Wakaf Uang


Oleh: Iman Supriyono, direktur SNF Consulting

Harvard Management Company alias HMC. Pada tahun 2016, perusahaan milik Harvard University ini melaporkan nilai aset sebesar USD 35,7 Milyar alias Rp 375T dengan kurs   Rp 13 300,-. Dalam 20 tahun terakhir, aset ini rata-rata mendatangkan imbal hasil sebesar 10,4% per tahun. Kontribusi besar bagi biaya operasional kampus bergengsi ini.

Hasil gambar untuk harvard management company logo

Logo HMC: Mengelola dana wakaf (endowment fund) milik  Harvard University

Berupa apa saja aset sebesar itu? Sebagian besar, 49%, berupa saham di berbagai perusahaan. Ini yang menjadikan Harvard sebagai sebuah institusi pedidikan memiliki hubungan dekat dengan dunia bisnis. Terbesar kedua, 14,5%, adalah aset  properti yang disewakan. Sisanya berupa obligasi, sumber daya alam dan skema investasi aman lainnya.

Dari manakah Harvard memiliki aset sebesar itu? Tentu bukan hasil sulapan. Dana sebesar ini dikumpulkan dari dolar demi dolar endoment fund sejak 1974. Endowment fund adalah sumbangan dari para simpatisan dengan akad sebagai dana abadi alias wakaf.

&&&

Endowment fund alias wakaf. Keduanya  mengandung pengertian yang secara ekonomi sama. Orang yang menyumbangkan asetnya dengan maksud agar dikelola dan hasilnya dimanfaatkan untuk kepentingan sosial. Asetnya sendiri mesti dijaga tetap tidak dikurangi supeserpun.

Yang sudah sangat populer di masyarakat adalah wakaf berupa sebidang tanah. Masyarakat menyerahkan sebidang tanah kepada lembaga sosial. Tanah tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan sosial lembaga penerimanya.

Tanah wakaf hanya boleh dimanfaatkan. Tidak boleh dijual atau dikurangi nilai atau luasannya. Karena begitu populernya, wakaf tanah memunculkan masalah lain. Tanah tidak bisa termanfaatkan secara optimal atau bahkan terbengkalai karena tidak ada dana yang cukup untuk mendirikan bangunan diatasnya sebagai sarana kegiatan sosial.

Solusinya? Wakaf uang. Ya…wakaf berupa uang seperti di HMC. Uang wakaf dikelola sebagai dana investasi dengan portofolio aman. Hasil investasi barulah digunakan untuk biaya aktivitas sosial

Potensi wakaf uang sungguh raksasa. Di Indonesia ada 800 ribu masjid lebih. Jika tiap masjid bisa menyediakan kotak wakaf (selain kotak infaq yang selama ini sudah ada) dan tiap bulan terkumpul dana wakaf Rp 1 juta per masjid, tiap tahun akan terkumpul dana wakaf Rp 10 T. setara dengan sekitar 16% saham Semen Indonesia dengan dividen sekitar Rp 281 pertahun. Dalam 4 tahun, potensi wakaf ini sudah bisa menggantikan 38% saham Semen Indonesia yang kini dipegang investor asing.

Di dekat rumah saya ada sebuah supermarket sangat ramai milik sebuah koperasi pesantren. Luas tanah supermarket yang telah berdiri sejak tahun 90-an ini adalah sekitar 2 ribu meter persegi dengan harga pasaran tanah minimum Rp 10 juta per meter persegi. Coba bayangkan kalo tahan ini dibeli oleh institusi pengelola wakaf seperti HMC dan langsung disewakan kembali kepada koperasi pesantren tersebut. Memang koperasi pesentren akan menanggung biaya sewa yang akan sedikit lebih besar dari pada biaya depresiasi jika aset dimiliki sendiri. Biaya sewa ini akan diterima lembaga pengelola wakaf dan disalurkan untuk kebutuhan sosial.

Tapi, bagi pengelola supermarket,  uang Rp 20 Milyar lebih akan diterima dan bisa digunakan untuk membangun 20 minimarket baru.  Kelak kalau sudah beropersi normal, 20 minimarket baru itu pun bisa dijual juga dengan skema jual & sewa kembali yang dalam dunia bisnis dikenal sebagai REIT atau DIRE ini. Bisnis minimarket koperasi pesantren pun akan cepat menjamur seperti Alfamart atau Indomaret.

Wakaf ibarat pedang bermata dua. Menyelesaikan masalah sosial sekaligus masalah ekonomi. Undang-undangnya pun telah siap. Di sisi lain telah banyak lembaga pengumpul zakat infaq shodaqoh yang telah puluhan tahun dipercaya dan sukses mengumpulkan dana trilyunan dari uang receh masyarakat.  Tinggal sedikit modifikasi, kapasitas ini akan menjadi seperti Harvard Management Company. Sedikit demi sedikit mengubah kotak infaq di masjid-masjid menjadi kotak wakaf. Semoga.

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

Iklan

DIRE: Siloam, Lippo & Lippo Way


DIRE

Oleh: Iman Supriyono, direktur, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

Lippo. Perusahaan properti besutan Mochtar Riady ini belakangan ini menjadi topik hangat diskusi netizen. Banyak yang berdiskusi membicarakan hal-hal kurang sedap tentang perusahaan publik beraset Rp 47T ini.  Perusahaan properti dengan aset dan omzet terbesar di tanah air. Jauh diatas Ciputra yang asetnya 29 T.

Salah satu topik diskusi adalah bagaimana perusahaan properti pemiliki jaringan rumah sakit Siloam itu bisa tumbuh sedemikan pesatnya. Tentang pertanyaan ini, desas-desus mengabarkan adanya praktek-praktek negatif.

Atas desas-desus ini, beberapa netizen menanyakan kepada saya tentang kebenarannya. Saya sampaikan bahwa dalam menerima informasi, kita diajari untuk memperhatikan dua hal: sanad dan matan. Dalam tinjauan sanad, sebuah informasi barulah bisa dijadikan pedoman jika orang atau oraganisasi yang menjadi sumber atau pembawa infomasi jelas dan memiliki kredibiltas.  Tinjauan matan mengajari kita bahwa konten atau materi pun harus diperiksa validitasnya. Tanpa sanad dan matan yang valid, sebuah informasi tidak bisa dijadikan pedoman apalagi disebar-sebarkan kepada orang lain.

Terlebih jika informasinya bersifat negatif. Menyebarkan informasi negatif tentang seorang atau sebuah organisasi yang tidak valid adalah fitnah. Dan kita tentu saja harus menjaga diri untuk tidak memfitnah siapapun. Bahkan kita juga tidak boleh memfitnah orang atau oganisasi yang kita benci sekalipun.

Maka, ketika melihat Lippo sebagai sebuah perusahaan tumbuh pesat, akan lebih baik jika kita membaca data  yang valid dan kemudian mengambil pelajaran untuk kita jadikan inspirasi dalam bisnis yang kita geluti sehari-hari.

Hasil gambar untuk siloam surabaya

Rumah Sakit Siloam Surabaya. Foto: http://www.siloamhospitals.com

Lippo berdiri tahun 1990 dengan modal setor Rp 1 juta.  Dua tahun setelah pendiriannya, pemegang saham Lippo menyetor tambahan modal senilai Rp 20 M.  Karena memang sektor properti adalah bisnis padat modal, tahun 1993, Lippo mengkonversi utangnya menjadi modal sedemikian hingga total nilai modal setor menjadi Rp 58 M. Dengan memperhatikan inflasi, dalam hitungan saya, uang sejumlah ini setara dengan kurang lebih Rp 1,5T nilai saat ini.  Modal setor tersebut terus menerus ditambah oleh pemegang saham sedemikian hingga pada posisi terakhir mencapai Rp 4T dengan total ekuitas Rp 22T.

Dari angka modal setor 1 juta menjadi Rp 4T bisa kita baca bahwa dari waktu-ke waktu Lippo selalu ditambah setoran  modal. Siapa yang menyetor? Apakah pendiri atau pihak lain? Data terkhir menunjukkan bahwa pihak pendiri hingga kini tinggal memegang sekitar 30% saham. Artinya, pendiri selalu memberikan kesempatan kepada  pihak lain untuk ikut berperan menyetor modal kepada perusahaan baik melalui penempatan personal (private placement) maupun melalui pasar modal dengan IPO (initial public offering, pencatatan saham di lantai bursa untuk pertama kali) maupun right issue (melepas saham baru setelah IPO). Itulah sumber modal pertama sebagai bahan bakar pertumbuhan Lippo.

Sumber kedua adalah “puasa”nya para pemegang saham. Sebagaimana angka di atas, dari modal sendiri Rp 22 T, “hanya” Rp 4 T yang berasal dari setoran modal. Selebihnya, Rp 18T adalah berupa laba perusahaan yang tidak diambil oleh pemegang saham. Termasuk dalam kategori laba adalah selisih antara harga pasar dengan harga nominal saat Lippo melepas saham baru. Dalam bahasa akuntansi, selisih ini dicatat sebagai agio saham.

Dua sumber di atas bisa disebut bersifat konvensional. Ada lagi sumber baru yang disebut REIT (real estate investment trust) atau dalam bahasa Indonesia disebut DIRE (dana investasi real estat). Dalam bahasa sederhana, DIRE adalah menjual aset properti yang sudah beroperasi dengan baik kepada pihak lain sekaligus menyewa kembali aset tersebut untuk tetap dipergunakan perusahaan dalam melayani konsumen. Sebagai contoh adalah RS Siloam Surabaya. Gedung di rumah sakit di Gubeng ini telah dijual kepada Firt REIT senilaI SGD 16,8 juta (Rp 164M,  kurs sekarang) pada tahun 2006. Lippo selanjutnya  menyewa gedung tersebut. Harga sewa tahunan terakhir adalah SGD 3,2 juta (Rp 31M). Uang penjualan digunakan untuk membangun rumah sakit baru.

Hingga saat ini, dari 30 rumah sakit yang dioperasikan oleh Lippo (melalui anak perusahaan PT Siloam Hospital) 13 diantaranya telah di-DIRE-kan. Artinya, DIRE telah berkontribusi membangun 13 dari 30 rumah sakit laris ini.  Mekanisme sama juga dilakukan Lippo terhadap aset mal-mal-nya.

DIRE adalah sumber cepat pertumbuhan Lippo. Menjual aset properti yang bisnisnya telah berjalan dengan baik untuk disewa kembali. Uang hasil penjualan digunakan untuk membangun properti sejenis yang baru lalu dioperasikan untuk  pertumbuhan omzet perusahaan. Kelak, bila properti baru ini telah beroperasi normal akan di-DIRE-kan lagi untuk pertumbuhan selanjutnya. Begitu seterusnya. Pembaca yang baik, Anda sudah mendapatkan pelajarannya kan? Ayo segera tumbuh pesat!

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Garam: Melawan Ironisme Negeri Bahari


Garam *)

oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting http://www.snfconsulting.com

China, USA, India, Canada, Jerman, Australia, Meksio, Chile. Brasil,  UK, Ukraina,  Prancis, Turki, Spanyol, Polandia. Itulah daftar urutan lima belas negara produsen garam terbesar dunia dalam catatan United States Geological Survey tahun 2015. Lembaga milik pemerintah USA ini juga menyebut bahwa total produksi garam dunia adalah 273 juta ton. Lima belas negara produsen garam terbesar berkontribusi sebesar 231 Juta ton alias 85% produksi garam dunia. Seluruh negara lain diluar daftar tersebut berkontribusi sebesar 42 juta ton alias 15% produksi garam dunia.  Sebagai jawara pertama, China berkontribusi 70 juta ton alias 26% produksi dunia. USA sebagai juara kedua memproduksi 48 juta ton alias 18% produksi dunia.

Dampier Operation dari http://www.riotinto.com

Dalam urusan garam, tidak ada negeri yang  menarik didiskusikan melebihi Ausralia. Kenapa? Karena negeri tetangga ini adah pemasok kebutuhan garam di negeri tercinta.  Tiap tahun, ibu pertiwi dialiri garam dari Australia lebih dari 2 juta ton.  Ini menjadi semakin menarik karena angka itu menyerap sekitar 20% produksi garam negeri kanguru yang 11 juta ton per tahun. Dengan harga Rp 500 ribu per ton saja, berarti RI mengalirkan uang lebih dari 1 Trilyun untuk membeli garam dari Australia. Padahal, panjang garis pantai Indonesia jauh melebihi garis pantai Australia.

&&&

DSL. Inilah urutan juara  pertama produsen garam negeri Kanguru dengan kapasitas produksi 4,7 juta ton alias sekitar 42% total produksi nasional Astralia.  Setelah DSL urutan berikutnya adalah Cargill, Mitsui (SBS) dan WA Salt. Semua empat besar produsen garam australia adalah anak perusahaan pemain globaal, keculai WA Salt yang merupakan pemain lokal Australia.

Siapa DSL? Juragan garam yang berdiri sejak tahun  1967 ini adalah anak perusahaan dari Rio Tinto. Perusahaan spesialis tambang logam dan mineral berbasis di Inggris ini memiliki saham 68% DSL. Pemegang saham lainnya adalah Marubeni (22%) dan Sojiz (10%).

Rio Tinto adalah perusahaan publik yang tercatat di London Stock Exchange. Sebagai peruahaan publik penuh (fully public company), Rio Tinto tidak ada pemegang saham pengendali. Pememegang saham terbesar adalah Aluminium Corp of China Ltd., sebuah perusahaan  milik pemerintah RRC dengan 13,2%. Posisi kedua adalah Black Rock Investment Management, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika serikat dengan 3,48%. Posisi pesaham terbesar ketiga adalah The Vanguard Group, sebuah perusahaan investasi berbasis di Amerika Serikat dengan kepemilikan 2,51%.  Itulah tiga besar pemegang saham perusahaan raja garam, mineral dan logam yang seluruh sahamnya bernilai sebesar Rp 967 Trilyun.

&&&

Ada dua jenis barang yang beredar di masyarakat: bermerek dan komoditas. Garam termasuk jenis komoditas. Karakter utama jenis ini adalah bahwa produsen tidak bisa menentukan harga. Produsen sepenuhnya mesti mengikuti harga pasar. Dengan kondisi seperti ini, kunci utama keungguan bersaing adalah dalam efisiensi.

Bagaimana efisien? Volume produksi adalah kuncinya. Itulah kenapa raja garam Australia adalah perusahaan-perusahaan raksasa dengan volume produksi jutaan ton. Dengan cara inilah garam Australia  bisa menembus pasar global, termasuk pasar Indonesia. Mengalahkan produsen garam lokal yang pada umumnya perorangan atau perusahaan kecil-kecil sehingga kalah efisien. Harga garam lokal kalah murah dengan harga garam impor dari Australia.

Bagaimana menjadi besar? Mari belajar dari DSL-Rio Tinto, si juara pertama produsen garam Australia. Menjadi besar artinya adalah modal besar.  Siapa sumber modal besar hampir 1000 Trilyun Rio Tinto? Perusahaan yang mengawali debutnya di Rio Tinto (Sungai Merah) Spanyol ini mengumpulkannya dari jutaan orang dari berbagai penjuru dunia.  Pengumpulan dilakukan secara langsung melalui lantai bursa maupun melalui perusahaan-perusahaan investasi pemegang sahamnya. Dikumpulkan melalui ekonomi berjamaah. Mengumpulkan uang dari jutaan orang untuk menjadi sebuah perusahaan berkapasitas produksi besar, efisien, dan menguasai pasar garam dunia. Garam!

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

Sequoia: Jangan Jadi Entrepreneur Tanpa Ide Baru


Sequoia

Oleh: Iman Supriyono, konsultan, CEO dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Google, WhatsApp, Instagram, Apple, Dropbox, LinkedIn, YouTube, Cisco, Oracle, Airbnb, PayPal.  Anda kenal nama-nama ini? Jika tidak, mohon maaf, Anda adalah generasi masa lalu hehehehe. Ini adalah deretan perusahaan top dunia. Google atau yang kini rebranding nama perusahaannya menjadi Alphabet, adalah perusahaan terbesar ke 27 dunia dalam hal omset, laba, aset, dan kapitalisasi pasar. Omset perusahaan raja internet ini adalah USD 77,2 Milyar atau RP 1024T. Dengan omset itu, perusahaan besutan Larry Page dan Sergey Brin ini mengantongi laba USD 17 Milyar atau Rp 226T. Omset tersebut dicapai dengan aset senilai USD 149,7 Milyar (Rp 1987T). Dengan kinerja seperti itu, nilai pasar (seluruh saham) perusahaan yang melantai di New York Stock Exchange ini adalah USD 500,1 Milyar (Rp 6 639 T).

Saat menggunakan Google untuk mencari sebuah informasi di internet, Anda tidak pernah diminta membayar serupiah pun.  Anda baru akan diminta membayar kalau memasang iklan. Saat ada orang mengetik key word tertentu, iklan Anda akan dimunculkan. Sampai disitu Anda pun belum diminta untuk membayar. Baru setelah ada yang mengklik link iklan Anda, Google meminta Anda membayar.

Keberadaan Google memporak porandakan dunia  periklanan. Sebagai pelaku bisnis, saya masih merasakan dulu misalnya untuk memasang iklan spot ukuran panjang satu kolom tinggi 5 cm di sebuah koran dibutuhkan dana sekitar Rp 5 juta. Itupun hanya sekali tayang. Padahal untuk mempromosikan sebuah produk tentu tidak cukup sekali tayang langsung laris. Butuh beberapa kali tayang. Anggaran iklan ketika itu pun tinggi.

&&&

Sequoia. Itulah perusahaan yang dengan kapasitanya “menemukan” orang seperti Larry Page dan Serge Brin pada tahun 1988 dengan ide barunya. Sequoia, sebuah perusahaan venture capitalist, sejak tahun 1972 mengasuh anak-anak muda dengan ide-ide baru. Google, Whatsapp, Instagram, dan nama-nama yang saya sebut diatas adalah sebagian kecil dari karya “anak asuh” Sequoia. Kini  banyak “anak asuh” itu telah membesar dan go public. Total nilai sekitar USD 1,4 Trilyun atau Rp 18 585 Trilyun.

Logo Sequoia

Google menyumbang Rp 6 639 Trilyun dari angka itu. Dari komposisi pemegang sahamnya, pemilik YouTube ini bisa disebut perusahaan yang sudah “matang” alias sudah “jadi”. Ada dua kelompok pemilik saham Google yaitu individu dengan total 24,7% dan institusional dengan total 75,25. Lima pesaham institusional tertinggi adalah Vanguard (7,6%), BlackRock (6,6%), FMR (5,335%), State Street (4,62%), dan Price T Rowe (4,01%).  Kelimanya adalah perusahaan investasi. Google (Alphabet) adalah sebuah fully public company.  Tidak ada lagi pemegang saham pengendali.

Mengamati konsep bisnis Sequoia, bisa disimpulkan bahwa ada dua jalur karir bagi anak-anak muda USA. Yang pertama adalah bagi anak-anak muda yang punya ide “gila” seperti Brin dan Page pendiri Google itu. Anak-anak yang punya ide bisnis benar-benar baru akan diasuh oleh venture capitalist seperti Sequoia. Dibina dan disuntik modal sejak awal. Setelah cukup kuat, perusahaan didorong untuk terus berkembang dengan dana publik melalui lantai bursa. Dana publik ini dihimpun melalui perusahaan-perusahaan investasi seperti 5 pesaham institusional terbesar Google itu.

Jalur karir kedua adalah anak muda yang tidak memiliki ide bisnis baru. Jenis ini jumlahnya lebih banyak dan tidak kalah strategis. Mereka juga terdiri dari orang-orang pintar berkualitas kelas atas lulusan perguruan-perguruan tinggi top dunia. Kelompok kedua ini akan berkarir dan bekerja keras membesarkan perusahaan-perusahaan yang sudah ada.  Hasil karya mereka, saat ini dari 2000 perusahaan terbesar dunia (berdasar omset, laba, aset dan kapitalisasi pasar), 540 berasal dari USA.  Sebagian besar adalah perusahaan-perusahaan gaya lama seperti McD, Coca Cola, Citibank, ExxonMobil, dan sejenisnya. Sebagian kecil adalah pemain baru seperti Google tadi.  Inilah yang menjadikan USA sebagai negara dengan PDB seperempat PDB dunia.

Dengan dua jalur karir pemudanya, USA saat ini merajai bisnis dunia. Kedepanpun, nampaknya USA akan tetap unggul.  Dengan banyaknya venture capitalist dan investment company raksasanya, USA adalah bangsa yang paling serius menyemai dan menumbuhkan perusahaan perusahaan baru alias start up company.

Kita mesti belajar dari USA. Anak-anak muda yang punya ide baru mesti didorong menjadi entrepreneur dengan start up company. Sementara itu, yang tidak punya ide baru mesti didorong bekerja keras membesarkan perusahaan yang sudah ada. Dorong mereka berkarir sampai puncak yaitu menjadi CEO.  Juga beri kesempatan menjadi pesaham saat perusahaan melepas saham baru untuk memenuhi kebutuhan modal ekspansi pasar.

Yang tidak punya ide baru berperan membesarkan perusahaan yang ada agar menjadi kelas dunia. Yang punya ide baru didukung dengan bimbingan dan modal. Untuk itu kita butuh banyak investment company yang mengumbulkan dana ratusan ribu trilyun dari masyarakat seperti Vanguard, BlacRock, FMR, State Street dan Price T Rowe yang menyuntik modal besar untuk Google. Kita juga butuh pengasuh anak-anak muda seperti Sequoia.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Korporatisasi: Fokus


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting

Surabaya, 21 Pebruari 2017. Selepas sholat jamaah asyar di mushola lantai 17, saya segera kembali ke lanti 9.  Di ruang tamu SNF Consulting, kantor saya,  tiga orang telah duduk manis. Seorang ibu dengan dua putranya yang memang telah janjian melalui telepon. Bertiga akan  tentang bisnisnya yang menurutnya telah “mememenjarakan” dirinya. Disebut memenjarakan karena sekeluarga semuanya harus full ngurusi bisnis. Ditinggal sedikit saya sudah eror.

Si ibu punya empat unit bisnis. Masing-masing bersifat ritel (langsung melayani end user). Bisnis pertama adalah toko obat. Ini adalah rintisan sejak awal. Melayani konsumen yang membeli obat bebas (obat non resep, OTC). Berada di sebuah kota kecil yang intensitas kebersamaannya tinggi, bisnis pertamanya ini memiliki pelanggan pelanggan loyal dan menghasilkan laba yang bagus.

Setelah memiliki uang yang cukup dari bisnis pertama, si ibu memutuskan membangun bisnis kedua  berupa apotek. Motivasinya adalah melengkapi bisnis pertama. Melayani konsumen yang kurang lebih sama yaitu warga sekitar yang membutuhkan obat dengan resep dokter. Bisnis kedua ini pun relatif lancar dan menghasilkan laba yang menyenangkan.

Berikutnya, laba dari bisnis obat, baik yang resep maupun non resep dikumpulkan dan kemudian digunakan untuk membuka bisnis baru berupa toko perlengkapan bayi (baby shop). Toko ini pun mendapatkan sambutan yang juga cukup  bagus dari pasar warga sekitar dan menghasilkan laba.

Selanjutnya, laba dari ketiganya dipakai untuk bisnis baru lagi berupa klinik kecantikan. Sebuah bisnis yang sama sekali berbeda karakter dengan bisnis-bisnis sebelumnya yang hanya bersifat perdagangan. Klinik kecantikan membutuhkan layanan yang intensif. Bisnis ini pun menguntungkan hingga saat ini.

Masalahnya adalah beban pekerjaan. Si ibu, sang suami dan anak pertama yang sudah lulus kuliah setiap hari berkutat berbagi mengelola empat bisnis tersebut. Si suami mengelola toko obat dan apotek.  Hari-hari waktunya habis untuk operasional bisnis toko obat dan apotek-nya. Si anak sulung mengelola bisnis perlengkapan bayi. Si ibu mengelola bisnis klinik kecantikan. Masing-masing sudah menyita sebagian besar waktu kseharian.  Karyawan yang ada murni hanya menjadi pembantu. Tidak bisa dilepas tanpa kehadiran pemilik. Inilah masalah si ibu bersama keluarga dalam menjalani bisnis sehari-hari.

&&&

Pembaca yang baik, apa yang dilakukan oleh si Ibu dengan empat gerainya adalah bisnis perseorangan. Sebagai sebuah awalan, hal itu bukanlah masalah. Perusahaan besar manapun pada umumnya dimulai dari bisnis perseorangan dengan beberapa karyawan yang berfungsi murni hanya sebagai pembantu. Bahkan banyak yang dimulai sendirian. Single fighter.

Image result for apotek k24

Fokus tambah outlet: Dibutuhkan paling tidak sekitar 30 outlet yang dikelola sendiri untuk bisa dibangun sistem manajemen ritail yang kuat seperti K24 ini.

Dengan bisnis sederhana seperti itu, uang dan kekayaan bisa diperolah. Banyak orang punya rumah mewah, mobil mewah, pergi haji, menyekolahkan anak ke jenjang pendidikan tertinggi dan sebagainya dengan bisnis sesederhana itu.

Tetapi….jaman berubah. Satu demi satu bisnis perorangan tergusur oleh bisnis korporasi besar bermerek dan bersistem manajemen kuat. Yang kasat mata misalnya adalah bisnis ritel toko-toko kelontong di gang-gang kampung. Satu demi satu dipaksa tutup terkalahkan oleh jaringan minimarket dengan merek dan sistem manajemen kuat yang hadir dengan puluhan ribu gerai dimana-mana.Maka, yang dialami si ibu dengan dua anak di atas sebenarnya adalah sesuatu yang mesti dijawab dengan perbaikan. Perbaikan sistem manajemen adalah agenda paling mendesak.

 

Bagaimana melakukannya? Sistem manajemen itu bisa dianalogikan sebagai anyaman bilah-bilah bambu. Salah satu syarat utama anyaman adalah jumlah bilah bambu yang cukup. Satu, dua, tiga atau empat bilah bambu tentu tidak dapat dianyam. Anyaman baru akan kuat jika dibuat dengan  puluhan bahkan ratusan bilah bambu. Bilah-bilah bambu saling mengikat satu sama lain sehingga membangun sebuah anyaman yang kokoh awet.

Analog anyaman, sistem manajemen baru bisa dibuat dengan baik jika ada karyawan dengan jumlah yang cukup untuk membentuk struktur organisasi dengan banyak level.  Ada banyak level jabatan dari pimpinan puncak sampai staf terbawah akan saling mengikat dengan standard operating procedure (SOP) untuk menjadi sebuah “anyaman”. Jika karyawan sedikit, tentu tidak bisa dibuat banyak level jabatan.

Bagaimana si ibu tadi bisa membangun sistem manajemen? Jika mau, si ibu harus memilih satu dari empat unit bisnisnya dan menjual 3 yang lain. Hasil penjualan 3 unit bisnis dipakai untuk membuat gerai baru untuk unit bisnis yang dipilih. Misalkan memilih klinik kecantikan, ia mesti menjual apotek, baby shop, dan toko obat. Hasil penjualannya dipakai untuk membuat 3 gerai klinik kecantikan baru. Dengan demikian ia akan memiliki 4 klinik kecantikan. Barulah bisa dibuat struktur organisasi yang walau masih sangat sederhana bisa “dianyam” dengan SOP untuk menjadi sistem manajemen dalam bentuk yang juga masih paling sederhana. Sistem manajemen paling sederhana seperti ini mustahil bisa dibuat pada sebuah jenis bisnis yang masing-masing hanya memiliki satu gerai seperti selama ini.

Pelajaran penting dari uraian di atas adalah…. Memilih dan menekuni satu bidang usaha lalu memperbesarnya dengan banyak gerai adalah prasyarat untuk dibangunnya sistem manajemen yang kuat.  Prasyarat untuk dilakukannya proses korporatisasi. Prasyarat untuk menang menghadapi persaingan bisnis dengan raksasa-raksasa global yang juga telah jauh lebih dahulu melakukan spesialisasi dan korporatisasi. Korporatisasi atau mati. Anda siap?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

 

212


Oleh Iman Supriyono, CEO dan konsultan manajemen senior pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com *)

Tujuh juta orang. Masing-masing menyetor seratus ribu rupiah tiap bulan dengan disiplin. Tiap bulan terkumpul Rp 700 Milyar.  Tiap-tiap tahun terkumpul 8,4 Trilyun. Uang itu nilainya lebih besar dari harga 5,062 milyar lembar saham PT Nippon Indosari Corpindo Tbk. (Sari Roti) yang harga perlembarnya saat ini berkisar pada angka Rp 1500 ini. Ya..angka itu lebih besar dari harga seluruh saham   (kapitalisasi pasar, nilai seluruh perusahaan) Sari Roti yang sebesar  Rp 7,5 Trilyun.

Aksi super damai 212 yang dihadiri lebih dari 7 juta orang. Foto: http://www.sulsel.pojoksatu.id

Tujuh juta orang. Masing masing membutuhkan satu porsi nasi dan satu botol air minum untuk makan siang. Dengan harga nasi Rp 18 ribu per porsi dan air minum perbotol Rp 2 ribu, ada potensi omset Rp 140  milyar untuk sekali makan. Ini adalah gambaran kumpulan 7 juta orang sebagai pasar. Tentu  masih ada banyak potensi lain.

Itu potensinya. Pertanyaannya adalah, bagaimana menjadikan potensi itu menjadi sebuah kenyataan? Ada beberapa informasi berseliweran melalui media sosial untuk menangkap potensi itu. Ada yang berencana mendirikan sebuah koperasi. Bahkan daftar pengurusnya sudah beredar pula di media sosial. Ada yang  berencana membuat minimarket atau supermarket. Koordinasi juga sudah dilakukan melalui pertemuan-pertemuan.  Ada yang akan membuat pabrik roti. Sama….informasinya juga sudah berbedar secara deras melalui  media sosial dan grup-grup chating. Itu yang informasinya masuk melalui gadged saya. Diluar itu mungkin masih akan banyak ide untuk menangkap potensi itu.

&&&

Vanguard Investment Company didirikan tahun 1975 oleh John C Bogie di Amerika Serikat. Bogie adalah orang yang sejak lulus kuliah menekuni bekerja di bidang investasi. Dengan keahlian pendirinya yang tidak diragukan di bidang investasi itu,  Vanguard meraih kepercayaan yang luar biasa dari para Investor. Saat ini, dalam usianya yang  ke 41, Vanguard dipercaya oleh lebih dari 20 juta orang untuk mengelola dana investasi senilai lebih dari Rp 40 ribu Trilyun.

Apa yang dilakukan perusahaan berkaryawan lebih dari 14 ribu itu?  Sebagaimana layaknya sebuah investment company, Vanguard menginvestasikan dana yang dikelolannya dengan konsep portofolio.  Menyebar risiko investasi pada berbagai instrumen investasi.

Jika beberapa waktu lalu Anda mendengar kabar tentang akuisisi Yahoo oleh Verizon, maka Varguard berada di balik transaksi itu. kenapa? Vanguard adalah investmen company dibalik berita itu. Vanguard adalah salah satu pemegang saham besar dari kedua perusahaana tersebut.  Di Verizon, Vanguard adalah pemegang saham terbesar  dengan 6,46%.  Pemegang saham lain prosentase kepemilikannya lebih kecil. Di Yahoo, Vangauard pegang 5,73%. Saham di Yahoo ini adalah prosentase terbesar kedua setelah  TCI Fund Management yang memegang 9,04% saham.

&&&

Pembaca yang baik, investment company adalah format yang paling cocok untuk mewadahi potensi ekonomi dari jutaan orang. Ada beberapa argumen untuk ini. Yang utama, investment company berfokus pada keamanan dana. Warren Buffett, salah satu dedengkot investment company global dalam laporan tahunan Bershire Hathaway menyatakan bahwa sebuah investment company tidak tertarik dengan prospek. Investment company hanya tertarik pada kinerja. Maka, haram bagi sebuah investement company menanamkan uangnya pada perusahaan baru. Investment company hanya menanamkan uangnya pada perusahaan yang telah terbukti memiliki kinerja ekselen dalam jangka panjang.

Selain  memilih tempat investasi yang aman, sebuah perusahaan investasi mestilah menanamkan dananya pada banyak perusahaaan dan banyak instrumen investasi. Menanamkan dananya sesuai dengan konsep portofolio. Jangan taruh telormu pada satu keranjang. Demikian doktrin yang umum bagi sebauh perusahaan investasi. Itulah mengapa kepemilikan vanguard di yahoo, verizon ataupun perusahaan lain berada dalam prosentase yang kecil-kecil. Tidak memegng saham dominan apalagi pengendali.

Potensi pengumpulan dana Rp 8,4Trilyun dalam setahun seperti yang saya narasikan di awal tulisan ini masih bisa diperbesar. Jika Vanguard bisa mengumpulkan 20 juta investor dari 170 negara, semangat 212 bisa menjadi momentum untuk bisa melakukan seperti apa yang telah dilakukan oleh Vanguard. Mengumpulkan dana dari masyarakat luas dan kemudian digunakan untuk berinvesasi di bebagai perusahaan yang sudah terbukti mapan di pasar.

Salah satu yang bisa dibeli sahamnya adalah Sari Roti. Meneladani Usman bin Afan yang atas perintah Rasulullah dulu membeli saham sebuah sumur di Madinah. Pembelian yang mengakhiri ketergantungan konsumen muslim ketika itu kepada sumur milik Yahudi. Kedepan, dengan meningkatkan jumlah orang maupun setoran dana investasinya, bukan hanya Sari Roti yang sahamnya dibeli. Masih ada ratusan perusahaan yang sahamya mesti dibeli. Dan juga masih banyak perusahaan milik kaum muslim yang sudah lama eksis di pasar tapi masih kecil membutuhkan gelontoran dana untuk berekspansi dengan cepat.  Ini semua adalah pekerjaan sebuah investment company. Semoga semangat 212 bisa terwujud menjadi investment company raksasa. Seperti Vanguard.

*)Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Jahiliah atau Ilmiah?


Oleh Iman Supriyono, CEO dan konsultan manajemen senior pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Jahiliah: butuh bukti fisik luar biasa dan diluar nalar (mukjizat, seperti mukjizat banjir bandang jaman Nabi Nuh) untuk meyakini, berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Ilmiah: cukup dengan ilmu (dengan karakter prediktif yang melekat padanya) orang sudah bisa yakin, berbuat atau tidak berbuat sesuatu.

Maka, ketika ilmu kedokteran, agama, dan keuangan misalnya menyatakan bahwa merokok itu buruk, orang ilmiah sudah meninggalkan rokok. Ketika ilmu kedokteran menyatakan bahwa olahraga adalah wajib untuk menjaga kesehatan, orang ilmiah sudah langsung disipilin berolah raga. Ketika ilmuwan manajemen menyatakan bahwa menjalankan perusahaan sesuai kurva korporatisasi adalah keharusan, seorang pimpinan perusahaan yang berjiwa ilmiah langsung melakukan proses korporatisasi.

Kapal di tengah hujan deras sebagai ilustrasi suasana banjir bandang jaman Nabi Nuh. Diambil dari http://www.suratkabar.id

Kalau yang masih jahiliah? butuh mukjizat sekelas banjir bandang Nabi Nuh untuk tidak merokok atau disiplin berolah raga atau malakukan korporatisasi.

Bagi Anda yang muslim, ini juga bisa menjelaskan perbedaan antara mukjizat Nabi Muhammad SAW yaitu berupa Al Qur’an (yang berupa teks ilmiah), berbeda dengan mukjizat nabi-nabi terdahulu seperti menghidupkan orang mati pada nabi Isa, dibakar tidak mempan nabi Ibrahim, atau membelah laut pada Nabi Musa. Itulah kenapa Nabi Muhammad SAW selalu disebut mengubah dari jaman jahiliah menjadi jaman terang benderang (ilmiah) di berbagai ceramah, pidato maupun tulisan. Anda bisa menangkapnya kan?

Pingin sukses? Pingin menguasai ekonomi? Pingin ekonomi tidak dikuasai asing? Pingin badan tidak kegemukan? Pingin berkuasa? Pingin masuk surga? Pingin punya perusahaan besar? Atau pingin apa saja? Semua ada ilmunya.

Masalahnya satu saja:
Anda jahiliyah atau ilmiah?

Tulisan ini adalah pengembangan dari tulisan yang diposting di account FB penulis setelah diedit kembali dan diunggah ulang di blog ini.