Disrupsi: Ojo Kagetan Ojo Gumunan


Ojo Gumunan Ojo Kagetan

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Disrupsi. Kata yang diadopsi dari bahasa inggris ini belakangan ini begitu terkenal di kalangan pebisnis. Perkembangan teknologi internet yang demikian pesat menyebabkan ancaman bagi para pelaku bisnis yang tidak adaptif. Perusahaan perfotoan Kodak Film misanya yang menghilang seiring dengan populernya foto digital adalah contoh perusahaan yang terdisrupsi. Tidak bisa beradaptasi. Tapi Fuji Film tetap eksis dengan beradaptasi yang tepat.

Apakah disrupsi merupakan sebuah fenomena yang benar-benar baru? Tidak.  Jauh sebelum jaman kemunculan internet, di sekitar pasar Caruban, kota kecil tempat saya lahir, banyak dijumpai dokar alias delman. Itulah kendaraan utama masyarakat untuk pergi pulang ke pasar. Begitu marak orang memiliki sepeda motor, delman pun menghilang dari peredaran. Inilah fenomena disrupsi jauh sebelum internet muncul.

Hasil gambar untuk western union logo

Western Union: Ketahanan menghadapi disrupsi atau substitusi lintas abad

Secara konseptual pun disrupsi bukan sesuatu yang baru. Tahun 1979 Michael Porter telah menulis sebuah konsep yang disebutnya Five Forces. Tulisan di Harvard Business Review ini menjelaskan bahwa sebuah perusahaan bisa terancam eksistensinya oleh persaingan dari lima kekuatan. Masing masing adalah kekuatan perusahaan sejenis, perusahaan pemasok, perusahaan konsumen, pendatang baru dan produk substitusi. Perusahaan bisa habis oleh pesaing kuat yang produk sama persis. Perusahaan yang bahan bakunya diperoleh dari pemasok tunggal akan gulung tikar jika pemasoknya mogok. Perusahaan yang memiliki konsumen tunggal akan jatuh jika konsumen tersubut berpaling. Perusahaan juga bisa jatuh karena ada pendatang baru yang banting harga dalam jangka panjang. Pun perusahaan juga bisa mati karena ada produk substitusi. Hilangnya delman terjadi karena motor telah  muncul sebagai produk substitusi. Delman tersubstitusi alias  terdisrupsi oleh sepeda motor.

$$$

Western Union-selanjutnya disebut WU- hadir di dunia sejak tahun 1851 dengan layanan telegram. Ketika itu teknologi telegram sebagai cara penyampaian pesan jarak jauh bener-benar inovasi yang luar biasa. Pesan atau berita yang membutuhkan waktu berhari-harai jika dikirim dengan surat akan tiba dalam hitungan detik jika dikirim dengan telegram.  WU pun menjadi perusahaan yang kuat.

Sebagai teknologi telegragram pun tidak abadi. Belakangan tergantikan dengan internet. Tahun 2006 WU sudah resmin  menutup layanan telegramnya. Apakah WU habis tersubstitusi? Tidak. Jauh sebelum layanan telegram ditutup, WU telah lebih dulu meluncurkan layanan baru yaitu pengiriman uang sejak tahun 1871. Uang dari pengirim tidak benar-benar dikirim secara fisik oleh WU.  Yang dikirim hanya informasinya. Uangnya diambilkan dari kantor WU di tempat tujuan. Layanan teknologi keuangan (fintech, financial technology) ini hingga kini tetap menjadi tulang punggung pendapatan perusahaan berbasis di Amerika Serikat ini.

Pertanyaannya, dalam suasana maraknya inovasi fintech terbaru, apakah WU akan terdisrupsi alias tersubstitusi? Dalam lima tahun terkahir, pendaptan dan laba WU cenerung stagnan. Bahkan pada tahun 2016 labanya turun drasti sebesar 70%.  Melihat angka ini, nampaknya ada tanda-tanda disrupsi atau subtitusi pada perushaaan berlogo warna hitam kuning ini.

Tetapi, jika membaca arus kas investasinya, tahun 2006 WU masih membelanjakan USD 271,1 juta untuk investasi. Angka ini adalah 107% dari labanya tahun berjalan sebesar USD 253,2 juta. Belanja investasi yang lebih besar dari laba adalah tanda adanya optimisme pegelola perusahaan yang layanananya terasedia nyaris di setiap jengkal tanah di muka bumi ini.

$$$

Ojo gumunan ojo kagetan. Jangan gampang takjub. Jangan gampang terkejut. Pepatah jawa ini bagus sekali untuk menghadapi fenomena yang belakangan disebut disrupsi. Disrupsi sendiri yang seolah olah hal baru sebenarnya adalah “barang” lama.  Paling tidak adalah “Barang” keluaran tahun 1979 walaupun disebut dengan istilah berbeda. Maka janganlah kita terpesona amat dengan hiruk pikuk orang mengucap kata disrupsi.

Sebagai fenomena, disrupsi atau substitusi dalam dunia bisnis juga bukan hal baru. Paling tidak Western Union telah merasakannya dalam perjalanan panjang hampir dua abad. Di dunia ini segalanya terus berubah. Tidak ada yang abadi. Jika pun ada, yang abadi adalah perubahan itu sendiri. Ojo gumunan. Ojo kagetan. Yang penting kita selalu optimis, terus berinovasi dan selalu siap-termasuk persiapan finansial- dengan manajemen risiko yang memadai menghadapi perubahan apapun. Seperti Western Union. Bisa!

*) Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Iklan

Kuliner Global: Hui dan Padang


Hui dan Padang

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Setelah 3 jam melaju, kereta ekspress itu berhenti di peron yang tampil seperti bandara modern itu.  Bersama rombongan, saya pun segera turun dari kereta. Menutup perjalanan darat sekitar 900 kilometer dari Shenzhen dengan naik taksi menuju hotel yang sebelumnya telah dipesan melalui internet. Karena badan yang begitu lelah, sesampai di hotel pun saya segera mandi, sholat magrib isya secara jama’, lalu tertidur pulas.

Begitu terbangun keesokan hari, salah satu aktivitas yang mesti dijalani adalah makan pagi. Mencari makanan halal di kota yang secara administratif berada di bawah propinsi Guangdong itu tentu mudah. Maka, bersama rombongan saya pun merencanakan untuk sekalian keluar menuju kampus Shaoguan University. Di kampus yang berjarak sekitar setengah jam perjalanan bus umum itu terdapat warung makanan muslim.

Gaya membuat mie khas resto Hui di RRC. Gambar dari http://www.pustakapanganku.blogspot.co.id

Setelah sejenak jalan-jalan di kampus seluas lebih dari 150 hektar itu, saya dan rombongan pun saaatnya makan pagi. Pergilah kami ke sebuah warung di sebuah komplek pertokoan kecil di samping pintu gerbang kampus. Seorang berpeci putih menyambut. Setelah duduk dan melihat daftar menu, kami pun memesan makanan. Waktu menunggu makanan terhidang jadi menyenangkan karena proses penyajiannya menarik. Atraksi memproses adonan tepung menjadi mie khas suku Hui menjadi sajian yang lebih istimewa sebelum makanan terhidang di kampus dimana salah satu rombongan menimba ilmu itu.

&&&

Makanan halal adalah kebutuhan pokok kaum muslimin dimanapun berada. Jika Anda bepergian di negara yang mayoritas muslim, mencari makanan halal tentu bukan masalah. Di Malaysia misalnya, Anda dengan mudah menemukan warung halal hampir di setiap komplek pertokoan atau perdagangan.

Bagaimana jika bepergian di negara yang kaum muslimin berposisi minoritas? Tentu membutuhkan seni tersendiri. Kala melancong ke RRC, Anda akan sangat terbantu dengan keberadaan suku Hui.  Suku yang secara statistik hanya sekitar 2% penduduk RRC ini memang bisa dikatakan selalu hadir di kota manapun di negeri tirai bambu ini. Hadir dengan warungnya yang khas dan halal. Mirip dengan restoran padang yang selalu Anda jumpai dimanapun berada di negeri merah putih ini.

Apa yang dilakukan oleh resto Hui dan Padang pada dasarnya memang kebutuhan masyarakat modern. Masyarkat yang dengan mudah bisa bepergian kesana kemari di berbagai penjuru membutuhkan kehadiran resto yang hadir dimana mana. McDonald’s & KFC adalah contoh jaringan resto yang pada dasarnya adalah seperti Hui dan Padang. Hadir dimana mana dengan cita rasa yang diterima oleh masyarakat luas.

Bedanya, jika Hui dan Padang bersifat tradisional dan tiap tiap resto hadir secara personal, McD dan KFC hadir dengan konsep manajemen modern. McD dan KFC tampil di dimana mana di seluruh dunia dengan format korporasi dan manajemen modern. Tentu saja tidak tiba tiba McD dan KFC tampil seperti sekarang ini. Ada proses yang panjang yang harus dilalui.

Hui dan Padang punya potensi yang besar untuk tampil di berbagai bangsa seperti McD dan KFC. Syaratnya tentu saja adalah korporasi dan manajemen modern. Jika saat ini masih tampil secara perorangan dengan dan terpisah antara satu resto dengan resto lainnya, dibutuhkan peran entrepreneur yang bisa melakukan proses manajerial bisnis untuk menjadikannya sekelas McD dan KFC.

Bagaimana kira-kira prosesnya? Ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah melalui proses penyatuan dari para pebisnis resto yang ada. Istilah kerennya disebut merger. Walaupun di bidang berbeda, apa yang dilakukan oleh 10 ribu lebih peternak susu di New Zealand bisa dicontoh. Mereka menyatu dengan mendirikan koperasi. Semula ada sekitar 400 an koperasi, pemilik merek susu Anmum dan Anlene itu kini menjadi satu koperasi dengan aset, omset dan merek kuat di seluruh dunia. Hui dan Padang bisa menyatu menjadi koperasi dan kemudian tampil di berbagai penjuru dunia dengan satu manajemen, satu merek dan satu kekuatan.

Alternatif kedua adalah melalui cara sepearti yang ditempuh oleh Djoko Susanto melalui Alfamart. Mendirikan sebuah perusahaan di bidang ritel modern dan kemudian memperluasnya dengan melibatkan dana masyarakat melalui lantai bursa dan waralaba. Siapapun yang berminat bisa bergabung dengan Alfamart melalui dua cara itu.  McD dan KFC melakukan juga melakukan mekanisme ini.

Hui dan Padang, bagaimana? Kita tunggu jawaban dari kawan kawan pemain dan peminat bisnis resto untuk melakukannya. Hadir di seluruh dunia dengan puluhan ribu outlet resto halal. Dengan merek kuat dan kualitas standar. Agar kemanapun bepergian, kita bisa menikmati menu  halal tanpa kesulitan. Di Shaoguan dan dimanapun berada. Hui dan Padang….ayoo!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Mobil Nasional Fin Komodo: Langkah Selanjutnya


Langkah Selanjutnya

Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Obrolan ini terjadi di Cimahi, pinggiran kota Bandung. Tepatnya di ruang pertemuan -biasa disebut keminggris sebagai “ruang meeting”- sebuah perusahaan prinsipal mobil nasional bermerek Fin Komodo. Tokoh sentralnya adalah cak Ibnu si “komandan pasukan” mobil yang hadir dengan konsep off road itu. Peserta obrolan lainnya adalah cak Leo Herlambang yang sudah malang melintang menjadi CEO profesional di berbagai perusahaan,  kang Ari yang sedang memimpin sebuah perusahaan produsen panel elektrik, dan ning Izza yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya Jianxi University  dan kini berkarir di sebuah BUMN milik pemerintah Tiongkok.  Keberadaan Ning Izza menjadikan suasana obrolan menjadi lintas generasi.

Obrolan makin seru lagi karena persis sebelum masuk ruang pertemuan tersebut, saya, cak Leo, Kang Ari dan Ning Izza baru saja merasakan serunya mobil bandel itu. Merasakan bagaimana menggeber mobil bertransmisi otomatis tersebut melalui medan ekstrim di persawahan kawasan Cimahi yang konturnya berbukit-bukit. Mobil tetap nyaman medan penuh lobang  dan berbatu. Kaki-kakinya tetap menapak sempurna dengan suspensinya sangat nyaman walau melalui medan bergelombang semak belukar.

Cak Ibnu mengawali pembicaraan dengan menyebut beberapa contoh beberapa pendahulu mobil  nasional. Ada Maleo dari Pak Habibie, ada Perkasa dari Texmaco, ada Timor, ada MR 90, ada kancil. Semuanya berakhir dengan kegagalan. Mati. Belajar dari kegagalan itu, cak Ibnu berfikir lain. Alih-alih bermain langsung head to head dengan Toyota, Honda, Daihatsu, Suzuki dan merek-merek populer lain, Cak Ibnu dengan bendera PT Fin Komodo Teknologi masuk pada mobil off road. Bukan mobil untuk jalan beraspal.

Hasil gambar untuk fin komodo

Fin Komodo: tangguh dan handal di medan berat. Foto: wikimapia.org

Pilihannya tepat. Perusahaan besutan insiyur yang berpengalaman menggawangi desain pesawat N250-nya pak Habie saat masih bekerja di IPTN itu kini telah cukup eksis sebagai sebuah perusahaan. Tiap tahun memproduksi dan menjual lebih dari 100 unit mobil seharga sekitar Rp 100 juta itu.  Perhitungan kasar saya, volume penjulan seperti itu sudah cukup ntuk menopang seluruh biaya operasinal perusahaan plus arus kas yang cukup untuk terus berinvestasi pengembangan produk lebih lanjut.

Yang menarik adalah cerita kakak kelas saya di teknik mesin ITS ini tentang bagaimana ia memandang bisnis otomotif yang kini digelutinya. Ada perbedaan antara membangun industri dan membangun pabrik. Apa yang dilakan PT Astra International dengan bisnis mobil Toyota misalnya adalah membangun pabrik. Semua konsep dari desain, manufaktur mobil dengan segala SOP-nya sampai pemasaran sudah ditentukan oleh pihak Toyota sebagai prinsipal. Membangun pabrik cukup waktu sekitar 3 tahun untuk beroperasi normal.

Hal yang serupa dilakukan juga oleh Kang Ari yang pagi ini sangat semangat berdiskusi. Ia memproduksi suku cadang peralatan elektronik yang dipesan oleh perusahaan prinsipal. Desain, spesifikasi dan SOP sudah ada dan tinggal menjalankan. Begitu selesai pabrikasi semua produk sudah langsung dibeli oleh si prinsipal. Dengan konsep ini, hanya dalam beberapa tahun perusahaan besutan kang Ari mampu menghidupi ratusan karyawan beserta keluargaanya.

Berbeda sekali dengan membangun industri. Cak Ibnu siap untuk melalui proses lebih dari 20 tahun sejak tahun 2006. Segala sesuatunya dimulai dari nol.  Dari sama sekali tidak ada apa-apa. Masa awal perjuangan membangun industri sudah dijalaninya dengan segenap daya upaya. Dilalui dengan segenap pengorbanan.

$$$

Apa yang dilalui Cak Ibnu dengan Fin Komodonya setali tiga uang dengan apa yang dilalui Mas Najib Hamid dengan Matan, majalah kita ini. Kuduanya hadir dengan sebuah idealisme membangun merek baru. Membangun platform dan menjadi prinsipal.   Keduanya telah menjalani proses mengerjakan segala sesuatu dari A sampai Z tanpa siapa-siapa.  Saat ini, dengan oplah belasan ribu eksemplar, Matan sudah bisa berada pada arus kas yang cukup stabil sebagai sebuah perusahaan. Sama seperti Fin Komodo.

Kini, keduanya berada pada tahapan untuk langkah selanjutnya. Next step.  Saya menyebutnya korporatisasi. Memanfaatkan kondisi arus kas yang sudah cukup stabil untuk membangun sistem manajemen dan tumbuh menjadi merek diterima di pasar yang lebih luas. Aspek keuangan adalah bagian penting dari sistem manajemen ini. Aspek keuangan yang mampu mendukung belanja modal yang cukup untuk ekspansi pasar mencapai posisi crowding effect. Hadir secara masif di pasar agar menjadi bagian dari gaya hidup. Tentu tetap dengan semangat juang seperti yang dimiliki oleh cak Ibnu dan Mas Najib sebagai “kepala pasukan” yang telah merintisnya dengan segenap jiwa. Semangat juang yang harus tertransfer dengan baik kepada generasi korporatisasi seumuran Ning Izza dalam obrolan lintas generasai di Cimahi pagi itu. Generasi yang akan melakukan korporatisasi sebagai langkah selanjutnya. Bisa!

*)Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

 

Wakaf Uang


Oleh: Iman Supriyono, direktur SNF Consulting

Harvard Management Company alias HMC. Pada tahun 2016, perusahaan milik Harvard University ini melaporkan nilai aset sebesar USD 35,7 Milyar alias Rp 375T dengan kurs   Rp 13 300,-. Dalam 20 tahun terakhir, aset ini rata-rata mendatangkan imbal hasil sebesar 10,4% per tahun. Kontribusi besar bagi biaya operasional kampus bergengsi ini.

Hasil gambar untuk harvard management company logo

Logo HMC: Mengelola dana wakaf (endowment fund) milik  Harvard University

Berupa apa saja aset sebesar itu? Sebagian besar, 49%, berupa saham di berbagai perusahaan. Ini yang menjadikan Harvard sebagai sebuah institusi pedidikan memiliki hubungan dekat dengan dunia bisnis. Terbesar kedua, 14,5%, adalah aset  properti yang disewakan. Sisanya berupa obligasi, sumber daya alam dan skema investasi aman lainnya.

Dari manakah Harvard memiliki aset sebesar itu? Tentu bukan hasil sulapan. Dana sebesar ini dikumpulkan dari dolar demi dolar endoment fund sejak 1974. Endowment fund adalah sumbangan dari para simpatisan dengan akad sebagai dana abadi alias wakaf.

&&&

Endowment fund alias wakaf. Keduanya  mengandung pengertian yang secara ekonomi sama. Orang yang menyumbangkan asetnya dengan maksud agar dikelola dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Asetnya sendiri mesti dijaga tetap tidak dikurangi supeserpun.

Yang sudah sangat populer di masyarakat adalah wakaf berupa sebidang tanah. Masyarakat menyerahkan sebidang tanah kepada lembaga sosial. Tanah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial lembaga penerimanya.

Tanah wakaf hanya boleh dimanfaatkan. Tidak boleh dijual atau dikurangi nilai atau luasannya. Karena begitu populernya, wakaf tanah memunculkan masalah lain. Tanah tidak bisa termanfaatkan secara optimal atau bahkan terbengkalai karena tidak ada dana yang cukup untuk mendirikan bangunan diatasnya sebagai sarana kegiatan sosial.

Solusinya? Wakaf uang. Ya…wakaf berupa uang seperti di HMC. Uang wakaf dikelola sebagai dana investasi dengan portofolio aman. Hasil investasi barulah digunakan untuk biaya aktivitas sosial

Potensi wakaf uang sungguh raksasa. Di Indonesia ada 800 ribu masjid lebih. Jika tiap masjid bisa menyediakan kotak wakaf (selain kotak infaq yang selama ini sudah ada) dan tiap bulan terkumpul dana wakaf Rp 1 juta per masjid, tiap tahun akan terkumpul dana wakaf Rp 10 T. setara dengan sekitar 16% saham Semen Indonesia dengan dividen sekitar Rp 281 pertahun. Dalam 4 tahun, potensi wakaf ini sudah bisa menggantikan 38% saham Semen Indonesia yang kini dipegang investor asing.

Di dekat rumah saya ada sebuah supermarket sangat ramai milik sebuah koperasi pesantren. Luas tanah supermarket yang telah berdiri sejak tahun 90-an ini adalah sekitar 2 ribu meter persegi dengan harga pasaran tanah minimum Rp 10 juta per meter persegi. Coba bayangkan kalo tahan ini dibeli oleh institusi pengelola wakaf seperti HMC dan langsung disewakan kembali kepada koperasi pesantren tersebut. Memang koperasi pesentren akan menanggung biaya sewa yang akan sedikit lebih besar dari pada biaya depresiasi jika aset dimiliki sendiri. Biaya sewa ini akan diterima lembaga pengelola wakaf dan disalurkan untuk kebutuhan sosial.

Tapi, bagi pengelola supermarket,  uang Rp 20 Milyar lebih akan diterima dan bisa digunakan untuk membangun 20 minimarket baru.  Kelak kalau sudah beropersi normal, 20 minimarket baru itu pun bisa dijual juga dengan skema jual & sewa kembali yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai REIT atau DIRE ini. Bisnis minimarket koperasi pesantren pun akan cepat menjamur seperti Alfamart atau Indomaret.

Wakaf ibarat pedang bermata dua. Menyelesaikan masalah sosial sekaligus masalah ekonomi. Undang-undangnya pun telah siap. Di sisi lain telah banyak lembaga pengumpul zakat infaq shodaqoh yang telah puluhan tahun dipercaya dan sukses mengumpulkan dana trilyunan dari uang receh masyarakat.  Tinggal sedikit modifikasi, kapasitas ini akan menjadi seperti Harvard Management Company. Sedikit demi sedikit mengubah kotak infaq di masjid-masjid menjadi kotak wakaf. Semoga.

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

DIRE: Siloam, Lippo & Lippo Way


DIRE

Oleh: Iman Supriyono, direktur, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

Lippo. Perusahaan properti besutan Mochtar Riady ini belakangan ini menjadi topik hangat diskusi netizen. Banyak yang berdiskusi membicarakan hal-hal kurang sedap tentang perusahaan publik beraset Rp 47T ini.  Perusahaan properti dengan aset dan omzet terbesar di tanah air. Jauh diatas Ciputra yang asetnya 29 T.

Salah satu topik diskusi adalah bagaimana perusahaan properti pemiliki jaringan rumah sakit Siloam itu bisa tumbuh sedemikan pesatnya. Tentang pertanyaan ini, desas-desus mengabarkan adanya praktek-praktek negatif.

Atas desas-desus ini, beberapa netizen menanyakan kepada saya tentang kebenarannya. Saya sampaikan bahwa dalam menerima informasi, kita diajari untuk memperhatikan dua hal: sanad dan matan. Dalam tinjauan sanad, sebuah informasi barulah bisa dijadikan pedoman jika orang atau oraganisasi yang menjadi sumber atau pembawa infomasi jelas dan memiliki kredibiltas.  Tinjauan matan mengajari kita bahwa konten atau materi pun harus diperiksa validitasnya. Tanpa sanad dan matan yang valid, sebuah informasi tidak bisa dijadikan pedoman apalagi disebar-sebarkan kepada orang lain.

Terlebih jika informasinya bersifat negatif. Menyebarkan informasi negatif tentang seorang atau sebuah organisasi yang tidak valid adalah fitnah. Dan kita tentu saja harus menjaga diri untuk tidak memfitnah siapapun. Bahkan kita juga tidak boleh memfitnah orang atau oganisasi yang kita benci sekalipun.

Maka, ketika melihat Lippo sebagai sebuah perusahaan tumbuh pesat, akan lebih baik jika kita membaca data  yang valid dan kemudian mengambil pelajaran untuk kita jadikan inspirasi dalam bisnis yang kita geluti sehari-hari.

Hasil gambar untuk siloam surabaya

Rumah Sakit Siloam Surabaya. Foto: http://www.siloamhospitals.com

Lippo berdiri tahun 1990 dengan modal setor Rp 1 juta.  Dua tahun setelah pendiriannya, pemegang saham Lippo menyetor tambahan modal senilai Rp 20 M.  Karena memang sektor properti adalah bisnis padat modal, tahun 1993, Lippo mengkonversi utangnya menjadi modal sedemikian hingga total nilai modal setor menjadi Rp 58 M. Dengan memperhatikan inflasi, dalam hitungan saya, uang sejumlah ini setara dengan kurang lebih Rp 1,5T nilai saat ini.  Modal setor tersebut terus menerus ditambah oleh pemegang saham sedemikian hingga pada posisi terakhir mencapai Rp 4T dengan total ekuitas Rp 22T.

Dari angka modal setor 1 juta menjadi Rp 4T bisa kita baca bahwa dari waktu-ke waktu Lippo selalu ditambah setoran  modal. Siapa yang menyetor? Apakah pendiri atau pihak lain? Data terkhir menunjukkan bahwa pihak pendiri hingga kini tinggal memegang sekitar 30% saham. Artinya, pendiri selalu memberikan kesempatan kepada  pihak lain untuk ikut berperan menyetor modal kepada perusahaan baik melalui penempatan personal (private placement) maupun melalui pasar modal dengan IPO (initial public offering, pencatatan saham di lantai bursa untuk pertama kali) maupun right issue (melepas saham baru setelah IPO). Itulah sumber modal pertama sebagai bahan bakar pertumbuhan Lippo.

Sumber kedua adalah “puasa”nya para pemegang saham. Sebagaimana angka di atas, dari modal sendiri Rp 22 T, “hanya” Rp 4 T yang berasal dari setoran modal. Selebihnya, Rp 18T adalah berupa laba perusahaan yang tidak diambil oleh pemegang saham. Termasuk dalam kategori laba adalah selisih antara harga pasar dengan harga nominal saat Lippo melepas saham baru. Dalam bahasa akuntansi, selisih ini dicatat sebagai agio saham.

Dua sumber di atas bisa disebut bersifat konvensional. Ada lagi sumber baru yang disebut REIT (real estate investment trust) atau dalam bahasa Indonesia disebut DIRE (dana investasi real estat). Dalam bahasa sederhana, DIRE adalah menjual aset properti yang sudah beroperasi dengan baik kepada pihak lain sekaligus menyewa kembali aset tersebut untuk tetap dipergunakan perusahaan dalam melayani konsumen. Sebagai contoh adalah RS Siloam Surabaya. Gedung di rumah sakit di Gubeng ini telah dijual kepada Firt REIT senilaI SGD 16,8 juta (Rp 164M,  kurs sekarang) pada tahun 2006. Lippo selanjutnya  menyewa gedung tersebut. Harga sewa tahunan terakhir adalah SGD 3,2 juta (Rp 31M). Uang penjualan digunakan untuk membangun rumah sakit baru.

Hingga saat ini, dari 30 rumah sakit yang dioperasikan oleh Lippo (melalui anak perusahaan PT Siloam Hospital) 13 diantaranya telah di-DIRE-kan. Artinya, DIRE telah berkontribusi membangun 13 dari 30 rumah sakit laris ini.  Mekanisme sama juga dilakukan Lippo terhadap aset mal-mal-nya.

DIRE adalah sumber cepat pertumbuhan Lippo. Menjual aset properti yang bisnisnya telah berjalan dengan baik untuk disewa kembali. Uang hasil penjualan digunakan untuk membangun properti sejenis yang baru lalu dioperasikan untuk  pertumbuhan omzet perusahaan. Kelak, bila properti baru ini telah beroperasi normal akan di-DIRE-kan lagi untuk pertumbuhan selanjutnya. Begitu seterusnya. Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajarannya kan? Ayo segera tumbuh pesat!

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Garam: Melawan Ironisme Negeri Bahari


Garam *)

oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

China, USA, India, Canada, Jerman, Australia, Meksio, Chile. Brasil,  UK, Ukraina,  Prancis, Turki, Spanyol, Polandia. Itulah daftar urutan lima belas negara produsen garam terbesar dunia dalam catatan United States Geological Survey tahun 2015. Lembaga milik pemerintah USA ini juga menyebut bahwa total produksi garam dunia adalah 273 juta ton. Lima belas negara produsen garam terbesar berkontribusi sebesar 231 Juta ton alias 85% produksi garam dunia. Seluruh negara lain diluar daftar tersebut berkontribusi sebesar 42 juta ton alias 15% produksi garam dunia.  Sebagai jawara pertama, China berkontribusi 70 juta ton alias 26% produksi dunia. USA sebagai juara kedua memproduksi 48 juta ton alias 18% produksi dunia.

Dampier Operation dari http://www.riotinto.com

Dalam urusan garam, tidak ada negeri yang  menarik didiskusikan melebihi Ausralia. Kenapa? Karena negeri tetangga ini adah pemasok kebutuhan garam di negeri tercinta.  Tiap tahun, ibu pertiwi dialiri garam dari Australia lebih dari 2 juta ton.  Ini menjadi semakin menarik karena angka itu menyerap sekitar 20% produksi garam negeri kanguru yang 11 juta ton per tahun. Dengan harga Rp 500 ribu per ton saja, berarti RI mengalirkan uang lebih dari 1 Trilyun untuk membeli garam dari Australia. Padahal, panjang garis pantai Indonesia jauh melebihi garis pantai Australia.

&&&

DSL. Inilah urutan juara  pertama produsen garam negeri Kanguru dengan kapasitas produksi 4,7 juta ton alias sekitar 42% total produksi nasional Astralia.  Setelah DSL urutan berikutnya adalah Cargill, Mitsui (SBS) dan WA Salt. Semua empat besar produsen garam australia adalah anak perusahaan pemain globaal, keculai WA Salt yang merupakan pemain lokal Australia.

Siapa DSL? Juragan garam yang berdiri sejak tahun  1967 ini adalah anak perusahaan dari Rio Tinto. Perusahaan spesialis tambang logam dan mineral berbasis di Inggris ini memiliki saham 68% DSL. Pemegang saham lainnya adalah Marubeni (22%) dan Sojiz (10%).

Rio Tinto adalah perusahaan publik yang tercatat di London Stock Exchange. Sebagai peruahaan publik penuh (fully public company), Rio Tinto tidak ada pemegang saham pengendali. Pememegang saham terbesar adalah Aluminium Corp of China Ltd., sebuah perusahaan  milik pemerintah RRC dengan 13,2%. Posisi kedua adalah Black Rock Investment Management, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika serikat dengan 3,48%. Posisi pesaham terbesar ketiga adalah The Vanguard Group, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika Serikat dengan kepemilikan 2,51%.  Itulah tiga besar pemegang saham perusahaan raja garam, mineral dan logam yang seluruh sahamnya bernilai sebesar Rp 967 Trilyun.

&&&

Ada dua jenis barang yang beredar di masyarakat: bermerek dan komoditas. Garam termasuk jenis komoditas. Karakter utama jenis ini adalah bahwa produsen tidak bisa menentukan harga. Produsen sepenuhnya mesti mengikuti harga pasar. Dengan kondisi seperti ini, kunci utama keungguan bersaing adalah dalam efisiensi.

Bagaimana efisien? Volume produksi adalah kuncinya. Itulah kenapa raja garam Australia adalah perusahaan-perusahaan raksasa dengan volume produksi jutaan ton. Dengan cara inilah garam Australia  bisa menembus pasar global, termasuk pasar Indonesia. Mengalahkan produsen garam lokal yang pada umumnya perorangan atau perusahaan kecil-kecil sehingga kalah efisien. Harga garam lokal kalah murah dengan harga garam impor dari Australia.

Bagaimana menjadi besar? Mari belajar dari DSL-Rio Tinto, si juara pertama produsen garam Australia. Menjadi besar artinya adalah modal besar.  Siapa sumber modal besar hampir 1000 Trilyun Rio Tinto? Perusahaan yang mengawali debutnya di Rio Tinto (Sungai Merah) Spanyol ini mengumpulkannya dari jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.  Pengumpulan dilakukan secara langsung melalui lantai bursa maupun melalui perusahaan-perusahaan investasi pemegang sahamnya. Dikumpulkan melalui ekonomi berjamaah. Mengumpulkan uang dari jutaan orang untuk menjadi sebuah perusahaan berkapasitas produksi besar, efisien, dan menguasai pasar garam dunia. Garam!

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

Sequoia: Jangan Jadi Entrepreneur Tanpa Ide Baru


Sequoia

Oleh: Iman Supriyono, konsultan, CEO dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Google, WhatsApp, Instagram, Apple, Dropbox, LinkedIn, YouTube, Cisco, Oracle, Airbnb, PayPal.  Anda kenal nama-nama ini? Jika tidak, mohon maaf, Anda adalah generasi masa lalu hehehehe. Ini adalah deretan perusahaan top dunia. Google atau yang kini rebranding nama perusahaannya menjadi Alphabet, adalah perusahaan terbesar ke 27 dunia dalam hal omset, laba, aset, dan kapitalisasi pasar. Omset perusahaan raja internet ini adalah USD 77,2 Milyar atau RP 1024T. Dengan omset itu, perusahaan besutan Larry Page dan Sergey Brin ini mengantongi laba USD 17 Milyar atau Rp 226T. Omset tersebut dicapai dengan aset senilai USD 149,7 Milyar (Rp 1987T). Dengan kinerja seperti itu, nilai pasar (seluruh saham) perusahaan yang melantai di New York Stock Exchange ini adalah USD 500,1 Milyar (Rp 6 639 T).

Saat menggunakan Google untuk mencari sebuah informasi di internet, Anda tidak pernah diminta membayar serupiah pun.  Anda baru akan diminta membayar kalau memasang iklan. Saat ada orang mengetik key word tertentu, iklan Anda akan dimunculkan. Sampai disitu Anda pun belum diminta untuk membayar. Baru setelah ada yang mengklik link iklan Anda, Google meminta Anda membayar.

Keberadaan Google memporak porandakan dunia  periklanan. Sebagai pelaku bisnis, saya masih merasakan dulu misalnya untuk memasang iklan spot ukuran panjang satu kolom tinggi 5 cm di sebuah koran dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Itupun hanya sekali tayang. Padahal untuk mempromosikan sebuah produk tentu tidak cukup sekali tayang langsung laris. Butuh beberapa kali tayang. Anggaran iklan ketika itu pun tinggi.

&&&

Sequoia. Itulah perusahaan yang dengan kapasitanya “menemukan” orang seperti Larry Page dan Serge Brin pada tahun 1988 dengan ide barunya. Sequoia, sebuah perusahaan venture capitalist, sejak tahun 1972 mengasuh anak-anak muda dengan ide-ide baru. Google, Whatsapp, Instagram, dan nama-nama yang saya sebut diatas adalah sebagian kecil dari karya “anak asuh” Sequoia. Kini  banyak “anak asuh” itu telah membesar dan go public. Total nilai sekitar USD 1,4 Trilyun atau Rp 18 585 Trilyun.

Logo Sequoia

Google menyumbang Rp 6 639 Trilyun dari angka itu. Dari komposisi pemegang sahamnya, pemilik YouTube ini bisa disebut perusahaan yang sudah “matang” alias sudah “jadi”. Ada dua kelompok pemilik saham Google yaitu individu dengan total 24,7% dan institusional dengan total 75,25. Lima pesaham institusional tertinggi adalah Vanguard (7,6%), BlackRock (6,6%), FMR (5,335%), State Street (4,62%), dan Price T Rowe (4,01%).  Kelimanya adalah perusahaan investasi. Google (Alphabet) adalah sebuah fully public company.  Tidak ada lagi pemegang saham pengendali.

Mengamati konsep bisnis Sequoia, bisa disimpulkan bahwa ada dua jalur karir bagi anak-anak muda USA. Yang pertama adalah bagi anak-anak muda yang punya ide “gila” seperti Brin dan Page pendiri Google itu. Anak-anak yang punya ide bisnis benar-benar baru akan diasuh oleh venture capitalist seperti Sequoia. Dibina dan disuntik modal sejak awal. Setelah cukup kuat, perusahaan didorong untuk terus berkembang dengan dana publik melalui lantai bursa. Dana publik ini dihimpun melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti 5 pesaham institusional terbesar Google itu.

Jalur karir kedua adalah anak muda yang tidak memiliki ide bisnis baru. Jenis ini jumlahnya lebih banyak dan tidak kalah strategis. Mereka juga terdiri dari orang-orang pintar berkualitas kelas atas lulusan perguruan-perguruan tinggi top dunia. Kelompok kedua ini akan berkarir dan bekerja keras membesarkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada.  Hasil karya mereka, saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia (berdasar omset, laba, aset dan kapitalisasi pasar), 540 berasal dari USA.  Sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan gaya lama seperti McD, Coca Cola, Citibank, ExxonMobil, dan sejenisnya. Sebagian kecil adalah pemain baru seperti Google tadi.  Inilah yang menjadikan USA sebagai negara dengan PDB seperempat PDB dunia.

Dengan dua jalur karir pemudanya, USA saat ini merajai bisnis dunia. Kedepanpun, nampaknya USA akan tetap unggul.  Dengan banyaknya venture capitalist dan investment company raksasanya, USA adalah bangsa yang paling serius menyemai dan menumbuhkan perusahaan perusahaan baru alias start up company.

Kita mesti belajar dari USA. Anak-anak muda yang punya ide baru mesti didorong menjadi entrepreneur dengan start up company. Sementara itu, yang tidak punya ide baru mesti didorong bekerja keras membesarkan perusahaan yang sudah ada. Dorong mereka berkarir sampai puncak yaitu menjadi CEO.  Juga beri kesempatan menjadi pesaham saat perusahaan melepas saham baru untuk memenuhi kebutuhan modal ekspansi pasar.

Yang tidak punya ide baru berperan membesarkan perusahaan yang ada agar menjadi kelas dunia. Yang punya ide baru didukung dengan bimbingan dan modal. Untuk itu kita butuh banyak investment company yang mengumbulkan dana ratusan ribu trilyun dari masyarakat seperti Vanguard, BlacRock, FMR, State Street dan Price T Rowe yang menyuntik modal besar untuk Google. Kita juga butuh pengasuh anak-anak muda seperti Sequoia.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya