahaan USA dibarengi dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Inggris, wajar jika masuknya Vivo juga diikuti dengan masuknya personel-personel mereka yang berbahasa Mandarin
  10. Maka, fokuslah pada penguatan perusahaan-perusahaan RI untuk bisa masuk ke pasar dunia dengan cost of capial rendah yang hanya mungkin dilakukan melalui korpooratisasi. Pelajari, pahami dan lakukan korporatisasi secara terus-menerus pada perusahaan-perusahaan RI agar berkemampuan membobol gawang lawan. Beberapa sudah mulai seperti Alfamart yang masuk Filipina atau Ciputra yang masuk Vietnam. Perusahaan-perusahaan lain harus segera menyusul. Ituah peran Anda para pengelola perusahaan
  11. Bagaimana peran individu? Korporatisasi perusahaan membutuhkan dana besar dari para investor. Munculnya dana besar hanya bisa terjadi pada masyarakat berbudaya investasi. Peran individu adalah menjadikan diri sendiri berbudaya investasi. Teknisnya adalah menyisihkan pendapatan bulanan paling tidak 10% untuk berinvestasi menjadi pemegang saham berbagai perusahaan baik perusahaan listed di lantai bursa maupun perusahaan yang belum listed. Anda harus melakukannya sejak gaji pertama. Jika terlanjur, hitunglah seluruh gaji Anda sejak gaji pertama dan segera sisihkan 10% dari seluruh gaji tersebut sebagai investasi dengan memiliki saham berbagai perusahaan. Logikanya mirip qodho dalam puasa. Jika karena sebuah alasan Anda tidak bisa puasa ramadhan, Anda wajib membayarnya di kemudian hari. Wajib puasa qodho. Terapkan logika ini pada investasi dari gaji.
  12. Orang yang melakukan investasi suatu saat pendapatan dividennya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat inilah Anda disebut bebas finansial. Jadi, budaya investasi mengandung manfaat bagi kekuatan ekonomi negara sekaligus manfaat bagi keuangan pribadi. Jangan hanya marah dengan menyalahkan asing dan aseng. Bertindaklah secara pribadi dengan menjadi investor. Bertindaklah sebagai pengelola perusahaan dengan melakukan korporatisasi. Jelas son? Hehehe… Ayo segera cetak gool….

Ditulis di SNF Consulting,  21 Maret 2019. SNF Consulting adalah perusahaan konsultan manajemen untuk korporatisasi perusahaan.

Jual Beli Saham, Halal atau Haram?


Pertanyaan ini sering  muncul di berbagai kesempatan. Saya harus menjawabnya tetapi saya bukan ahli fiqh. Maka, jawaban itu sebenarnya kembali kepada Anda para pembaca. Tulisan ini akan mempermudah Anda mengambil kesimpulan:

Gambar terkait

BEI, tempat ditransaksikannya saham perusahaan-perusahaan publik di Indonesia

  1. Saham adalah satuan kepemilikan badan hukum perseroan terbatas (PT). Mengaharamkan saham berarti mengharamkan keberadaan PT. Saya belum pernah membaca fatwa ulama fiqh yang mengharamkan badan hukum PT.
  2. Karena saham adalah aset yang halal maka memilikinya dengan cara yang halal (melalui jual beli, hibah atau wakaf) juga halal
  3. Orang yang sepenuhnya memiliki aset halal bisa menjualnya sewaktu-waktu kepada siapapun dengan harga berapapun dengan alasan apapun. Misalnya Anda baru saja membeli aset berupa laptop dan laptop tersebut sudah sepenuhnya Anda miliki. Terhadap laptop itu Anda bisa menjualnya kapan saja kepada siapa saja dengan harga berapa saja dengan alasan apapun sesaat setelah Anda memilikinya. Tidak ada batas waktu minimum kepemilikan untuk bisa menjualnya kembali.
  4. Apa yang berlaku untuk aset berupa laptop di atas juga berlaku untuk saham. Syarat yang paling penting adalah bahwa saham tersebut sudah benar-benar Anda miliki sepenuhnya
  5. Apa tanda kepmilikan saham? untuk perusahaan yang tercatat di lantai bursa Anda tandanya adalah nama Anda tercatat dalam daftar pemegang saham di KSEI (Kustodian Sentral Efek Indonesia). Nama Anda akan tercatat jika Anda memembelinya melalui rekening dana investasi atau rekening dana nasabah (RDI/RDN). RDI/RDN adalah rekening di bank yang khusus dipergunakan untuk bertransaksi saham yang bisa dibuat/dibuka melalui perusahaan sekuritas resmi
  6. Tanda kepemilikan saham untuk perusahaan yang belum tercatat di lantai bursa adalah nama Anda tercatat di akta perusahaan sesuai dengan jumlah lembar saham yang Anda miliki.
  7. Jika telah benar-benar memiliki saham sebuah perusahaan, maka Anda akan diundang saat RUPS dan menerima transferan dana saat perusahaan memperoleh laba dan membagikan dividen. Transferan dana dividen akan dilakukan ke RDI/RDN untuk perusahaan yang tercatat di lantai bursa.  Perusahaan akan membagi sekian persen dari laba tahunan sebagai dividen sesuai dengan keputusan RUPS yang diambil berdasarkan voting proporsional kepemilikan saham. Penentuan persentase ini dilakukan berdasarkan program kerja investasi direksi yang telah disetujui oleh RUPS
  8. Di negara modern yang perusahaan-perusahaannya melakukan proses korporatisasi secara berkelanjutan, perusahaan akan terus-menerus membesar. Terus-menerus membesar karena terus menggelontorkan dan investasi untuk ekspansi yang jauh lebih besar dari laba perusahaan. Sumber dananya dari terus -menerus menerbitkan saham baru yang dibeli oleh para investor. Pada masyarakat seperti itu, setiap orang adalah pekerja dan setiap pekerja adalah investor. Seorang pekerja disebut bebas finansial jika pendapatan dividen dari saham yang dimilikinya sudah cukup untuk membaiayai kebutuhan hidup sehari-hari
  9. Lalu mengapa sering terdengar pendapat bahwa saham itu haram? Ini terjadi karena banyak orang tidak bisa membedakan antara transaksi jual beli saham sebagaimana penjelasan pada poin-poin diatas versus berjudi menggunakan patokan harga saham. Perjudian  bisa dilakukan dengan patokan skor bola, kemenangan pemilihan kepala desa, pemilihan presiden, suara tokek, dan masih banyak lagi. Fluktuasi harga saham bisa menjadi salah satunya.
  10. Ciri yang paling mudah untuk mengenali perjudian saham adalah bahwa si “pembeli” maupun “penjual” tidak benar-benar memiliki saham. Sekedar contoh, Anda sepakat untuk membeli saham Alfamart kepada saya sebanyak seribu lembar dengan harga Rp 900,- sesuai harga pasar saham saat transaksi sehingga total adalah Rp 900 000,-. Transaksi tersebut disertai kesepakatan antara Anda dan saya bahwa Anda bisa menjual kembali saham tersebut kepada saya sewaktu-waktu yang Anda maui dengan harga sesuai pasar. Saya menerima uang itu tanpa memberikan saham Alfamart kepada Anda. Kenapa? Karena saya memang tidak memiliki saham itu. Transaksi hanya mencatat bahwa Anda punya 1000 lembar saham Alfamart. Nama Anda tidak ada di daftar pemegang saham Alfmart di KSEI. Anda juga tidak pernah akan diundang RUPS Alfamart. Suatu saat harga saham Alfamart naik. Katakan menjadi Rp 1000 perlembar. Ketika itu Anda menyampaikan kepada saya mau menjual dan sesuai kesepakatan saya harus membeli kembali saham itu dengan harga pasar maka Anda akan menerima Rp 1 juta dari saya.  Anda untung Rp 100 ribu. Inilah transaksi perjudian saham yang saya yakini keharamannya. Dalam permisalan ini saya berperan sebagai bandar.
  11. Bagaimana, sudah jelas? Mari tegakkan budaya investasi. Anggarkan minimal 10% gaji bulanan Anda untuk berinvestasi saham berbagai perusahaan. Lakukan terus menerus sampai kapanpun. Suatu saat pendapatan dividen Anda akan cukup untuk biaya hidup. Anda telah bebas finansial. Nanti ketika Anda meninggal, sesuai undang-undang saham yang Anda miliki dengan mudah akan jatuh ke tangan ahli waris. Jika Anda telah bebas finansial, ahli waris Anda pun akan bebas finansial pada usia yang jauh lebih muda. Inilah manfaat pribadi disamping manfaat penguatan ekonomi bangsa. Budaya investasi akan membuat perusahaan mudah melakukan korporatisasi dan menjadi perusahaan prinsipal besar-besar menguasai pasar dunia pada bidangnya masing-masing. Alfamart mampu berekspansi ke Filipina dengan dana para investor saham. Ini yang perlu terus-menerus digalakkan agar makin banyak perusahaan-perusahaan di negeri ini yang menguasai pasar dunia dan memompakan kesejahteraan dari berbagai belahan dunia. Menguatkan ekonomi dan menguatkan rupiah. Anda mau berperan?

Ditulis di SNF Consulting, 12  Maret 2019

Investment Company on Waiting: Muhammadiyah Management Company


Muhammadiyah Management Company alias MMC. Judul tilisan ini sengaja saya miripkan dengan nama sebuah perusahaan investasi milik Havard University. Harvard Mangement Company alias HMC. Mengapa? Karena menurut pendapat saya berdasarakan data, sejarah dan bencmark berbagai perusahaan berbagai bidang di berbagai negara, HMC adalah model yang paling tepat bagi Muhammadiyah. Tepat untuk membangun pilar ketiga setelah pendidikan dan kesehatan.

Hasil gambar untuk muhammadiyah

Muhammadiyah punya potensi besar untuk hadirnya investment company sekelas Temasek. Syaratnya: tidak terus menunggu.

Pilar ketiga adalah tentang next step bagi  Muhammadiyah sebagai sebuah organisasi. Pilar pendidikan manfaatnya sudah sangat rirarakan oleh negeri ini. Bahkan di luar negeri. Saya pernah mengunjungi sekolah Muhammadiyah di Singapura. Negeri maju ini pun merasakan manfaat dari keberadaan Muhammadiyah.

Tentang pilar kesehatan juga sudah dirasakan oleh negeri ini. Kehadiran rumah sakit maupun poliklinik Muhammadiyah sudah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat tidak hanya di kota-kota besar. Tetapi juga hingga ke kampung-kampung. Pilar ini sudah mapan. Walaupun untuk saat ini pertumbuhannya kalah kencang dibanding Siloam yang menggunakan metode korporatisasi. Mendirikan rumah sakit dengan dana dari investor yang rela menerima dividen hanya sekitar 2% per tahun tanpa minta uangnya kembali.

Mengapa HMC paling tepat? Paling tidak ada dua kesamaan. Pertama, karena baik Muhammadiyah maupun Harvard University keduanya adalah sama-sama organisasi nirlaba. Organisasi yang didirikan sepenuhnya untuk misi sosial. Misi  membantu masyarakat. Pendirian HMC bagi Harvard University bukan untuk maksud menumpuk kekayaan. Bukan untuk maksud agar perguruan tinggi ternama dunia itu memperoleh laba. Tetapi untuk maksud mengokohkan Harvard University dalam menjalankan misi pendididikannya.

Kedua, Muhammadiyah dan Harvard merupakan institusi perintis dan terdepan dalam dunia pendidikan di negerinya masing-masing. Harvard University adalah perguruan tinggi tertua di USA. Sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah juga merupakan institusi pendidikan perintis dan terdepan di bumi pertiwi.

Lalu bagaimana agar Muhammadiyah memiliki sebuah perusahaan investasi dengan aset sekitar Rp 400 T seperti HMC?  Berikut ini adalah langkah-langkah yang harus ditempuhnya. Pertama tentu saja mendirikan badan hukum perseroan terbatas yang bergerak sebagai perusahaan investasi. Misalkan sebagaimana judul tulisan ini perusahaan tersebut diberi nama MMC. Sebagaimana HMC, 100% saham MMC harus dimiliki oleh Persyarikatan Muhammadiyah. Dengan demikian, Muhammadiyah  harus benar-benar memasukkan uang sebagai  modal disetor kepada MMC.

Secara teknis legal angkanya adalah 99,9999%. Sampai kapanpun, saham MMC tetap dipertahankan 100% milik Muhammadiyah sebagaimana Temasek dan Khazanah, sesama perusahaan investasi yang 100% sahamnya masing-masing tetap 100%  dimiliki oleh pemerintah Singapura dan Malaysia.

Kedua, modal disetor untuk tahap pertama adalah senilai aset investasi yang hasilnya cukup untuk biaya operasional MMC. Contoh aset yang paling aman adalah properti di kawasan bisnis. Misalnya berupa tanah atau gedung di kawasan bisnis yang bisa disewakan dengan harga sekitar Rp 500 juta per tahun. Rp 500 juta bisa digunakan untuk menggaji seorang staf legal merangkap administrasi dan biaya perjalanan direktur selama setahun. Gedung atau properti seperti ini nilainya adalah sekitar Rp 10 M. Inilah modal setor pendirian MMC yang harus disediakan oleh Muhammadiyah.

Ketiga, secara paralel, Muhammadiyah harus mengurus sertifikat sebagai nadzir wakaf. Nadzir ini selanjutnya akan bekerja mengumpulkan dana warga persyarikatan secara terus menerus melalui program wakaf untuk amal jariyah. Persis seperti Harvard University yang juga menerima dana endowment fund terus menerus. Sebagai aset, endowment fund berkarakter sama dengan wakaf. Uang ini selanjutnya dimasukkan sebagai modal setor untuk MMC. Dividen MMC akan digunakan oleh Muhammadiyah untuk membiayai kegiatan sosial dan dakwah sebagai mauquf ilaihi alias penerima manfaat wakaf.

Keempat, dana yang terus menerus ditambah dan meningkatkan modal sator MMC akan dikelola sebagai investasi dengan konsep portofolio. Tidak menaruh telor dalam satu keranjang. Sebagaimana HMC, MMC mesti menginvestasikan dananya sekitar 50% berupa saham di berbagai perusahaan, listed maupun non listed company. Sekitar 15% untuk aset properti yang disewakan. Dan selebihnya sekitar 35% untuk sukuk (obligasi syariah) dan lain-lain. Khusus tentang portofolio ini bisa dipelajari secara lebih detail melalui apa-apa yang telah dilakukan oleh HMC, Temasek dan Khazanah.

Jika empat langkah ini terus-menerus dilakukan, MMC bisa lebih cepat tumbuh daripada HMC. Mengapa? Karena MMC memiliki basis jamaah yang jauh lebih banyak daripada HMC. Jika HMC memiliki aset sekitar Rp 400T dengan imbal hasil (return tahunan) sekitar Rp 40T saat usianya 45 tahun, Muhammadiyah saya kira bisa mencapainya dalam 30 tahun saja. Yang penting harus segera dimulai. Tidak terus-menerus menunggu. Semoga.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Penjualan Saham Miras Pemprov Jakarta dan Investment Company


Kepemilikan saham Pemprov Jakarta pada perusahaan produsen minuman keras PT Delta Djakarta Tbk. sedang menjadi polemik. Pemprov Jakarta bermaksud untuk menjualnya di tengah suara DPRD Jakarta ingin mempertahankankannya. Tulisan ini akan membahas bagaimana seharusnya keputusan terbaiknya berdasarkan pertimbangan bisnis berbasis data dan benchmark yang tepat. Data-data yang disampaikan adalah yang tersedia pada bank data korporasi SNF Consulting, kantor tempat saya berkarya.

Hasil gambar untuk anker bir

Anker Bir: Bisnis barang haram yang mendatangkan dividen besar untuk Pemerintah Provinsi Jakarta

  1. PT Delta Djakarta Tbk. didirikan tahun 1932 sebagai perusahaan bir Jerman bernama Archipel Brouwerij NV. Perusahaan ini kemudian dibeli oleh sekelompok usaha Belanda dan diubah namanya menjadi NV De Oranje Brouwerij. Nama Delta Djakarta dipakai sejak 1970. Delta Djakarta mencatatkan diri di lantai bursa tahun 1984 dengan kode DLTA. Tahun 1990-an penanaman modal asing mengalir deras ke Indonesia. Saat itulah perusahaan bir San Miguel Corporaatioan dari Philipina menjadi pemegang saham pengendali. San miguel menajadi induk perusahaan (parent company) dan Delta menjadi anak perusahaan (subsidiary).
  2. Saham perusahaan yang dikenal dengan merek Anker Bir ini saat ini dimiliki oleh San Miguel sebesar 58,33%, Pemprov Jakarta sebesar 23,34% dan BP IPM Jaya (perusahaan yang dikendalikan oleh Pemprov Jakarta) sebesar 2,91%. Dengan demikian total Pemprov Jakarta memegang 26,25% saham DLTA. Sisanya dipegang oleh publik sebesar 15,42%.
  3. DLTA adalah anak perusahaan San Miguel. San Miguel adalah perusahaan publik di Philiphina dengan kapitalisasi pasar sebesar PHP 421 Milyar (Rp 114T). Secara manajemen, sebuah perusahaan induk akan cenderung menguasai saham perusahaan anak mendekati 100%. Tujuannya agar anak perusahaan benar-benar bisa dikontrol sepenuhnya sesuai dengan strategi si induk. Bahkan jika mengakuisisi sebuah perusahaan yang semula publik, induk akan melakukan tender offer untuk membeli seluruh saham dengan harga Akhirnya si anak pun akan ditarik dari lantai bursa alias delisted. Inilah yang misalnya dilakukan Danone terhadap Aqua dari lantai bursa Indonesia atau IHH Malaysia yang menarik Mounth Elizabeth Hospital dari lantai bursa Singapura.
  4. Saat ini nilai pasar seluruh saham DLTA adalah Rp 5,26 T dengan dividend yield 3,95%. Dengan angka ini saat ini nilai pasara seluruh saham Pemprov Jakarta adalah sekitar Rp 1,38T dan menerima sekitar Rp 54 M pada pembagian dividen terakhir.  Prosentase kepemilikan Pemprop Jakarta menunjukkan fungsinya sebagai murni investor institusi. Rumus logis investor adalah penyebaran portofolio investasi dengan doktrin “jangan taruh telormu pada satu keranjang”. Dengan doktrin ini, adalah sebuah kesalahan jika aset senilai Rp 1,38T hanya ditaruh di “keranjang” Anker Bir. Ini mengacu pada apa yang dilakukan perusahaan-perusahaan investasi (investment company, IC) seperti Berkshire Hathaway, Fidelity, Black Rock, Vanguard dalam skala global, atau Saratoga di Indonesia.
  5. Tata kelola ekonomi modern menuntut adanya regulator alias wasit yang kuat. Tuntutan akan regulator yang kuat ini tidak mungkin dipenuhi jika regulator juga ikut menjadi pemain dalam dunia bisnis. Prediksi saya, peran negara dalam bisnis  kedepan akan makin mengikuti pola seperti yang dilakukan oleh Malaysia melalui Khazanah Holding atau Singapura melalui Temasek Holding. Peran negara di dunia bisnis dilakukan melalui IC seperti Khazanah atau Temasek. Ini cocok karena IC tidak mengendalikan perusahaan yang sahamnya dipegang. Hanya mau memegang saham dalam prosentase kecil. Kehadiranya dalam dunia bisnis murni sebagai investor. Jika antara dua perusahaan atau lebih yang bergerak pada bidang yang sama selalu bersaing adu kepala, tidak demikian dengan sesama IC. Sesama IC akan selalu bergandeng tangan dalam berinvetasi agar bisa masuk dalam prosentase kecil-kecil. Semua perusahaan-perusaan global selalu dimiliki oleh nyaris semua IC di dunia. IC tidak mau menaruh telor pada satu keranjang. Dengan demikian, peran negara di sektor bisnis melalui IC tidak mengganggu perannya sebagai regulator. Sebagai wasit yang tidak merangkap pemain.
  6. Tiga hal diatas – induk perusahaan yang maunya menguasai 100%, Pemprov jakarta yang selama ini berperan layaknya sebuah IC di DLTA dan benchmark terhadap Khazanah dan Temasek- menjadikan keputusan menjual saham Pemkot di DLTA adalah sebuah keniscayaan dalam struktur bisnis modern. Tidak ada alternatif lain.
  7. Pemprov DKI butuh bantuan pihak yang menguasai proses korporatisasi untuk menjual sahamnya di DLTA kepada San Miguel. San miguel pasti sangat menyukai karena dana untuk membeli DLTA bisa diperoleh denga mudah dan murah melalui lantai bursa Philipina. Rumus penjualan saham berbeda dengan menjual barang. Jika menjual barang volume besar justru mendapatkan diskon, maka menjual saham volume besar seperti saham DLTA yang dimiliki Pemprof Jakarta justru akan ada premium. Harganya jauh diatas harga pasar. Pemprov bisa mendapatkan dana Rp 2 T lebih untuk saham yang harga pasarnya saat ini Rp 1,38T. Untuk memmperoleh Rp 2T San Miguel cukup menerbitkan saham baru sebesar tidak lebih dari 2%.
  8. Sesuai benchmark Khazanah dan Temasek, uang hasil penjualan tersebut harus langsung dipakai sebagai modal setor pendirian sebuah IC. IC tesebut 100% dimiliki oleh Pemprov Jakarta. Persis seperti Temasek dan Khazanah yang juga dimiliki sepenuhnya oleh pemerintah Singapura dan Malaysia.
  9. Selanjutnya, IC milik pemprov Jakarta ini sepenuhnya berstrategi persis seperti IC pada umumnya. Seperti Temasek, Khazahan, Saratoga,  Berkshire Hathaway, State Street, Fidelity dll. Pendapatan IC adalah dari dividen perusahaan-perusahaan yang sahamnya dipegang plus capital gain saat saham tersebut dijual. Total returnya akan jauh dari prosentase dividen yang saat ini diperoleh Pemkot Jakarta. Disinilah letak stratejik penjualan saham DLTA milik Pemprov Jakarta. Bonusnya, dengan berperan sebagai IC, dana tersebut akan efektif untuk mendorong pertumbuhan berbagai perusahaan nasional melalui proses korporatisasi. IC adalah bagian utama dari proses korporatisasi membesarnya berbagai perusahaan menajdi perusahaan prinsipal yang menguasai pasar dunia.
  10. Salah satu kepentingan IC adalah menginestasikan sekitar 0,1 – 0,3% dari dana kelolaanya pada start up. Dengan demikian, penjualan saham Anker Bir lalu menjadikannya sebagai dana pendirian IC akan membuka pintu peran IC lokal masuk ke saham-saham unicorn lokal yang selama ini dikuasai asing. Tidak ada cara lain kecuali cara ini.
  11. Inilah konsep bisnisnya. Tugas pemprov dalam hal ini dipimpin oleh Gubernur adalah menjalankan proses politik untuk eksekusinya. Eksekusi menuju RI kuat secara ekonomi. Jika langkah ini sukses, saya yakin akan menjadi model bagi Pemprov dan Pemkab/Pemkot lain. Bahkan pemerintah pusat. Seluruh saham pemeritntah di BUMN dan BUMD disatukan dalam sebuah IC. Jika ini dilakukan, kita RI bisa memiliki IC lebih besar dari pada Khazanah dan Temasek. Bahkan bisa lebih besar daripada Bershire Hathaway-nya si Warren Buffet.  Membuang dividen haram sekaligus menguatkan ekonomi.  Semoga.

Ditulis di SNF Consulting, 8 Maret 2019

 

Entrepreneur, Jangan Bangga Disebut Owner!


Banyak entrepreneur yang bangga menyebut diri sebagai owner.  Menjadi owner dari bisnis yang dirintis dan ditekuninya. Banyak juga yang bangga saat disebut sebagai owner oleh orang lain. Fotonya dipajang besar-besar dimana-mana. Ditampilkan dalam publikasi seminar atau sejenisnya sebagai owner.  Apa salahnya menjadi owner? Mengapa tidak boleh dilakukan? Berikut ini penjelasannya:

  1. Menyebut diri atau disebut sebagai owner menunjukkan bahwa bisnis yang Anda tekuni masih bersifat perorangan alias belum korporat.  Sebagai contoh, warung sate di di sebuah kampung yang dimiliki oleh si Anu. Maka, si Anu disebut sebagai pemilik alias owner warung sate tersebut. Dan tentunya warung sate tersebut masih menjadi satu dengan si Anu. Sama sekali tidak terpisah
  2. Apa salahnya dengan bisnis perorangan? Tidak ada yang salah. Hanya saja jika nanti ternyata bisnis perorangan dibabat oleh pesaingnya yang korporat yang jangan marah.  Seperti dibabatnya toko kelontong perorangan oleh toko kelontong korporat seperti Indomaret dan Alfamart.
  3. sebenarnya, tidak masalah bisnis perorangan sebagai langkah awal. Yang masalah adalah apabila bisnis perorangan menjadi mindset atau visi.  Mempertahankan selama-lamanya bisnis perorangan. Stagnan. Jika orang seindonesia mindset dan visi bisnisnya perorangan, maka sektor-sektor ekonomi yang memproduksi barang dan jasa kebutuhan orang banyak akan dikuasai asing. Mengapa? Karena nyaris semua sektor ekonomi utama tidak mungkin dilakukan oleh perorangan.   Jangan harapkan ada merek mobil nasional,  sekedar sebagai contoh,  selama mindset dan akitivitas pebisnis kita masih perorangan. Butuh aset sekitar Rp 2 240 T untuk menjadi perusahaan prinsipal mobil seperti Hyundai. Tidak mungkin perorangan memiliki aset sebesar itu.
  4. Dalam perusahaan atau korporasi, Pereroan Terbatas adalah format badan hukum yang mendominasi dunia bisnis global. Di berbagai negara sebutanya berbeda-beda. Di Malaysia disebut Sendirian Berhad (Sdn Bhd), di Inggris disebut Ltd,  GmbH di Jerman, Pte Ltd di Singapura dan sebagainya. Maka, gunakan sebutan yang sesuai dengan format PT.
  5. Sebuah badan hukum PT dilahirkan oleh para pendiri atau founder. Merekalah yang memiliki inisiatif untuk kehadiran sebuah PT di dunia bisnis. PT dikelola oleh direktur atau direksi (bila direkturnya lebih dari satu orang dan salah satunya disebut sebagai dirktur utama). Dalam menjalankan tugasnya direktur atau direksi diawasi oleh komisaris atau dewan komisaris jika komisarisnya lebih dari satu orang. Dewan komisaris dipimpin oleh seorang komisaris utama. Pada sistem hukum PT satu kamar seperti di USA direksi dan komisaaris dilebur jadi satu dan disebut sebagai board of director (BOD). BOD terdiri dari direktur dengan tugas eksekutif (executive direktur) dan direktur tanpa tugas eksekutif (noN executive director). Para direktur eksekutif dipimpin oleh seorang chief executive officer (CEO). BOD dipimpin oleh seorang president. Gunakan istilah-istilah itu dalam kosa kata keseharian bisnis Anda. Direktur, dirktur utama (agar keren disebut CEO hehehe…. Hanya beda bahasa), pendiri (founder) atau pemegang saham. Dalam konteks bisnis yang berperan paling stratejik adalah CEO. Pendiri hanya bersifat historis.  Maka jika Anda merangkap beberapa posisi, pilih direktur direktur atau direktur utama atau CEO sebagai sebutan.
  6. Mungkin Anda akan ada yang berdalih, “lho, faktanya usaha saya kan masih perorangan?”  Okey… Fakta boleh perorangan. Tetapi mindset dan visi tidak boleh perorangan. Menggunakan sebutan-sebutan PT  akan membangun visi dan mindset yang positif.  Visi dan mindet adalah modal awal lahirnya sebuah perusahaan besar yang menguasai pasar berbagai bangsa melalui proses korporatisasi berkelanjutan. Korporatisasi adalah proses tranformasi bisnis dari personal (perorangan) menjadi korporat untuk pertumbuhan perusahaan yang akahirnya melampaui sekat-sekat negara.
Hasil gambar untuk google founder

Larry Page, pendiri Google. Tidak disebut sebagai owner Google.

Bgaimana? Masih sudah siap disebu sebagai direktur atau direktur utama atau CEO? Mari kita mulai langkah stratejik untuk menumbuhkan perusahaan melampaui sekat-sekat negara. Mengibarkan tinggi-tinggi sang Merah Putih di berbagai negara. memompakan kesejahteraan untuk masyarakat negeri ini dari berbagai negara. Menguatkan Rupiah dengan kiriman kekuatan dari berbagai mata uang dunia dimana perusahaan kita beroperasi. Bisa!

Ditulis di SNF House of Management, 24 Pebruari 2019

Mengapa Start Up dan Unicorn Kita Dikuasai Asing?


Banyak anak-anak muda memiliki ide bisnis orisinal terkait teknologi. Ide itu kemudian ditumbuhkan menjadi sebuah perusahaan rintisan (start up) berbasis aplikasi dan teknologi. Beberapa diantaranya menjadi populer digunakan oleh masyarakat luas dalam kehidupan keseharian seperti seperti Gojek, Bukalapak dan Traveloka. Beberapa diantaranya menjadi besar dengan nilai (value of the firm) lebih dari USD 1 Milyar yang disebut sebagai unicorn.

Hasil gambar untuk gojek logo

Gojek, salah satu unicorn lokal yang sangat populer

 

Muncul pertanyaana banyak orang. Mengapa perusahaan-perusahaan start up dan unicorn lokal dikuasai asing? Mengapa bukan perusahaan lokal? Berikut ini adalah penjelasannya:

  1. Bahwa dalam jangka panjang, masuknya investor asing pada sebuah negara menandakan posisi negara tersebut sebagai bangsa konsumen. Bukan bangsa produsen. Bukan negara kuat. Negara yang kuat berinvestasi ke luar negeri lebih banyak dari pada masuknya investor asing ke dalam negaranya. Hanya negara lemah yang lebih banyak menerima investor asing daripada berinvestasi ke luar negeri.
  2. Bahwa saat ini adalah era korporatisasi. Era dimana semua perusahaan dipaksa oleh masyarakat untuk membesar. Jika tidak akan mati. Dipaksa oleh konsumen yang hanya mau membeli barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan-perusahaan raksasa. Dipaksa oleh anak muda sebagai kandidat SDM berkualitas yang hanya mau bekerja di perusahaan-perusahaan besar. Ditinggalkan konsumen dan kandidat SDM berkualitas adalah lonceng kematian bagi perusahaan manapun.
  3. Demikian pula perusahaan start up. Apalagi yang sudah dalam asuhan perusahaan venture capitalist (VC) seperti Gojek yang diasuh oleh Sequoia. Sequoia adalah VC yang juga telah sukses mengantarkan Google dan banyak start up global menjadi seperti yang dinikmati masyarakat dunia saat ini. Start up wajib tumbuh super cepat menjadi besar. Jika tidak akan ditinggalkan masyarakat dan mati dengan sendirinya.
  4. Tidak ada cara bagi perusahaan manapun untuk menjadi besar dengan cepat selain melalui proses korporatisasi. Terus menerus menerbitkan saham baru untuk menambah modal disetor (paid in capital). Modal inilah yang akan “dibakar” oleh perusahaan start up. Digunakan untuk promosi besar-besaran agar produk atau layanannya secara cepat dan masif dipakai oleh masyarakat luas. Sampai saat ini, tarif Gojek misalnya masih jauh lebih murah dari pada ojek pangkalan atau taksi non online. Ini hanya mungkin melalui diskon besar yang dalam catatan akauntansi akan dibukukan sebagai biaya promosi.
  5. Terus menerus menerbitkan saham baru membutuhkan mekanisme penghargaan bagi pemegang yang terlebih dahulu masuk oleh pemegang saham yang belakangan. Misal, pendiri menyetor modal Rp 1 juta per lembar saham. Untuk menghargai pendiri yang telah melakukan berbagai upaya penumbuhan perusahaan, pemegang saham berikutnya harus masuk dengan harga lebih tinggi. Misalnya Rp 1,5 juta per lembar. Selisih Rp 500 ribu secara akuntansi dibukukan sebagai agio saham alias tambahan modal disaetor alias aditional paid in capital (APIC). Dalam bahasa awam sering disebut goodwill. Atau mudahnya bisa disebut sebagai upeti. Uang ini sepenuhnya menjadi milik perusahaan. Tidak boleh diambil oleh pemegang saham pendiri atau pemegang saham yang masuk terlebih dahulu. Murni milik perusahaan yang akan digunakan sebagai modal ekspansi.
  6. Setelah penerbitan saham seharga Rp 1,5 juta habis digunakan untuk ekspansi, perusahaan akan menerbitkan saham baru lagi melalui mekanisme yang sama dengan harga yang lebih tinggi lagi. Tiap menerbitkan saham baru harganya akan lebih tinggi dari pada harga saham yang diterbitkan sebelumnya.
  7. Siapa yang akan membeli saham yang terus-menerus diterbitkan oleh start up dengan harga yang makin lama makin mahal? Yang bisa melakukannya hanya dua jenis perusahaan yaitu investment company (IC) atau perusahaan operasional dengan bisnis serupa (dengan si start up) yang telah mapan secara finansial. IC adalah perusahaan yang kerjanya hanya berinvestasi dan menerima dividen plus capital gain sebagai pendapatan. IC tidak memiliki pendapatan dari penjualan barang dan jasa seperti yang dilakukan oleh perusahaan operasional. Di dunia bisnis, perusahaan pasti akan termasuk salah satu dari kedua kelompok ini, IC atau perusahaan operasional.
  8. Jika penyetor saham start up adalah perusahaan operasional sejenis, bisa dipastikan perusahaan pembeli saham tersebut pun mendapatkan uang dari terus-menerus menerbitkan saham baru. Pembelinya adalah IC. Artinya, ujung-ujungnya adalah selalu IC.
  9. USA adalah negara dengan jumlah IC terbanyak dan terbesar dunia. Catatan SNF Consulting, consulting firm dimana saya sehari hari berkarya, menunjukkan bahwa 7 dari 10 IC dengan aset kelolaan terbesar di dunia adalah dari USA. Salah satu yang terbesar misalnya adalah BlackRock Inc. yang dana kelolaannya sekitar USD 6,3 Trilyun alias sekitar Rp 88 ribu Trilyun. Bandingkan dengan IC terdepan Indonesia yaitu Saratoga yang aset kelolaannya sekitar Rp 40T.
  10. Bagaimana IC berani berinvestasi pada start up yang masih rugi? Jawabnya ada pada logika portofolio. Sebuah IC bekerja dengan mengumpulkan dana investasi dari masyarakat. Maka, rumus investasi IC adalah aman-aman-aman-hasil. Aman masa sekarang maupun aman masa depan. Keamanan masa sekarang dilakukan dengan menginvestasikan uangnya pada saham berbagai perusahaan mapan di berbagai negara. Tidak menaruh “telor” pada satu keranjang. Keamanan masa depan dilakukan dengan masuk sebagai pesaham perusahaan start up.
  11. Proporsi dana yang dimasukkan sebagai saham perusahaan start up berkisar antara 0,1 sampai dengan 0,3% dari total aset kelolaan. Proporsi ini secara matematis sangat aman karena sebagian besar dananya (99,7-99,99%) ditanamkan pada saham perusahaan-perusahaan mapan dengan dividen sekitar 2% per tahun. Andai si start up bangkrut, IC hanya akan kehilangan sebagian kecil dari dividen yang diterimanya. Kehilangan yang tidak signifikan. Aman.
  12. Dengan portofolio start up di atas, maka BlacRock memiliki anggaran sekitar Rp 88 T sampai Rp 264 T untuk masuk sebagai pesaham start up. Angka ini pun disebar pada banyak start up sedemikian hingga tidak ada start up yang sahamnya didominasi oleh sebuah IC.
  13. Artinya, jika sebuah start up sahamnya dimiliki oleh IC maka start up tersebut kelak akan menjadi fully public company dengan tidak ada pesaham pengendali seperti Alibaba misalnya. Ini sesuai dengan karakter IC yang tidak mau menaruh “telor” pada satu keranjang tadi.
  14. Sebaliknya, jika sebuah start up sahamnya dibeli oleh perusahaan operasional yang bidangnya sejenis, si perusahaan mapan akan membeli 100% saham. Artinya, si Start up ini akan menjadi subsidiary alias anak perusahaan. Contohnya adalah dibelinya Instagram oleh Facebook. Kebutuhan dana si anak 100% dipenuhi oleh si induk. Si Induk mencari duitmya dengan melepas saham baru di lantai bursa yang penyetornya adalah perusahaan-perusahaan IC.
  15. Dari mana dana IC yang ribuan bahkan ratusan ribu Trilyun tersebut? Kerja IC adalah menajdi perantara antara investor dengan investee. Investornya adalah masyarakat luas. Investee-nya adaah perusahaan-perusahaan yang melakukan korporatisasi dengan terus-menerus menerbitkan saham baru untuk tumbuh membesar. Di negara modern, setiap orang adalah pekerja (atau profesional) dan setiap pekerja (atau profesional) adalah investor di berbagai perusahaan. Seorang pekerja atau profesional disebut bebas finansial jika pendapatannya dari imbal balik investasi (return, dividen) sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keseharian.
  16. Maka, agar saham start up lokal tidak dimiliki asing, caranya adalah tidak ada lain kecuali di negeri ini harus ditumbuhkan banyak IC dengan aset kelolaan puluhan bahkan ratusan ribu trilyun. Saat ini kita belum memilikinya. Saratoga misalnya, dengan perhitungan portofolio di atas, hanya bisa mengalokasikan sekitar Rp 40- 120 Milyar untuk masuk sebagai saham startu up. Masih jauh dari angka Unicorn yang USD 1 Milyar alias sekitar Rp 14T
  17. Apakah kita tidak punya potensi? Ooh…potensinya besar. Penduduk usia produktif kita berdasarkan data BPS lebih dari 100 juta orang. Jika tiap orang rata-rata mau menyisihkan gaji Rp 100 ribu per bulan untuk investasi tiap tahun ada potensi sekitar Rp 120T. Jangan melihatnya setahun dua tahun karena investasi itu seperti menanam pohon jati yang butuh waktu puluhan tahun untuk bisa menikmatinya
  18. Yang dibutuhkan dari pemerintah adalah kebijakan ekonomi yang mengkondisikan masyarakat untuk menjadi investor dan memunculkan IC raksasa. Bukan sebaliknya, kebijakan ekonomi yang memacu masuknya investor asing. Para pelaku bisnis bekerja keras dibidangnya masing-masing untuk tumbuh pesat melalui korporatisasi. Saya melalui SNF Consulting sedang bekerja keras membangun ekosistem munculnya IC melalui korporatisasai perusahaan-perusahaan klien.
  19. Mari berperan! Jangan hanya marah-marah karena ekononomi dikuasai asing tanpa aksi. Mari berperan sesuai bidang masing-masing. Peran terkecil adalah mengalokasikan gaji atau pendapatan bulanan, minimal 10%, untuk berinvestasi sebagai pemegang saham. Lakukan sejak gaji pertama. Ingat….. sejak gaji pertama. Bagaimana jika sudah terlanjur? Anda harus meng-qodho’. Menghitung berapa nilai 10% gaji sejak gaji pertama dan mengumpulkan uang sejumlah itu untuk dimasukkan pada Rekening Dana Investasi (RDI). Teknisnya bisa belajar dengan menghubungi  kontak@snfconsulting.com. Kita bisa!

Tata Kelola: Penguasaan Ekonomi Modern


Ekonomi adalah tentang produksi barang dan jasa yang dibutuhkan oleh umat manusia. Menguasai ekonomi artinya menguasai sumber-sumber penghasil barang dan jasa tersebut. Bangsa atau umat yang menguasai sumber-sumber tersebut adalah umat atau bangsa yang berposisi sebagai penguasa ekonomi.  Umat atau bangsa yang hanya mengkonsumsi barang dan jasa tersebut adalah umat atau bangsa yang dikuasai. Jadi, penguasaan sumber-sumber produksi barang dan jasa adalah kunci dalam ekonomi.

Siapa yang menguasai sumber-sumber produksi barang dan jasa  di era modern ini? Jawabnya bisa kita rasakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Siapa yang memproduksi gadged yang setiap saat ada di tangan kita? Siapa yang memproduksi sabun, sampo, pasta gigi di kamar mandi kita? Siapa yang memproduksi kendaraan yang sehari-hari menemani aktivitas kita? Siapa yang memproduksi makan dan minuman yang sehari-hari menjadi sumber energi aktivitas kita? Mereka itulah para penguasa ekonomi.

Hasil gambar untuk danone aqua

Danone bisa mengakuisisi Aqua karena menjalankan tata kelola yang menghasilkan kepercayaan investor.  Modal pun datang nayris tanpa batas  dengan cost of capital murah.  Akuisisi tidak mungkin dilakukan tanpa cost of capital murah. 

Bermacam-macam nama akan Anda sampaikan sebagai jawaban atas pertanyaan di atas. Tapi hampir bisa dipastikan bahwa semua jawaban akan bermuara pada suatu “mahluk” modern yang berbentuk badan hukum Perseroan Terbatas alias PT. Atau nama lain seperti Limited, Corporation, SA, Sendirian Berhad, Private Limited, GMBH dan lain-lain di berbagai negara tetapi sejatinya sama dengan apa yang di negeri ini disebut Perseroan Terbatas. Begitu dominannya peran badan hukum ini hingga banyak sekali Perseroan Terbatas yang aset atau anggaran belanjanya melebihi APBN berbagai negara. Bershire Hathaway besutan Warren Buffet misalnya asetnya sekitar 1,5 kali aset pemerintah Republik Indonesia.

&&&

Bagaimana sebuah Perusahaan menjadi besar dan menguasai ekonomi dunia? Sejarah perusahaan-perusahaan memasatikan bahwa penguasaan ekonomi dunia ditempuh melalui proses korporatisasi. Terus menerus mengajak masyarakat luas untuk berjamaah secara ekonomi dengan berinvestasi menjadi pemegang saham. Pemegang saham baru membayar “upeti”  berupa agio saham atau goodwill lebih besar dari pada pemegang saham sebelumnya.

Mengapa masyarakat luas tertarik? Tentu saja karena mereka percaya terhadap perusahaan tersebut. Bagaimana kepercayaan bisa diperoleh? Salah satu faktor pentingnya adalah karena mereka menjalankan tata kelola perusahaan yang baik. Tata kelola perusahaan sesuai dengan undang-undang yang berlaku.

Seperti apa tata kelola perusahaan itu? Paling tidak ada tiga poin penting. Pertama, adanya pemisahan yang tegas antara harta perusahaan dengan harga pemegang sahamnya. Prosesnya dimulai dari beberapa pemegang saham memisahkan hartanya sebagai modal disetor perseroan terbatas. Modal disetor ini menjadi ekuitas awal Perseroan Terbatas. Menjadi aset perusahaan yang sama sekali terpisah dari aset para pemegang saham.

Kedua, otoritas tertinggi adalah rapat umum pemegang saham (RUPS) atau RUPS luar biasa. Ini adalah forum yang terdiri dari para pemegang saham. Dalam forum inilah diambil keputusan-keputusan stratejik berupa pengangkatan direksi, pengangkatan komisaris, penunjukan akuntan publik untuk pengauditan laporan keuangan, pengesahan laporan keuangan yang telah diaudit, pembagian dividen, penerbitan saham baru untuk modal ekspansi perusahaan berdasarkan proposal direksi, dan keputusan-keputusan stratejik lain.

Siapapun bisa diangkat menjadi direksi atau komisaris. Tidak memandang apakah yang bersangkutan pemegang saham atau tidak. Direksi dipilih dan diangkat berdasarkan kemampuan  dalam mengelola perusahaan. Komisaris dipilih dan diangkat berdasarkan kemampuan  mengawasi kinerja direksi. Tanpa memperhatikan yang bersangkutan pemegang saham atau tidak.

Pengangkatan direksi dan komisaris oleh RUPS juga menandakan bahwa direksi dan komisaris itu satu level. Anggapan sementara orang bahwa komisaris merupakan atasan direksi adalah salah. Komisaris adalah pengawas direksi. Komisaris tidak memiliki wewenang membuat keputusan dalam pengelolaan perusahaan dan segenap asetnya. Mengelola perusahaan dan aset-asetnya sepenuhnya menjadi wewenang direksi. Komisaris hanya mengawasi atau memberi saran.

Ketiga, para pemegang saham memiliki hak suara proporsional dengan kepemilikan sahamnya dalam keputusan RUPS/RUPSLB. Secara teknis dilakukan melalui pemungutan suara alias voting. Setiap pemegang saham berwewenang mengajukan usulan apapun. Tetapi keputusan tetap diambil dengan pemungutan suara sesuai proporsi saham masing-masing pemegang saham.

Keputusan penerbitan saham baru dalam poin tata kelola kedua adalah pintu pembuka tumbuhnya perusahaan secara masif.  Melalui pintu inilah sebuah perusahaan bisa berekspansi dengan modal berkali-kali lipat laba seperti Alfamart yang berekspansi dengan modal 14x laba. Pintu ini pulalah yang membuka peluang lebar-lebar bagi sebuah perusahaan untuk menguasai pasar dan berinvestasi di berbagai negara melalui akuisisi seperti yang dilakukan Danone terhadap Aqua.  Pintu inilah juga yang memungkinkan perusahaan utuk menggelontorkan dana riset sampai tiap hari rata-rata menghasilkan dua hak paten seperti Loreal.  Menarik bukan? Bagaimana tata kelola perusahaan tempat Anda berkarya?