Garden Palace: Tentang Investasi Saham


Garden Palace

Oleh Iman Supriyono, konsulan dan penulis buku-buku manajemen pada SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Tidak jauh dari kantor saya, berdiri sebuah hotel megah. Hotel berbintang empat dengan 370 kamar.  Salah satu Hotel di jantung kota Surabaya yang mampu menampung ratusan tamu. Tentu lengkap dengan fasilitas ruang pertemuan yang sesuai.  Cocok untuk acara-acara besar yang menghadirkan ratusan orang. Satu dari tidak banyak hotel yang berkapasitas seperti ini.

Maka tidak heran jika beberapa bulan lalu kawan kawan majelis ekonomi Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar pertemuan nasional di kota pahlwan, hotel berlantai 24 ini dipilih menjadi rujukan. Mantap karena ruang pertemuannya bisa menampung hingga 600 orang. Saya pun senang karena untuk datang ke acara tersebut tidak perlu buang waktu banyak di jalan. Tinggal geser beberapa menit jalan kaki.

Siapa yang diuntungkan dengan pemilihan hotel yang berdiri sebagai perusahaan sejak tahun 1970 tersebut? Yang jelas panitia beruntung karena menemukan tempat yang nyaman. Para peserta dapat menghadiri salah satu sesi acara tersebut di Grahadi cukup jalan kaki. Apalagi jalur pejalan kakinya juga nyaman berkeramik rapi indah dinaungi pepohonan rindang.

Siapa lagi yang beruntung? Tentu saja pihak perusahaan pemilik hotel tidak jauh dari balai kota Surabaya itu.  PT Mas Murni Indonesia Tbk., itulah pemilik dan pengelola hotel yang juga memiliki unit bisnis resto dan developer perumahan tersebut. Dalam laporan tahunan terakhir, perushaan yang saham terbesarnya dipegang oleh PT Asabri (persero, memegang 20% saham) ini mencatatkan omset sebesar Rp 78 Milyar dengan laba 2 Milyar. Walau tidak istimewa, dalam 3 tahun terakhir perusahan yang di lantai bursa tercatat dengan kode MAMI ini selalu mencatatkan laba.

Itulah gambaran hotel yang sahamnya 43% dipegang masyarakat itu.  Nah, coba tebak berapa harga seluruh sahamnya? Saat pertanyaan ini saya lempar di sebuah forum, jawabannya beragam. Ada yang menjawab skala Trilyun bahkan belasan Trilyun. Ada yang menjawab ratusan milyar. Ada yang menjawab puluhan Milyar. Berapa jawaban yang tepat? Berdasar laporan tahunan 2015, ada 3,3 milyar lebih lembar saham yang beredar. Harga saham perlembar pada hari ini adalah Rp 50,-. Maka, jika dikalikan, ketemulah bahwa harga seluruh saham adalah Rp 165 Milyar lebih. Angka ini jauh dibawah aset bersih (ekuitas) perusahaan yang sebesar Rp 597M.

$$$

“Assalamualaikum Wr. Wb. Pada majalah Al Falah edisi 339 bulan Juni 2016 saya membaca artikel finansial yang ditulis oleh Bpk. Iman Supriyono yang membahas masalah saham. Saya tertarik tapi saya sama sekaali buta dengan hal tersebut. Bagaimana cara memulainya dan dari mana memulainya. Saya sama sekali tidak paham. Bagaimana saya bisa mendapatkan penjelasannyya? Atas bantuan dan perhatiannya saya ucapkan terima kasih. Wassalamualaikum Wr. Wb”,  itulah email dari Yusef Kartika Sari, pembaca tulisan saya beberapa waktu lalu. Sebuah pertanyaan yang mewakili kondisi masyarakat awam yang memang pada umumnya tidak memiliki dan tidak paham tentang saham.

 

SONY DSC

Garden Palace Hotel, gambar dari http://www.skyscrapercity.com

Untuk bisa membeli saham sebuah perusahaan terbuka, yang pertama kali harus dilakukan adalah datang dan mendaftar ke perusahaan sekuritas. Ada banyak alternatifnya seperti BNI Securities, Mandiri Securities, MNC Securities, Phintraco Securities dan masih banyak lagi. Ada beberapa syarat admistrasi yang harus dipenuhi disamping uang deposit minimal dengan jumlah tertentu yang besernya berbeda-beda antara tiap perusahaan. Uang tersebut akan disimpan di sebuah rekening bank atas nama Anda dan kemudian akan digunakan untuk bertransaksi membeli saham.  Juga untuk menampung dana jika Anda menjual saham atau menerima dividen. Perusahaan sekuritas juga akan memberikan user ID dan pasword untuk mengakses web untuk bertransaksi membeli dan menjual saham.

Pertanyaanya, saham apa yang mesti dibeli? Untuk menjawab ini, Anda mesti belajar membaca laporan keuangan perusahaan.  semua perusahaan publik laporan keuangan triwulanan dan tahunannya tersedia untuk umum.  Belajarnya dapat dilakukan dengan mudah  melalui internet. Atau jika merasa tidak cukup dengan internet, Anda bisa mengikuti program-program workshop atau kursus singkat tentang hal ini.

Apa yang yang diperoleh dengan memiliki saham? Yang pertama adalah hak suara dalam keputusan penting perusahan.  Karena pemegang saham adalah pemilik perusahaan, Anda akan menerima undangan setiap ada rapat umum pemegang saham. Di forum tertinggi perusahaan ini, Anda akan memiliki hak suara sesuai proporsi kepemilikan saham dalam menerima/menolak laporan keuangan, memilih direksi, memilih komisaris, dan penggunaan laba, termasuk dividen yang akan dibagikan.

Yang kedua adalah manfaat finansial.  Setiap  tahun pemegang saham akan menerima dividen sesuai keputusan RUPS yang ditransfer ke rekening investasi. Bukan hanya itu, jika perusahaan bagus maka harga sahama akan meningkat. Jika dijual, akan ada selisih antara harga beli dengan harga jual. Selisih yang biasa disebut sebagai capital gain inilah yang akan dinikmati oleh para investor.

Salah satu alternatif perusahaan yang sahamnya bisa dibeli adalah Garden Palace hotel yang saya ceritakan diatas. Cukup Rp 50 perlembar atau Rp 5000 per lot sebagai satuan terkecil pembelian saham. Karena harga Rp 50 perlembar adalah harga terendah di lantai bursa, perusahaan selalu laba, dan nilai seluruh sahamnya  masih jauh dibawah nilai aset bersih, besar kemungkinan kelak harganya akan naik dan Anda bisa menikmati capital gain.  Tertarik?

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Al Falah, terbit di Surabaya

Spirit Pengurbanan Nabi Ibrahim AS Untuk Penguasaan Sumber-Sumber Ekonomi


Khutbah Idul Adha 1437 H di halaman Plaza Marina oleh Takmir Majid Masjid Al Huda  Sidosermo  Surabaya. Bagian bertuliskan huruf Arab tidak ditampilkan dalam posting ini.

Oleh: Iman Supriyono, konsultan dan penullis  buku-buku manajemen pada PT SNF Consulting, Jln Pemuda 60-70 Surabaya, http://www.snfconsulting.com

 Allahuakbar walillahilhamd. Jamaah sholad Ied rohimakumullah, hari ini kita berhari raya kurban. Pengorbanan Nabi Ibrohim AS adalah teladan yang agung bagi kita semua. Ketika itu beliau mengurbankan buah hati yang sangat disayanginya Ismail dengan menyembelihnya. Tentu saja hari ini kita tidak lagi perlu menyembelih anak-anak kita. Tap spirit pengurbanan sekelas menyembelih anak yang tentu sangat bernilai luar biasa mestilah kita teladani dan kita terjemahkan dalam konteks kekinian.

Perhatikan ayat yang saya sampaikan di depan. Tolong menolonglah dalam kebajikan dan takwa. Ta’awanu alal birri wataqwa.  Sebuah ayat yang sangat populer. Sebuah ayat yang memberi tuntunan kepada kita untuk bahu membahu dalam berbuat kebajikan dan takwa. Dalam berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi umat manusia dunia dan akhirat.

plaza-marina

Plasa Marina Surabaya dengan logo McD di depannya. Gambar dari http://www.tripadvisor.com

Perhatikan pula hadits populer berikut ini, “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam berkasih sayang bagaikan satu tubuh, apabila satu anggota badan merintih kesakitan maka sekujur badan akan merasakan panas dan demam”. (HR. Muslim). Ini adalah gambaran lain tentang bagaimana mestinya kita bersatu. Bertolong menolong menyatukan potensi uantuk melakukan kebajikan. Bukan sekedaar kebajikan pribadi orang-perorang. Tapi kebajikan yang menyatukan kaum muslim menjadi satu tubuh dengan kekuatan yang luar biasa dalam menghadapi tantangan kehidupan di dunia untuk kebahagiaan kelak dalam kehidupan akhirat

Tentang tolong menolong dalam kebajikan, tentu kita sebagai orang yang beriman kepada Qur’an dengan mudah dapat menangkapnya. Tapi kita perlu belajar tentang bagaimana dahsytatnya konsep tolong-menolong ini dalam konteks manajemen modern. Mari coba kita pelajari dari apa yang dilakukan oleh sebuah jaringan resto modern yang kebetulan pagi kini ada tidak jauh dari mimbar ini, McDonalds. Mengapa di forum Idul Adha yang mulai ini kita harus belajar tentang McDonald’s yang bukan milik muslim itu? Tidak lain karena ayat yang saya bacakan di mukadimah diatas perlu kita implementasikan dalam kehidupan modern.

Jamaah rahimakumullah, mari sejenak kita menyelami sejarah. Pada jaman dulu, karya-karya besar penada sejarah umat manusia bisa dipastikan dilakukan oleh institusi negara atau kerajaan. Di negeri ini misalnya kita bisa mengamati Candi Borobudur sebagai karya sejarah yang dilakukan oleh negara atau kerajaan. Di India ada Taj Mahal yang juga dibuat oleh institusi negara atau kerajaan. Di China ada tembok raksasa yang dibangun oleh kekaisaran. Di Mesir ada piramida yang dibangun oleh kerajaan. Itulah karya sejarah jaman dulu.

Bagaimana dengan karya bersejarah jaman modern? Perhatikan, saat ini gedung-gedung penanda sejarah dunia banyak  dibangun oleh perusahaan. Burj Khalifa di Dubai, sebuah gedung tertinggi dunia, 828 meter, dibangun oleh Emaar Properties, sebuah perusahaan yang berdiri tahun 1997 yang kini memiliki aset Rp 290 Trilyun.

Jika Emaar membangun gedung tertinggi dunia, kai ini kita akan belajar bagaimana bisa bertolong-menolong membangun karya yang bermanfaat bagi umat manusia sedunia tidak dalam bentuk fisik, tapi dalam bentuk layanan penyediaan makanan. Kita pelajari apa yang dilakukan oleh McDonalds alias biasa disingkat dengan McD.

McDonald lahir dari tangan Richard James “Dick” McDonald (February 16, 1909 – July 14, 1998) dan saudaranya Maurice James “Mac” McDonald (November 26, 1902 – December 11, 1971) tahun 1938 di San Bernardino, California, USA. Setelah sukses menggait pelanggan, resto ini kemudian masuklah Roy Kroc tertarik untuk menjadi mitra pengembangan bisnis resto yang hanya menjual sedikit menu ini (burger, kentang goreng dan minuman) pada tahun 1955 dengan membentuk McDonald’s System Inc. Masuknya Roy Croc adalah awal dari perkembangan pesat resto yang menjual makanan tradional jerman (humberger) ini.

Dalam laporan tahunan terbarunya,  tahun 2015, McD menyatakan telah hadir di dunia dengan 36 525 gerai di  lebih dari 100 negara, termasuk di Indonsia tercinta. Resto modern yang di Indonesia dengan menu utama burger ini ini mengantongi omset  Rp 336 T dengan laba 60 Trilyun. Untuk menggerakkan bisnis mulitinasional tersebut, McD menggunakan aset sebesar Rp 502 Trilyun, terdiri dari Rp 94 Trilyun aset sendiri dan Rp 503T diperoleh dari hutang.

Jamaah rahimakumullah, saat ini jutaan sudara muslim kita dari berbagai penjuru dunia sedang berkumpul di kawasan tanah suci. McD adalah salah satu resto yang menyediakan makanan bagi saudara-saudara kita disana. Di Saudi Arabia, McD hadir sejak tahun 1993 dibawah manajemen Riyadh International Catering yang saat ini memiliki  134 gerai. Outlet ini dikelola dengan skema kerjasama waralaba. Atas pengoperasian outlet-outlet waralaba di berbagai penjuru dunia, termasuk di Saudi ini, McD menerima pendapatan sebesar Rp 118 Trilyun. Pendapatan ini berkontribusi 35% dari total omset.

Jamaah rahimakumullah, dengan beroperasi di 100 negara lebih, rata-rata kontribusi tiap negara terhadap omset McD tidak sampai 1 %. Apa makna dari prosentase ini? Anda saja ada salah satu negara dimana McD beroperasi punya kebijakan anti McD dan kemudian McD terpaksa menutup seluruh gerainya di negara tersebut maka McD hanya akan kehilangan sekitar 1% dari omsetnya. Karena  laba dari perusaan yang berkembang pesat dibawah konsep manajemen Roy Croc ini adalah 18% dari omset, maka kehilangan 1% omset tentu tidak berpengaruh signifikan. Tidak akan menyebabkan perusahaan rugi. Dengan kondisi ini, McD telah mengamankan diri secara luar biasa dari aneka risiko termasuk risiko politik, bahkan risko perang sekalipun, di negara tempatnya beroparasi.

Yang juga spektakuler adalah jumlah tenaga kerjanya. Hingga ahir 2015, McD mempekerjakan sekitar 420 ribu karyawan di seluruh dunia. Mereka ini kemudian menafkahi anggota keluarganya. Menyekolahkan anak-anak mereka. Tentu ini memberi kontribusi yang besar dalam pergerakan roda dan sumber-sumber ekonomi dunia.

Jamaah rahimakumullah, pertanyaanya, siapa pemilik McD? Dari sumber Nasdaq berikut ini adalah 5 pemegang saham terbesar McD: Vanguard 10,21%, State Street 6,89%, Capital World Investor 6,44%, Blackrock ITC 3,93%, Black-rock FA 2,78%. Lima limanya semua adalah perusahaan investasi (investment company). Investment company adalah jenis perusahaan yang kerjanya adalah mengumpulkan dana milik masyarakat dan kemudian menginvestasikan pada berbagai instrumen investasi. Kepemilikan saham McD adalah salah satu bentuk instrumen investasi. Atas investasi tersebut maka investment companya akan mendapatkan imbal hasil. Imbal hasil inilah yang kemudian digunakan untuk biaya opersional dan diteruskan kepada para pemilik dana.

Sebagai gambaran mari kita lihat siapa itu Vanguard. Vanguard didirikan 1975 di USA oleh John C Bogie, orang yang sejak lulus kuliah berkarir di investment company.  Tahun 2015 ini, Vangurd mengelola aset lebih dari USD 3 Trilyun (Rp 40 ribu Trilyun) milik lebih dari 20 juta investor di 170 negara dengan lebih dari 14 ribu karyawan di seluruh dunia.

Pemegang saham terbesar kedua adalah State Street yang berdiri 1792 di Amerika Serikat. Kini, di usianya yang ke 224 tahun State Street mengelola aset USD 22,5T (Rp 300 Ribu Trilyun) milik puluhan juta investor dari berbagai penjuru dunia juga.

Jamaah rahimakumullah, selama ini kita mungkin pernah mendengar opini bahwa perusahaan-perusahaan besar yang menguasai pasar negeri ini dan berbagai negara lain di seluruh dunia seperti McD selalu diasosiasikan dengan para kapitalis. Segelintir orang super kaya yang menguasai ekonomi dunia. Data yang saya kemukakan diatas menunjukkan bahwa perusahaan pengausa pasar dunia di bidang resto cepat saji yaitu McD bukanlah milik satu dua orang. Bahkan bukan milik sejuta dua juta orang. Melainkan milik ratusan juta orang yang tersebar di berbagai penjuru dunia.

Nilai seluruh saham McD saat ini adalah Rp 1 338 Trilyun. Dengan memegang 10,21% maka nilai saham yang dipegang Vanguard adalah Rp  137T. Jika diasumsikan saham tersebut dimiliki oleh para investor Vanguard secara merata maka setiap orang investor Vanguard memiliki Rp 6,85 Juta.

Rp 6,85 juta per orang. Besarkah jumlah tersebut? Coba kita bayangkan dari kacamata seorang pekerja yang bergaji UMK kota Surabaya yaitu sekitar Rp 3 045 000,- perbulan. Jika pekerja tersebut bisa dengan disiplin menyisihkan 10% gaji alias Rp 304 500,- perbulan, maka dibutuhkan waktu 22 bulan alias tidak sampai dua tahun untuk berkontribusi seperti para investor Vanguard. Dengan hitungan di atas, kepemilikan McD bukanlah melibatkan harta yang dimiliki oleh orang superkaya.  Bukan sesuatu yang diluar jangkauan masyaraakat banyak. Seorang bergaji UMR pun mampu memiliki McD yang raksasa itu. Syaratnya satu saja, uangnya tidak dikelola secara sendiri-sendiri. Uangnya harus disatukan bersama uang milik puluhan bahkan ratusan juta orang lain dalam sebuah sistem manajemen modern. Tolong menolong dalam kebaikan.

Allahuakbar! Jamaah rahimakumullah, mari kita ingat renungkan kembali tentan ayat yang saya baca di bagian awal khutbah ini. “Tolong menolonglah dalam kebaikan dan takwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan”. Jika Anda sedang berkendara dan menjumpai seroang nenek-nenek renta menyeberang sendirian lalu Anda turun dari kendaraan dan menyeberangkan si nenek tersebut, Anda telah melakukan perintah ayat tadi. Tolong menolong dalam kebaikan dan takwa. Tapi ini sifatnya adalah temporer alias sesaat.

Tolong menolong yang dilakukan oleh ratusan juta orang yang uangnya menjadi resto McD adalah bentuk tolong menolong dalam kebaikan dalam tempo dan format yang jangka panjang. Saya pernah merasakannya manfaat tolong menolong ini ketika berada di daerah minoritas muslim. McD adalah resto yang saya pilih untuk kebutuhan makan karena adanya logo halal MUI. Memilihnya karena alasan kehalalan ditengah mayoritas masyarakat non muslim.

Pertanyaannya, bagaimana bisa bertolong menolong bahu-membahu melibatkan jutaan bahkan ratusan juta orang? Dibutuhkan 3 pilar: konsep filosofis, sistem manajemen dan pengurbanan. Konsep filosofis yang kuat dan tertanam di sanubari seluruh karyawannya selalu dimiliki perusahaan sekelas McD. Bahkan tidak jarang konsep filosofis itu dituangkan dalam sejenis “lagu kebangsaan” seperti yang dimiliki oleh negara manapun. Perusahaan selalu punya visi dan misi sebagai puncak dari konsep filosofisnya.

Pilar kedua, sistem manajemen yang kuat dituangkan melalui perangkat manajerial seperti struktur organisasi,  job description dan standard operating procedure (SOP). Sistem manajemen yang bagus akan berujung pada laporan keuangan teraudit yang dipercaya oleh para pemegang saham, investor dan masyarakat luas.

Pilar ketiga adalah pengurbanan. Dasar filosofis dan sistem manajerial yang kuat saja tidak cukup. Dibutuhkan pengurbanan dari para karyawan, manajemen, dan pemegang saham untuk menjadi sebuah peruahaan yang kuat, besar dan hadir melayani umat manusia seluruh dunia. Riset tentang perusahaan sukses selalu dihiasi dengan temuan tentang kerja keras penuh pengurbanan sumber daya manusia di dalamnya. Para dirktur bekerja habis habisan. Para pemegang saham berkurban tidak mengambil dividen. Para karyawan berkorban dengan bekerja tidak sekedar menjalankan kewajiban.

Pertanyaan kita sebagai kaum muslim, tidakkah kita punya 3 pilar tersebut sedemikan hingga kita tidak memiliki kekuatan yang bagus dalam ekononomi? Tidakkah kita punya 3 pilar tersebut sehingga nyaris semua sektor ekonomi negeri ini dikuasai asing? Tidakkah kita punya kekuatan yang bagus sehinga kebutuhan jamaah haji disedikan oleh Boeing, Airbus, Hotel Fairmont, McD, Starbucks, KFC dll dll?

Jamaah sekalian, Islam itu sempurna. Ketiga pilar tersebut semua diajarkan oleh Islam secara sempurna pula. Dasar filosofiks itu adalah aqidah. Sistem manajemen yang kuat itu diajarkan oleh Islam melalui ajaran disiplin waktu, melalui kejujuran tiada kompromi,  melalui kewajiban menepati janji, melalui kewajiban mamatuhi pimpinan dll.  Pengurbanan diajarkan oleh Islam secara luar biasa melalui pengurbanan nabi Ibrahim AS yang hari ini sedang kita peringati.

Kholid bin Walid yang dijuluki sebagai si “Pedang Allah” pernah mendemonstrasikan pengorbanan luar biasa ketika beliau tunduk dengan tulus ikhlas kepada Umar Bin Khotob saat sang Khalifah memberhentikan beliau dari posisi panglima tertinggi militer. Tunduk sepenuhnya tanpa syarat. Itulah pengurbanan yang luar biasa meneladani Nabi Ibrahim dalam mengurbankan putra tercintanya.

Sebuah organasi tidak akan eksis tanpa pengurbanan. Rumah tangga tidak akan utuh tanpa pengurbanan suami saat Istrinya melakukan sesuatu sedemikian hingga hak atau kenyamanan si suami terganggu. Rumah tangga akan hancur juga jika istri tidak mau berkurban kehilangan hak atau kenyamaannnya manakala suami karena suatu dan lain hal tidak memenuhi hak istri. Itulah pengurbanan dalam rumah tangga sebagai organisasi terkecil. Bagaimana dengan organisasi yang melibatkan jutaan orang seperti McD, Vanguard atau State Street? Tentu butuh pengurbanan dalam skala dan kuantita yang lebih besar. Pengurbanan sebagaimana yang diteladankan oleh Nabiullah Ibrahim AS.

Jamaaah rahimamukumlah, Jika ketiganya sudah ada dalam Islam, lalu apa yang kurang? Kurangnya satu saja: pengamalannya. Dan nampaknya inilah penyakit utama umat Islam hari ini. Kita diajari untuk tidak memakai hak orang lain, tapi kaum muslim bahkan di depan kakbah saja masih berebut saling sikut untuk mencium hajar aswad. Kontras dengan antrian yang tertib di tempat-tempat umum negeri maju non muslim.  Kita diajari menapati janji tetapi jam karet dianggap biasa, kontras dengan ketepatan waktu di negeri negeri maju non muslim. Kita diajari kebersihan tetapi sungai-sungai kita kotor penuh sampah dan pencemaran. Kontras dengan sungai bersih di negeri negeri maju non muslim. Kita diajari berkurban, tetapi jangankan merelakan hak kita diambil untuk kepentingan umum, yang terjadi justru hak umum diambil untuk kepentingan pribadi. Jalan-jalan yang mestinya untuk umum dipakai untuk kepentingan pribadi. Aset negara yang mestinya untuk kepentingan umum dikorupsi dengan berbagai cara.

Maka, di mimbar yang mulia hari raya qurban ini, mari kita terus  menerus belajar berkurban. Berkurban untuk membangun kekuatan agar lebih dari satu milyar kaum muslimin ini tidak kalah dengan ratusan juta orang yang bertolong menolong membangun perusahaan resto terbesar dunia. Potensinya luar biasa besar. Kita butuh pengurbanan untuk mengubah potensi tersebut menjadi kenyataan. Allahukbar! Allahuakbar! Allahuakbar!

Jamaah rahimakumullah, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersimpuh di hadapan Allah SWT. Memohon ampunan atas segala kekhilafan kita. Memohon kekuatan untuk meuwujudkan kekuatan umat termasuk dalam sumber sumber ekonomi.  Agar kita dikaruniai kekuatan seperti kekuatan Sahabat besar Utsman Bin Affan ketika beliau membeli sumur milik Yahudi sehingga kaum muslim tidak tergantung kebutuhan airnya kepada orang yahudi. Allahumma aamin.

Ulang “Anti Mainstream” Tahun


Ulang “Anti Mainstream” Tahun

Oleh Iman Supriyono

Cleo. Merek ini menggebrak pasar air minum dalam kemasan (AMDK) dengan menampilkan identitas warna oranye. Berbeda sekali dengan mainstream AMDK yang cenderung biru atau hijau. Dengan strategi anti mainstreamnya, merek besutan PT Sariguna Primatirta ini pun diterima pasar.  Pabrik demi pabrik di berbagai lokasi terus dibangun. Merek milik perusahaan yang juga dikenal dengan nama Tanobel ini tidak mau bermain di harga murah sebagaimana umumnya pemain baru di tengah dominasi merek Aqua.  Dengan konsep produk  yang berbeda dari mainstream…si oranye pun sukses diterima pasar AMDK.

Tapi kali ini saya tidak sedang menulis tentang bisnis. Saya sedang menulis tentang sikap anti mainstream.  Sebuah sikap yang  jika ditarik kebelakang, bagi saya dan Anni Muttamimah, istri saya, sudah mendarah daging sejak dulu kala.  Berikut ini sekedar beberapa contoh sikap anti mainstream itu:

  • Orang pada umumnya berpola kuliah-lulus-kerja-nikah. Saya berbeda. Saya sudah berbisnis sejak kuliah. Saat sudah yakin dengan kemampuan mencari nafkah, saya pun menikah saat masih kuliah. Wisuda dari Teknik Mesin ITS dengan dua anak. Istri saya wisuda dari teknik Kimia ITS saat hamil anak keempat. Sikap anti mainstream ini adalah kelanjutan dari anti mainstream sebelumnya: tidak mengenal pacaran. Kami menikah tanpa pacaran. Cukup diselidiki latar belakang calon, setelah yakin baik, langsung lamaran dan akad nikah.
  • Para lulusan sarjana pada umumnya melamar di perusahaan atau instansi pemerintah sebagai pegawai. Inilah mainstream. Saya tidak. Saya memutuskan untuk menjadi entrepreneur sejak semester 3 kuliah. Tidak mau menjadi pegawai.
  • Pasangan suami istri pada umumnya memutuskan untuk hanya memiliki dua atau tiga anak. sedikit anak. Inilah mainstream. Kami-saya dan istri-tidak. Kami memeutukan untuk memiliki banyak anak. Pada usia 23 tahun pernikahan saat ini, alhamdulillah kami dikarunia 7 anak yang sehat sehat-sehat, pintar-pintar, dan ini yang paling penting: sholeh dan sholihah.
  • TV sudah menjadi kebutuhan keluarga. Bahkan tiap kamar ada TV. Itulah mainstream. Kami-saya dan istri- berbeda. Saya hampir tidak pernah nonton TV sejak kulaih. Keluarga kami adalah keluarga tanpa TV sejak pernikahan hingga hari ini. Pengisi waktu senggang kami sekeluarga adalah membaca. Bukan nonnton TV.
  • Orang tua pada umumnya memberikan uang saku tiap hari kepada anak-anaknya yang sekolah. Inilah mainstream. Kami tidak. Saat masih tinggal bersama orang tuanya, anak anak tidak dijatah uang saku. Sebelum berangkat sekolah sudah makan pagi. Jika jam sekolahnya tidak melewati jam makan siang maka anak-anak makan siang di rumah. Jika jam sekolah melewati jam makan siang membawa bekal makan siang dari rumah. Tidak ada jatah uang saku. Ada uang saku hanya sesekali saja. Bukan jatah.

Anti Mainstream: Cleo hadir dengan warna oranye, berbeda dengan mainstream AMDK yang cenderung biru-hijau. Gambar dari http://www.cleopurewater.com

 

  • Pasangan suami istri pada umumnya akan menahan anak-anaknya untuk tetap tinggal bersama orang tua bahkan sampai kuliah. Inillah mainsream. Daftar ke perguruan tinggi pun diantar orang tua. Kami tidak. Kami “mengusir” anak-anak dari rumah sejak lulus SMP dan bahkan kemudian sejak lulus SD. Sampai anak nomor 3, selulus SMP yang tidak jauh dari rumah, mereka kemudian “diusir” untuk sekolah dan tinggal di luar negeri sejak SMA. Bahkan mulai anak nomor 4 lulus SD sudah “diusir” untuk sekolah dan tinggal di pondok pesantren di luar kota saat masuk SMP.
  • Molornya jadual juga menjadi mainstream. Undangan jam 9 acara baru dimulai jam 10. Itu mainstream. Saya tidak. Sejak kuliah aktif di kegiatan kemahasiswaan saya biasa menyelenggarakan acara dengan dimulai tepat waktu seperti yang tertera di undangan. Ketepatan waktu juga menjadi standar sikap hingga saat ini.  Tepat waktu memulai meeting dengan perusanaan klien SNF Consulting, kantor saya. Ada kesepakatan bayar denda untuk amal sosial bagi peserta meeting yang terlambat walaupun hanya satu menit. Tepat waktu saat janjian dengan siapapun.  Tepat waktu dalam sholat-sesuai jadual astronomis- berjamaah di masjid.
  • Dan lain-lain masih banyak sekali daftar anti mainstream saya –biasanya kompak dengan istri.  Jika diperpanjang bisa jadi berhalaman-halaman nih tulisan hehehe.

 

Sikap anti mainstream bukan sekedar asal berbeda.  Selalu ada alasan yang kuat, logis dan ilmiah terkait dengan sikap tersebut. Ini yang membuat saya –dan istri- yakin, pede dan tidak sedikitpun  ragu. Tentu memalui proses yang panjang sampai pada keyakinan seperti itu. Saya sangat terinspirasi oleh wahyu Ilahi ini “dzalika al-kitab. Laa roiba fiih”.  Inilah kitab. Tidak ada keraguan di dalamnya.  Saya mempelajari segala sesuatu sampai bener-benar yakin.  Laa roiba fiih. Tidak ada keraguan sedikitpun di dalamnya. Maka, sikap anti mainstream pun dijalani dengan la roiba fiih. Tanpa ragu.

Terus…. bagaimana menjaga keharmonisa hubungan dengan orang lain dan para sahabat terkait sikap yang berbeda? Dalam hal ini saya yakin bahwa dalam berhubungan dengan siapapun, selalu ada dua hal yang tidak bisa dihindari: persamaan dan perbedaan. Hubungan dengan orang lain akan kokoh bila berfokus pada persamaan dan bertoleransi terhadap perbedaan. Persamaaan dikerjakan bareng-bareng. Perbedaan  disikapi dengan toleransi.  Saling memberi kesempatan agar siapapun bisa menjalani perbedaan dengan nyaman. Inilah yang membuat hubungan dengan siapapun akan menyenangkan. Sahabat makin banyak, makin erat, dan makin kokoh.

@@@

Kemarin, sejak pagi banyak sekali sahabat yang memberikan ucapan selamat ulang tahun alias milad kepada saya. Terima kasih atas perhatian dan do’a-doa’a baiknya.  Semoga kebaikan serupa dan bahkan lebih baik juga dianugerahkan kepada para sahabat. Tetapi, mohon maaf, dalam perkara ini saya lagi-lagi anti mainstream. Saya tidak pernah menganggap tanggal kelahiran sebagai sesuatu yang penting. Tidak ada peringatan dan ucapan selamat ulang tahun di keluarga kami.

Mengapa demikian? Sebagaimana sikap anti maintraim pada berbagai hal, saya dan istri sudah mempelajarinya dengan seksama. Ini standar.  Saya mempelajari dari mana asal-usul tradisi ulang tahun. Mempelajari juga tentang sejarah penanggalan yang biasa digunakan untuk tradisi ulang tahun. Mempelajari bagaimana sikap tokoh-tokoh teladan dalam tradisi ini. Nabi Muhammad SAW adalah tokoh teladan yang saya-dan istri- selalu jadikan sebagai referensi utama. Pendek kata, segala sesuatu terkait tradisi ulang tahun saya pelajari secara komprehensif sampai pada sebuah kesimpulan yang laa roiba fiih. Tidak ada keraguan di dalamnya. Mantap bahwa kami sekeluarga tidak ada tradisi ucapan atau peringatan ulang tahun. Setiap hari adalah istimewa. Istimewa untuk diisi dengan perbuatan yang makin bermanfaat bagi sesama. Dalam rangka beribadah kepada-Nya.  Istimewa karena hari ini tidak akan terulang kembali.

Kalau tidak saat ulang tahun, kapan mendoakan para sahabat? Saya membiasakan diri untuk mendoakan untuk kebaikan  dunia akhirt para sahabat setiap selepas sholat.  Termsuk sholat tahajud. Mendoakan kebaikan semua sahabat. Kadang saya doakan secara umum, kadang saya sebut satu demi satu. Setiap saat, tidak menunggu ulang tahun.

Terus, apakah tidak ada momen istimewa secara personal untuk kelaurga dan sahabat? Tentu ada.  Untuk anak-anak, prestasi sekolah misalnya adalah saat tepat untuk memberikan ucapan selamat secara personal. Untuk kawan-kawan pebisnis, buka gerai baru atau wilayah pasar baru misalnya adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucapan selamat. Bagi teman profesional, pencapaian terget atau promosi jabatan adalah momen istimewa yang pas untuk memberikan ucaman selamat dan perhatian secara personal.

Lalu, apakah perbedaan sikap dalam ulang tahun alias milad alias birth day alias  ambal warso ini harus membuat kerenggangan persahabatan? Apakah sikap anti mainstream harus mengganggu persahabatan? Tidak. Seperti Cleo, anti mainstream yang tepat justru akan mendatangkan hasil yang luar biasa.  Anti mainstrain dengan sikap yang tepat antara persamaan dan perbedaan, bikin persahabatan tetap terjalin erat dan makin hangat. Sekali lagi….terima kasih atas doa-doa kebaikan kawan semua. Mohon maaf atas perbedaan. Semoga persahatan kita makin erat, makin kokoh, dan makin memberi manfaat pada sesama dalam naungan ridho-Nya.  Sukses dunia akhirat untuk sahabat semua. Aamin.

Yooney Gulay: Cleaning Service Kereta Api KAI dari Denmark


Yooney Gulay

Oleh Iman Supriyono, http://www.snfconsulting.com

Yooney Gulay. Saya tidak tahu bagaimana mengucapkan nama itu. Diatas huruf “O” dan “U” ada dua titiknya. Makin membuat saya tidak mengerti. Nama khas negara manakah gerangan. Dari suku atau etnis apakah gerangan.

Nama yang menarik. Tapi lebih menarik lagi adalah pernyataan dari perempuan paruh baya yang kedua tangannya tampak memegang tangkai alat pel lantai itu. “I know the ultimate secret of cleaning”. Sebuah kutipan yang menjadi luar biasa karena tampil pada cover laporan tahunan ISS, sebuah perusahaan dari Denmark. Sebuah perusahaan yang melayani jasa cleaning service di 77 negara, termasuk di Indonesia. PT KAI pun mempercayakan kebersihan armada kereta apinya pada perusahaan yang didirikan pada tahun  1901 di Kopenhagen itu.

Percaya diri. Bahkan sangat percaya diri. Itulah kesan ketika membaca kutipan itu. Seorang cleaing service-tukang sapu, tukang pel-tetapi memandang pekerjaannya sebagai sesuatu yang sangat bermakna. Pekerjaan yang membutuhkan keahlian luar biasa tinggi.

SAPA0200 ISS Cleaning Service berjati diri

Yooney Gulay di cover laporan tahunan ISS,  cleaing service global yang melayani Kereta Api Indonesia

&&&

Minggu pagi, awal pebruari 2016. Lari pagi bagi saya adalah menu wajib dua kali seminggu. Tapi pagi itu agak berbeda. Saya lari pagi dengan rute yang tidak biasa. Start di rumah kawasan Mulyorejo Surabaya dan finish di komplek sentra Ikan Bulak, tidak jauh dari kawasan kaki jembatan Suramadu.

Jarak sekitar 10 km saya lalui dengan penuh semangat dalam waktu satu jam. Yang bikin semangat adalah lokasi finish-nya. Sebuah tempat yang beberapa hari sebelumnya menjadi topik diskusi saya dengan kawan yang sehari hari memimpin instansi yang bertanggung jawab merencanakan pembangunan kota Surabaya.  Kawan ini menginformasikan bahwa pemerintah kota Surabaya telah membangun fasilitas sangat bagus untuk menampung para pengolah dan pedagang ikan  yang ada di kawasan Bulak, Surabaya. Maka, perjalanan lari pagi itu juga sekaligus sebagai perjalanan observasi.  Saya berjanji untuk melanjutkan diskusi tentang fasilitas perdagangan yang sudah menghabiskan anggaran puluhan milyar itu.

Dalam kesegaran cucuran keringat, saya tiba di lokasi tujuan. Secara pribadi saya menikmati semangat kesegaran. Tetapi ini sangat kontras dengan suasana komplek perdagangan megah berlantai dua itu. Stan-stan kosong melompong. Hanya satu dua yang berisi. Itupun para pedaganya tampak tidak bersemangat. Hampir tidak ada pembeli yang datang. Dapur pembakaran ikan modern dengan cerobong asap menjulang tinggi pun tak berfungsi. Sama sekali tidak ada ikan dibakar pagi itu.

Mengapa sesepi itu? Tentu banyak penyebab. Tapi saya menangkap sebuah kondisi yang tidak sinkron. Sentra Ikan Bulak didesan sebagai sebuah fasilitas wisata belanja ikan. Arsitektural gedung sangat khas wisata belanja. Ada food court di terbuka di lantai 2 yang sangat luas. Di samping juga gedung ada taman yang jug luas. Memenuhi syarat untuk sebuah kawasan wisata belanja.

Lalu, mengapa sepi? Sepanjang pengamatan, saya merasakan ketidaknyamanan terkait dengan aspek kebersihan. Pemandangan sepanjang jalan akses menuju lokasi jauh dari kata bersih. Kawasan sekitar lokasi pun demikian. Terkesan kumuh dan semrawut. Ini yang menurut saya tidak sinkron dengan konsep wisata belanja. Bagaimana mungkin orang mau berwisata ke tempat yang kotor dan semrawut.

&&&

Bicara kebersihan, ISS adalah jawara dunia. Sesuatu yang bersih, rapi dan indah disukai semua orang. Tetapi, tidak mudah untuk mengubah sesuatu yang asalnya kotor menjadi bersih dan rapi. Ada rahasia dan keahlian didalamnya. Itulah makna dibalik “I know the ultmate secret of cleaing”. ISS mengetahui puncak rahasia mengubah sesuatu yang kotor menjadi bersih, indah dan rapi. Core competence yang kemudian dijual ke berbagai penjuru dunia. Bahkan negeri yang tingkat ekonominya masih sangat rendah seperti Indonesia pun membutuhkan bantuan dari perusahaan beromset Rp 182T itu. Negeri yang PDB percapitanya 3400 (urutan no 118 dunia)  menjadikan negeri dengan PDB percapita USD 51 400 (tertinggi no 5 dunia) sebagai juru bersih-bersih. Tidak logis. Lalu, apakah sentra Ikan Bulak juga harus medatangkan ISS untuk tampil bersih dan rapi? Tentu keputusannya tidak di tangan saya. Tetapi, itulah ISS. Itulah core competence. Itulah yang dimiliki oleh Yooney Gulay!

Tulisan ini dimuat di Majalah Matan, terbit di Surabaya

Robohnya Toko Kami


Robohnya Toko Kami

Oleh Iman Supriyono, konsultan manajemen dan direktur PT SNF Consulting

Pada hari minggu ku turut ayah ke  kota. Naik delman istimewa ku duduk di muka. Duduk di samping pak kusir yang sedang bekerja….”.  Bagi saya dan kawan- kawan kecil di desa-desa  sekitar kota  Caruban tahun 80-an, itu bukan lagu biasa. Itu adalah keindahan luar biasa. Diajak pergi ke pasar di kota pada hari minggu. Naik delman atau di desa disebut sebagai dokar.  Bersuka ria dan setiba dipasar menyantap menu super istimewa: rawon mbah Iran.

Sungguh keindahan tiada tara. Selalu merindukannya. Beberapa tahun lalu saya masih bisa mengulang nostalgia keindahan itu. Makan di warung mbah iran di pasar Caruban yang sudah dilanjutkan oleh salah satu anak nya.

Pasar Caruban Baru yang sepi

Tapi, kini saya sudah tidak bisa lagi mengulang kenikmatan itu. Dokarnya sudah tidak beroperasi karena pasar berpindah lokasi. Kepindahan pasar ke tempat yang agak jauh dari pusat ibu kota Kabupaten Madiun itu juga berdampak luar biasa: pasar jadi sepi.

Dua kali saya mencoba berbelanja di pasar baru. Gedungnya memang megah. Tapi suasananya sepi sekali. Tidak nampak gairah para pedagang sebagaimana yang dulu saya rasakan saat masa kanak-kanak. Tidak juga nampak kesibukan para pedangan yang masih saya rasakan saat bernostalgia makan rawon mbah iran beberapa tahun lalu. Kini pasar menjadi sepi.

Sebagai konsultan manajemen, saya terusik untuk mencari tahu. Mengapa pasar berlantai dua itu jadi sepi. Saat acara rutin pulang kampung, saya mencoba menelusuri informasi dari berbagai sumber. Ketemulah paling tidak dua sebab. Pertama, pemerintah membagi pedagang pasar lama menjadi dua kelompok. Pedagang barang-barang kering dipindah ke pasar yang sepi itu. Sementara itu, pedagang barang-barang basah dipindah ke pasar sayur yang letaknya relatif masih di pusat kota. Saat saya datangi pasar sayur, selepas subuh memang suasana pasar sangat ramai. Tidak beda dengan pasar yang dulu saya rasakan pada masa kanak-kanak. Tapi, gairah itu hanya muncul di pagi hari. Sekitar jam 10 pagi pasar sayur pun sudah sepi. Ketika pasar sayur dan pasar kering masih menjadi satu, keramaian pasar sayur di pagi hari terus berlanjut pada keramaian pasar kering siang harinya. Selesai belanja sayur, para pengunjung pasar berpindah ke pasar kering untuk membeli kebutuhan rumah tangga lainnya.

Kedua, munculnya toko-toko minimarket bagaikan jamur di musim penghujan di berbagai sudut kota tempat saya bersekolah hingga SMA itu. Di pusat kota sekitar bekas pasar lama yang kini berubah menjadi taman ada lebih dari lima outlet minimarket Alfamart dan Indomart. Di luar kawasan pasar lama  juga disana sini muncul minimarket serupa. Mereka mampu menangkap perubahan kultur belanja masyarakat dan nyaris mengambil semua pangsa pasar. Inilah yang menjadikan pasar jadi sepi. Toko-toko tradisional ditinggalkan pembeli. Jika dulu ada kisah tentang robohnya surau kami, kini ada  kisah tentang robohnya toko kami.

&&&

Pembaca yang baik, gambaran suasana yang saya tulis di atas nampaknya tidak hanya terjadi di Caruban, kota kelahiran saya. Tetapi juga terjadi di berbagai kota di negeri ini. Toko-toko kelontong tradisional milik masyarakat sepi dan kemudian tutup.  Pertanyaannya, haruskah fenomena itu dibiarkan? Adakah peluang untuk membanagkitkan kembali toko-toko dan pasar yang kini ditinggalkan konsumen itu?

Yang perlu dicatat, perubahan kultur belanja masyarakat adalah sebuah kenyataan yang tidak bisa dipungkiri. Saya dan Anda para pembaca saat ini pasti lebih  nyaman belanja di toko swalayan berpendingin udara dari pada di toko kelontong atau pasar tradisional. Maka, membangkitkan kembali toko-toko masyarakat tidak bisa dilakukan dengan mengembalikan budaya belanja masyarakt yang telah berubah. Yang bisa dilakukan adalah menyesuaikan diri dengan perubahan tersebut.

Bagaimana caranya? Yang dilakukan pondok pesantren  Sidogiri Pasuruhan bisa menjadi contoh. Membangun jaringan toko swalayan modern di berbagai daerah. Kini ada sekitar 80 outlet minimarket besutan  KH Mahmud Zain tersebut. Inilah format yang sudah terbukti sukses dan bisa dijadikan sebagai pijakan untuk langkah selanjutnya. Tidak perlu bereksperimen lagi.

Karena secara manajemen sudah terbukti eksis, yang dibutuhkan selanjutnya adalah modal yang cukup untuk menambah outlet. Disinilah letak perjuangannya. Bagaimana mengumpulkan dana besar dari masyarakat untuk bersaing dan tidak kalah dengan jaringan toko modern nasional yang kini sudah menjamur dimana-mana.

Untuk mengimbangi ekspansi Alfamart dan Indomart yang tiap tahun masing-masing membangun seribu outlet lebih misalnya, diperlukan gerakan masyarakat untuk mengumpulkan modal yang mencukupi untuk menandinginya. Wadah yang paling cocok adalah koperasi seperti yang telah dilakukan Fonterra Cooperation dari New Zealand misalnya.  Dana itu kemudian dikerjasamakan dengan Sidogiri untuk dikelola secara modern dan profesional. Memberi kesempatan kepada team manajemennya untuk mendayagunakan keahlian yang terbukti mampu bersaing dengan Alfamart dan Indomaret. Agar kita tidak ada lagi ratapan tentang robohnya toko kami. Bisa kan?

Tulisan ini diterbitkan oleh Harian Duta, terbit di Surabaya, Jumat, 9 Oktober 2015 dengan beberapa bagian diedit oleh redaktur. Yang saat ini Anda baca adalah versi asli dari penulis tanpa diedit oleh redaktur.

Berapa Jumlah Anak Ideal: Low Leveraged Vs High Leveraged Family


High leveraged vs. low leveraged family

Keluarga Anda merencanakan jumlah anak berapa? Satu? Dua? Lima? Atau berapa? Ini adalah sebuah pertanyaan menarik. Keluarga adalah institusi terpenting bagi setiap orang. Maka, merencanakan jumlah anak dalam keluarga juga merupakan hal yang sangat penting. Merencanakan adalah bagian penting dari sebuah manajemen. Termasuk manajemen keluarga.

Semakin besar jumlah anak, sebuah keluarga akan semakin high leveraged. Artinya, sebuah keluarga yang mampu mendidik dan membiayai anak kemudian beranak banyak, anak-anaknya akan memberikan manfaat besar bagi masyarakat. Sebaliknya, sebuah keluarga yang tidak mampu baik material maupun moral kemudian memiliki banyak anak,  mereka akan tumbuh menjadi beban yang besar bagi masyarakat.

Bersama istri dan 7 anak anak saya yang kini sudah pada gede-gede

Bersama istri dan 7 anak anak saya yang kini sudah pada gede-gede

Sebuah keluarga yang memiliki jumlah anak sedikit disebut sebagai low leveraged family. Kemampuan keluarga seperti ini dalam pendidikan anak akan tidak termanfaatkan secara penuh. Akan ada kapasitas belebih atau idle capacity. Sebaliknya, bila low leveraged family berkemampuan jelek dalam pendidikan anak, semakin sedikitlah beban masyarakat akibat gangguan-gangguan sosial dari anak-anak yang terdidik secara jelek. Dua anak yang tumbuh dari keluarga baik akan menjadi dua tokoh masyarakat. Dua anak yang tumbuh dari keluarga jelek akan menjadi dua preman dan bromocorah yang mengganggu masyarakat.

Misalkan ada dua buah keluarga, keluarga A dan keluarga B. keluarga A adalah keluarga yang sangat terdidik, hubungan keluarga sangat harmonis,  tinggal di sebuah komplek perumahan mewah, memiliki banyak perusahaan besar dengan ribuan karyawan, kemampuan ekonomi berlebih, sangat dermawan, dikenal memiliki moral yang tinggi, dan memiliki peran besar dalam bermasyarakat. Pendek kata, keluarga A adalah keluarga yang sangat ideal. Sebaliknya, keluarga B berpendidikan rendah, suami istri sering cek cok, kemampuan ekonomi sangat rendah, tinggal di rumah petak di daerah kumuh yang dikenal sarang penjahat, suami bekerja serabutan, dikenal tidak bermoral, dan tidak memiliki peran positif apapun di masyarakat. Pendek kata, keluarga B adalah keluarga yang sangat tidak ideal.

Apa yang terjadi bila keluarga A yang sangat ideal dan keluarga B yang sangat tidak ideal sama-sama memiliki dua anak? Pada keluarga A, kedua anaknya akan diasuh dengan pendidikan terbaik, fasilitas yang berlebih, suasana pendidikan harmonis, bahkan sekolah ke luar negeri sampai doktor pun bukan sebuah masalah. Akhirnya, kedua anak ini akan berperan besar dalam pembangunan masyarakat. Sementara, potensi bapak ibunya masih sangat besar. Sebaliknya, dua anak dalam asuhan keluarga B akan tumbuh menjadi anak yang brutal, berpendidikan rendah, kualitas moral rendah, dan akan menjadi beban bagi masyarakat.

Apa yang terjadi bila keluarga A dan keluarga B sama-sama memiliki sepuluh anak? Sepuluh anak dari keluarga A yang sangat ideal akan sangat berpeluang untuk tumbuh menjadi dokter sukses, insinyur sukses, doktor, profesor, pengusaha sukses, jendral dan sebagainya dengan moral yang sangat berkualitas. Sebaliknya, sepuluh anak dari keluarga B yang sangat tidak ideal akan akan sangat berpeluang menjadi pedagang kaki lima pengganggu ketertiban, gelandangan, anak jalanan, pencopet, preman, bromocorah dan sejenisnya.

High leveraged family akan semakin menguntungkan masyarakat bila keluarga itu berkemampuan baik material maupun non material untuk mendidik anaknya. High leveraged family akan sangat menganggu masyarakat bila keluarga itu tidak mampu mendidik putra-putrinya baik secara moral maupun material.

Low leveraged family akan memiliki kemampuan yang tidak termanfaatkan dengan penuh bila memiliki kemampuan dalam mendidik anak-anaknya dengan baik. Sebaliknya, low leveraged family akan tidak banyak mengganggu masyarakat bila tidak mampu mendidik anak-anaknya, baik moral maupun material.

Berapa anak dalam keluarga Anda? Anda dapat memilih punya anak sedikit atau banyak dan Anda tidak akan tahu pasti apakah si buah hati akan terdidik dengan baik. Yang sekarang dapat  dilakukan adalah menata mental Anda untuk optimis atau pesimis. Bila optimis, tidak ada salahnya Anda memilih high leveraged family. Tetapi, bila Anda tidak cukup optimis, pilihan terhadap low leveraged family bisa menjadi alternatif terbaik.

Bila dengan segala pertimbangan memilih high leveraged family, Anda harus mempersiapkan diri sebaik baiknya untuk si buah hati agar benar-benar menjadi generasi yang “berkualitas dan berkuantitas”.  Anda tidak boleh terkena apa yang oleh Agus Nggermanto disebut sebagai “Sindrom Ultra Sekolah”. Sebuah sindrom yang telah menggejala di  masyarakat bahwa satu-satunya cara belajar adalah lewat sekolah (atau yang sejenis) dan seseorang dianggap belajar bila tidak berada di sekolah atau bersekolah. Anda harus memprogram proses pembelajaran yang mampu mengantarkan putra putri Anda memiliki jati diri pembelajar di manapun mereka berada. Maksudnya, Anda harus menyiapkan landasan yang kokoh juga agar suatu saat ketika Anda dipanggil oleh Allah SWT mendahului putra putri Anda, mereka akan tetap berjalan pada rel pembelajaran untuk menjadi manusia-manusia yang berkualitas dan berkuantitas.  Juga, jangan menggantungkan pendidikan mereka sepenuhnya pada sekolah, walaupun Anda telah menyekolahkannya pada sekolah terfavorit di dunia!

Jadi, Anda merencanakan jumlah anak berapa? Ada satu lagi yang perlu diperhatikan. Anda dan suami/istri termasuk “bibit unggul” apa bukan? IQ tinggi, fisik sehat kuat, dan kualitas keagamaan tinggi adalah tanda bibit unggul. Jika anda yakin sebagai bibit unggul, sayang kalau jumlah anaknya sedikit. Anda dan keluarga berpotensi memiliki kontribusi besar bagi agama dan bangsa pada masa datang. Sayang kalau disia siakan.  Melalui anak-anak, Anda berpotensi untuk memberi arah sejarah. ….cinta kita melukiskan sejarah….demikian penggalan lagu sound track film Habibie…. Bagaimana?

Tulisan ini sebagian besar disadur dari buku ke 4 saya, FSQ-Financial Spiritual Quotient

Lailatul Gambling: Tidak THR, Tidak I’tikaf….


Lailatul Gambling

Iman Supriyono, direktur, konsultan dan penulis 10 buku manajemen pada PT SNF Consulting, http://www.snfconsulting.com

Masih ingat materi probalitas pada mata pelajaran matematika SMA? Ayo kita pelajari kembali. Misalkan Anda sedang berada di sebuah toko tas langganan untuk keperluan si buah hati yang akan masuk sekolah. Kebetulan sedang ada program promo sebuah merek tas disana. Setiap pembelian sebuah tas merek tersebut akan mendapatkan sebuah nomor undian. Toko akan mengundi untu menentukan pemenangnya setelah seluruh persediaan tas merek tersebut yang berjumlah seribu biji habis terjual. Hadiahnya adalah sebuah mobil senilai Rp 100 juta.  Harga satu tas adalah Rp 50 ribu.

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Santainya Pekerja Keras, Buku ke 9 saya tentang Itikaf akhir ramadhan. Ebook nya bisa didownload gratis, googling dengan keyword judul buku tersebut

Coba kita hitung. Jika Anda membeli 1 tas maka peluang Anda untuk memanangkan hadiah adalah 1/000. Jika Anda membeli 2 tas maka peluang Anda adalah 1/1000+1/000 =2/1000.. Jika 3 tas maka peluangnya adalah 1/1000+1/1000+1/1000=3/1000. Dan seterusnya jika Anda membeli 1000 tas peluang menangnya adalah 1000/1000 alias 1 alias 100%. Probabilitas 100% artinya Anda pasti akan mendapatkan hadiah mobil.

Berapa harga 1000 tas? Tentu saja Rp 50 ribu dikalikan seribu yaitu Rp 50 juta. Maka, jika Anda mengeluarkan uang Rp 50 juta, Anda akan mendapatkan tas senilai Rp 50 juta plus sebuah mobil senilai Rp 100 juta. Total Rp 150 juta. Setelah itu Anda bisa beramal bagi-bagi tas kepada 999 anak yatim piatu. Satu tas untuk buah hati Anda. Jika Anda memiliki uang Rp 50 juta, maukah Anda membeli seluruh tas tersebut?

$$$

Saya menulis artikel ini pada saat menjelang sepuluh hari terakhir ramadhan. Ada sebuah malam yang oleh Qur’an dinilai lebih baik dari seribu bulan. Lailatul qodar alias malam qodar. Malam yang nilainya setara dengan  83,3 tahun alias 29 ribu hari lebih. Waktu untuk mencari lalatul qodar adalah 9 atau 10 hari. Anggap saja 10 hari.

Analogi dengan probabilitas hadiah di toko tas di atas. Jika Anda beri’tikaf satu hari, maka probabilitas Anda mendapatkan lalitul qodar adalah 1/10. Jika Anda beri’tikaf 2 hari maka probalitisanya naik menjadi 1/10+1/10= 2/10. Jika Anda beritikaf 10 hari penuh maka probalitas Anda adalah 10/10 alias 1 alias 100%. Dengan kata lain, jika Anda bei’tikaf selama 10 hari penuh Anda dipastikan akan memperoleh malam qodar. Malam yang ganjarannya adalah lebih dari beribadah 29 ribu hari lebih. Pertanyaannya, maukah Anda “memborong” seluruh hari seperti saat memborong seluruh tas untuk mendapatkan kepastian memperoleh “hadiah” yang sangat menggiurkan?

$$$

Pembaca yang baik, itulah mengapa Rasulullah dan para sahabat gaya beriktikafnya adalah gaya memborong. Mulai subuh 21 ramadhan rasulullah sepenunya tinggal di masjid dan tidak pulang sampai malam takbir. Malamnya sepenuhnya beribadah. Sama sekali tanpa tidur malam. Begadangan semalam suntuk dengan berdzikir, tilawah qur’an dan sholat. Istirahatnya diganti siang. Setelah adanya perintah puasa ramadhan rasulullah selalu melakukan itikaf full time seperti itu sampai akhir hayat. Kecuali sekali beliau tidak beritikaf akhir ramadhan. Itupun beliau menggantinya dengan beri’tikaf pada bulan syawal sepanjang 20 hari.

Jadi rasulullah dan para sahabat beri’tikaf tidak seperti yang dilakukan orang orang selama ini. Datang ke masjid selepas sholat tarawih dan pulang menjelang sahur. Itupun hanya kalau malam ganjil. Ini ibarat hanya membeli satu atau dua tas tapi berharap mendapat hadiah mobil. Jika beruntung memang bisa. Main tebak alias gambling.

$$$

Jelang lebaran, saya sering ditanyai tentang bagaimana manajemen uang THR. Bagaimana mengelola uang THR agar bisa bermanfaat maksimal? Jawabnya adalah analogi dengan I’tikaf cara Rasulullah. Apa itu? Banyak orang membicarakan THR tidak menyeluruh. Hanya memandang THR tanpa memandangnya sebagai sebuah proses pengelolaan keuangan dalam hidup secara menyeluruh. Ini mirip beritikaf beberapa jam tapi berharap malam qodar.

Mestinya, membicarakan THR haruslah dalam konteks manajemen keuangan secara menyeluruh. Kita bisa belajar dari orang Yahudi yang kini menguasai hampir seluruh sumber sumber ekononomi utama dunia. Mereka selalu disiplin ketat mengelola uang gaji atau pendapatannya dengan rumus 10-10-80. Setiap pendapatan berapapun, diambil 10% pertama untuk sosial keagamaan, 10% kedua untuk investasi yaitu membeli aset yang nilainya terus meningkat, dan sisanya 80% dicukupkan untuk kebutuhan sehari-hari. Lakukan itu secara disiplin sejak gaji pertama sampai kapanpun.

Bagaimana dengan THR? THR adalah bagian dari pendapatan tahunan Anda. Jika Anda setuju dengan pola pikir menyeluruh jangka panjang, jumlahkanlah seluruh pendapatan Anda tahun ini hinga penerimaan THR. Alokasikan  dengan rumus 10-10-80.

Untuk 10% yang kedua, berapa nilainya dari total gaji atau pendapatan Anda tahun ini?  Sisihkan 10% nya untuk investasi. Sekali lagi THR sebagai bagian dari pendapatan tahun ini. demikian juga investasinya. Hitung dari pendapatan setahun. Jangan hanya melihatnya sebagai THR. Bisa jadi seluruh THR Anda harus dialokaasikan untuk investasi karena sampai bulan ini Anda belum pernah berinvestasi.

Maka, kelola THR persis seperti prinsip itikaf nabi. Ambillah peluang secara menyeluruh. Jangan main tebak. Jangan gambling. Ingat, kita menginginkan lailatul qodar. Bukan lailatul gambling!

Tulisan ini dimuat di Harian Dura, terbit di Surabaya, 10 Juli 2015