Ulang “Anti Mainstream” Tahun


Ulang “Anti Mainstream” Tahun

Oleh Iman Supriyono

Cleo. Merek ini menggebrak pasar air minum dalam kemasan (AMDK) dengan menampilkan identitas warna oranye. Berbeda sekali dengan mainstream AMDK yang cenderung biru atau hijau. Dengan strategi anti mainstreamnya, merek besutan PT Sariguna Primatirta ini pun diterima pasar.  Pabrik demi pabrik di berbagai lokasi terus dibangun. Merek milik perusahaan yang juga dikenal dengan nama Tanobel ini tidak mau bermain di harga murah sebagaimana umumnya pemain baru di tengah dominasi merek Aqua.  Dengan konsep produk  yang berbeda dari mainstream…si oranye pun sukses diterima pasar AMDK.

Tapi kali ini saya tidak sedang menulis tentang bisnis. Saya sedang menulis tentang sikap anti mainstream.  Sebuah sikap yang  jika ditarik kebelakang, bagi saya dan Anni Muttamimah, istri saya, sudah mendarah daging sejak dulu kala.  Berikut ini sekedar beberapa contoh sikap anti mainstream itu:

  • Orang pada umumnya berpola kuliah-lulus-kerja-nikah. Saya berbeda. Saya sudah berbisnis sejak kuliah. Saat sudah yakin dengan kemampuan mencari nafkah, saya pun menikah saat masih kuliah. Wisuda dari Teknik Mesin ITS dengan dua anak. Istri saya wisuda dari teknik Kimia ITS saat hamil anak keempat. Sikap anti mainstream ini adalah kelanjutan dari anti mainstream sebelumnya: tidak mengenal pacaran. Kami menikah tanpa pacaran. Cukup diselidiki latar belakang calon, setelah yakin baik, langsung lamaran dan akad nikah.
  • Para lulusan sarjana pada umumnya melamar di perusahaan atau instansi pemerintah sebagai pegawai. Inilah mainstream. Saya tidak. Saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur sejak semester 3 kuliah. Tidak mau menjadi pegawai.
  • Pasangan suami istri pada umumnya memutuskan untuk hanya memiliki dua atau tiga anak. sedikit anak. Inilah mainstream. Kami-saya dan istri-tidak. Kami memeutukan untuk memiliki banyak anak. Pada usia 23 tahun pernikahan saat ini, alhamdulillah kami dikarunia 7 anak yang sehat sehat-sehat, pintar-pintar, dan ini yang paling penting: sholeh dan sholihah.
  • TV sudah menjadi kebutuhan keluarga. Bahkan tiap kamar ada TV. Itulah mainstream. Kami-saya dan istri- berbeda. Saya hampir tidak pernah nonton TV sejak kulaih. Keluarga kami adalah keluarga tanpa TV sejak pernikahan hingga hari ini. Pengisi waktu senggang kami sekeluarga adalah membaca. Bukan nonnton TV.
  • Orang tua pada umumnya memberikan uang saku tiap hari kepada anak-anaknya yang sekolah. Inilah mainstream. Kami tidak. Saat masih tinggal bersama orang tuanya, anak anak tidak dijatah uang saku. Sebelum berangkat sekolah sudah makan pagi. Jika jam sekolahnya tidak melewati jam makan siang maka anak-anak makan siang di rumah. Jika jam sekolah melewati jam makan siang membawa bekal makan siang dari rumah. Tidak ada jatah uang saku. Ada uang saku hanya sesekali saja. Bukan jatah.

Anti Mainstream: Cleo hadir dengan warna oranye, berbeda dengan mainstream AMDK yang cenderung biru-hijau. Gambar dari http://www.cleopurewater.com

 

  • Pasangan suami istri pada umumnya akan menahan anak-anaknya untuk tetap tinggal bersama orang tua bahkan sampai kuliah. Inillah mainsream. Daftar ke perguruan tinggi pun diantar orang tua. Kami tidak. Kami “mengusir” anak-anak dari rumah sejak lulus SMP dan bahkan kemudian sejak lulus SD. Sampai anak nomor 3, selulus SMP yang tidak jauh dari rumah, mereka kemudian “diusir” untuk sekolah dan tinggal di luar negeri sejak SMA. Bahkan mulai anak nomor 4 lulus SD sudah “diusir” untuk sekolah dan tinggal di pondok pesantren di luar kota saat masuk SMP.
  • Molornya jadual juga menjadi mainstream. Undangan jam 9 acara baru dimulai jam 10. Itu mainstream. Saya tidak. Sejak kuliah aktif di kegiatan kemahasiswaan saya biasa menyelenggarakan acara dengan dimulai tepat waktu seperti yang tertera di undangan. Ketepatan waktu juga menjadi standar sikap hingga saat ini.  Tepat waktu memulai meeting dengan perusanaan klien SNF Consulting, kantor saya. Ada kesepakatan bayar denda untuk amal sosial bagi peserta meeting yang terlambat walaupun hanya satu menit. Tepat waktu saat janjian dengan siapapun.  Tepat waktu dalam sholat-sesuai jadual astronomis- berjamaah di masjid.
  • Dan lain-lain masih banyak sekali daftar anti mainstream saya –biasanya kompak dengan istri.  Jika diperpanjang bisa jadi berhalaman-halaman nih tulisan hehehe.

 

Sikap anti mainstream bukan sekedar asal berbeda.  Selalu ada alasan yang kuat, logis dan ilmiah terkait dengan sikap tersebut. Ini yang membuat saya –dan istri- yakin, pede dan tidak sedikitpun  ragu. Tentu memalui proses yang panjang sampai pada keyakinan seperti itu. Saya sangat terinspirasi oleh wahyu Ilahi ini “dzalika al-kitab. Laa roiba fiih”.  Inilah kitab. Tidak ada keraguan di dalamnya.  Saya mempelajari segala sesuatu sampai bener-benar yakin.  Laa roiba fiih. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Maka, sikap anti mainstream pun dijalani dengan la roiba fiih. Tanpa ragu.

Terus…. bagaimana menjaga keharmonisa hubungan dengan orang lain dan para sahabat terkait sikap yang berbeda? Dalam hal ini saya yakin bahwa dalam berhubungan dengan siapapun, selalu ada dua hal yang tidak bisa dihindari: persamaan dan perbedaan. Hubungan dengan orang lain akan kokoh bila berfokus pada persamaan dan bertoleransi terhadap perbedaan. Persamaaan dikerjakan bareng-bareng. Perbedaan  disikapi dengan toleransi.  Saling memberi kesempatan agar siapapun bisa menjalani perbedaan dengan nyaman. Inilah yang membuat hubungan dengan siapapun akan menyenangkan. Sahabat makin banyak, makin erat, dan makin kokoh.

@@@

Kemarin, sejak pagi banyak sekali sahabat yang memberikan ucapan selamat ulang tahun alias milad kepada saya. Terima kasih atas perhatian dan do’a-doa’a baiknya.  Semoga kebaikan serupa dan bahkan lebih baik juga dianugerahkan kepada para sahabat. Tetapi, mohon maaf, dalam perkara ini saya lagi-lagi anti mainstream. Saya tidak pernah menganggap tanggal kelahiran sebagai sesuatu yang penting. Tidak ada peringatan dan ucapan selamat ulang tahun di keluarga kami.

Mengapa demikian? Sebagaimana sikap anti maintraim pada berbagai hal, saya dan istri sudah mempelajarinya dengan seksama. Ini standar.  Saya mempelajari dari mana asal-usul tradisi ulang tahun. Mempelajari juga tentang sejarah penanggalan yang biasa digunakan untuk tradisi ulang tahun. Mempelajari bagaimana sikap tokoh-tokoh teladan dalam tradisi ini. Nabi Muhammad SAW adalah tokoh teladan yang saya-dan istri- selalu jadikan sebagai referensi utama. Pendek kata, segala sesuatu terkait tradisi ulang tahun saya pelajari secara komprehensif sampai pada sebuah kesimpulan yang laa roiba fiih. Tidak ada keraguan di dalamnya. Mantap bahwa kami sekeluarga tidak ada tradisi ucapan atau peringatan ulang tahun. Setiap hari adalah istimewa. Istimewa untuk diisi dengan perbuatan yang makin bermanfaat bagi sesama. Dalam rangka beribadah kepada-Nya.  Istimewa karena hari ini tidak akan terulang kembali.

Kalau tidak saat ulang tahun, kapan mendoakan para sahabat? Saya membiasakan diri untuk mendoakan untuk kebaikan  dunia akhirt para sahabat setiap selepas sholat.  Termsuk sholat tahajud. Mendoakan kebaikan semua sahabat. Kadang saya doakan secara umum, kadang saya sebut satu demi satu. Setiap saat, tidak menunggu ulang tahun.

Terus, apakah tidak ada momen istimewa secara personal untuk kelaurga dan sahabat? Tentu ada.  Untuk anak-anak, prestasi sekolah misalnya adalah saat tepat untuk memberikan ucapan selamat secara personal. Untuk kawan-kawan pebisnis, buka gerai baru atau wilayah pasar baru misalnya adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucapan selamat. Bagi teman profesional, pencapaian terget atau promosi jabatan adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucaman selamat dan perhatian secara personal.

Lalu, apakah perbedaan sikap dalam ulang tahun alias milad alias birth day alias  ambal warso ini harus membuat kerenggangan persahabatan? Apakah sikap anti mainstream harus mengganggu persahabatan? Tidak. Seperti Cleo, anti mainstream yang tepat justru akan mendatangkan hasil yang luar biasa.  Anti mainstrain dengan sikap yang tepat antara persamaan dan perbedaan, bikin persahabatan tetap terjalin erat dan makin hangat. Sekali lagi….terima kasih atas doa-doa kebaikan kawan semua. Mohon maaf atas perbedaan. Semoga persahatan kita makin erat, makin kokoh, dan makin memberi manfaat pada sesama dalam naungan ridho-Nya.  Sukses dunia akhirat untuk sahabat semua. Aamin.

Yooney Gulay: Cleaning Service Kereta Api KAI dari Denmark


Yooney Gulay

Oleh Iman Supriyono, http://www.snfconsulting.com

Yooney Gulay. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan nama itu. Diatas huruf “O” dan “U” ada dua titiknya. Makin membuat saya tidak mengerti. Nama khas negara manakah gerangan. Dari suku atau etnis apakah gerangan.

Nama yang menarik. Tapi lebih menarik lagi adalah pernyataan dari perempuan paruh baya yang kedua tangannya tampak memegang tangkai alat pel lantai itu. “I know the ultimate secret of cleaning”. Sebuah kutipan yang menjadi luar biasa karena tampil pada cover laporan tahunan ISS, sebuah perusahaan dari Denmark. Sebuah perusahaan yang melayani jasa cleaning service di 77 negara, termasuk di Indonesia. PT KAI pun mempercayakan kebersihan armada kereta apinya pada perusahaan yang didirikan pada tahun  1901 di Kopenhagen itu.

Percaya diri. Bahkan sangat percaya diri. Itulah kesan ketika membaca kutipan itu. Seorang cleaing service-tukang sapu, tukang pel-tetapi memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang sangat bermakna. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian luar biasa tinggi.

SAPA0200 ISS Cleaning Service berjati diri

Yooney Gulay di cover laporan tahunan ISS,  cleaing service global yang melayani Kereta Api Indonesia

&&&

Minggu pagi, awal pebruari 2016. Lari pagi bagi saya adalah menu wajib dua kali seminggu. Tapi pagi itu agak berbeda. Saya lari pagi dengan rute yang tidak biasa. Start di rumah kawasan Mulyorejo Surabaya dan finish di komplek sentra Ikan Bulak, tidak jauh dari kawasan kaki jembatan Suramadu.

Jarak sekitar 10 km saya lalui dengan penuh semangat dalam waktu satu jam. Yang bikin semangat adalah lokasi finish-nya. Sebuah tempat yang beberapa hari sebelumnya menjadi topik diskusi saya dengan kawan yang sehari hari memimpin instansi yang bertanggung jawab merencanakan pembangunan kota Surabaya.  Kawan ini menginformasikan bahwa pemerintah kota Surabaya telah membangun fasilitas sangat bagus untuk menampung para pengolah dan pedagang ikan  yang ada di kawasan Bulak, Surabaya. Maka, perjalanan lari pagi itu juga sekaligus sebagai perjalanan observasi.  Saya berjanji untuk melanjutkan diskusi tentang fasilitas perdagangan yang sudah menghabiskan anggaran puluhan milyar itu.

Dalam kesegaran cucuran keringat, saya tiba di lokasi tujuan. Secara pribadi saya menikmati semangat kesegaran. Tetapi ini sangat kontras dengan suasana komplek perdagangan megah berlantai dua itu. Stan-stan kosong melompong. Hanya satu dua yang berisi. Itupun para pedaganya tampak tidak bersemangat. Hampir tidak ada pembeli yang datang. Dapur pembakaran ikan modern dengan cerobong asap menjulang tinggi pun tak berfungsi. Sama sekali tidak ada ikan dibakar pagi itu.

Mengapa sesepi itu? Tentu banyak penyebab. Tapi saya menangkap sebuah kondisi yang tidak sinkron. Sentra Ikan Bulak didesan sebagai sebuah fasilitas wisata belanja ikan. Arsitektural gedung sangat khas wisata belanja. Ada food court di terbuka di lantai 2 yang sangat luas. Di samping juga gedung ada taman yang jug luas. Memenuhi syarat untuk sebuah kawasan wisata belanja.

Lalu, mengapa sepi? Sepanjang pengamatan, saya merasakan ketidaknyamanan terkait dengan aspek kebersihan. Pemandangan sepanjang jalan akses menuju lokasi jauh dari kata bersih. Kawasan sekitar lokasi pun demikian. Terkesan kumuh dan semrawut. Ini yang menurut saya tidak sinkron dengan konsep wisata belanja. Bagaimana mungkin orang mau berwisata ke tempat yang kotor dan semrawut.

&&&

Bicara kebersihan, ISS adalah jawara dunia. Sesuatu yang bersih, rapi dan indah disukai semua orang. Tetapi, tidak mudah untuk mengubah sesuatu yang asalnya kotor menjadi bersih dan rapi. Ada rahasia dan keahlian didalamnya. Itulah makna dibalik “I know the ultmate secret of cleaing”. ISS mengetahui puncak rahasia mengubah sesuatu yang kotor menjadi bersih, indah dan rapi. Core competence yang kemudian dijual ke berbagai penjuru dunia. Bahkan negeri yang tingkat ekonominya masih sangat rendah seperti Indonesia pun membutuhkan bantuan dari perusahaan beromset Rp 182T itu. Negeri yang PDB percapitanya 3400 (urutan no 118 dunia)  menjadikan negeri dengan PDB percapita USD 51 400 (tertinggi no 5 dunia) sebagai juru bersih-bersih. Tidak logis. Lalu, apakah sentra Ikan Bulak juga harus medatangkan ISS untuk tampil bersih dan rapi? Tentu keputusannya tidak di tangan saya. Tetapi, itulah ISS. Itulah core competence. Itulah yang dimiliki oleh Yooney Gulay!

Tulisan ini dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Robohnya Toko Kami


Robohnya Toko Kami

Oleh Iman Supriyono, konsultan manajemen dan direktur PT SNF Consulting

Pada hari minggu ku turut ayah ke  kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja….”.  Bagi saya dan kawan- kawan kecil di desa-desa  sekitar kota  Caruban tahun 80-an, itu bukan lagu biasa. Itu adalah keindahan luar biasa. Diajak pergi ke pasar di kota pada hari minggu. Naik delman atau di desa disebut sebagai dokar.  Bersuka ria dan setiba dipasar menyantap menu super istimewa: rawon mbah Iran.

Sungguh keindahan tiada tara. Selalu merindukannya. Beberapa tahun lalu saya masih bisa mengulang nostalgia keindahan itu. Makan di warung mbah iran di pasar Caruban yang sudah dilanjutkan oleh salah satu anak nya.

Pasar Caruban Baru yang sepi

Tapi, kini saya sudah tidak bisa lagi mengulang kenikmatan itu. Dokarnya sudah tidak beroperasi karena pasar berpindah lokasi. Kepindahan pasar ke tempat yang agak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Madiun itu juga berdampak luar biasa: pasar jadi sepi.

Dua kali saya mencoba berbelanja di pasar baru. Gedungnya memang megah. Tapi suasananya sepi sekali. Tidak nampak gairah para pedagang sebagaimana yang dulu saya rasakan saat masa kanak-kanak. Tidak juga nampak kesibukan para pedangan yang masih saya rasakan saat bernostalgia makan rawon mbah iran beberapa tahun lalu. Kini pasar menjadi sepi.

Sebagai konsultan manajemen, saya terusik untuk mencari tahu. Mengapa pasar berlantai dua itu jadi sepi. Saat acara rutin pulang kampung, saya mencoba menelusuri informasi dari berbagai sumber. Ketemulah paling tidak dua sebab. Pertama, pemerintah membagi pedagang pasar lama menjadi dua kelompok. Pedagang barang-barang kering dipindah ke pasar yang sepi itu. Sementara itu, pedagang barang-barang basah dipindah ke pasar sayur yang letaknya relatif masih di pusat kota. Saat saya datangi pasar sayur, selepas subuh memang suasana pasar sangat ramai. Tidak beda dengan pasar yang dulu saya rasakan pada masa kanak-kanak. Tapi, gairah itu hanya muncul di pagi hari. Sekitar jam 10 pagi pasar sayur pun sudah sepi. Ketika pasar sayur dan pasar kering masih menjadi satu, keramaian pasar sayur di pagi hari terus berlanjut pada keramaian pasar kering siang harinya. Selesai belanja sayur, para pengunjung pasar berpindah ke pasar kering untuk membeli kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kedua, munculnya toko-toko minimarket bagaikan jamur di musim penghujan di berbagai sudut kota tempat saya bersekolah hingga SMA itu. Di pusat kota sekitar bekas pasar lama yang kini berubah menjadi taman ada lebih dari lima outlet minimarket Alfamart dan Indomart. Di luar kawasan pasar lama  juga disana sini muncul minimarket serupa. Mereka mampu menangkap perubahan kultur belanja masyarakat dan nyaris mengambil semua pangsa pasar. Inilah yang menjadikan pasar jadi sepi. Toko-toko tradisional ditinggalkan pembeli. Jika dulu ada kisah tentang robohnya surau kami, kini ada  kisah tentang robohnya toko kami.

&&&

Pembaca yang baik, gambaran suasana yang saya tulis di atas nampaknya tidak hanya terjadi di Caruban, kota kelahiran saya. Tetapi juga terjadi di berbagai kota di negeri ini. Toko-toko kelontong tradisional milik masyarakat sepi dan kemudian tutup.  Pertanyaannya, haruskah fenomena itu dibiarkan? Adakah peluang untuk membanagkitkan kembali toko-toko dan pasar yang kini ditinggalkan konsumen itu?

Yang perlu dicatat, perubahan kultur belanja masyarakat adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Saya dan Anda para pembaca saat ini pasti lebih  nyaman belanja di toko swalayan berpendingin udara dari pada di toko kelontong atau pasar tradisional. Maka, membangkitkan kembali toko-toko masyarakat tidak bisa dilakukan dengan mengembalikan budaya belanja masyarakt yang telah berubah. Yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Bagaimana caranya? Yang dilakukan pondok pesantren  Sidogiri Pasuruhan bisa menjadi contoh. Membangun jaringan toko swalayan modern di berbagai daerah. Kini ada sekitar 80 outlet minimarket besutan  KH Mahmud Zain tersebut. Inilah format yang sudah terbukti sukses dan bisa dijadikan sebagai pijakan untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu bereksperimen lagi.

Karena secara manajemen sudah terbukti eksis, yang dibutuhkan selanjutnya adalah modal yang cukup untuk menambah outlet. Disinilah letak perjuangannya. Bagaimana mengumpulkan dana besar dari masyarakat untuk bersaing dan tidak kalah dengan jaringan toko modern nasional yang kini sudah menjamur dimana-mana.

Untuk mengimbangi ekspansi Alfamart dan Indomart yang tiap tahun masing-masing membangun seribu outlet lebih misalnya, diperlukan gerakan masyarakat untuk mengumpulkan modal yang mencukupi untuk menandinginya. Wadah yang paling cocok adalah koperasi seperti yang telah dilakukan Fonterra Cooperation dari New Zealand misalnya.  Dana itu kemudian dikerjasamakan dengan Sidogiri untuk dikelola secara modern dan profesional. Memberi kesempatan kepada team manajemennya untuk mendayagunakan keahlian yang terbukti mampu bersaing dengan Alfamart dan Indomaret. Agar kita tidak ada lagi ratapan tentang robohnya toko kami. Bisa kan?

Tulisan ini diterbitkan oleh Harian Duta, terbit di Surabaya, Jumat, 9 Oktober 2015 dengan beberapa bagian diedit oleh redaktur. Yang saat ini Anda baca adalah versi asli dari penulis tanpa diedit oleh redaktur.

Berapa Jumlah Anak Ideal: Low Leveraged Vs High Leveraged Family


High leveraged vs. low leveraged family

Keluarga Anda merencanakan jumlah anak berapa? Satu? Dua? Lima? Atau berapa? Ini adalah sebuah pertanyaan menarik. Keluarga adalah institusi terpenting bagi setiap orang. Maka, merencanakan jumlah anak dalam keluarga juga merupakan hal yang sangat penting. Merencanakan adalah bagian penting dari sebuah manajemen. Termasuk manajemen keluarga.

Semakin besar jumlah anak, sebuah keluarga akan semakin high leveraged. Artinya, sebuah keluarga yang mampu mendidik dan membiayai anak kemudian beranak banyak, anak-anaknya akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Sebaliknya, sebuah keluarga yang tidak mampu baik material maupun moral kemudian memiliki banyak anak,  mereka akan tumbuh menjadi beban yang besar bagi masyarakat.

Bersama istri dan 7 anak anak saya yang kini sudah pada gede-gede

Bersama istri dan 7 anak anak saya yang kini sudah pada gede-gede

Sebuah keluarga yang memiliki jumlah anak sedikit disebut sebagai low leveraged family. Kemampuan keluarga seperti ini dalam pendidikan anak akan tidak termanfaatkan secara penuh. Akan ada kapasitas belebih atau idle capacity. Sebaliknya, bila low leveraged family berkemampuan jelek dalam pendidikan anak, semakin sedikitlah beban masyarakat akibat gangguan-gangguan sosial dari anak-anak yang terdidik secara jelek. Dua anak yang tumbuh dari keluarga baik akan menjadi dua tokoh masyarakat. Dua anak yang tumbuh dari keluarga jelek akan menjadi dua preman dan bromocorah yang mengganggu masyarakat.

Misalkan ada dua buah keluarga, keluarga A dan keluarga B. keluarga A adalah keluarga yang sangat terdidik, hubungan keluarga sangat harmonis,  tinggal di sebuah komplek perumahan mewah, memiliki banyak perusahaan besar dengan ribuan karyawan, kemampuan ekonomi berlebih, sangat dermawan, dikenal memiliki moral yang tinggi, dan memiliki peran besar dalam bermasyarakat. Pendek kata, keluarga A adalah keluarga yang sangat ideal. Sebaliknya, keluarga B berpendidikan rendah, suami istri sering cek cok, kemampuan ekonomi sangat rendah, tinggal di rumah petak di daerah kumuh yang dikenal sarang penjahat, suami bekerja serabutan, dikenal tidak bermoral, dan tidak memiliki peran positif apapun di masyarakat. Pendek kata, keluarga B adalah keluarga yang sangat tidak ideal.

Apa yang terjadi bila keluarga A yang sangat ideal dan keluarga B yang sangat tidak ideal sama-sama memiliki dua anak? Pada keluarga A, kedua anaknya akan diasuh dengan pendidikan terbaik, fasilitas yang berlebih, suasana pendidikan harmonis, bahkan sekolah ke luar negeri sampai doktor pun bukan sebuah masalah. Akhirnya, kedua anak ini akan berperan besar dalam pembangunan masyarakat. Sementara, potensi bapak ibunya masih sangat besar. Sebaliknya, dua anak dalam asuhan keluarga B akan tumbuh menjadi anak yang brutal, berpendidikan rendah, kualitas moral rendah, dan akan menjadi beban bagi masyarakat.

Apa yang terjadi bila keluarga A dan keluarga B sama-sama memiliki sepuluh anak? Sepuluh anak dari keluarga A yang sangat ideal akan sangat berpeluang untuk tumbuh menjadi dokter sukses, insinyur sukses, doktor, profesor, pengusaha sukses, jendral dan sebagainya dengan moral yang sangat berkualitas. Sebaliknya, sepuluh anak dari keluarga B yang sangat tidak ideal akan akan sangat berpeluang menjadi pedagang kaki lima pengganggu ketertiban, gelandangan, anak jalanan, pencopet, preman, bromocorah dan sejenisnya.

High leveraged family akan semakin menguntungkan masyarakat bila keluarga itu berkemampuan baik material maupun non material untuk mendidik anaknya. High leveraged family akan sangat menganggu masyarakat bila keluarga itu tidak mampu mendidik putra-putrinya baik secara moral maupun material.

Low leveraged family akan memiliki kemampuan yang tidak termanfaatkan dengan penuh bila memiliki kemampuan dalam mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebaliknya, low leveraged family akan tidak banyak mengganggu masyarakat bila tidak mampu mendidik anak-anaknya, baik moral maupun material.

Berapa anak dalam keluarga Anda? Anda dapat memilih punya anak sedikit atau banyak dan Anda tidak akan tahu pasti apakah si buah hati akan terdidik dengan baik. Yang sekarang dapat  dilakukan adalah menata mental Anda untuk optimis atau pesimis. Bila optimis, tidak ada salahnya Anda memilih high leveraged family. Tetapi, bila Anda tidak cukup optimis, pilihan terhadap low leveraged family bisa menjadi alternatif terbaik.

Bila dengan segala pertimbangan memilih high leveraged family, Anda harus mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk si buah hati agar benar-benar menjadi generasi yang “berkualitas dan berkuantitas”.  Anda tidak boleh terkena apa yang oleh Agus Nggermanto disebut sebagai “Sindrom Ultra Sekolah”. Sebuah sindrom yang telah menggejala di  masyarakat bahwa satu-satunya cara belajar adalah lewat sekolah (atau yang sejenis) dan seseorang dianggap belajar bila tidak berada di sekolah atau bersekolah. Anda harus memprogram proses pembelajaran yang mampu mengantarkan putra putri Anda memiliki jati diri pembelajar di manapun mereka berada. Maksudnya, Anda harus menyiapkan landasan yang kokoh juga agar suatu saat ketika Anda dipanggil oleh Allah SWT mendahului putra putri Anda, mereka akan tetap berjalan pada rel pembelajaran untuk menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan berkuantitas.  Juga, jangan menggantungkan pendidikan mereka sepenuhnya pada sekolah, walaupun Anda telah menyekolahkannya pada sekolah terfavorit di dunia!

Jadi, Anda merencanakan jumlah anak berapa? Ada satu lagi yang perlu diperhatikan. Anda dan suami/istri termasuk “bibit unggul” apa bukan? IQ tinggi, fisik sehat kuat, dan kualitas keagamaan tinggi adalah tanda bibit unggul. Jika anda yakin sebagai bibit unggul, sayang kalau jumlah anaknya sedikit. Anda dan keluarga berpotensi memiliki kontribusi besar bagi agama dan bangsa pada masa datang. Sayang kalau disia siakan.  Melalui anak-anak, Anda berpotensi untuk memberi arah sejarah. ….cinta kita melukiskan sejarah….demikian penggalan lagu sound track film Habibie…. Bagaimana?

Tulisan ini sebagian besar disadur dari buku ke 4 saya, FSQ-Financial Spiritual Quotient

Lailatul Gambling: Tidak THR, Tidak I’tikaf….


Lailatul Gambling

Iman Supriyono, direktur, konsultan dan penulis 10 buku manajemen pada PT SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Masih ingat materi probalitas pada mata pelajaran matematika SMA? Ayo kita pelajari kembali. Misalkan Anda sedang berada di sebuah toko tas langganan untuk keperluan si buah hati yang akan masuk sekolah. Kebetulan sedang ada program promo sebuah merek tas disana. Setiap pembelian sebuah tas merek tersebut akan mendapatkan sebuah nomor undian. Toko akan mengundi untu menentukan pemenangnya setelah seluruh persediaan tas merek tersebut yang berjumlah seribu biji habis terjual. Hadiahnya adalah sebuah mobil senilai Rp 100 juta.  Harga satu tas adalah Rp 50 ribu.

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Coba kita hitung. Jika Anda membeli 1 tas maka peluang Anda untuk memanangkan hadiah adalah 1/000. Jika Anda membeli 2 tas maka peluang Anda adalah 1/1000+1/000 =2/1000.. Jika 3 tas maka peluangnya adalah 1/1000+1/1000+1/1000=3/1000. Dan seterusnya jika Anda membeli 1000 tas peluang menangnya adalah 1000/1000 alias 1 alias 100%. Probabilitas 100% artinya Anda pasti akan mendapatkan hadiah mobil.

Berapa harga 1000 tas? Tentu saja Rp 50 ribu dikalikan seribu yaitu Rp 50 juta. Maka, jika Anda mengeluarkan uang Rp 50 juta, Anda akan mendapatkan tas senilai Rp 50 juta plus sebuah mobil senilai Rp 100 juta. Total Rp 150 juta. Setelah itu Anda bisa beramal bagi-bagi tas kepada 999 anak yatim piatu. Satu tas untuk buah hati Anda. Jika Anda memiliki uang Rp 50 juta, maukah Anda membeli seluruh tas tersebut?

$$$

Saya menulis artikel ini pada saat menjelang sepuluh hari terakhir ramadhan. Ada sebuah malam yang oleh Qur’an dinilai lebih baik dari seribu bulan. Lailatul qodar alias malam qodar. Malam yang nilainya setara dengan  83,3 tahun alias 29 ribu hari lebih. Waktu untuk mencari lalatul qodar adalah 9 atau 10 hari. Anggap saja 10 hari.

Analogi dengan probabilitas hadiah di toko tas di atas. Jika Anda beri’tikaf satu hari, maka probabilitas Anda mendapatkan lalitul qodar adalah 1/10. Jika Anda beri’tikaf 2 hari maka probalitisanya naik menjadi 1/10+1/10= 2/10. Jika Anda beritikaf 10 hari penuh maka probalitas Anda adalah 10/10 alias 1 alias 100%. Dengan kata lain, jika Anda bei’tikaf selama 10 hari penuh Anda dipastikan akan memperoleh malam qodar. Malam yang ganjarannya adalah lebih dari beribadah 29 ribu hari lebih. Pertanyaannya, maukah Anda “memborong” seluruh hari seperti saat memborong seluruh tas untuk mendapatkan kepastian memperoleh “hadiah” yang sangat menggiurkan?

$$$

Pembaca yang baik, itulah mengapa Rasulullah dan para sahabat gaya beriktikafnya adalah gaya memborong. Mulai subuh 21 ramadhan rasulullah sepenunya tinggal di masjid dan tidak pulang sampai malam takbir. Malamnya sepenuhnya beribadah. Sama sekali tanpa tidur malam. Begadangan semalam suntuk dengan berdzikir, tilawah qur’an dan sholat. Istirahatnya diganti siang. Setelah adanya perintah puasa ramadhan rasulullah selalu melakukan itikaf full time seperti itu sampai akhir hayat. Kecuali sekali beliau tidak beritikaf akhir ramadhan. Itupun beliau menggantinya dengan beri’tikaf pada bulan syawal sepanjang 20 hari.

Jadi rasulullah dan para sahabat beri’tikaf tidak seperti yang dilakukan orang orang selama ini. Datang ke masjid selepas sholat tarawih dan pulang menjelang sahur. Itupun hanya kalau malam ganjil. Ini ibarat hanya membeli satu atau dua tas tapi berharap mendapat hadiah mobil. Jika beruntung memang bisa. Main tebak alias gambling.

$$$

Jelang lebaran, saya sering ditanyai tentang bagaimana manajemen uang THR. Bagaimana mengelola uang THR agar bisa bermanfaat maksimal? Jawabnya adalah analogi dengan I’tikaf cara Rasulullah. Apa itu? Banyak orang membicarakan THR tidak menyeluruh. Hanya memandang THR tanpa memandangnya sebagai sebuah proses pengelolaan keuangan dalam hidup secara menyeluruh. Ini mirip beritikaf beberapa jam tapi berharap malam qodar.

Mestinya, membicarakan THR haruslah dalam konteks manajemen keuangan secara menyeluruh. Kita bisa belajar dari orang Yahudi yang kini menguasai hampir seluruh sumber sumber ekononomi utama dunia. Mereka selalu disiplin ketat mengelola uang gaji atau pendapatannya dengan rumus 10-10-80. Setiap pendapatan berapapun, diambil 10% pertama untuk sosial keagamaan, 10% kedua untuk investasi yaitu membeli aset yang nilainya terus meningkat, dan sisanya 80% dicukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Lakukan itu secara disiplin sejak gaji pertama sampai kapanpun.

Bagaimana dengan THR? THR adalah bagian dari pendapatan tahunan Anda. Jika Anda setuju dengan pola pikir menyeluruh jangka panjang, jumlahkanlah seluruh pendapatan Anda tahun ini hinga penerimaan THR. Alokasikan  dengan rumus 10-10-80.

Untuk 10% yang kedua, berapa nilainya dari total gaji atau pendapatan Anda tahun ini?  Sisihkan 10% nya untuk investasi. Sekali lagi THR sebagai bagian dari pendapatan tahun ini. demikian juga investasinya. Hitung dari pendapatan setahun. Jangan hanya melihatnya sebagai THR. Bisa jadi seluruh THR Anda harus dialokaasikan untuk investasi karena sampai bulan ini Anda belum pernah berinvestasi.

Maka, kelola THR persis seperti prinsip itikaf nabi. Ambillah peluang secara menyeluruh. Jangan main tebak. Jangan gambling. Ingat, kita menginginkan lailatul qodar. Bukan lailatul gambling!

Tulisan ini dimuat di Harian Dura, terbit di Surabaya, 10 Juli 2015

Fokus dan Bersinergi Menguasai Dunia: Meg-Brian-Satya


Meg-Brian-Satya

Oleh: Iman Supriyono, penulis dan konsultan buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tangerang, 25 Maret 2006. Suatu pagi di kantor cabang Bank BRI. Pagi itu saya terkesima dengan sebuah foto yang terpampang di salah satu sudut kantor bank dengan corporate identity warna biru itu. Bukan foto artis populer. Juga bukan tokoh politik terkenal. Melainkan poto seorang lelaki paruh baya mengenakan setelan jawa lengkap dengan balangkon-nya. Raden Bei Aria Wiraatmadja. Itulah nama lelaki itu.

Lalu kenapa lelaki jawa itu dipajang di kantor cabang bank sebesar BRI? Tidak lain karena peran penting lelaki itu. Dialah perintis pendirian bank yang pada daftar 2000 perusahaan dunia majalah Forbes 2015 ini masuk pada urutan 457 bersama 5 perusahaan Indonesia yang lain: Bank Mandiri pada urutan 490, BCA  urutan 630, Telkom urutan  783, BNI urutan 927, PGN urutan 1542, dan Gudang Garam pada urutan 1679.

Meg-HP nya yang fokus dan bersinergi dengan Intel dan Microsoft untuk menguasai dunia

Meg-HP nya yang fokus dan bersinergi dengan Intel dan Microsoft untuk menguasai dunia

Dan yang lebih membuat saya terkesima adalah asal usul dana yang digunakan untuk merintis bank terbesar Indonesia itu: uang kas masjid. Ya, itulah informasi yang membuat saya terkesima. Informasi itu terkonfirmasi saat saya tanyakan kepada pak Mangapul Nasution, pimpinan cabang BRI Tangerang ketika itu.

Merujuk pada buku “Seratus Tahun Bank Rakyat 1895-1995”, penulis blog http://www.blogketinggalanzaman.blogspot.com bahkan lebih detail menggambarkan tentang asal usul bank yang terkenal beroperasi ke berbagai pelosok negeri itu. Bermula dari rasa iba   pada sorang guru yang terjerat hutang dengan bunga tinggi,  sang bangsawan menggunakan dana pribadinya untuk menolong. Menolong dengan cicilan ringan selama 20 bulan. Karena ternyata banyak orang orang membutuhkan pertolongan serupa, sang patih di Banyumas ini akhirnya menggunakan dana kas masjid. Tentu saja harus mengembalikannya sebagaimana apa yang dilakukan bank pada saat ini, dengan pembayaran yang ringan. Itulah yang kini menjadi bank beraset 700-an Trilyun dengan laba tahunan 20-an Trilyun itu.

&&&

Meg, Brian dan Satya. Ketiganya adalah CEO perusahaan raksasa global dibidangnya masing-masing. Meg Whitman adalah CEO HP, Brian Krzanich CEO Intell, dan Satya Nadella CEO Microsoft.  Saya sangat terkesima ketika ketiganya bertemu dalam sebuah acara CEO Panel yang dimoderatori oleh  kolumnis New York Times pemenang hadiah Pulitzer Thomas Friedman. Ada konten yang sangat menarik dalam acara yang bisa ditonton di Youtube itu: spesialisasi dan sinergi.

Mereka bertiga adalah ibarat tiga sahabat yang masing masing membawa kopi, gula dan  tremos air panas dan kemudian membuat sebuah minuman yang menyegarkan: kopi panas. Meg membuat komputer HP yang tahun lalu beromset sekitar Rp 1300 Trilyun sebagai “tremos air panas”. Brian menuang “kopi” dengan Intel nya yang tahun lalu beromset sekitar Rp 700 Trilyun. Satya menuang “gula” dengan Microsoft nya yang tahun lalu beromset skitar Rp 110 Trilyun. Ketiganya adalah perusahaan raksasa dunia pada bidangnya masing masing yang duduk pada peringkat 96, 25, dan 67 pada daftar 2000 perusahaan dunia 2015 berdasar omset, aset, laba dan kapitalisasi pasar. Ketiganya adalah perusahaan luar biasa yang saling bersinergi dengan keahiannya masing-masing. Ketiganya terus bergandengan tangan untuk menaklukkan dunia.

&&&

Spesialisasi adalah kata kunci. Enam perusahaan Indonesia yang tampil pada daftar 2000 perusahaan terbesar dunia semuanya adalah para spesialis. BRI, Mandiri, BCA dan BNI spesialis pada sektor finansial dan tidak mengerjakan apapun diluar itu. Telkom spesialis telekomunikasi dan meninggalkan apapun dilaur itu. PGN spesialis bebisnis gas saja. Gudang Garam jagonya rokok. Itulah pahlawan korporasi negeri ini. Menjadi pahlahwan dengan spesialisnya. Mengalahkan perusahaan perusahan konglomerasi seperti grup Lippo, grup Sinar Mas, Grup CT Corp dan sebagainya yang apa saja dikerjakan.

Untuk hasil yang lebih besar, spesialisasi harus didukung dengan sinergi alias kolaborasi. HP, Intel dan Microsoft menjadi juara bisnis dunia dengan mensinergikan spesialisasinya masing-masing. Walaupun HP tahu bahwa processor adalah otak tiap komputer atau gadged yang dijualnya, ia tidak tergoda untuk membuat perusahaan processor sendiri. HP juga tidak membuat software walau dia  tahu bahwa itu adalah salah satu komponen vital produknya. Sebaliknya, Intel dan Microsoft juga tidak tergoda untuk membut komputer atau gadged. Cukup mengisi komputer yang sudah dibuat oleh HP. Itulah konsistensi pada spesialisasi dan kemudian mengisi kekurangannya dengan  sinergi dengan para spesialis lain.  Spesialisasi dan sinergi adalah kata kunci yang menempatkan HP, Intel dan Microsoft pada ranking atas perusahaan-perusaan kelas dunia. Sekali lagi spesialisasi dan sinergi. Bukan konglomerasi.  Seperti Meg, Brian dan Satya. Bisa!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya

Edamame: Unggul dengan korporatisasi


Edamame

Oleh Iman Supriyono, konsultan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Perjalanan kali ini membawa banyak inspirasi. Baru turun dari kabin ATR 72 Garuda itu, di luar pagar bandara tampak banyak anak-anak kecil antusias menyambut. Nampaknya mereka adalah anak-anak TK  yang datang berombongan-rombongan untuk menyaksikan dari dekat proses mendarat dan tinggal landasnya pesawat. Mungkin ada yang menganggapnya kampungan. Tapi bagi saya bapak ibu guru mereka sedang memberi wawasan dan visi kepada anak didiknya di dekat landas pacu bandara Notohadinegoro yang memang baru beroperasai dua bulan itu.

Edamame alias kedelai muda yang segar, sehat, siap dimakan

Edamame alias kedelai muda yang segar, sehat, siap dimakan

Saya jadi ingat saat-saat remaja suka baca majalah berbahasa Inggris terbitan Jepang yang melambungkan visi saya untuk kuliah di luar negeri. Sampai saat ini memang saya belum pernah kuliah di luar negeri. Tetapi 3 dari 7 anak saya semua bersekolah di laur negeri sejak SMA. Insyaallah yang 4 menyusul.  Itulah kekuatan visi yang sedang ditanamkan oleh para guru TK yang pagi cerah ini mengantarkan anak didiknya melihat pesawat buatan perancis itu dari dekat.

Kebun edamame di Jember

Kebun edamame di Jember

Salah satu tujuan kedatangan saya di jember kali ini adalah mengunjungi pabrik dan kebun edamame. Produsen makanan yang di berbagai supermarket dijual dengan harga sekitar Rp 20 ribu/kg siap makan itu memang di Jember. Ratusan bahkan ribuan hektar terhampar hijaunya biji tanaman yang jika dipetik dalam kondisi tua dan kering disebut kedelai ini. Pabriknya super sibuk menampung hasil panen setiap hari. Kebunnya, menampilkan kesegaran dan keindahan luar biasa. Memandanginya saja sudah menjadi nikmat tiada tara. Apalagi para petani yang memanen dan kemudia menerima uangnya. Tentu lebih nikmat lagi.

&&&

Ta’awanu ala al-birri wa at-taqwa. Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa. Sebuah potongan ayat yang sangat populer. Bayangkan Anda sedang berkendara di jalan raya.  Di depan Anda ada nampak seorang nenek di pinggir jalan mau menyebarang.  Tampak sekali ia sedang mengalami kesulitan karena jalan begitu ramainya. Sejurus kemudian  Anda berhenti memarkir kendaraan lalu membantu menyebarankannya. Ini adalah salah satu bentuk pertolongan Anda kepada si nenek. Sebuah perbuatan mulia sebagai implementasi dari ayat ini.

Bahwa membantu menyeberangkan si nenek adalah perbuatan mulia tentu sudah tidak bisa dibantah. Tapi maukah Anda saya tunjukkan tentang sebuah perbuatan tolong menolong yang lebih berjangka panjang bahkan permanen? itulah rahasia dari sebuah konsep korporatisasi.

Tentang hal ini pengalaman sempurna pernah dicontohkan oleh Misionaris Samual Marsden dan kawan-kawan yang datang sebagai pemukim di New Zealand pada tahun 1814. Mengetahui manfaat saling tolong menolong secara permanen, pada tahun 1871 mereka mendirikan koperasi. Pada masa awal, ada sekitar 400-an koperasi yang menjadi sarana sinergi bagi para peternak.

Apakah mereka berhenti? Tidak, mereka sadar bahwa makin besar ukuran koperasi, makin besar pula sinergi yang bisa dirasakan manfatnya. Maka, satu demi satu koperasi itu bergabung dan melebur alias merger. Pada tahun 1960-an, tinggal ada 168 koperasi dalam ukuran yang lebih besar. Pada tahun 1996 merger terus berlanjut sehingga mereka berkumpul pada 12 koperasi. Akhir tahun 2000  tinggal ada 2 koperasi yang menguasai 95% pasar susu. Juli 2001, 84% dari peternak menyetujui merger raksasa yang menyisakan Fonterra Coop sebagai sebuah perusahaan kelas dunia berbadan hukum koperasi milik para peternak. Saat ini, Fonterra yang disini kita kenal dengan susu Anmum dan Anlene ini adalah perusahaan terbesar di New Zealand dengan omset tahunan sekitar Rp 200 Trilyun dan memiliki anak perusahaan di berbagai negara di dunia. Termasuk di Indonesai melalui PT Fonterra Brand Indonesia. Itulah manfaat korporatisasi.

Nah, di Jember hal serupa terjadi pada industri edamame alias kedelai muda. Petani kedelai yang jika sendiri sendiri sangat lemah disatukan dan diorganisir dibawah manajemen PT Mitra Tani Dua Tujuh. Kebersamaan dan tolong menolong mereka menjadi kekuatan manajemen, aset, pasar, produksi, teknologi dan efisiensi nyata. Korporatisasi menjadikan edamame sebagai produk berstandar internasional yang diekspor ke berbagai negara dalam bentuk masak beku siap makan. Andapun bisa menikmatinya di supermarket-supermarket di berbagai daerah.

Bagaimana memunculkan semangat korporatisasi? Inilah kekuatan visi. Kekuatan cita-cita masa depan yang jauh melampoi batas batas negeri adalah energi tiada habisnya dari  proses korporatisasi. Maka, apa yang dilakukan anak-anak TK di bandara Notohadinegoro adalah sesuatu yang sangat positif. Membangun visi tinggi. Anda para petani dan peternak atau pebisnis apapun perlu membangun visi tinggi dengan korporatisasi sebagai sarana tolong menolong secara permanen. Seperti industri susu di New Zealand. Seperti Edamame di Jember. Bisa!

Tulisan ini pernah dimuat di majalah Matan, terbit di Surabaya