Diakuisisi atau Mengakuisisi: Satu Demi Satu Jatuh ke Tangan Asing


Misalnya Anda adalah pendiri dan perintis sebuah usaha yang air minum dalam kemasan dengan merek XYZ. Perusahaan yang Anda rintis dan tekuni sejak dua puluh tahun lalu itu saat ini menghasilkan laba Rp 10 Milyar (pertahun). Kini usia Anda  adalah 50 tahun. Suatu saat Anda didatangi oleh manajer pengembangan usaha Unilever menawari Anda untuk membeli 100% saham perusahaan Anda dengan harga 25 tahun laba alias Rp 250 Milyar. Anda dipersilakan pensiun dengan menikmati laba 25 tahun kedepan dalam bentuk uang tunai. Anda tertarik tidak?  Ngiler tidak?

@@@

Banyak sekali perusahaan-perusahaan di negeri ini yang diakuisisi oleh perusahaan asing multinasional. Kecap Bango dan Teh Sariwangi  diakusisi Unilever, Aqua diakusisi Danone, Indosat oleh Oredoo, XL oleh Axiata, Bank BII oleh Maybank, Bank Niaga oleh CIMB, Bank NISP oleh Bank OCBC. ABC oleh Heinz dan masih banyak lagi. Bagaimana akusisi seperti itu bisa terjadi?

Ada beberapa alasan mengapa sebuah akusisi bisa terjadi. Pertama, adanya fenomena crowding effect yang makin nyata di dunia bisnis. Konsumen hanya akan mau membeli produk yang mereknya dikenal dan dipakai dimana-mana di seluruh dunia. Ada juga fenonomena career choice effect. Anak-anak muda memilih berkarir di perusahaan yang hadir dimana-mana di seluruh dunia. Dalam kedua fenomena yang sudah pernah saya tulis ini, akuisisi adalah cara cepat agar sebuah perusahaan bisa masuk pasar berbagai negara.

Hasil gambar untuk kecap bango

Salah satu merek milik Unilever hasil akuisisi di Indonesia

Ketika mau masuk pasar Indonesia, terlalu berat bagi Oredoo misalnya untuk mendirikan perusahaan operator seluler baru. Bahkan nyaris mustahil. Operator yang ada saja tingkat persaingannya sudah sangat tinggi. Operator-operator kecil sudah gulung tikar. Akuisisi menjadi satu-satunya cara.

Kedua, kebutuhan perusahaan yang akan diakusisi. Di dunia perbankan misalnya, sebuah bank yang tumbuh pesat membutuhkan setoran modal secara terus-menerus untuk mempertahankan tingkat modal minimum alias CAR. Sementara para pendiri dan pesaham yang ada seluruh asetnya sudah disetorkan. Maka, akuisisi adalah cara yang logis untuk memenuhi kebutuhan modal tersebut. Selanjutnya perusahaan pengakuisisi akan menyetor berapapun kebutuhan modalnya.

Untuk perusahaan non perbankan memang tidak ada regulasi yang mewajibkan modal minimum seperti di perbankan. Tapi kebutuhan modal mendesak itu tetap ada. Desakan misalnya bisa berasal dari para distributor yang minta barang segera disediakan. Butuh pabrik baru.  Sementara laba yang ada belum bisa terkumpul untuk pembangunan pabrik, maka setoran modal baru adalah sebuah keniscayaan.

Ketiga, adanya tawaran menggiurkan. Inilah senjata sakti perusahaan pengakuisisi. Seperti dalam pembukaan tulisan ini. Para pendiri perusahaan yang telah bekerja keras mendirikan, merintis dan mengembangkan usaha dengan segala susah payahnya diberi tawaran untuk pensiun, istirahat dan menikmati laba selama 25 tahun kedepan berupa uang tunai diterimakan saat ini. Tergiur tidak?

Lalu, bagaimana perusahaan pengakuisisi mendapatkan dana sebesar itu dan bagaimana perhitungannya? Bagaimana menghasilkan  laba jika harus mengeluarkan uang setara dengan 25 tahun laba?  Di sinilah kuncinya. Mereka adalah perusahaan terkorporatisasi.  Jika butuh modal tinggal mengumumkan penerbitan saham baru (rights issue) di lantai bursa. Uang dari perusahaan-perusahaan investasi (investment company, IC) pun mengalir deras dengan tuntutan dividen kecil. Sekitar 2-3% pertahun. Para pemegang saham Unilever cukup dengan dividen sebesar 3,28% dari duit yang disetorkannya. Prosentase inilah yang menjadi dasar perhitungan Unilever saat melakukan akuisisi.

Kembali ke contoh di atas, harga akusisi 25 tahun laba itu artinya adalah Unilever akan menerima laba 1/25 alias 4% dari nilai akuisisi tiap tahun. Danamya diperoleh dari menerbitkan saham baru di lantai bursa London dengan membayar dividen 3,28% pertahun. Artinya, dengan akuissi itu Unilever akan untung 0,72% pertahun. Anda sebagai pendiri AMDK  XYZ yang diakusisi senang bukan kepalang karena menikmati uang besar 25 tahun laba. Sementara ternyata Unilever lebih senang lagi karena akan menikmati selisih laba 0,72 % pertahun dari nilai akuisisi. Dan tentu saja angka selisih itu akan terus meMbesar seiring dengan membesarnya merek AMDK  XYZ yang diakusisi dari Anda.

Itulah logika akusisi. Itulah jawaban mengapa satu demi satu perusahaan di tanah air diakusisi oleh pemain global. Jika tidak ingin diakusisi, satu-satunya cara adalah membesar melalui korporatisasi dan kemudian justru memiliki kemampuan untuk mengakuisisi perusahaan-perusahaan sejenis di luar negeri. Persis seperti cara yang dilakukan Unilever. Bagiamana, mau diakuisisi atau mengakuisisi?

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Cara Cokroaminoto Cara Zara: Cara Sunyi Para CEO


Memang Batavia adalah ibu kota Hindia Belanda. Batavia adalah pusat segala pusat bagi wilayah yang kelak menjadi Republik Indonesia ini. Tapi HOS Cokroaminoto membangun pondasi kemerdekaan melalui Soekarno dan kawan-kawan dengan diam-diam dari Surabaya. Sebuah kota yang kelak disemati gelar sebagai kota pahlawan. Bukan dari Jakarta.

Berkas:Amancio Ortega Gaona signature.png

Tanda tangan Amancio Ortega, pendiri si terkenal Zara yang tidak terkenal

Negara yang kini secara politik telah merdeka itu masih menggantungkan nyaris setiap kebutuhan barang dan jasanya kepada perusahaan-perusahaan asing. Belum merdeka secara ekonomi. Lalu, bisakah Surabaya secara diam-diam ambil peran untuk membangun pondasi kemerdekaan ekonomi? Mengkloning peran politik HOS Cokroaminoto untuk sektor ekonomi?

***
Tentang membangun kemerdekaan politik kita sudah bisa mempelajarinya melalui buku-buku sejarah. Bahkan kita sudah menikmati hasilnya dengan keberadaan republik ini. Lalu bagaimana membangun kemerdekaan ekonomi?

Mari belajar dari ketergantungan ekonomi negeri tercinta selama ini. Sekian lama mempelajari sejarah dan data konstalasi ekonomi dan bisnis berbagai negara, saya menyimpulkan bahwa sumber barang dan jasa yang selama menjadi penyedia kebutuhan negeri ini adalah perusahaan-perusahaan. Tentu saja bukan sembarang perusahaan. Melainkan perusahaan yang memiliki tiga hal berikut ini.

Pertama adalah visi yang kuat dari para pendiri dan pengelolanya. Visi kuat yang melampaui batas-batas negara. Ini mutlak karena sebuah perusahaan akan kalah kekuatan merek dan kalah efisien jika skala produk atau layanannya tidak mencakup wilayah geografis yang luas lintas bangsa lintas benua. Maka, jangan harap kita akan merdeka secara ekonomi jika visi para pendiri dan pengelola perusahaan masih berskala lokal.

Kedua, perusahaan tersebut memiliki core compentence yang diakui pasar. Ciri sederhananya, setiap melakukan ekspansi, perusahaan tersebut bisa mendapatkan omzet yang cukup untuk membuat aset yang digunakan untuk ekspansi terbayar melalui laba. Contoh ekspansi adalah membuka gerai baru bagi sebuah perusahaan ritel.

Ketiga adalah akses terhadap sumber modal murah yang nyaris tanpa batas. Saya pernah menulis tentang mindset “raja utang” yang  mengakibatkan sebuah perusahaan tidak mampu memperoleh sumber modal dengan biaya murah. Disebut murah adalah apabila sebuah perusahaan bisa berekspansi dengan biaya modal sekitar 2% pertahun. Bandingkan dengan perusahan ber-mindset raja utang harus membayar biaya modal lebih dari 30% pertahun secara arus kas. Beda jauh sekali.

Itulah tiga hal yang harus dimiliki perusahaan agar unggul dalam persaingan dan menguasai pasar dunia. Tentu saja termasuk pasar Indonesia.  Zara si ritel pakaian top dunia adalah contoh yang memiliki ketiganya. Pertanyaannya, bagaimana membantu para pendiri dan pengelola perusahaan menuju kesana? Apa hubungannya dengan Cokroaminoto? Apa hubunganya dengan Surabaya?

Membangun perusahaan dengan karakteristik seperti itu butuh para penggerak.  Dalam sektor politik seperti Bung Karno dan murid-murid Cokroaminoto lain. Daaan…. Surabaya punya banyak kandidat-kandidat untuk itu. SNF Consulting punya banyak klien yang seperti ini dari Surabaya. Para founder yang sedang bekerja keras membangun perusahaan yang memiliki tiga hal tersebut melalui proses korporatisasi. Proses transformasi dari perusahaan perorangan menjadi korporat. Tidak mungkin perusahaan perorangan mampu memilikinya.

Mengapa cara diam-diam ala Cokroaminoto dan bukan cara ramai-ramai ala seminar ratusan orang? Diam-diam lebih powerfull. Air beriak tanda tak dalam, air tenang menghanyutkan. Seperti kata hikmah Amancio Ortega, pendiri Zara. Menurut Ortega, seorang entrepeneur itu dikorankan (diviralkan) tiga kali saja sepanjang usianya yaitu saat lahir, menikah dan saat mati. Selebihnya hanya dikenal oleh keluarga, kawan dan kolega.

Maka, bagi para pendiri dan pengelola peruasaan yang mau jadi seperti Zara, kerjanya adalah di ruang-ruang rapat. Bukan di ruang seminar. Bukan di ruang publik. Mengevaluasi dan menyusun agenda stratejik dari waktu ke waktu. Forum seperti inilah yang sehari-hari saya dan kawan-kawan SNF Consulting  sangat menikmatinya sebagai  konsultan manajemen. Rapat stratejik di ruang rapat perusahaan klien. Harapannya, dalam beberapa tahun kedepan akan muncul perusahaan-perusahaan yang mampu membebaskan  negeri ini dari ketergantungan kepada produk asing. Perusahaan sekelas Zara. Dari Surabaya, Bandar Lampung, Sorong, Malang…dan kota-kota kedua lainnya.  Aamin.

 

 

Enam Pilar Kemerdekaan Ekonomi Bangsa


Perusahaan-perusahaan adalah ujung tombak daya saing sebuah bangsa. Karya-karya peradaban kini dihasilkan oleh perusahaan. Bukan lagi oleh negara seperti jaman dahulu. Bangsa yang unggul berisi perusahaan-perusahaan unggul. Perusahaan prinsipal yang produknya dipakai berbagai bangsa. Sebaliknya, bangsa yang lemah juga berisi perusahaan-perusahaan lemah.

Walaupun telah merdeka secara politik sejak tahun 1945, akan tetapi RI masih terus tergantung produk perusahaan-perusahaan asing hingga saat ini. Mulai dari bangun pagi ke bangun pagi berikutnya kita menggunakan dan mengkonsumsi produk-produk perusahaan asing. Mulai dari urusan remeh temeh seperti semir sepatu dan jarum jahit sampai urusan canggih-canggih seperti pesawat terbang dan gadged.

Memang pada era korporatisasi seperti sekarang ini, bangsa unggul bukanlah bangsa yang sama sekali tidak mengkonsumsi produk perusahaan asing. Bangsa unggul adalah bangsa yang mengkonsumsi produk perusahaan-perusahaan asing jauh lebih sedikit dari pada bangsa asing mengkonsumsi produk perusahaan-perusahaan bangsa itu. Bangsa produsen. Bukan bangsa konsumen.
Hasil gambar untuk VOC

VOC, perusahaan penguasa ekonomi nusantara pada masa penjajahan Belanda. Gambar dari http://www.berbagaireviews.com

Bagaimana menjadi bangsa produsen? Bagaimana menajadi bangsa yang unggul? Bagaimana menjadi bangsa dengan perusahaan-perusahaan unggul? Dibutuhkan sebuah ekosistem.  Ekosistem yang dibangun dari  enam pilar berikut ini.

Pilar pertama adalah korporatisasi perusahaan yang telah eksis di pasar.
Ciri utama perusahaan eksis di pasar adalah telah menemukan revenue and profit driver (RPD). RPD adalah aset yang begitu dimiliki akan langsung menghasilkan tambahan omzet dan laba.

Bagi perusahaan mini market misalnya, RPD-nya adalah penambahan jumlah gerai. Perusahaan eksis di pasar akan mampu terus-menerus membuka gerai dan menghasilkan omzet sekaligus  laba dari gerai yang dibukanya. Alfamart misalnya tiap hari rata-rata membuka 3 gerai baru.

Kendala kita selama ini adalah ketidakfahaman para pendiri perusahaan ber-RPD.  Mereka tidak mau terus-menerus menerbitkan saham baru sebagai modal ekspansi. Terpaku pada utang dan takut dengan dilusi.  Baca tulisab saya “Raja Utang” untuk pembahasan lebih detail tentang hal ini.  Padahal, dilusi justru adalah sarana meningkatkan nilai buku maupun nilai pasar saham, termasauk saham milik pendiri, puluhan bahkan ratusan kali lipat. Dilusi menghasilkan agio saham alias “upeti” dari pada pemegang saham baru. Modal untuk ekspansi dengan cost of capital yang rendah.

Pilar kedua, adanya masyarakat berbudaya investasi alias investing society. Masyarakat seperti ini akan selalu menyisihkan paling tidak 10% gajinya sebagai dana investasi. Suatu saat pendapatan investasinya, utamanya dividen, akan cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Itulah yg disebut bebas finansial alias skor FSQ 2 dalam buku saya “Financial Spiritual Auotient” tulisan saya.

Pada sebuah investing society, semua pekerja adalah pemegang saham di  perusahaan tempatnya bekerja dan perusahaaan-perusahaan lain. Sebaliknya, para pendiri pun akan dituntut bekerja profesional di perusahaan yang didirikannya sendiri sesuai tata kelola perusahaan.

Pilar ketiga, tumbuhnya banyak investment company (IC). Di Indonesia ada Saratoga yang aset kelolaannya sekitar Rp 30T. Kita banyak butuh IC di negeri ini. Seperti di USA yang mana 7 dari 10 IC terbesar dunia berasal dari sana. Ada Berkshire Hathaway besutan Warren Buffet yang aset kelolaannya sekitar Rp 8 ribu T. Ada State Street yang Rp 300 ribu T. RI butuh banyak  IC yang akumulasi aset kelolaannya paling tidak sekitar Rp 6 ribu T untuk menjadi bangsa yang merdeka secara ekonomi.

IC bekerja mengumpulkan dana investasi masyarakat untuk diinvestasikan di berbagai perusahaan. Prinsipnya adalah aman-aman-aman-hasil. Keamanan adalah nomor satu dua dan tiga. Nomor empat barulah bicara hasil.

Prinsip tersebut dieksekusi dengan konsep portofolio. Jangan taruh telormu pada satu keranjang. Menyebar 99,7% -99,9% dana kelolaan pada berbagai perusahaan yang telah memiliki RPD. Perusahaan mapan. Sisanya 0,1 -0,3% dialokasikan untuk start up. Untuk bisnis yang sama sekali baru. Bisnis yang belum pernah ada di muka bumi hasil kerja para entrepreneur kreatif. Bisnis masa depan.

Pada dasarnya, lembaga pengelola wakaf (Nadzir) adalah IC juga. Oleh karena itu nadzir termasuk bagian dari pilar ketiga ini. Segala bahasan tentang IC juga berlaku untuk nadzir. Bedanya hanya pada penerima manfaat investasi. Jika penerima manfaat investasi IC sepenuhnya adalah pemegang saham, pada nadzir 90% hasil investasi menjadi hak kaum lemah yang memenuhi syarat sebagai mauquf ilaih.

Pilar keempat adalah para entrepreneur kreatif. Para entrepreneur yang memiliki ide bisnis yang sama sekali baru. Belum pernah ada bisnis sejenis di muka bumi ini. Dan… mereka bekerja keras mati-matian untuk mewujudkan ide menjadi perusahaan penguasa pasar dunia melalui korporatisasi.

Kenapa harus sama sekali baru? Karena kalau tidak sama sekali baru akan bersaing dengan perusahaan besar ber RPD. Perusahaan mapan. IC akan lebih memilih perusahaan mapan  yang memenuhi kriteria aman-aman-aman-hasil dalam menempatkan dananya.

Kelima adalah adanya perusahaan venture capitalist (VC). Kerja perusahaan ini adalah menyetor modal sebagai saham pada perusahaan start up (pilar nomor 4) sekaligus melakukan pembinaan manajemen. Setelah perusahaan cukup bagus kemudian ditindak lanjuti dengan proses korporatisasi menerbitkan saham baru. IC adalah pembelinya dengan alokasi 0,1 -0,3% dari total aset kelolaan sebagaimana uraian di atas. Kelak saat harga saham binaannya naik berlipat VC pun akan melepas saham miliknya untuk memenerima capital gain.

Di dunia,  VC yang paling top adalah Sequoia dari USA. Perusahaan inilah yang telah sukses mengasuh banyak start up yang kini telah melayani masyarakat luas di berbagai belahan dunia seperti Google.  Gojek juga merupakan anak asuh Sequoia. RI butuh “Sequoia” karya anak negeri.

Keenam adalah konsultan manajemen. Perusahaan konsultan manajemenlah yang terus-menerus menjadi sparring partner team manajemen perusahaan ber-RPD untuk melakukan korporatisasi. Di dunia ada McKinsey dan Boston Consulting Group. Di RI ada SNF Consulting (www.snfconsulting), kantor dimana saya berkarir, yang terus bekerja keras mendukung proses korporatisasi klien-kliennya. Korporatisasi baik dengan cara organik maupun anorganik yaitu merger dan akuisisi. Itulah peran konsultan manajemen.

RI butuh kokohnya enam pilar tersebut untuk merdeka secara ekonomi. Keenam pilar tersebut membutuhkan peran semua warga masyarakat. Peran kita semua. Peran saya. Peran Anda. Saya berperan melalui SNF Consulting. Peran Anda?

Ditulis pada tanggal 29 Oktober 2018 di SNF Consulting

 

Entrepreneur, Jangan Menyebut Diri Sebagai UKM


Anda entrepreneur? Jangan pernah menyebut diri sebagai UKM atau UMKM. Jangan pernah melabeli diri sebagai UKM atau UMKM. Jangan! Mengapa? Berikut ini alasannya.

Pertama, menyebut diri berulang-ulang adalah sebuah afirmasi. Menyebut berulang-ulang dalam jangka jangka panjang adalah penguatan afirmasi. Afirmasi akan masuk alam bawah sadar dan akan menuntun Anda menjadi apa yang Anda afirmasikan itu.

Bagi Anda yang muslim, perhatikan sebuah hadits qudsi sahih ini.  “Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku”. Menyebut diri berulang-ulang adalah bentuk kuat dari sebuah persangkaan. Sang Khalik pun akan menjadikan Anda sebagai UKM.

Kedua, seperti pada tulisan-tulisan saya sebelumnya, “ikan kecil” akan menjadi mangsa “ikan besar”. Itulah dunia bisnis.  Maka, pernyataan “lebih baik menjadi kepala ikan kecil dari pada sirip ikan besar” adalah kesalahan. Yang betul adalah “lebih baik menjadi sirip ikan besar dari pada kepala ikan kecil”.

UKM no

Perusahaan kecil tidak mungkin menjadi prinsipal. Sekedar contoh, menjadi prinsipal mobil seperti Toyota membutuhkan aset sebesar sekitar Rp 6 750T. Maka kalau aset hanya seukuran bengkel, seperti mobnas Esemka misalnya, jangan harap bisa jadi perusahaan prinsipal alias pemilik merek mobil. Menyebut-nyebut diri sebagai UKM hanya akan menjauhkan diri Anda dari visi sebagai perusahaan prinsipal.

Ketiga, ukuran kecil pada era korporatisasi adalah kelemahan dalam skala ekonomi dan branding. Sebagai analogi,  Andai saja Anda ditakdirkan menjadi anak yatim, menyebut-nyebut diri sebagai anak yatim akan cenderung membuat orang lain iba. Sikap iba ini akan cenderung membuat Anda semakin dimanjakan oleh lingkungan. Ujung-ujungnya Anda akan menjadi semakin lemah.

Boleh saja Anda adalah anak yatim. Itu adalah sebuah fakta dan takdir yang tidak bisa ditolak. Yang penting, jangan biarkan mental Anda terhambat dan terkungkung oleh fakta tersebut.

Maka, andai perusahaan Anda memang masih kecil atau bahkan sangat kecil, biarkanlah itu sebagai sebuah fakta belaka. Sesuatu yang  tidak bisa disangkal. Tapi,   pastikan bahwa mindset dan mental Anda tidak kecil. Anda tidak rendah diri dengan fakta itu. Anda juga tidak perlu bangga dengan fakta itu. Tidak usah disebut-sebut.  Pastikan mindset, mental, dan visi Anda adalah perusahaan prinsipal yang besar dan menguasai pasar berbagai negara. Seperti Toyota.

Bahwa Toyota dulu juga dimulai dari kecil tentu tidak bisa dibantah. Tapi visi besar menjadikannya melakukan proses korporatisasi secara terus-menerus. Yang dilakukan adalah tidak pernah berhenti mengajak masyarakat luas untuk memasukkan uangnya melalui penerbitkan saham baru menambah aset perusahaan. Tidak henti-hentinya mengajak orang lain untuk masuk dalam “jamaah ekonomi” sehingga saat ini tidak ada lagi pesaham pengendali. Toyota menjadi sebuah fully public company beraset raksasa penguasa pasar dunia.

Anda mau menjadi perusahaan sekelas Toyota? Sejak saat ini berhentilah menyebut atau melabeli diri sebagai UKM atau UMKM.  Ya, sejak sekarang!

Ditulis di ruang tunggu Bandara Sepinggan, 25 Oktober 2018

Kurangi Jumlah Entrepreneur


Apakah judul tulisan ini salah? Tidak. Judul tulisan ini benar dan kita harus melakukan itu jika kita ingin bangsa ini kuat secara ekonomi. Menjadi bangsa bos. Bukan bangsa anak buah. Menjadi bangsa produsen. Bukan bangsa konsumen.

Kok bisa? Lalu bagaimana dengan mereka-mereka yang selalu berkampanye agar orang-orang berbndong-bondong menjadi entrepreneur? Apakah mereka salah? Ya mereka salah. Jangan bicara tanpa data. Mari buka data yang valid.

Data BPS terbaru mencatat bahwa di negeri ini ada 57 895 721 pengusaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Dibandingkan dengan data jumlah angkatan kerja 118,19 juta orang, artinya 49% prosentase pengusaha UMKM adalah 49%.

Andai sudah tidak Ada lagi pengusaha di luar UMKM tersebut, berarti dari 100 orang angkatan kerja, 49 orang adalah pengusaha dan sisanya yaitu 51 orang adalah pekerja. Artinya, setiap perusahaan yang didirikan pengusaha tersebut hanya memiliki 1, 04 pekerja. Atau dengan kata lain tiap perusahaan hanya terdiri dari 2 orang. Satu orang sebagai pendiri dan satu orang lagi sebagai karyawan.

Hasil gambar untuk UKM

Banyaknya UKM adalah tanda bahwa proses korporatisasi tidak jalan. Ekonomi berjamaah tidak jalan. Gambar dari http://www.ukmgoonline.com

Perusahaan yang dimaksud misalnya saja adalah sebuah warung kopi kecil yang didirikan oleh seorang pengusaha yang untuk operasionalnya mempekerjakan seorang karyawan. Perusahaan warung kopi kelas gurem. Tidak berbadan hukum. Mereknya tidak dikenal.

Bandingkan dengan perusahaan warung kopi asal Amerika Serikat ini: Starbucks. Laporan tahunan 2017 perusahaan besutan Howard Schultz ini menyebutkan jumlah karyawan sebanyak 277 ribu orang di seluruh dunia yang bekerja pada 16 559 gerainya. Yang di USA 185 ribu karyawan.

Kita harus faham bahwa bisnis saat ini tidak bisa lagi dibatasi oleh sekat-sekat negara. Dan nyatanya memang begitu. Starbucks pun sudah sejak tahun 2002 masuk pasar Indonesia dan pada akhir Januari 2018 web resmi mereka menyebut telah memiliki 326 gerai di 22 kota-kota besar di Indonesia.

Artinya, masyarakat yang mau nongkrong di warung kopi bisa memilih. Nongkrong di warung kopi milik pengusaha UMKM yang tidak terkenal tadi atau nongkrong di Starbucks. Dan Starbucks pun membukukan penjualan senilai USD 22,4 Milyar (IDR 323T) pada tahun 2017. Tentu saja sebagian adalah berasal dari gerai-gerainya di republik ini.

Bagaimana agar warung kopi kita tidak kalah dengan Starbucks? Tentu saja harus diperbesar dengan jumlah gerai belasan ribu seperti Starbucks juga. Caranya adalah dengan terus-menerus melakukan proses korporatisasi. Terus-menerus melepas saham baru.

Jika saja telah ada perusahaan warung kopi negeri ini membesar seukuran Starbucks dengan 277 ribu karyawan, artinya cukup ada 1 pengusaha dengan 277 ribu karyawan. Jika diterjemahkan secara prosentase, kita cukup dengan 1/277 ribu alias 0,00036 persen pengusaha. Bukan 49%. Hanya dengan prosentase itulah kita akan memiliki perusahaan-perusahaan sekelas Starbucks. Kita akan berdaya saing kuat dalam dunia bisnis yang sudah tidak ada lagi sekat-sekat negara.

Lalu dikemanakan 49% pengusaha UMKM itu? Mereka harus menjadi karyawan pada perusahaan-perusahaan besar sekelas Starbucks tersebut. Gajinya besar dan sebagaimana pola era korporatisasi di negara-negara maju, sebagian dari gaji mereka diinvestasikan untuk membeli saham berbagai perusahaan saat perusahaan tersebut menerbitkan saham baru untuk membesar sesuai pola korporatisasi. Mereka adalah para profesional yang juga pemilik berbagai perusahaan karena memiki saham berbagai perusahaan.

Dalam era korporatisasi, semua orang adalah karyawan profesional dan semua karyawan adalah pemegang saham. Bahkan entrepreneur pendiri perusahaan sekelas Starbucks pun juga bekerja sebagai direksi profesional perusahaan yang didirikannya sendiri. Mereka harus bekerja sesuai standart profesional karena ada banyak orang lain yang ikut berkontribusi menyetor modal untuk membesarkan perusahaan sebagai pemegang saham.

Howard Schultz pun demikian. Perusahaan memebesar dan saat ini saham yang dimilikinya sebagai pendiri Starbucks hanya sekitar 3%. Bukan karena ia menjual saham miliknya. Tapi karena Starbucks terus-menerus menerbitkan saham baru untuk memebesar. Dan….3% itu kini nilainya adalah Rp 31T. Pilih mana, menjadi pemilik 100% sebuah warung kopi pinggir jalan dengan 1 karyawan yang nilainya hanya beberapa juta atau pemilik 3% saham Starbucks tapi nilainya Rp 31T. Seratus persen dari beberapa juta atau 3% dari Rp 1036T? Tentu saja Rp 31T lebih menarik. Tentu saja 3% dari Rp 1036T lebih menarik.

Maka, turunkan jumlah entrepreneur. Jangan lagi berkampanye untuk menambah prosentase entrepreneur. Agar kita menjadi bangsa berekonomi kuat. Agar perusahaan-perusahaan kita menguasai pasar berbagai bangsa seperti Starbucks. Agar kita menjadi bangsa bos. Bukan bangsa anak buah. Kita bisa!

Investor Waralaba atau Korporatisasi


Pada tulisan terdahulu saya pernah membahas waralaba versus korporatisasi dari kaca mata perusahaan pemilik merek alias perusahaan prinsipal. Untuk melengkapinya kali ini saya akan menuliskannya dari kacamata investor. Saya akan menjelaskannya melalui pengalaman seorang kawan, sebut saja Fulanah, yang mengundang saya menghadiri resto bakso miliknya beberapa tahun lalu. Fulanah adalah seorang karyawan yang telah meniti karir bertahun-tahun di sebuah perusahaan besar. Gaji naik sedikit demi sedikit. Biaya hidup dikelola supaya bisa menabung. Akhirnya terkumpul di tabungan dengan jumlah yang cukup.

Maraknya wacana tentang investasi dan kebebasan finansial mengantarkannya  untuk berinvestasi dengan membuka sebuah resto bakso berskema waralaba. Ia menyediakan sejumlah dana untuk menyewa bangunan, merenovasinya, menyediakan peralatan masak, meja, kursi piring dan modal kerja. Perusahaan pemilik merek alias franchisor membantu proses pendirian resto.  Singkat kata resto bakso pun beroperasi. Saya kebagian berkahnya dengan undangan  menikmati bakso sekeluarga.

Gambar terkait

Investor saham Starbucks sejak tahun 1992 mendapatkan imbal hasil berupa capital gain rata-rata 22% pertahun

Sukseskah restonya? Tidak. Omzetnya tidak sesuai target. Resto bakso itu kemudian tutup setelah beberapa kali dilakukan serangkaian upaya perbaikan  dengan menambahkan investasi baru. Bahkan pindah lokasi pun tidak mampu mengangkat omzet.   Tiap bulan rugi dan arus kas operasionalnya minus.  Investor mesti menambal kekurangan kas untuk gaji pegawai dan sebagainya.  Singkat cerita akhirnya resto ditutup untuk selamanya. Uang yang telah dikumpulkan Fulanah dengan kerja keras dan hidup hemat bertahun-tahun melayang begitu saja.

&&&

Mari kita ambil pelajaran dari kisah di Fulanah. Mendirikan sebuah gerai baru, entah itu resto, toko ritel, jasa potong rambut, bengkel mobil, bengkel cuci mobil, laundry, atau apapun tidaklah sulit. Yang penting ada uang. Apalagi dengan konsep waralaba, si franchisor sudah memiliki standar desain, peralatan, standar operasional dan sebagainya. Asal ada uang, semua beres.

Tetapi tantangannya bukan pada pendirian. Tantantangannya adalah bagaimana agar omzet yang telah direncanakan benar-benar menjadi kenyataan. Jika tidak maka gerai akan rugi atau bahkan arus kas operasionalnya minus. Tiap bulan harus ada dana tambahan dari investor untuk menggaji karyawan, membayar listrik dan sebagainya. Jika si investor masih kuat dan bersedia menanggung beban kas tersebut, gerai akan bertahan. Sampai kapan? Sampai ada perbaikan omzet sehingga tidak terjadi lagi arus kas operasional minus. Atau sampai investor tidak kuat atau tidak bersedia menutupi minusnya arus kas dan gerai ditutup.

Tutup. Inilah yang terjadi pada gerai resto bakso Fulanah. Uang tabungan yang dikumpulkan bertahun-tahun pun melayang. Memang masih ada meja kursi dan peralatan resto. Tetapi tentu saja harganya tidak seberapa. Maka, bisa dikatakan seluruh dana investasi melayang.

Siapa yang salah? Ini adalah pertanyaan menarik. Tawaran investasi waralaba pada umumnya menajanjikan waktu sekitar 2 atau 3 tahun balik modal (pay back period). Kembali modal dua tahun artinya setiap tahun 50% dari dana investasi telah bisa diterima dalam bentuk uang tunai oleh investor. Kembali modal 3 tahun artinya  setiap tahun 33% dari total dana yang diinvestasikan sudah kembali. Angka 50% atau 33% bukan main besarnya dalam hitungan investasi.

Sebagai perbandingan, investor pemegang saham Starbucks Corporation hanya menerima dividen 2,51% pertahun dari harga saham alias nilai investasi.  Yang membedakan adalah risiko. Sehebat apapun merek dan manajemennya, risiko kegagalan sebuah gerai tidak mungkin dihilangkan 100%. Starbucks tahun 2017 menutup 163 gerai alias  1,3% dari total 13 275 gerai.  Artinya, merek dan manajemen sekuat Starbucks saja bisa gagal. Apalagi merek yang jauh lebih lemah. Tetapi bagi Starbucks ini adalah hal biasa karena pada tahun yang sama ia membuka 863 alias 6,8% dari total gerai.

Risiko inilah yang menyebabkan tuntutan tinggi investor waralaba. Minta 33% atau 50% pengembalian uang kas tiap tahun. Harapannya besar, tetapi risiko gagalnya tinggi. Sangat berbeda dengan berinvestasi pada saham starbuks. Investor hanya butuh 2,51% penggembalian kas pertahun melalui dividen karena risikonya sangat rendah. Risiko menjadi rendah karena uang dari investor tidak diinvestasikan hanya pada satu gerai.  Melainkan disebar pada 13 ribu gerai lebih. Tutup 163 gerai pun perusahaan masih laba dan masih bisa membayar dividen sesuai kelaziman dunia bisnis.

Aman, aman, aman, aman. Itulah 4 hal terpenting dari investasi. Urutan kelima baru hasil. Nah, jika dikaji dari hal ini, kawan yang investasi pembukaan gerai tadi adalah salah. Investasi pertama langsung menyedot tabungan dalam jumlah besar dengan risiko tinggi. Mestinya jauh lebih aman berupa saham perusahaan yang telah terbukti sukses puluhan tahun.

Memang hasil kas tahunannya kecil mengingat risikonya juga kecil. Tetapi sebenarnya ada capital gain yang tidak didapatkan investor waralaba. Investor yang membeli saham Starbucks pada tahun 1992 harganya hanya USD 0,34 kini bisa menjual sahamnya dengan harga USD 57,45. Ada kenaikan sebesar 170x alias 17 000%  dalam waktu 26 tahun. Setara kenaikan 22% pertahun.

Kapan sebuah investasi saham balik modal? Sewaktu-waktu modal bisa 100% kembali jika investor menjual saham miliknya. Tentu saja ini mengandung risiko turunnya harga saham. Namun demikian jika kinerja keuangan perusahaan bagus, saham akan mengalami tren terus-menerus naik seprti Starbucks. Kalaupun ada masa turun, sifatnya hanya sementara karena pengaruh sentimen negatif. Suatu saat akan kembali mengikuti tren kenaikan laba. Inilah nilai lebih menjadi investor dengan menjadi pemegang saham sebuah perusahaan dibanding investor waralaba. Investor sebagai penyetor modal saat sebuah perusahaan menerbitkan saham baru sebagai proses korporatisasi.  Investor korporatisasi dibanding investor waralaba.

Tulisan ini juga dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Freeport: Beban di Inalum, Untung di Rio Tinto dan McMorran


Oleh Iman Supriyono, CEO SNF Consulting, Twitter/IG/TG: @imansupri

Sudah banyak pembahasan tentang  kesepakatan transaksi saham PT Freeport Indonesia (PT FI) yang akan menghasilkan saham 51% bagi PT Inalum, sebuah BUMN miliki pemerintah RI. Pada umumnya tulisan-tulisan yang ada adalah dari sudut pandang masyarakat Indonesia atau lebih spesifik pemerintah RI. Padahal, sebuah transaksi bisnis itu akan berjalan jika dan hanya jika para pihak setuju. Dan karena ini urusan bisnis, persetujuan akan terjadi jika para pihak mendapatkan keuntungan yang cukup sesuai kepentingan masing-masing. Karena ini transaksi tiga pihak – Pemerintah RI melalui PT Inalum, Rio Tinto dan Freeport McMoran Inc.- maka ketiganya harus mendapatkan posisi yang menguntungkan sesuai kepentingan masing-masing. Untuk itulah tulisan ini hadir.

Kita awali dengan mengenal sekilas jati diri para pihak. Freeport Mc Morran Inc. adalah sebuah perusahaan pertambangan global yang berdiri di bawah undang-undang USA dan berkantor pusat di  Phoenix, Arizona, USA. Perusahaan yang berdiri tahun 1912 ini melantai di New York Stock Exchange dengan kode FCX.  Selanjutnya tulisan ini akan menyebutnya FCX. Perusahaan yang saat ini pesaham terbesarnya adalah Vanguard Group dengan 14,29% dan berkapitalisasi pasar  USD 20,13 Milyar ini tahun lalu membagikan dividen sebesar  1,44% dari nilai saham.

Rio Tinto Plc. adalah juga sebuah perusahaan pertambangan global yang berdiri tahun 1873 ketika sekelompok investor multinasional membeli kawasan pertambangan di Rio Tinto, Huelva, Andalusia, Spanyol dari pemerintah Spanyol. Rio Tinto secara harfiah bermakna sungai merah. Sejak itu perusahaan berkantor pusat di London itu telah melakukan berbagai merger dan akuisisi. Saat ini saham Rio Tinto diperjual-belikan secara paralel di London Stock Exchange, New York Stock Exchange, dan Australian Stock Exchange dengan kode saham  RIO. Selanjutnya RIO akan digunakan sebagai penyebutan dalam tulisan ini. Saat ini nilai seluruh saham (kapitalisasi pasar) RIO adalah 89,6 Milyar dengan dividen 4,95% dari nilai saham.

PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) adalah perusahaan yang didirikan tahun 1976 oleh Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd., sebuah konsorsium 12 perusahaan kimia dan logam Jepang. Saat pendirian pemerintah RI memiliki saham 10%. Saat ini, pemerintah RI menjadi pemegang 100% saham Inalum setelah mengambil alih saham milik Nippon Asahan Aluminium Co. Ltd.  Selanjutnya, Inalum digunakan sebagai sebutan dalam tulisan ini.

Bagaimana transaksi PT FI dalam tinjauan FCX? Berikut ini adalah skema transaksi yang ditampailkan dalam release resmi FCX per tanggal 12 Juli 2018 yang utamanya ditujukan kepada para pemegang saham. FCX menyebut transaksi ini sebagai restrukturisasi. Bukan divestasi,  akuisisi oleh Inalum ataupun sebutan lain.

skema saham divestasi

Struktur pemegang saham PT Freeport Indonesia sebelum dan sesudah divestasi

 

Sebagaimana skema di atas, sebelum restrukturisasi, FCX memegang saham PT FI sebesar 81,28% secara langsung dan 9,36% secara tidak langsung melalui PT Indocopper Investama (PT II) alias total 90,64%. Namun demikian, tambang di Grasberg Papua tidak langsung dioperasikan sendiri oleh PT FI, melainkan melalui sebuah Joint Venture (JV) antara PT FI dengan RIO. Dalam JV ini RIO berhak atas 40% dari hasil tambang. Dengan demikian, FCX dan Pemerintah RI (GOI, Government of Indonesia) memiliki hak atas JV masing-masing sebesar 54,4% dan 5,6%.  Angka ini diperoleh dari perkalian persentase saham FCX dan GOI di PT FI dengan angka 60% yaitu bagian di JV tersebut.

Dalam kesepakatan transaksi restrukturisasi, Inalum akan membeli keseluruhan hak RIO pada JV seharga USD 3,5 Milyar secara tunai. Hak di JV tersebut selanjutnya akan dikonversi menjadi saham di PT FI. Inalum juga akan  membeli seluruh  saham PT II dari FCX seharga USD 350 Juta secara tunai. Eksekusi kesepakatan kedua transaksi tersebut akan menjadikan Inalum sebagai  pemegang 51,2% saham PT FI dan FCX akan memegang 48,8% sisanya. Selain itu, disepakati bahwa FCX akan tetap menjadi pengelola opersional PT FI. Dengan demikian, pasca eksekusi, JV menjadi tidak eksis.

Dalam release resmi tersebut juga disampaikan bahwa restrukturisasi akan berjalan dengan syarat pemerintah RI akan memperpanjang ijin operasi bagi PT FI dan menjamin kepastian pajak maupun legal sampai tahun 2041. Dengan demikian, memang FCX akan kehilangan 9,36%  saham PT FI melaui PT II alias hak 5,6% pada JV. Tetapi kehilangan tersebut dikompensasikan dengan adanya kepastian bisnis sampai tahun 2041 plus tentu saja uang kas USD 350 Juta (IDR 5,2T). Itulah penjelasan resmi FCX kepada para pemegang sahamnya pasca penandatanganan Head of Agreement yang bersifat non binding (tidak mengikat) Juli 2018.

Setelah pendatanganan perjanjian yang mengikat, FCX menerbitkan release lagi, tepatnya ada tanggal ptanggal 28 September 2018.  Dalam release tersebut FCX menyebutnya sebagai transaksi divestasi saham PT FI. Disebutkan bahwa divestasi akan mempertahankan kepentingan pemegang pemegang saham lama (existing shareholder) dalam hal pendapatan dan biaya sebagaimana yang terjadi pada JV sesuai hak masing-masing pihak. Disebutkan pula bahwa transaksi ini diharapkan akan terlaksana sepenuhnya pada kuartal pertama 2019. Angka persentase saham sama seperti disebutkan di release per 12 Juli. Demikianlah transaksi saham PT FI dalam tinjauan FCX.

Bagaimana tinjauan RIO? Pada release resminya per tanggal 28 September 2018, RIO menyebut substansi dan nilai transaksi yang sama dengan release FCX. Tambahannya, karena release ini ditujukan kepada para pemegang saham RIO,  maka disebutkan bahwa maksud transaksi ini adalah dalam rangka pelaksanaan komitmen jangka panjang memperkuat portofolio dengan menjual non core asset dan mencapai return yang lebih besar untuk seluruh bisnis, menjaga neraca yang kuat, mengalokasikan modal pada peluang yang bernilai lebih tinggi, dan menjadi perusahaan terdepan dalam imbal hasil kepada pemegang saham di industrinya.

RIO menyebut bahwa pada tanggal 31 Desember 2017 rugi yang ditanggung RIO atas operasional tambang Grasberg Papua adalah USD 169 juta. Disebutkan pula bahwa nilai aset kotor (gross asset) milik RIO yang ditransaksikan dalam release ini adalah bernilai USD  1,497 Milyar. Jadi dengan transaksi ini RIO mengubah dari JV tambang Grasberg yang pada tahun 2017 rugi menjadi uang tunai sebesar 2,3x nilai gross asset.

&&&

FCX memperoleh keuntungan uang tunai dan kepastian bisnis sampai tahun 2041. Rio menerima uang berlipat dari nilai aset yang dilepas. Bagaimana Inalum? Selanjutnya Inalum akan menjadi pemegang saham pengendali PT FI dengan persentase saham sebagaimana disebut di atas. Tentu ini sangat bagus karena akan meningkatan pendapatan, laba, aset dan kapitalitasi pasarnya. Tentu saja Inalum akan berhak atas laba atau sebaliknya menangung rugi sesuai kepemilikan sahamnya. Laba atau rugi kedepan sangat ditentukan oleh perkembangan harga tembaga dan emas yang memang sangat fluktuatif sebagaimana karakter komoditas pada umumnya.

Atas kepemilikan tersebut Inalum  harus membaayar tunai uang sebesar USD 3,850 Milyar. Bagaimana Inalum memperoleh dana yang dalam kurs sekarang bernilai IDR 58 Trilyun tersebut? Mari kita cermati. Pada publikasi laporan terbarunya, Inalum mencatatkan posisi aset per 31 Desember 2015  sebesar USD 1,134 dan  utang sebesar 75 juta alias ekuitas USD 1,059 Milyar. Dari aset tersebut yang  berupa aset lancar adalah USD 719 Juta. Bagaimana posisi akhir 2017? Tentu sudah mengalami perubahan. Tetapi karena laporan resmi belum dipublikasikan maka kita hanya bisa memperkirakan. Misalkan saja laba tahun 2016 dan 2017 adalah sama dengan laba tahun 2015 yang sebesar USD 79 Juta yang berupa uang kas atau piutang.  Maka posisi akhir 2017 aset lancar Inalum adalah USD 877 Juta.

Jika Inalum dapat menggunakan separuh dari aset lancarnya yaitu USD 439 Juta, masih dibutuhkan tambahan dana USD 3,411 Milyar. Dari mana dana tersebut? kemungkinannya hanya ada dua: menerbitkan saham baru atau utang. Jika penerbitan saham baru yang dipilih, penyetornya bisa pemegang saham saat ini yaitu pemerintah atau bisa juga pihak lain baik melalui private placement maupun melalui lantai bursa. Memperhatikan kondisi APBN yang selama ini defisit pemerintah nampaknya tidak memungkinkan untuk melakukan penambahan setoran modal sebesar kebutuhan tersebut. Alternatifnya adalah penerbitan saham baru yang dibeli oleh investor di luar pemerintah, baik melalui private placement ataupun melalui lantai bursa (IPO).

Perhitungannya, dengan laba USD 79 juta dan benchmark dari price to earning ratio PT Aneka Tambang Tbk -sesama BUMN- yang sebesar 19,55 maka nilai 100 persen saham Inalum adalah sekitar USD 1,544 Milyar. Artinya, untuk memperoleh USD 3,411 Milyar Inalum butuh menerbitkan saham baru dengan jumlah lembar saham 2,2 x saham milik pemerintah saat ini. Artinya, jika ini dilakukan maka saham pemerintah akan terdilusi hinga menjadi  hanya sebesar sekitar 31%. Tentu masyarakat akan heboh karena pemerintah tidak lagi menjadi pemegang saham  pengendali Inalum. Tuduhan “pemerintah menjual aset negara” akan menyebar luas walaupun faktanya pemerintah tetap memegang jumlah lembar saham persis seperti yang saat ini dipegang. Tidak ada salembarpun saham  milik pemerintah yang dijual. Yang dijual adalah ”tanda tangan notaris” berupa saham baru. Alternatif ini nampaknya juga tidak akan diambil oleh Inalum atau pemerintah sebagai pemegang saham Inalum.

Alternatif terakhir adalah utang kepada bank atau obligasi. Jika ini dilakukan, utang inalum yang saat ini sebesar  0,07 x ekuitas (DER 0,07) akan langsung berlipat. DER akan menjadi sekitar 2,86. Utangnya 2,86 kali modal sendiri. Akan menjadi beban yang luar biasa berat bagi arus kas Inalum. Perusahaan pertambangan mestinya DER tidak boleh lebih dari 1.

Jika utang tersebut dilakukan pada bank nasional dengan mata uang rupiah, tiap tahun Inalum akan terbebani bunga sebesar sekitar USD 341 Milyar. Angka itu dihitung dengan beban bunga 10%.  Secara arus kas, Inalum akan kebebanan lebih besar karena harus membayar cicilan pokok. Jika utang dilakuan dengan periode 5 tahun maka total pembayaran pokok dan bunga akan menjadi sebesar USD 1,023 Milyar. Tentu ini akan sangat memberatkan Inalum. Apalagi jika harga produk PT FI sedang pada posisi flukutiasi bawah dan mengakibatkan kerugian. Sebagaimana release RIO di atas contohnya, tahun 2017 PT FI justru membebankan kerugian bagi RIO.

Bagaimana jika utang dilakukan dari bank asing dengan mata uang asing? Katakan dengan mata uang USD, memang tingkat bunganya akan lebih rendah. Tetapi sejatinya kurang lebih bebannya akan sama karena  faktor perbedaan inflasi.

&&&

Uraian di atas telah menggambarkan posisi para pihak yang terlibat dalam bisnis tambang tembaga dan emas terbesar di dunia di Grasbeg, Papua, Indonesia. FCX dan RIO tinggal menunggu duit dari Inalum dan perpanjangan kontrak sampai tahun 2041 dari pemerintah RI. Andai saya jadi CEO FCX atau RIO, saya akan pastikan tiapa adzan sudah berada di masjid untuk memanfaatkan waktu mustajabah doa antara adzan dan iqomah. Akan berdoa khusuk dalam sujud salat sunnah rowatib di waktu tersebut karena sujud adalah posisi mustajabah doa juga. Mengumpulkan dua kondisi mustajabah doa agar Inalum sukses mendapatkan uang dan membayar sesuai komitmen. Kesuksesan transaksi ini adalah prestasi bagi CEO kedua perusahaan itu.

Bagi Inalum sekarang saatnya berpikir keras bagaimana menyelasikan beban berat di atas. Beban sangat berat yang untuk setiap jalan keluarnya  harus menghadapi tembok tebal nan tinggi. Kenapa tembok besar nan tinggi? Karena Inalum yang bukan fully public company mengakusisi saham RIO dan FCX yang fully public company adalah sesuatu yang terbalik.  Yang selalu terjadi adalah fully public company yang akses modalnya murah dan nyaris tak terbatas mengakusisi perusahaan yang belum fully public company seperti Inalum itu.

Sebagai gambaran, untuk mendapatkan uang senilai transaksi tersebut  yaitu USD 3,85 Milyar RIO cukup menerbitkan saham baru di lantai bursa sebesar sekitar 4,2% dari saham saat ini. Freeport pun kurang lebih. Cukup menerbitkan saham 19% untuk mendapatkan uang tersebut. Atas penebitan saham tersebut, biaya modal secara arus kas bagi RIO dan FCX adalah sebesar divident yield mereka yaitu masing-masing sebesar 4,95% dan 1,44% (pertahun). Modal yang sangat murah. Bandingkan dengan Inalum yang kalau hutang harus keluar arus kas sekitar 30% pertahun (10 % bunga dan 20% cicilan pokok untuk utang dengan masa 5 tahun). Terbalik kan?

Pertanyaannya, tidak adakah alternatif lain bagi bangsa ini untuk memiliki perusahaan tambang besar sekelas FCX atau RIO? Ada. Tapi kalau saya bahas, tulisan ini akan jadi sangat panjang. Lagi pula saya sudah menuliskannya di banyak artikel dan kesempatan. Silakan googling sambil mendoakan Inalum sukses menyelesaikan transaksi yang sangat berat ini.  Semoga.

Ditulis di kantor pusat SNF Consulting, 3 Oktober 2018